
Tepat pukul setengah enam, Dirga turun menggunakan lift menuju area parkir perusahaan. Biasanya, dia akan keluar pukul lima sore karena jam kantor telah usai. Namun hari ini berbeda. Ada pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan hari itu juga.
Setelah sampai di samping mobil, mata Diega tertuju pada ban mobilnya yang sudah kempes. "Ya Allah. Kenapa bannya tiba-tiba bocor? Tadi pagi perasaan belum," gumam Dirga keheranan.
Ketika memeriksa semua ban mobil, keempatnya ternyata bocor semua. Rasanya aneh jika keempatnya bocor bersamaan. "Mungkin ada yang sengaja mengerjai ku."
Dirga mulai berpikir bagaimana caranya agar mobilnya segera diservis. Sedangkan ban cadangan hanya ada satu di bagasi. Dia pun berniat menghubungi orang bengkel untuk membawakan tiga ban sekaligus. Dia juga meminta agar sekalian diganti.
Namun nahasnya, baterai ponselnya habis. Dirga kembali berlari memasuki gedung kantor. "Kamu bawa charger tidak?" tanya Dirga pada resepsionis.
"Bawa, Pak. Ini," jawab resepsionis langsung memberikan benda yang atasannya cari.
"Saya pinjam sebentar ya. Baterai ponsel saya kehabisan daya soalnya," izin Dirga sopan.
"Pakai saja, Pak. Memangnya mau menghubungi siapa kalau boleh tahu? Bukannya Bapak bisa menggunakan telepon kantor?" usul Mbak Resepsionis yang membuat Dirga seketika merasa konyol sendiri.
"Benar sekali. Aku sampai tidak terpikirkan hal tersebut. Terima kasih ya." Setelah itu, Dirga segera menghubungi montir langganannya.
Menunggu sekitar lima belas menit, montir itu tiba dengan membawa pesanan Dirga. Proses pencopotan dan pemasangan ban pun membutuhkan waktu hampir dua puluh menit. Hari sudah semakin gelap. Jam di pergelangan tangan Dirga sudah menunjukkan angka enam lebih tiga puluh menit.
"Terima kasih ya, Mas. Uangnya sudah saya transfer. Maaf, saya tinggal dulu karena susah sangat terlambat menjemput istri saya," pamit Dirga pada sang Montir.
"Baik, Pak, dan terimakasih kembali."
Setelah menghidupkan mesin mobil, Dirga memilih untuk mengisi daya baterai ponsel terlebih dahulu. Karena panik, dia sampai lupa jika dalam mobil sudah dilengkapi kabel charger ponsel.
Setelah berdoa, Dirga melajukan mobil menuju pesantren Darussalam. Kesialan seperti enggan pergi dari hidup Dirga. Di jam itu, rawan sekali dengan kemacetan.
__ADS_1
"Ya Allah. Bagaimana ini? Aku harus menghubungi Aru dulu agar dia tidak khawatir," ucap Dirga lalu mencari nama Aru di layar ponsel selagi menunggu mobil di depannya berjalan.
'nomor yang anda hubungi, sedang berada di luar jangkauan.'
Dirga memukul gagang setir. Kesal sekaligus khawatir sedang mendera perasaanya. Mencoba berpikir tenang, Dirga fokus pada jalanan yang mulai ada tanda-tanda berjalannya kendaraan di depannya.
"Aku sudah sangat terlambat," gumam Dirga ketika mobil berbelok melewati jalanan menuju pondok. Tidak berapa lama, mobil sampai. Tetapi, Dirga tidak menemukan keberadaan istrinya di depan mushola.
"Apa Aru di dalam ya?" tebak Dirga lalu memilih untuk turun.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ini salahnya yang tidak menghubungi Aru sejak sore tadi. Dia akan meminta maaf atas keterlambatannya. Ketika baru beberapa langkah memasuki pondok, dia melihat Zahra, teman istrinya yang sedang berjalan dengan membawa kantong kresek di tangannya.
"Aku bertanya pada dia saja kalau begitu."
"Zahra! Apa kamu melihat Aru berada di dalam?" tanya Dirga kaku.
Mbak Zahra yang sedang menggantung kresek sampai tersebut pada pagar, mengerjapkan matanya bingung. "Loh, bukannya Aru sudah pulang tadi? saya melihat Aru masuk ke mobil. Saya pikir itu Bapak," jawab Zahra sama bingungnya.
Kebingungan Dirga pun semakin bertambah. "Saya belum menjemputnya. Kebetulan, saya juga terlambat," jawab Dirga yang membuat Zahra semakin tidak mengerti.
Tidak berapa lama, muncul Sisil dengan membawa kantong kresek serupa seperti yang Zahra bawa. Perempuan itu tersenyum manis pada Dirga dan Zahra melihatnya. 'Dasar centil,' gerutu Zahra dalam hati.
"Assalamualaikum, Pak Dirga," sapa Sisil ramah lalu menggantung kantong kresek itu pada pagar besi di depannya.
"Waalaikumsalam." Dirga menjawabnya singkat.
Zahra sengaja tidak beranjak dari sana agar suami dari temannya itu aman dan terhindar dari gigitan ular berbisa bernama Sisil. Dia bertindak sebagai pengamat selama kondisi dirasa masih aman.
__ADS_1
"Mau jemput Aru ya, Pak? Loh, bukannya Aru sudah pulang ya? Tadi, tidak sengaja saya melihat dia naik ke mobil bersama seorang laki-laki. Saya pikir, itu adalah Bapak," ucap Sisil memberitahu apa yang dia ketahui.
"Hah? Bagaimana ciri-ciri pria itu?" tanya Dirga panik.
"Saya kurang tahu. Tetapi, karena saya merasa janggal, saya sempat mengambil foto nomor kendaraanya," jawab Sisil polos.
Zahra yang mendengar itu, merasa ada yang tidak beres. Pasti, ada sesuatu yang direncakan Sisil. Untuk apa dia mengambil foto kendaraan orang lain? Sedangkan kenyataanya, Aru tidak seakrab itu dengan Sisil. Untuk apa Sisil peduli? Zahra hanya berharap, perempuan di sampingnya tidak merencanakan hal yang buruk.
"Kamu bicara apa sih? Jangan sembarang menuduh," kesal Zahra mencoba menyangkal.
Sisil mengabaikan protes Zahra. Dia mengambil ponsel miliknya dan menunjukkan sebuah foto nomor kendaraan mobil. Namun, yang menjadi fokus Dirga adalah, tangan istrinya digandeng oleh seorang laki-laki.
Rahang Dirga mengeras sempurna. Dia jelas tahu siapa laki-laki itu karena dalam foto, terlihat begitu jelas. "Baiklah. Terimakasih karena sudah memberitahu saya," ucap Dirga lalu kembali masuk ke mobil.
Dia mengotak-atik ponselnya dan meminta seseorang untuk melacak keberadaan ponsel Aru. Namun sebelum niatnya terpenuhi, matanya tertuju pada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Sebelum membukanya, Dirga tahu jika itu adalah pesan video. Tangannya gemetar kala mengetuk pesan tersebut dan video sedang diunduh. Dia menanti dengan cemas detik demi detik yang berlalu.
Hingga video itu telah terunduh sempurna. Mata Dirga membelalak ketika memutar awalan dari video tersebut. Tanpa menyelesaikan pemutaran dia menutup jendela perpesanan.
Tangannya mengepal sempurna dengan dada yang mendadak bergemuruh hebat. Seribu kata umpatan ingin sekali Dirga layangkan pada istrinya itu. Bahkan, Dirga malu sendiri jika menyebut Aru sebagai istrinya.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Ru? Tega sekali kamu melakukan ini padaku. Memang salahku karena sudah terlalu percaya pada seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya," ucap Dirga dengan mata yang memerah, menahan tangis. Denyutan di da
Hanya video biasa yang memperlihatkan tangan Aru yang sedang berpegangan dengan si pengirim di atas meja. Dirga bisa menduga jika Aru sedang berada di sebuah restoran atau kafe. Dari bentuk tangannya, Dirga jelas tahu jika pemiliknya adalah seorang pria.
Dan dia bisa menebak jika pemiliknya adalah Yoda.
__ADS_1
"Aku sudah mengkhawatirkan orang yang salah. Dia tidak pantas lagi mendapat perhatianku. Seharusnya, aku sudah mempersiapkan hati sejak dulu. Agar sakitnya tidak perlu separah ini."
Setelah itu, Dirga memutar setir dan memilih pulang ke apartemen. Dia akan telan rasa kecewa dan simpan baik-baik sakit hatinya.