
Ini part aku buat agak panjang ^^
Happy reading gais π€
π
"Lo mau kemana?" langkah gue terhenti mendengar teriakan si Ridho. Aelah benar-benar kayak pacar gue tuh bocah takut banget gue tinggal.
"Ke kantin syai, ikut? Mau beli minum gue!"
"Tumben gak ada cinderella yang anterin minum buat pangerannya?"
"Ekh iya tuh Ga, mana dua perempuan idaman lo itu? Si Putri sama si Andra?"
"Habis di tolak gara-gara sarapan Andra amnesia lagi kayaknya Ga!!"
"Sampah anjey!!" seru gue kemudian berjalan meninggalkan mereka, terdengar gelak tawa dari mereka. Memang teman kurang ajar semua, kerjaannya kalau gak ceng-cengin gue ya ngabisin isi dompet gue.
Gue sampai di kantin, tapi pandangan gue terhenti pada dua perempuan yang sedang memegang sesuatu yang sangat gue kenal.
"Jepit rambutnya cantik banget tau."
"Sini gue aja yang pakai"
"Lo gak lihat itu ada namanya? Ketahuan kalau bukan punya lo bodoh!"
"Tinggal di lepas namanya. Punya siapa sih?" si perempuan itu membalikkan jepitnya dan dia melongo melihat tulisan yang ada di jepit itu.
"Punya kak Diandra? Yang kemaren di teriakin cewek murahan itu bukan sih sama kak Dirga?" Gue memejamkan mata, lagi-lagi rasa bersalah itu datang lagi mengingat setiap kejadian itu.
Ndra, sorry banget, gara-gara gue lo jadi di pandang rendah bahkan sama adek kelas.
Gue berjalan menghampiri dua perempuan itu "Siniin jepitannya! Punya teman gue!!"
Mereka berdua terkejut melihat kehadiran gue. "Siniin!!"
"Ma- maap kak." perempuan itu segera memberikan jepitan winnie the pooh itu.
"Gue peringatkan ke kalian berdua, jangan ada yang nyebut Diandra cewek murahan lagi, pokoknya kalau gue denger ada satu teman angkatan kalian nyebut Diandra gitu lagi, urusannya langsung ke guru dan gue jamin kalian juga kena, karnague udah peringatkan ke kalian berdua." ucap gue dengan penuh penegasan. Gue harus hapus berita itu dari ingatan mereka-mereka untuk hilangin rasa bersalah gue ke Diandra, gara-gara kejadian kemaren gue jadi mikirin Diandra terus.
"I..Iya kak, nanti kita bilang ke teman-teman kita." ucap Siska- gue liat namanya dari name tag yang masih terpasang di bajunya. Mereka berdua segera pergi meninggalkan gue.
Gue perhatikan jepitan winnie the pooh ini, waktu gue balik ternyata ada tulisan yang buat gue jauh lebih melongo dari mereka berdua tadi.
Diandra-pacar Dirga
kecil tapi masih bisa dibaca dan dipahami tulisan itu. Kenapa di semua barang lo ada nama gue sih Ndra? Jangan-jangan di celana dalem lo juga ada lagi.
Ah sial! Jadi kotor kan pikiran gue! Shit!!
Gue menyimpan jepitan itu di kantong celana gue, nanti lah gue balikinnya, gue segera ke gerai minuman mengikuti tujuan awal gue ke kantin.
π
"Duh kok gak ada?" suara Diandra masih terdengar meskipun seperti gumaman.
"Lo nyari apaan sih?" tanya gue, nih anak bukannya cepetan seleseiin piketnya malah nyari-nyari sesuatu.
Iya gue sekarang lagi kejebak dikelas sama Diandra gara-gara Sasya sialan!
"Jepitan rambutku Ga, yang gambarnya winnie the pooh, kamu lihat gak?"
"Enggak" jawab gue singkat, kemudian gue berjalan menjauhi Diandra.
drttt...
Laras:* is calling
Gue tersenyum melihat nama si penelepon. "Hallo.."
"Ga, buruan pulang! Gue kangen! Gue udah dirumah nih!!!" seru suara dari seberang telepon sana.
"Serius Ras? Oke gue balik sekarang." telepon terputus. Gue segera mengambil tas di atas meja guru kemudian berlari keluar kelas.
Tanpa sadar gue melupakan seseorang yang tadinya masih bersama gue.
Diandra Wijaya.
π
"Laras.." teriak gue saat gue baru aja masuk rumah. Ada banyak hal yang perlu gue tau. Ada banyak hal yang ingin gue tanyakan.
__ADS_1
"Duh bisa gak sih gak usah teriak-teriak? Kayak di tengah hutan aja!!" sahut seseorang dengan segelas air es di tangannya.
Gue segera berlari memeluknya erat. Entah kenapa gue kangen banget sama dia. "Ga! Please deh jangan kayak anak kecil gini. Es gue tumpah ntar." rengek Laras.
Gue melonggarkan pelukannya "Lo lebih sayang es daripada gue ya?"
"Dirga! Lo lebay gini lagi gue ceburin ke kolam kecoa." ancam Laras.
Gue tertawa mendengar ancamannya "Emang lo berani?"
"Enggak." jawab Laras sambil tertawa. Lama Ras gue gak pernah lihat lo ketawa lepas begini. "Gue juga kangen bodoh sama lo!!" ucapnya kemudian memeluk gue erat.
"Sayang.." suara itu membuat gue dan juga Laras melepaskan pelukan kita.
"Mami? Mami mau kemana bawa koper begini?" tanya gue terkejut melihat mami bawa koper lagi. Pasalnya setelah pertengkaran hebat antara gue dan bokap mami gak pernah sekalipun keluar kota lagi, dan juga bokap gak pernah pulang lagi.
"Mami mau kerumah oma sayang, mami mau urus perceraian mami sama papi. Kamu gak papa kan?" tanya mami sambil menuntun gue untuk duduk di sebelahnya. Laras dengan sigap mendorong koper mami dan diletakkan di dekat mami.
Gue memejamkan mata sebentar, berat rasanya untuk bilang 'iya'. Bagaimanapun gue butuh sosok papi dihidup gue. "Gak papa mi, mami pilih yang menurut mami baik untuk Gaga dan juga mami ya."
"Makasih sayang, mami kayaknya lama disana, gak papa kan? Ntar kalau libur kamu nyusul mami ya.." Gue mencium pipi mami sekilas. "Gak papa mi, mami tenangkan aja dulu pikiran mami. Salam ya buat oma, maaf Dirga belum bisa main kesana."
"Laras--" mami berbalik arah menghadap Laras "Mami titip Dirga ya, jagain dia, kamu sekarang satu sekolah kan sama dia? Jangan biarkan dia sering bolos." Laras tertawa menatap gue.
"Siap mami, Laras akan jagain Dirga, Gak akan biarin dia bolos-bolos lagi." ucapnya sambil menjulurkan lidahnya ke gue.
"Awas lo!!" ucap gue tanpa suara.
"Ya udah mami berangkat dulu ya." Gue memeluk mami erat. Hubungan gue dengan mami dan papi gak pernah baik. Bahkan dari kecil gue cuma hidup sama mang Udin dan bi Narsih. Gue gak pernah sedikitpun ngerasakan kehangatan keluarga kayak keluarga Diandra.
"Mami hati-hati ya, mang Udin, jangan laju-laju ya bawa mobilnya. Pokoknya jangan sampe mami lecet." ucap gue sambil tertawa.
"Mang tunggu sebentar." Gue segera berlari ke kamar dan mengambil kunci mobil Ford Mondeo pemberian dari om Satya adek kandung dari mami.
Kemudian gue segera membuka room chat antara gue sama Ridho.
Me : Cuy! Lo dirumah kan? Mang Udin mau ambil mobil yang waktu itu gue titip dirumah lo. Bisa kan?
drrttt...
Ridho berak
Iya cuy, kunci mobil sama lo kan? Gue gak ada pegang soalnya.
Ridho berak
Santay anying! Kalau gue jual nih mobil.
Me : Si bodok teing!!
Gue segera berlari menghampiri mang Udin dan yang lainnya. "Nih mang, mamang masih ingat kan jalan kerumah Ridho? Disitu ada mobil Dirga dari om Satya mi, jadi saran Dirga mami pakai mobil itu aja. Dirga gak mau mami kenapa-napa gara-gara anak buah papi. Papi gak tau kalau Dirga punya mobil itu."
Mami terkejut mendengar ucapan gue. Dia memang gak pernah tau soal mobil itu. Cuma gue dan om Satya yang tau soal itu. Mami aja gak tau apalagi papi kan^^
"Ntar mobil ini kasihin aja kuncinya ke Ridho mang, biar Dirga ambil ntar malam."
"Baik mas, makasih mas." jawab mang Udin. Buat gue mang Udin udah jadi bokap gue, bukan lagi papi yang jadi bokap gue.
"Sayang, mami berangkat dulu ya.." sekali lagi mami memeluk gue. Astaga baru aja gue ngerasa kehadiran nyokap dihidup gue, udah mau ditinggal lagi aja gue.
"Mami hati-hati ya, kalau udah sampai kabarin Dirga, jangan telat makan, solat juga."
"Iya sayang. Laras mami berangkat ya. Bi, jangan biarin Dirga gak makan sarapannya ya."
"Siap nyonya.."
Mami segera masuk ke mobil miliknya. Sebenarnya mobil milikku dan juga milik mami hampir sama. Hanya saja gue takut mami kenapa-napa dijalan gara-gara anak buah papi. Papi gak pernah suka kalau mami pergi ke Bogor untuk bertemu keluarganya. Entahlah kata om Satya mantannya mami masih berharap bisa gantiin posisi papi dikehidupan papi.
Well, menurut gue itu gak jadi masalah. Karena ada ataupun enggak papi di kehidupan mami dan gue, itu gak ngaruh sama sekali.
π
"Pacar gue cantik banget sih.."Β Gue menatap Laras yang barusan turun dari tangga kamarnya.
"Well, malam ini, kita couple tanpa terencanakan ya??" Gue segera melihat penampilan gue. Ah iya gue baru sadar. Kita berdua sama-sama menggunakan setelan berwarna coklat muda.
"Yuk berangkat."
"Bentar deh, gue kan gak tau kita mau kemana?"
Laras mengembuskan napasnya pelan "Lo masih ingat kan jalan ke cafe tempat biasa kita ngumpul sama Nagra?"
__ADS_1
Gue memegang kemudi erat. Apa benar yang dikatakan Nagra kemaren bahwa dia saudara tiri Laras?
Mobil gue berhenti saat lampu merah menyala "Ras, gue pengen tanya sesuatu sama--"
"Gue tau Ga, ada banyak pertanyaankan di benak lo? Gue jawab disana aja ya. Lo pasti udah dengar sebagian ceritanya dari Nagra. Gak papa kan nunggu, sebentar lagi kita nyampe kok!!"
Gue akhirnya mengalah mengiyakan permintaan Laras. Setelah itu gak ada lagi obrolan diantara gue sama Laras.
Mobil gue berhenti didepan sebuah cafe yang sangat sederhana. Bahkan diantara semua cafe yang pernah gue kunjungi, desain cafe ini yang paling gue suka.
"Yuk masuk." gue segera melepas sabuk pengaman gue dan berlari ke pintu Laras dan membukakan pintu untuknya.
"Makasih." ucapnya tulus.
"Mbak Laras? Nyari mas Adi ya?" tanya salah satu pelayan cafe. Tunggu, Adi? Nama Nagr akan gak ada unsur Adi-Adi nya. Kok bisa Adi?
"Nanti aja mbak, bilangin mas Adi setengah jam lagi saya tunggu di meja saya ya." ucap Laras diiringi anggukan dari pelayan itu.
"Mari mbak saya antar ke mejanya." gue mengikuti langkah Laras. Ternyata Laras masih memiliki hobby yang sama. Ia masih suka duduk di cafe dengan tempat di pojok paling belakang.
"Mau pesan apa mbak mas?"
"Mbak sampaikan aja pesan saya ke Adi, terus tanyakan menu kesukaan saya dan juga Dirga padanya, ia pasti tau apa pesanan saya."
"Baik mbak kalau begitu ditunggu ya."
Ini sebenarnya Adi itu siapa sih? Tau dari mana dia soal menu kesukaan gue disini?
"Ras--"
"Adi itu Nagra Ga, kalau soal dia lo tanya dia aja ya lebih jelasnya." sahut dia seakan tau apa yang mau gue tanyakan.
Gue masih menatap Laras menunggu penjelasan darinya. "Ehem, bisa gak sih lo gak usah lihatin gue kayak gitu?"
"Jadi lo harus jelasin ke gue sedetail-detailnya."
"Nagra itu sahabat kita sekaligus saudara tiri gue. Gue udah pernah cerita kan soal itu ke lo. Tapi lo gak pernah percaya. Kenapa lo sering banget mergokin gue lagi pelukan sama Nagra? Ya karena cuma dia tempat gue ngadu Ga, gue gak punya siapa-siapa lagi didunia ini selain dia."
"Tapi kan lo bisa cerita ke gue kalau lo ada masalah?"
"Ga, itu masalah keluarga gue, bukannya gue gak percaya sama lo. Gue cuma gak mau nambah beban pikiran lo. Sorry kalau karna gue lo jadi musuhan sama Nagra."
"Ras.." gue menggenggam erat kedua tangannya "Ini bukan salah lo kok. Gue yang **** harusnya gue dengarin cerita lo, harusnya gue gak anggap it bahan candaan lo doang."
"Terus soal lo ngilang?" tanya gue pelan, semoga dia mau membahas soal ini.
"Gue diminta bokap buat ikut dia ke Singapur. Kalau gue nolak, Sinta adek kandung Nagra gak akan di balikin sama bokap gue. Al hasil gue ikut bokap dan gue berhasil mulangin Sinta ke ibu sama ke ayah. Tapi gue terhenti disana. Terpaksa gue nurutin semua kemauan bokap yang pengen banget gue tinggal disana sama dia. Kata dia gue harus belajar pegang perusahaan dia padahal dia tau kalau gue SMA aja belum lulus." Laras tertawa sumbang. Gue jadi ikut merasakan luka yang diterima Laras.
"Beberapa bulan kemaren gue tau kalau ternyata perusahaan bokap gue udah nipu banyak perusahaan lain. Dengan terpaksa gue bantu mereka buat nangkap bokap gue karena gue gak mau terus-terusan disana, gue mau balik kesini ketemu lo, Nagra, dan semuanya."
"Dan yah akhirnya bokap gue masuk penjara dan gue pergi kesini."
"Sorry gue udah ngebuat lo jadi buka lembaran buruk itu lagi." ucap gue penuh penyesalan. "Its oke Ga, gak masalah. Ini emang udah kewajiban gue buat cerita ke lo."
"Terus soal nama Adi? Nama Nagra kan gak ada Adi-Adi nya?" tanya gue masih penasaran sama unsur Adi di nama Nagra.
"Nama gue itu Nagra Adi Saputra bodoh! Bukan Nagra Saputra!!" sahut seseorang yang gue tau jelas dia siapa.
"Wih makanan udah datang.." ucap Laras nampak sumringah melihat pelayan datang membawakan makanan pesanannya.
"Sial lo! Kenapa lo lebih sumringah lihat makanan sih daripada ngelihat saudara lo?" sungut Nagra.
"Gra, makanan itu jauh lebih berharga daripada lo dihidup Laras."
"Jadi gimana Ga? lo masih benci sama gue?" tanya Nagra.
Gue menatapnya sebentar. Kami bertiga bersahabat sejak kecil. Dan hanya karena seorang perempuan gue lebih milih musuhin dia daripada dengerin penjelasan mereka berdua. Dan bodohnya cuma Nagra yang gue benci, gue gak pernah sedikitpun membenci Laras.
"Sebentar lagi lo kan jadi saudara tiri ipar gue gue. Jadi gue gak akan ngebenci lo lagi."
"Gais gue ke toilet dulu ya sebentar." seru Laras di tengah-tengah perbincangan kami.
"Jadi gue boleh dong kejar Diandra lagi?" tanya Nagra saat Laras sudah pergi ke toilet.
"Ekh anjey!!" gue memukul bahu Nagra pelan "Lo cerita ya soal Diandra ke Laras?" Nagra hanya menampilkan cengirannya tanpa rasa bersalah.
"Gue udah cerita semuanya ke Laras soal Diandra, tapi dia gak tau kalau gue naksir Diandra." jawabnya.
"Kenapa lo gak ngomong ke dia?"
"Biarin aja. Tunggu gue udah jadian baru gue cerita."
__ADS_1
π