
"Udah napa sih senyam-senyumnya. Gue bosan Ndra lihat lo kayak orang gila gini!!"
"Gimana gak bahagia coba? Seorang Dirga bisa nurut sama gitu sama si bocil? Cewek yang biasanya selalu dia tolak dan tadi astaga--" aku tertawa mendengar ocehan Fany. "Dia bisa nurut gitu!! Lo pakai pelet apa sih??"
Aku tersenyum mengingat kejadian dikelas tadi. Bahkan tadi banyak yang menatap heran melihat seorang Dirga bisa nurut sama aku. "Gue pakai pelet doa sama Dirga. Makanya kalau naksir orang itu berdoa terus sama Tuhan buat dia! Kayak gue."
"Hai Ndra.."
"Kita gabung ya.."
Gue menatap ke 4 sosok dihadapan gue. Fabian? Dia gabung sama kak Nagra?
"Bian? Lo kok sama kak Nagra?" tanyaku menatap Bian yang kini sedang bersama kak Nagra dan kedua sahabatnya.
"Lo tau Ndra--" Bian menyesap es jeruk miliknya "Pangeran lo itu sulit banget didekatin. Gue tadi coba tegur dia. Sialnya gue dicuekin. Untung tadi pagi lo kenalin gue ke Nagra. dan Nagra ngenalin gue ke sahabat-sahabatnya. Kayaknya gue lebih cocok sama dia daripada sama Dirga." bisiknya.
"Lo lihat teman lo Ndra--" Fany berbisik padaku sambil melirik Vanya. Ah nih bocah kalau ada bubuhan kak Nagra jelas senang. Ada kak Rey yang notabenenya adalah pacarnya. "Woy yang di ujung!! Pacaran aee!! Diingat disini banyak orang!!"
"Ye elu Ndra sirik aja! Noh ada Nagra kan??" sahut kak Rey. Kak Nagra dan juga Fabian langsung menatapku. Fabian menatapku dengan pandangan bertanya. Ah sial! Jadi aku kan yang kena.
"Aelah Ndra gak usah sok malu-malu gitu." goda kak Faisal. Oh ayolah! Aku kan gak ada apa-apa sama kak Nagra. Kalau Gaga dengar bisa marah lagi dia sama aku.
"Ah mending gue beli eskrim yang banyak biar seger!!!" aku segera berdiri hendak ke pangkalan eskrim kesayanganku.
__ADS_1
"Ini gue udah beliin Ndra." ucap kak Nagra. Aku takjub melihat kresek yang ada di tangan kanan kak Nagra. Omaigad. "Itu seriusan buat gue semua kak?" kak Nagra mengangguk mengiyakan pertanyaanku. Ya Tuhan mimpi apa aku semalam dapat eskrim sebanyak ini.
"Sumpah lo kebiasaan banget dah ah!!" sahut Fabian. Ye nih bocah iri aja.
"Jadi kalian itu teman dekat dari kecil?" tanya kak Nagra sambil melirikku dan juga Fabian. Aku mengangguk sambil menyendokkan eskrim ke mulutku. "Fabian itu udah kayak bang Joe buat gue kak, abang bisa, sahabat bisa, pacar juga bisa. "
"Pacar??" sahut kak Faisal dan juga kak Rey bersamaan. "Iya kita pernah pacaran pura-pura. Waktu itu acara nikahan kakak kelas smp Andra. Gue sama Andra gak pernah satu sekolah. otomatis gak ada yang kenal gue. Karena dia belum berhasil dapatin hati Dirga jadi terpaksa gue temenin dia ke acara itu. Kata dia, dia malu kalau gak bawa gandengan." jelas Fabian.
"Ohhh pantesss..." Fany menatapku kemudian Vanya. "Gue ngerasa gak asing aja waktu lihat lo pertama kali. Jadi waktu di acara nikahan kak Fadil waktu itu cowok yang lo bawa ini Fabian??" aku cuma nyengir kuda mengiyakan pertanyaan Fany.
"Hah serius? Tapi kok beda banget Yan?" kak Rey yang waktu itu jadi gandengan Vanya jelas tau penampilan Fabian waktu itu dengan yang sekarang beda banget. "Iya waktu itu gue pakai kacamata terus rambut gue emang beda." sahut Fabian kemudian menyendokkan pentol besar kemulutnya. Gila tuh cukup aja mulutnya.
"Terus hubungan lo sama Dirga sekarang gimana? Gue kasihan nih sama teman gue yang mikir keras gimana caranya bisa dekatin lo?"
Uhukk..
"Ini nih minum dulu." kak Nagra menyerahkan es teh miliknya padaku. Dan tentulah langsungku minum. Karena gak mempan kalau cuma pakai eskrim. Ini aku kan keselek pentol bukan keselek yang laen.
"Aduh kakak Nagra perhatian banget sih sama adek Diandra.." goda kak Faisal. Tuhan semoga Gaga gak dengar semua ini. "Lo bisa diem gak sih Sal!! Ini Diandra keselek gara-gara lo!!"
"Makasih kak.." aku memberikan es teh yang tinggal setengah pada kak Nagra. "Hehe tinggal setengah kak. Gue beliin lagi ya.."
"Gak usah Ndra, bakso gue juga udah tinggal dikit kok. Santai aja." jawab kak Nagra sambil menunjukkan baksonya yang memang tinggal sedikit.
__ADS_1
Tanpa sengaja aku melihat Dirga yang duduk di ujung sedang menatap kesini dengan pandangan yang-- entahlah apa maksud dari tatapannya.
"Dirga.." aku melambaikan tangan padanya. Tetapi dia justru buang muka kemudian pergi dari kantin. Salah lagi dah aku.
"Gais-suu gue duluan ya. Yan gue duluan ya. Kak Nagra duluan. Semuanya deh duluan." Aku berlari dengan satu cup eskrim masih di tanganku.
"Gaga--" aku menghentikan langkah Gaga. "Gaga!! Ihhh dengarin aku dulu!!" Aku terus memaksa Gaga supaya dia mau dengerin aku dan gak salah paham. "Apaan sih Ndra. Mau gue semprot pakai pod lagi?" Aku menggeleng keras mendengar tawaran Gaga. Bisa mati duluan aku sebelum nikah sama Gaga kalau kena pod nya dia terus.
"Please deh Ga jangan semprotin aku pakai pod mu terus. Yang ada ntar aku udah keburu mati sebelum nikah sama kamu." Aku menyendokkan eskrimku lagi. "Kamu mau eskrim??" tawarku siapa tau dia gak jadi marah sama aku.
"Gue mau tidur di uks ngantuk Ndra.." ucapnya cepat. "Kamu sakit Ga?" tanyaku sambil menyentuh kening Gaga.
"Aku anterin ke uks kalau gitu." ucapku sambil menarik tangan Gaga secara paksa tentunya.
"kamu duduk sini. Aku buatin teh hangat." Aku segera meletakkan eskrimku di meja kemudian berlari membuatkan teh hangat untuk Gaga tersayang.
"Kata mamahku kalau sakit itu dibuat tidur aja. Ini aku buatin teh hangat tadi aku juga beliin kamu roti. Kamu istirahat aja, ntar aku bantu catatin pelajaran hari ini buat kamu." aku tersneyum melihat Gaga yang nurut aja mengikuti ucapanku. "Ga, kalau kamu lagi badmood coba deh kamu makan eskrim aku jamin mood mu bakalan berubah jadi baik. Aku kembali ke kelas kalau gitu."
Ah iya astaga aku sampai lupa, tujuanku tadi kan untuk ngejelasin soal kak Nagra biar dia gak cemburu. "Ga, soal kak Nagra--"
"Gue ngerti kok." ucap Dirga pelan. Entahlah moodnya sepertinya memang sangat buruk. Lebih baik aku pergi daripada kena masalah.
"Aku tinggal ya. Kamu istirahat." ucapku kemudian pergi meninggalkan Dirga.
__ADS_1
Aku bersyukur Ga, hubungan kita membaik. Semoga selalu seperti ini, semoga kamu terus melihat aku ada.
📌