
Di sebuah ballroom hotel, terdapat riak-riuh orang-orang yang hadir sebagai tamu undangan. Banyak yang ingin menyaksikan pernikahan anak dari dua pengusaha terkemuka.
Nama Kanagara dan Mahesa tentu tidak bisa dianggap remeh. Banyak yang mengetahui jejak perusahaan tersebut yang terbilang Mansyur. Dan mereka sudah bisa menerka akan seperti apa pernikahan tersebut digelar.
Pasti tidak akan selesai selama tiga hari tiga malam.
Pagi itu, tepat pukul delapan, Dirga memberanikan diri menjabat tangan Papa Javas. Tentunya di depan penghulu dan banyak pasang mata yang menyaksikan.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Dirgantara Mahesa bin Bapak Absena Mahesa dengan anak saya yang bernama Arunika Kanagara dengan maskawin seperangkat alat sholat, tunai.”
Dirga menyentak jabatan tangan lalu menarik napas dan mengembuskan. Setelah itu, Dirga berucap dengan lantang. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Arunika Kanagara binti Bapak Javas Kanagara dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAH!" Suara sah menggema di area ballroom hingga terdengar sampai kamar dimana Aru berada.
Aru yang sedang duduk di depan meja rias, mengucap syukur dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika Dirga lah yang akan menjadi suaminya.
Rasa ragu yang sempat hadir, menguar sudah ketika Aru mendengar dengan jantannya menjabat tangan sang Papa dan mengucapakan namanya pada kalimat qobul.
Tidak ada kalimat cinta yang paling indah selain kalimat ijab qobul yang diucapkan lantang oleh seorang laki-laki.
Yang membuat Aru bersedih adalah, tidak adanya seorang teman dekat yang menemani Aru di hari bahagianya. Teman satu-satunya yang Aru miliki pun menjauhinya akibat skandal di masa lalu.
"Eh! Kok anak Tante nangis? Jangan nangis dong. Ini adalah hari bahagia," ucap Tante Kimi menyadarkan lamunan Aru.
__ADS_1
Dia mendongak menatap wanita yang masih cantik di usianya yang hampir setengah baya. "Aru bahagia, Tan. Ini air mata kebahagiaan," kilah Aru sambil menyeka air mata dengan tisu.
"Ayo, kamu sudah diminta ke depan. Jangan rusak riasan dengan air matamu itu," pinta Tante Kimi lalu menggandeng Aru untuk berjalan ke depan.
Ada Bridesmaids yang mengiringi langkah Aru hingga ke pelaminan. Tetapi, Aru tidak tahu siapa mereka karena kurang mengenalnya. Mereka adalah seseorang yang papanya perintahkan. Mungkin orang-orang kantor.
Ketika sudah keluar dari persembunyian, mata Aru langsung tertuju pada laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya. Tampan. Satu kata yang mewakili penilaian Aru saat itu.
Aru disambut oleh Dirga dan keduanya berjalan beriringan menuju pelaminan. Masih ada hal yang harus diurus seperti tanda tangan di surat nikah dan mengabadikan momen indah itu dengan berswafoto.
Waktu bergulir. Tidak terasa, jam sudah menunjuk pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Acara untuk siang itu pun selesai. Mereka harus beristirahat terlebih dahulu. Acara akan diadakan lagi pukul tujuh malam.
"Silahkan masuk lebih dulu," ucap Dirga lembut. Tidak seperti biasanya yang selalu ketus. Aru mengangguk dan melenggang memasuki kamar hotel tipe suite room.
Aru melihat gerakan Dirga melambat ketika sedang menutup pintu lalu menguncinya. Aru berpikir, tidak mungkin Dirga meminta haknya sekarang bukan? Ketika Dirga berbalik, Aru kedapatan sedang menatap sosok suaminya tak berkedip.
"Kenapa harus meminta maaf. Aku sudah halal untukmu," jawab Dirga lalu berjalan mendekat. Setelah jarak keduanya hanya sekitar dua meter, hening mengisi. Hanya tatapan mata yang berbicara.
Aru yang memilih memutuskan tatapan itu lebih dulu. masih ada kewajiban yang harus dilakukan. "Bukankah kita belum melaksanakan sholat Dzuhur?" tanya Aru yang sebenarnya ingin melarikan diri ke kamar mandi. Entah mengapa, ditatap dengan lekat dan penuh kelembutan oleh Dirga, membuat Aru salah tingkah sendiri.
Dirga terkekeh. Tahu betul jika Aru sedang menghindarinya. "Baiklah. Kita akan lakukan sholat Dzuhur dulu. Sini, biar aku bantu hapus riasannya. Tidak sah kan kalau sholat pakai riasan." Dan tanpa aba-aba, Dirga langsung menggandeng lengan Aru untuk menuju meja rias dimana ada alat untuk menghapus make up.
Saat Dirga menekan bahunya untuk duduk, Aru pun menurut. Entah mengapa, setelah melihat Dirga sedang membagikan nasi bungkus, pandangannya mulai berubah. Dirga tidak seburuk itu. Justru, Aru mulai tertarik akan kisah hidup laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.
Aru merasakan dingin yang menyergap wajahnya. Ternyata, Dirga sudah mulai membersihkan riasannya. Jarak keduanya menjadi sangat dekat. Diam-diam, Dirga mencuri pandang ketika Aru menunduk.
__ADS_1
"Kamu istriku sekarang," celetuk Dirga setelah selesai.
Karena posisi Dirga lebih tinggi, Aru mendongak dan bisa melihat wajah itu dari bawah. "Iya. Aku istri kamu sekarang," jawab Aru membenarkan.
"Sekarang, turutilah permintaanku. kamu harus patuh," ucap Dirga menatap Aru lembut. Tidak ada nada mengintimidasi seperti biasanya.
"Apa?" Aru bertanya dengan polos. Seakan terhipnotis dengan pesona sang Suami.
"Mandilah. Kita akan sholat berjamaah." Lalu, Dirga menjauh dan anehnya, Aru merasa kehilangan ketika tubuh itu mulai berjalan mendekat pada koper.
Dia ingin mendengar ucapan manis seperti itu lagi dari Dirga. Entah mengapa, Aru mulai menyukai hal tersebut.
Aru membuka mata lebar ketika lagi-lagi tertangkap sedang memandangi suaminya. Dia langsung membuang muka dan beranjak dari duduknya.
"Hei! Kenapa tidak bergegas? Kamu bisa menatapku puas-puas nanti malam," ledek Dirga ambigu.
Aru merutuki dirinya sendiri. Tidak apa-apa bukan jika dia terpesona dengan suaminya sendiri? Aru tak perlu lagi menjaga pandangan bukan? Justru, hanya menatap wajah sang Suami, Aru akan diberkahi pahala.
"B-baiklah. Aku akan mandi lebih dulu." Tanpa menunggu lebih lama, karena Aru yakin pipinya telah merona, dia berlari memasuki kamar mandi.
Setelah masuk, Aru mengunci pintu lalu menyandarkan tubuh di balik pintu. Dia menatap langit-langit ruangan dan tangannya memegangi dada yang terasa berdegup kencang. "Aku kenapa? Mengapa rasanya aneh sekali?" tanya Aru heran dengan bahu yang naik turun. Mungkin karena efek detak jantung yang cepat.
"Tidak mungkin aku jatuh cinta semudah itu pada Dirga. Harusnya, aku tidak boleh terpesona dulu. Karena mulut laki-laki itu sangatlah pedas," gumam Aru sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Untuk menghindari pemikiran yang lebih mendalam, Aru bergegas melepas semua pakaian dan mandi.
__ADS_1
"Aku tidak boleh merasa senang terlebih dahulu. Barangkali, Dirga akan menjatuhkan ku dengan mulut pedasnya nanti."