
"Ndra buruan aelaaahhh woyyyyyy!!!!!"
"Sabar Yan!!!!!" teriakku. Aduh laki satu itu kayak gak pernah jalan sama Nadia aja.
Aku memperbaiki tatanan rambutku sedikit. Hari ini terpaksa aku pakai jepitan bermodel eskrim, bukan lagi winnie the pooh. Duh Tuhan jepitanku itu kemana ya...
"Andra woy!!!!!" Fabian menggedor-gedor pintu kamarku. Sumpah dasar teman jahannam.
Aku mengambil tasku dan membuka kan pintu untuk Fabian. "Pengen banget ya lo cium sepatu gue hah? Rese banget! Udah tau cewek kalau dandan lama, masih aja di gangguin."
"Buruan aelah. Ngapain sih dandan lama-lama cantik-cantik? Gue bawa motor ya dan gue gak nanggung kalau dandanan lo berantakan!!"
Tunggu!!
Fabian tadi bilang apa? Bawa motor?
Oke.. Dia bilang apa tadi barusan??
BAWA MOTOR???
Aku nyaris jatuh kalau bukan tangan Fabian yang pegang pinggangku. "Lo sakit??"
"Bian lo jahat banget sama gue.." ucapku pelan. "Lo kenapa woy??"
"Bian.." Aku segera memeluk Bian. Gak peduli deh mau Nadia cemburu sama aku. Yang penting sekarang aku cuma mau peluk Fabian "Ekh lo kenapa sih??"
Aku melepaskan pelukannya "Lo tega bawa motor mau dinner hah? Gue kan udah dandan cantik begini. Gue laporin bang Joe kalau lo tetap kekeuh bawa motor!!"
"Hah??" Fabian melongo mendengar alasanku merengek. Aku tertawa melihat wajah lugunya. "Sialan lo! Gue kira lo kenapa-napa!!"
Aku segera ke meja riasku mengambil kunci mobilku. Terpaksa deh kali ini pakai mobilku. "Nih pakai mobilku. Tapi isi bensin dulu ya hehe."
"Dasar.." Fabian mencubit lenganku "Terus kenapa lo se syok itu kalau gue bawa motor? Lo kan ada mobil.."
"Mobil gue bensinnya abis Fabian. Kita udah telat kalau harus isi bensin dulu tambah telat. Lo tau kan calon kakak ipar gue tuh paling gak suka nunggu? Jadi lo siap-siap aja pulangan kena semprot bang Joe."
"Aduh sial! Gue kena juga dong!!"
"Ya udah yuk buruan." Aku segera melangkah keluar kamar. Hari ini penampilanku tidak begitu sempurna buat aku. Semua itu karena jepitan itu. Jepitan itu terlalu berharga buatku.
__ADS_1
"Ndra tunggu deh.." Fabian menjalankan mobilnya pelan sambil terus memandangiku. "Kenapa? Lipstik gue ketebalan? Atau aneh ya gaya rambut gue gini?"
"Kayaknya penampilan lo ada yang kurang deh. Gue gak lihat sesuatu yang menonjol dari seorang Diandra Wijaya." Aku mendengus kesal mendengar ucapan Fabian. Ia jadi mengingatkanku pada jepitan winnie the poohku.
"Jepitan gue ilang." jawabku singkat. Fabian tertawa mendengar jawabanku "Ya udah nanti gue beliin yang baru ya.." Fabian mengelus kepalaku. Andai aja yang ngelakuin itu Dirga pasti aku senang banget.
"Gak mau, gue cuma mau itu aja. Udah ah buruan ntar bang Joe ngomelin kita gara-gara lambat. Gak usah bahas jepitan itu. Gue bete jadinya." Tidak ada percakapan lagi setelah itu antara aku sama Fabian.
Kadang aku mikir, kenapa Fabian bisa tetap sebaik ini sama aku, padahal kan dia udah punya pacar, gak takut kali ya pacarnya cemburu.
"Lo mau didalam mobil aja? Gak mau keluar?" Aku melirik bangunan didepanku. Ternyata udah sampai.
"Lo duluan aja ya, meja nomor 93 bilang aja atas nama Joevanka Wijaya. Gue mau ke toilet dulu." aku berjalan meninggalkan Fabian ke arah toilet.
Aku merapikan rambutku sekali lagi. Kemudian dengan langkah cepat aku berjalan keluar toilet. Tanpa sadar aku menabrak seseorang..
"Ah maaf ya.." ucapku sambil membersihkan bajuku. "Iya gak papa, tadi gue yang buru-buru juga." katanya.
"Lo gak papa kan??" tanyaku memastikan.
"Gue gak papa kok." jawabnya. "Kalau gitu gue duluan ya."
"Em.. Kenalan dulu deh, Gue Larasati panggil aja Laras." aku tersenyum "Gue Diandra panggil aja Andra."
"Iya, gue anak SMA Bangsa, kok lo bisa tau?" Laras tersenyum. Tapi belum sempat dia menjawab ponselnya berdering.
"Iya gue udah selesei kok, iya gue balik nih sekarang, aelah ribet banget." Laras mematikan ponselnya kemudian kembali menatapku "Gue besok jadi murid baru disitu, lo maukan jadi teman gue?" dengan senang hati aku mengiyakan permintaannya. "Bahkan mulai sekarang kita teman." aku mengulurkan tanganku dan dia membalasnya.
๐
Hari ini aku tersenyum senang, pasalnya mulai hari ini aku akan dapat teman baru, entahlah dia tau aku anak SMA Bangsa dari mana, yang penting sekarang dia mau berteman sama aku.
"Pagi mah, pa.." aku mencium pipi kedua orang tuaku. "Pagi bang.." iya aku juga mencium pipi abangku tersayang. "Gue enggak??" seru Fabian yang barusan turun dari tangga kamarnya. "Najis *****!!"
"Yan! Buruan ntar telat." ucapku sambil meminum susu sebentar sambil berdiri tentunya.
"Sayang, sambil duduk dong minumnya. Masak sambil berdiri gitu." mamah memperingatkanku sambil tersenyum. "Gak keburu mah, udah telat. Diandra berangkat ya. Assalamualaikuumm!!!"
"Tante, om Fabian berangkat dulu Assalamualaikum."
__ADS_1
"Nih pakai dulu helm lo." pinta Fabian sambil menyerahkan helmnya untukku.
"Duh gue pakai rok begini lagi." gumamku. Hari ini aku pakai rok yang lumayan minim. Rok yang biasanyaku udah kotor kemaren gara-gara Fabian.
"Nih pakai jaket gue." Fabian melepaskan jaket denimnya dan memberikannya padaku. Aku jadi ingat kak Nagra waktu pertama kali jalan sama kakaknya.
"Dah yuk. Pegangan." aku segera memegang baju samping Fabian. Semoga ini hari yang indah.
๐
Aku tersenyum melihat Dirga yang masih di parkiran motor. Tumben dia bawa motor. "Gaga..." teriakku sambil tersenyum semanis mungkin. "Ngapain lo??"
"Ga ke kelas bareng yok.." aku berusaha setenang mungkin menghadapi Dirga.
"Gue ada perlu sama lo, masih 10 menit lagi masukan, ikut gue bentar ya.." aku tersenyum menangguk.
"Lo mau kemana?" tanya Fabian melihatku digandeng Dirga bukan ke arah kelas.
"Ada urusan sama calon masa depan Yan. Gue titip tas ya.." pintaku sambil melemparkan tasku padanya. "Sial lo Ndra!!!"
Aku mengikuti langkah Dirga kelorong yang lumayan sepi. "Ga? Mau kemana??" tanyaku pelan.
"Gue cuma mau balikin pulpen sama jepitan lo! Satu lagi Ndra, buang semua nama gue di semua barang lo. Lo gak malu hah? Lo gak malu gue udah nolak lo berkali-kali tapi lo masih aja ngarepin gue. Lo gak malu ngasih nama semua barang lo itu 'Diandra pacar Dirga' lo gak malu hah?"
Aku terdiam. "Ga--"
"Gue aja capek Ndra liat perjuangan lo! Lo gak capek apa? Mending lo berhenti kejar-kejar gue!!"
Deg..
"Gue pernah baca di artikel kalau cewek disuruh berhenti sama orang yang dia sayang. Dia akan dengerin itu. Lo sayangkan sama gue? Jadi gue minta lo berhenti kejar-kejar gue! Gue udah punya pacar. Lo ingat itu jauhin gue!!!"
Dirga melemparkan pulpen dan juga jepitan rambutku. Aku terduduk di lorong itu. Aku bohong kalau aku gak hancur. Bahkan aku sangat-sangat hancur.
Haruskah aku berhenti Ga? Sebenci itu kah kamu sama aku? Se gak mau itu kah kamu???
Aku cuma bisa menangis di lorong itu tanpa tau harus gimana. Bahkan niat buat balik kekelas pun aku gak ada.
*Bang Joe, Diandra butuh abang sekarang.
__ADS_1
Fabian. Bantu gue, bantu gue buat bangkit Yan*..
๐