Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 27. Keluarga hangat


__ADS_3

Hari berganti bulan. Tidak terasa, pernikahan Aru dan Dirga sudah berjalan hampir tiga bulan lamanya. Aru menyambut bahagia ketika Dirga menunjukkan hasil sidang skripsi yang tertulis lulus.


Ya. Aru ikut ke kampus bersama Dirga karena hari ini adalah hari penting untuk suaminya. "Alhamdulillah. Selamat ya, Mas. Akhirnya kamu bisa menyelesaikan skripsi," ucap Aru sendu.


Dia bahagia. Namun dalam hati, dia juga ingin merasakan saat-saat seperti itu. Dipusingkan oleh skripsi, dikejutkan dengan sidangnya, lalu bisa menikmati hasilnya.


"Alhamdulillah. Terima kasih karena selama ini selalu mendukungku," jawab Dirga tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


Aru merasakan, tubuhnya dipeluk erat dari depan. Pelakunya tentu sang Suami. Aru tersenyum dan membalas pelukan itu. Tidak seharusnya Aru iri dengan pencapaian suaminya sendiri.


Dengan menguatkan dalam hati jika tidak semua harus berada di genggaman. Wanita yang cerdas tidak selalu mereka yang berpendidikan tinggi.


Setelah pelukan terlepas, Aru masih saja melamun hingga membuat alis Dirga bertaut. "Ada apa, Sayang? Mengapa kamu seperti sedang banyak pikiran?" tanya Dirga lembut.


Aru segera ditarik dari lamunan. Dia menggelengkan kepala. "Tidak ada. Aku hanya—"


"Sedang memikirkan seandainya dulu begini dan begitu?" ucap Dirga menebak.


Aru menghela napas kasar dan itu sudah cukup sebagai jawaban. "Syukuri apa yang saat ini kamu jalani. Maka kamu akan hidup tenang dan bahagia. Bahkan melebihi kehidupan mewah seorang raja." Dirga mulai memberikan nasehatnya.


Aru mengangguk membenarkan. "Iya. Aku bersyukur sudah sampai di titik ini. Aku bersyukur dan bahagia karena bisa hidup bersama kamu, Mas," jawab Aru dengan senyum terulas lembut.


"Ya sudah. Kita harus ke rumah Mama sekarang. Mereka pasti sudah menunggu." Aru menggandeng lengan suaminya dan berjalan beriringan menuju mobil terparkir.


Akhirnya, mobil melaju menuju kediaman keluarga Kanagara. Mama Dita dan Papa Sena baru saja pulang dari luar negeri dan berniat membuat acara kumpul-kumpul di rumah orang tua Aru.


Ya. Dua keluarga itu sudah sangat dekat bagai tak berjarak. Ada juga Tante dari adik Papa Javas, yaitu Tante Kesha yang akan ikut dalam acara tersebut.

__ADS_1


Setelah mobil terparkir di depan pekarangan rumah, Dirga dan Aru berjalan dengan saling bergandengan tangan memasuki rumah. Keduanya langsung disambut sorak-sorai orang-orang di dalamnya.


"Itu dia pengantin yang masih hangat-hangatnya datang!" ledek Mama Dita yang membuat Aru seketika tersenyum lebar. Tak terkecuali Dirga, dia bahagia karena akhirnya bisa kembali berjumpa dengan kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum," sapa Aru dan Dirga bersamaan lalu menyalami satu per satu orang yang berada di sana.


"Waalaikumsalam. Hm, auranya Aru sekarang sudah lebih terpancar ya. Terakhir Tante bertemu kamu, sangat berbeda dengan hari ini. Sepertinya, kamu begitu bahagia," tebak Tante Kesha ketika tiba giliran Aru menyalami tangan tantenya itu.


"Alhamdulillah. Seperti yang Tante lihat," jawab Aru mengamini.


"Apa kabar Mama?" tanya Aru setelah menyalami Mama Dita dan berpelukan dengan ibu dari suaminya itu.


"Mama baik. Mama khawatir dengan kalian. Namun, ketika melihat sendiri bagaimana lebarnya senyum kalian, kekhawatiran itu seketika hilang," ungkap Mama Dita yang ditanggapi kekehan oleh semua.


"Oh iya, Papa dimana, Mas?" tanya Dirga sambil mengedarkan pandangan mencari keberadaan papanya.


"Ada di teras belakang bersama Papa Javas. Susul gih!" Bu Dita menjawab demikian.


Sepeninggalan Dirga, Aru duduk di sebelah Tante Kesha. "Robert kemana, Tan? Kok tidak ikut?" tanya Aru ketika tidak mendapati Abi maupun Robert, adik sepupu Aru itu terlihat.


"Abi dan Robert ada bimbel. Satu jam lagi mereka paling akan datang," jawab Tante Kesha sambil mengibaskan tangan di depan dada.


Aru dan Bu Dita terkekeh pelan. Hingga suara Oma Belinda terdengar dan berhasil mengambil alih atensi Aru sepenuhnya. "Aduh, cucu Oma sudah datang!" pekik beliau begitu antusias.


Aru menyambut bahagia lalu memeluk Omanya itu. Sikap Omanya yang tak lagi sinis seperti dulu, membuat Aru semakin menyayangi beliau.


"Eh! Kamu sudah datang, Ru," ucap suara yang tidak lain adalah milik Mama Kalea. Beliau datang dengan membawa nampan berisi camilan. Di belakangnya ada Bibi yang membawa nampan berisi minuman.

__ADS_1


Aru langsung mengambil alih nampan di tangan Bibi. "Sini, biar aku saja, Bi. Bibi bisa ambil yang lain." Lalu Bibi hanya bisa pasrah.


Aru menyuguhkan minuman tersebut di atas meja lalu mempersilahkan semua untuk menikmati hidangan. "Duduk, Cucu Oma," pinta Oma Belinda dan Aru segera melaksanakan.


Setelah Aru duduk di samping sang Oma, neneknya itu kembali melempar pertanyaan. "Bagaimana? Sudah isi belum?" tanya beliau.


Aru mengerutkan alis bingung. Apa yang harus diisi memangnya? "Isi apa, Oma?" tanya Aru bingung. Sontak hal itu membuat semua orang tertawa.


"Mama ... Tidak perlu terburu-buru. Mereka masih muda dan belum pernah pacaran. Karena mereka sudah menjadi suami-istri, pacarannya akan lebih indah. Jadi, biarkan masa-masa tersebut mereka lalui dulu," ucap Tante Kesha bijak.


Mama Dita dan Mama Kalea mengangguk membenarkan. "Lagi pula, memangnya Mama mau dipanggil buyut? Berarti, Mama sudah semakin tua dong dengan sebutan baru itu," ledek Mama Kalea yang seketika membuat Oma Belinda memegangi wajahnya.


Kini giliran Aru yang tertawa. "Tenang, Oma. Oma masih cantik walau usia tidak bisa diperlambat. Tua itu pasti. Yang membedakan adalah, menua tetapi pikiran seperti anak kecil atau menua tetapi pikiran juga ikut dewasa. Kita hanya tinggal memilihnya," seloroh Aru yang mendapat tepuk tangan dari semua.


"Huh! Tidak salah aku pilih mantu," ucap Mama Dita kegirangan.


Tawa pun meledak di antara mereka. Siang hari itu, mereka habiskan dengan saling bertukar cerita. Namun, mereka lebih banyak bertanya tentang Aru yang belajar di pondok.


Hingga matahari mulai kembali ke peraduan, Aru dan Dirga pamit untuk pulang. Begitu juga dengan Mama Dita dan Papa Sena yang harus pulang.


"Besok kalian harus datang ke rumah Mama ya. Tidak ada penolakan. Mama akan masak banyak makanan untuk kalian," pinta Mama Dita yang sulit untuk Aru tolak.


"InsyaAllah, Ma. Aru ikut Mas Dirga saja," jawab Aru yang membuat senyum di bibir Mama Dita semakin lebar. Beliau menyentuhnya bahu Aru dan berucap.


"Iya. Izin suami memang hal yang paling utama. Mama banyak belajar dari kamu. Benar, tua itu pasti. Yang membedakan hanyalah kedewasaannya." Setelah berucap demikian, Bu Dita memeluk Aru lalu mengecup kening sang Menantu.


"Jaga kesehatan kamu ya. Mama berharap Dirga dan kamu datang. Dua hari lagi Mama dan Papa akan kembali ke luar negeri loh," ucap Bu Dita yang kini lebih memelas lagi.

__ADS_1


Dirga terkekeh. "Mama dan Papa tidak ingin mengurus usaha yang ada di sini dulu? Untuk beberapa Minggu? Dirga juga ingin bulan madu loh." Dirga memberi kode pada orang tuanya.


Sontak semua yang mendengar pun tertawa. Papa Sena dan Mama Dita menjadi tidak berdaya dengan menggaruk tengkuk mereka masing-masing tanda salah tingkah.


__ADS_2