
Dirga pun berniat mencari tahu langsung. Mengapa istrinya itu sering sekali marah dan seakan antipati dengan Sisil. Pasti bukan tanpa sebab hingga Aru bisa bersikap seperti itu.
Dengan rasa penasaran tinggi, Dirga mengendarai mobil menuju kantor polisi dimana Yoda berada. Orang kepercayaannya telah mencari informasi dsn beruntungnya, kantor polisi tersebut tidak terlalu jauh dari pesantren.
Dua puluh menit perjalanan, Dirga telah sampai dan bergegas turun. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui fakta yang sesungguhnya. Apakah Sisil yang dituduhkan Aru benar atau hanya perasaan Aru saja yang terlalu cemburu.
"Pak? Bisa besuk tahanan bernama Prayoda Suseno?" ucap Dirga pada salah satu petugas kepolisian.
"Anda siapanya?" tanya beliau penasaran.
"Saya teman kuliahnya, Pak," bohong Dirga agar segera diberi akses untuk berbicara dengan Yoda.
"Baik. Akan saya panggilan dia. Silahkan menunggu di ruang besuk," pinta pak Polisi sambil menunjukkan sebuah ruangan khusus untuk menjenguk tahanan lapas.
Dirga mengangguk dan langsung duduk di salah satu bangku panjang. Tidak berapa lama, sosok polisi tadi datang bersama Yoda yang tangannya telah diborgol.
__ADS_1
"Jam besuk hanya sepuluh menit. Harap menjaga ketenangan dan jangan membuat keributan," peringat pak Polisi sebelum meninggalkan keduanya.
Kedua laki-laki itu kini saling lempar pandang. "Kenapa mencari ku?" tanya Yoda tak ingin berbasa-basi.
"Ada yang ingin aku tanyakan. Ini mengenai Sisil. Kamu tahu dia kan?" tanya Dirga yang tidak langsung mendapat jawaban dari Yoda. Pria di depannya justru menatap Dirga dengan tatapan yang sulit sekali diartikan.
"Ayolah. Aku tidak memiliki banyak waktu. Aku bertengkar dengan Aru. Aku tidak akan menyalahkan kamu karena itu semua tidak benar. Aku yang paling bersalah karena tidak mempercayai Aru dengan baik. Bisa kamu jelaskan ada hubungan apa antara kamu dengan Sisil? Apakah benar jika Sisil terlibat?" tanya Dirga yang membuat Yoda seketika tertawa.
"Apakah kamu tidak bisa mengetahui dari gerak-gerik Sisil? Apakah kamu masih menganggap dia wanita baik-baik? Berhubung aku sudah tobat, akan aku katakan yang sesungguhnya. Sisil itu menyukaimu. Sebenarnya, membawa Aru bukanlah rencanaku, melainkan rencana Sisil. Dia yang mengatur semuanya dan meminta aku untuk bekerja sama. Berhubung aku masih berharap pada Aru, ya aku terima saja."
"Lalu apa? Apakah kamu ditunjukkan sebuah foto oleh Sisil tentang aku dan Aru yang pergi menggunakan mobil? Jika iya, itu hanyalah setingan yang Sisil buat." Yoda kini tertawa lagi seakan telah berhasil membodohi Dirga.
Dirga mengepalkan kedua tangan dan menatap Yoda nyalang. Dia berusaha mengontrol emosi agar tidak meledak. Bagaimana pun, dia sedang berada di kantor polisi.
"Jadi, selama ini kalian yang telah mempermainkan rumah tanggaku dengan Aru?" tanyanya menahan amarah.
__ADS_1
Yoda mengangguk santai tanpa dosa. "Bagaimana rasanya dipermainkan? Itulah mengapa kamu harus lebih percaya dengan istri sendiri." Tawa Yoda kembali menggema.
Dirga hanya terdiam agar amarahnya tak meledak. Bersamaan dengan itu, polisi yang bertugas datang dan mengatakan waktu besuk telah habis. Dirga membiarkan Yoda berlalu untuk kembali ke tempatnya yang sekarang.
Dirga terpaku di tempat duduk. Ingatannya terlempar pada kejadian dimana tiba-tiba Sisil muncul dengan membawa kantong kresek berisi sampah tempo hari.
Sisil juga menerangkan tentang kepergian Aru dan sempat mengambil fotonya. Aneh sekali bila ditelusuri. Untuk apa Sisil mengambil foto Aru dengan Yoda? Lagi pula, Sisil harusnya tidak peduli.
Deg.
Secepat kilat, Dirga keluar dari kantor polisi. Dia memutar setir menuju kediaman orang tua Aru. Dia harus menemui Aru malam ini juga. Dengan kecepatan di atas rata-rata, mobil itu melaju membelah jalanan. Mengabaikan bunyi klakson yang bersahut-sahutan untuk memperingatkan Dirga.
Hingga di ujung pertigaan, karena mobil terlalu kencang, Dirga tidak menyadari traffic light berganti merah. Hingga ada mobil tronton yang melaju dari arah kiri lalu ...
BRAAAAK.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Dirga terpental sangat jauh. Tidak berapa lama, terdengar bunyi ledakan yang begitu dahsyat, hingga berhasil mencuri atensi banyak orang.