Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 9. Nanti ajari Abi Wudhu


__ADS_3

"Ya Allah. Aku percaya Engkau tidak akan menyegerakan sesuatu jika itu yang terbaik dan Engkau tidak akan memperlambat sesuatu bila itu yang terbaik. Tolong bimbinglah aku agar bisa memilih jalan kebenaran. Mungkin, sesuatu yang sedang aku hadapi tidak aku inginkan. Tetapi, bisa jadi hal tersebut adalah kehendak-Mu."


"Ya Allah. Berikanlah jalan keluar terbaik menurut versi Engkau, Ya Allah. Aku percaya pada takdir-Mu. Aamiin."


Aru menutup doa panjangnya dengan penuh pengharapan. Jika dalam satu kali sholat belum juga menemukan jawaban, dia akan mencobanya lagi dan lagi. Karena ridho Allah adalah sesuatu yang diharuskan.


Ketika malam sudah semakin larut. Bahkan, dinding langit pun semakin pekat, Aru memutuskan untuk tidur. Masih ada hari esok yang harus Aru sambut dan jalani dengan hal-hal baik dan bermanfaat.


...----------------...


Saat sang Surya masih malu-malu untuk menampakkan diri, Aru sudah menyibukkan diri dengan mushaf Al Qur'an di tangan. Hampir lima lembar yang dia selesaikan karena memulainya selepas sholat. Ketika susah genap lima lembar, Aru menutup mushaf lalu menciumnya lembut.


Aru memang bukan penghafal Al Qur'an. Dia hanya pembaca dan pengamal setiap huruf yang keluar dari mulutnya. Namun, dia percaya pada sebuah hadist nabi yang menerangkan jika Al Qur'an tersebut akan menjadi penolong di hari akhir kelak.


Bukan hanya itu, masih banyak lagi manfaat dari membaca Al Qur'an. Salah satunya, bisa menyelamatkan di dunia dan akhirat. Aru berharap, dia adalah salah satu dari orang-orang beruntung tersebut.


"Hari ini pakai hijab instan saja lah. Biar tidak ribet," gumam Aru yang kini telah berada di depan cermin. Tidak ada make up tebal seperti dulu. Bahkan, Aru tak lagi menggunakan pensil alis dan eyeliner nya.


"Assalamualaikum Papa, Mama, dan Abi," sapa Aru ketika telah sampai di meja makan.


"Waalaikumsalam." Semua menjawab hampir bersamaan.

__ADS_1


Lalu, pandangan Aru jatuh pada sang Adik yang kini tengah menatapnya tak berkedip. Dia menjentikkan jari di depan wajah Abidzar agar adiknya itu tersadar dari lamunan.


Klik.


"Kenapa, Bi? Kok melamun?" tanya Aru sambil menggelengkan kepala pelan.


Abi terkekeh. "Semakin kesini, Kak Aru semakin memiliki kecantikan yang memancar. Apa karena Kakak selalu berwudhu?" tanya Abi dengan rasa penasaran yang tinggi.


Aru mengangguk. "Mungkin karena wudhu. Mungkin juga karena Kakak sudah mulai menerima diri sendiri. Tetapi, wudhu yang paling mendominasi."


Abi tersebut dan menarik kursi untuk sang Kakak yang masih setia berdiri. "Duduk dulu, Kak," pinta Abi lembut.


Aru memicingkan mata, menatap penuh curiga dengan sikap manis Abi. "Kamu sedang tidak ingin sesuatu bukan? Kok manis sekali?" tanyanya penuh selidik.


Aru lantas mengucap istighfar. Sang Adik memang ada benarnya. "Baiklah. Maafkan, Kakak ya," pinta Aru tulus dan Abi mengangguk.


Mama Kalea pun menginterupsi agar kedua anaknya menghentikan perdebatan. Mereka harus menghargai makanan. Setelah makan selesai, Abi baru membuka mulutnya lagi. "Nanti ajari Abi wudhu dan sholat ya, Kak," pinta Abi yang membuat semua menoleh terkejut.


Namun, Aru bahagia mendengar berita baik ini. Seperti ada sesuatu yang melingkupi hatinya hingga relungnya menghangat.Tanpa menunda, Aru pun menyetujui. "Siap! Nanti akan Kakak ajari."


Waktu bergulir. Aru sudah selesai mengikuti kajian bersama Umi Hafidzah. Hari ini ada pelajaran tambahan hingga Aru harus pulang selepas isya'. Beruntung, dia sudah memberitahu orang rumah jika akan pulang terlambat.

__ADS_1


"Jalan ya, Pak," pinta Aru pada Pak Sopir pribadinya.


"Baik, Non."


Mobil melaju membelah jalanan yang terasa lengang. Mungkin, karena jalan dilewati Aru bukanlah jalan raya. Jadi, tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas. Namun, bukan berarti jalan itu tidak ramai. Sekitar lima ratus meter lagi, di depan sana akan ada pasar.


Biasanya saat malam hari, pasar akan digunakan untuk berjualan para pedagang kaki lima. Seperti pedagang Lamongan dan angkringan.


Ketika mobil tengah melaju di jalanan pasar, mata Aru melihat sosok Dirga yang sedang berjalan kesana dan kemari. Sontak hal itu membuat Aru tertarik dan meminta Pak Sopir untuk menepi.


"Pak, berhenti di pinggir jalan ya. Ada sesuatu yang harus saya lihat," pinta Aru yang segera dilakukan oleh Pak Sopir.


Aru harus menurunkan kaca mobilnya agar dia bisa melihat dengan jelas jika laki-laki yang dilihatnya tadi benar Dirga. Namun, pandangannya tertutup oleh mobil yang terparkir di seberang jalan, dimana tadi Aru melihat Dirga.


"Pak, Saya turun sebentar ya. Bapak lihat saya dari dalam mobil saja." Tanpa menunggu jawaban, Aru bergegas turun dan mencari sosok Dirga.


Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri hingga sosok itu berhasil ditemukan indera penglihatan. "Iya, itu Dirga," gumam Aru antusias. Tidak ada keinginan untuk mendekat. Cukup mengawasinya dari jauh.


"Hah? Dirga sedang bagi-bagi nasi bungkus? Pada para tuna wisma itu? Masya Allah." Aru sungguh terkejut. Matanya membelalak lebar. Sosok Dirga yang Aru kenal ternyata belum seberapa dari sosok Dirga yang sebenarnya.


Walau demikian, dalam hati Aru memuji perbuatan Dirga tersebut. Aru tersenyum. Senyum yang begitu indah bagai bunga matahari yang sudah mekar. "Aku sudah menemukan jawaban atas kebimbangan ku. Terima kasih Ya Allah."

__ADS_1


Aru kembali ke mobil. Tidak berniat menghampiri Dirga. Sepanjang perjalanan, Aru tak melepaskan senyum. Dirga adalah sosok yang luar biasa terlepas dari mulutnya yang sudah tersetel pedas.


'Benar. Janji Allah memang tidak pernah ingkar. Barangsiapa yang mencoba untuk menjadi baik, maka Allah akan mempertemukan seseorang tersebut dengan orang-orang baik,' gumam Aru dalam hati. Merasa bersyukur karena Tuhan sudah memberikan petunjuk.


__ADS_2