
Aru benar-benar menemani Dirga untuk datang ke pesantren. Walau dia sudah pamit untuk tidak lagi datang kesana, rasanya masih ada rindu akan suasana di pondok pesantren.
Setelah mobil Dirga sampai, Aru bergegas ke depan. Papanya belum berangkat dan dia tidak ingin ada drama mertua dan menantunya lagi.
"Loh? Kamu sudah siap?" tanya Dirga terkejut. Bukannya menjawab, Aru sibuk memutari setengah badan mobil dan duduk di kursi penumpang samping kemudi.
"Mau aku temani atau tidak?" tanya Aru ketus.
Dirga mencebikkan bibirnya. "Galak banget sih," gerutunya dan mulai menjalankan mobil.
Aru mengabaikan protes Dirga yang sudah beberapa hari ini terjadi. Dia memilih untuk membuang muka ke luar, dimana pemandangan jalanan tampak asri.
Aru masih belum bisa memaafkan Dirga sepenuhnya karena suaminya itu meminta maaf tanpa mengakui kesalahan secara detail. Aru ingin Dirga meminta maaf dengan bersungguh-sungguh dan mengakui kesalahannya.
Bukan hanya kesalahan mengusir dan menalaknya. Namun, Aru juga ingin mendengar Dirga meminta maaf karena telah menuduh dirinya berselingkuh dan mengatakan belum selesai dengan masa lalu.
Tentu saja Aru tidak terima karena semua tuduhan itu tidaklah benar. "Aru?" panggil Dirga yang menyentak lamunannya.
"Kenapa?" tanya Aru cuek.
"Kita sudah sampai." Sontak Aru mengedarkan pandangan. Rasanya, baru saja dia berangkat dari rumah. Kini, tiba-tiba saja mobil telah sampai di tempat tujuan.
Aru memutuskan untuk turun begitu juga dengan Dirga. "Kamu temui mbak Sisil saja, Mas. Aku akan menemui mbak Zahra terlebih dahulu," pinta Aru yang langsung mendapat gelengan kepala dari Dirga.
"Sama saja bohong kalau begitu. Kamu harus temani aku," putus Dirga final. Aru hanya bisa menurut dan mengikuti langkah suaminya menuju sebuah ruangan bertuliskan 'ruang administrasi'.
"Assalamualaikum," sapa Dirga ketika pintu teah terbuka. Aru melakukan hal yang sama memasang senyum manisnya. Bukan tanpa sebab. Dari jarak beberapa meter di depan sana, Sisil sedang menatap dirinya dengan pandangan sinis. Namun, tatapan itu berubah lembut ketika memandang suaminya.
"Aku tunggu di sini saja, Mas." Aru berucap pelan dan duduk di double sofa yang berada di ruangan tersebut. Dia malas menyimak pembicaraan sang Suami dan Mbak Sisil. Ada juga satu laki-laki yang duduk di sebelah Sisil. Mungkin, beliau merupakan petugas administrasi.
__ADS_1
Aru penasaran pada interaksi Dirga dan Sisil yang sedang membahas keuangan. Suaminya terlihat biasa saja. Tetapi Mbak Sisil, ekspresi wajahnya tampak dibuat semanis mungkin.
Ingin sekali Aru memuntahkan semua isi perutnya melihat wajah Mbak Sisil. "Bisa-bisanya Mas Dirga nyaman," gerutu Aru lirih.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dirga yang mendengar gumaman sang Istri. Aru menggelengkan kepala dengan tersenyum tipis sebagai jawaban. Suaminya tidak tahu saja jika Sisil telah terlibat dalam misi menghancurkan rumah tangganya.
Setengah jam berlalu. Dirga selesai dengan urusannya. Aru berdiri lebih dulu dan mengangguk sopan pada Mbak Sisil dan salah satu laki-laki yang ada di sana.
Sesampainya di depan pondok, Aru tidak berniat untuk masuk ke mobil Dirga. Hal itu membuat sang Suami bertanya-tanya ada apakah gerangan.
"Kenapa sih? Cemburu lagi?" tanya Dirga terkekeh pelan.
"Jangan terlalu percaya diri deh, Mas. Kurang-kurangilah sifat seperti itu," jawab Aru menggerutu.
"Lebih baik kamu pulang dulu. Aku masih ada urusan di sini," pinta Aru dan tanpa menunggu jawaban dari Dirga, dia berjalan meninggalkan suaminya. Mengabaikan pekikan sang Suami yang memanggil namanya berulangkali.
Karena amarah yang sudah lama menumpuk ditambah lagi melihat wajah centil Sisil, Aru datang ke ruangan itu tanpa perlu berpikir panjang.
Beruntung, pintu itu terbuka dan Sisil keluar dari sana. Situasi yang begitu mendukung untuk Aru mengacak-acak jilbab yang dikenakan wanita tersebut. Namun, hal tersebut tidak Aru lakukan. Dia ingin marah dengan elegan.
"Mbak? Bisa kita bicara?" tanya Aru berusaha bersikap sopan.
"Bicara saja. Aku tidak memiliki banyak waktu," jawab Sisil merasa kesal.
Aru tersenyum. "Mbak Sisil yang sudah membantu Yoda untuk melakukan kejahatan kepadaku tempo hari bukan?" bisik Aru tepat di telinga Sisil.
Kini, Aru bisa melihat wajah Sisil memucat akibat pertanyaannya barusan. "Kenapa, Mbak? Aku bisa saja membuat Mbak Sisil masuk bui karena terlibat pada sebuah kejahatan. Dengan kesaksian Yoda, Mbak Sisil akan berada di balik jeruji besi dalam hitungan jam. Bagaimana? Masih ingin bermain-main denganku?" ancam Aru penuh intimidasi.
"Jangan. Aku mohon jangan lakukan itu. Bagaimana dengan keluargaku jika aku sampai masuk penjara? Siapa yang akan mengirimi mereka uang untuk kebutuhan sehari-hari?" Mbak Sisil Kini memohon pada Aru.
__ADS_1
Entah kemana perginya wajah angkuh dan sombong yang selalu perempuan itu tunjukkan. "Tolong, maafkan saya karena sudah melakukan hal ini," pinta Sisil yang kini sudah bersujud di hadapan Aru.
Aru pun segera menjauh. Tidak sudi sedikit kulitnya tersentuh oleh tangan Sisil. Beruntung, para santri tengah mengikuti kajian. Sehingga, adegan tersebut tidak diketahui banyak orang.
"Ada apa ini? Apa yang kamu lakukan, Ru?" ucap suara dari arah belakang yang membuat dua perempuan itu menoleh. Aru tampak biasa saja sedangkan Sisil, wajahnya tampak terkejut.
"Ini bukan urusan kamu," ucap Aru memperingatkan.
"Aru! Aku tahu kamu cemburu karena aku baru saja berinteraksi dengan Sisil. Tetapi tolong, jangan lakukan hal ini kepadanya," ucap Dirga langsung menghakimi tanpa ingin tahu lebih jelas permasalahan yang ada.
Aru menoleh sinis. "Ini bukan tentang kamu. Ini tentang harga diriku. Jadi, jangan sembarang berbicara dan hanya berujung menghakimi. Bela saja terus, Mas. Sampai kita benar-benar berpisah!" pekik Aru gak mampu lagi menahan amarahnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Dirga semakin kebingungan.
Aru terkekeh sinis dan mendekat pada suaminya. "Kamu itu bodoh atau pura-pura tidak tahu sih, Mas? Dia juga terlibat dalam tindakan kriminal yang Yoda lakukan. Kamu tahu buntut dari masalah itu? Aku dihina oleh suamiku sendiri. Aku dikatakan belum bisa melupakan masa lalu sampai kamu tega menalak aku. Puas kamu!?"
Keluar sudah semua yang menjadi beban pikiran Aru selama ini. Dirga yang baru mengetahuinya, terpaku di tempat dengan kedua tangan yang mengepal di samping tubuh.
"Kamu tidak berbohong kan?" tanya Dirga yang membuat Aru semakin marah.
"Aku berbohong. Itu kan yang ingin kamu dengar? Itulah sebabnya aku belum bisa memaafkan kamu sepenuhnya. Karena apa? Karena kamu tidak pernah sadar dan mengakui kesalahan. Aku sudah salah lagi memilih pasangan," sesal Aru lalu meninggalkan dua manusia tak berperasaan itu.
Dirga pun mengejar Aru sampai di depan mobilnya. Namun, Aru seperti enggan untuk menoleh atau sekedar melihat wajah Dirga. Yang dia lakukan adalah memainkan ponsel untuk memesan ojek online.
"Ru? Jangan pergi aku mohon. Maafkan atas ketidak-pekaan ku padamu. Aku mohon, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan baik, Ru. Aku tidak ingin hubungan kita kembali merenggang," rengek Dirga penuh permohonan.
Aru Menoleh kesal. "Sudahlah, Mas. Nyatanya kamu tidak bisa tegas dan terlalu mengedepankan rasa cemburu yang berlebihan. Lebih baik Mas cari tahu dulu semuanya sampai benar-benar jelas. Jadi, kamu tidak akan lagi sembarangan menuduhku." Aru berucap panjang lebar.
Bersamaan dengan itu, ojek yang dia pesan telah tiba. Aru pun meninggalkan Dirga yang terlihat begitu frustasi. Aru tidak peduli. Suaminya memang harus diberi pelajaran.
__ADS_1