Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 33. Pasangan gengsi


__ADS_3

"Assalamualaikum," sapa suara dari arah depan dan Dirga muncul dari sana. Semua keluarga tengah berkumpul untuk melakukan sarapan bersama. Sudah dua hari semenjak hubungannya sedikit membaik, Dirga selalu datang ke rumah orang tua Aru.


"Waalaikumsalam," jawab Mama dan Abidzar serentak. Aru hanya menjawabnya dalam hati sedangkan sang Papa tidak terdengar suaranya. Riak wajahnya sudah berubah ketika melihat siapa yang datang.


"Papa sudah selesai. Kalau begitu, Papa berangkat ke kantor dulu," pamit Papa Javas tanpa ingin menyapa Dirga yang kini berniat untuk menyalami tangannya.


"Jangan sok baik kamu. Tidak semudah itu mendapat maaf dariku," ucap beliau sambil menatap Dirga tajam.


"Jangan dengarkan Papa, Ga. Duduk dulu. Kamu belum sarapan kan?" tanya sang Mama yang bersikap netral. Sedangkan papanya, secar terang-terangan menunjukkan tatapan permusuhan.


Lalu Mama Kalea menoleh pada Aru dan berkata. "Layani suami kamu, Ru. Sudah seharusnya kamu melakukan kewajiban sebagai seorang istri."


"Tidak perlu repot-repot, Ma. Dirga bisa makan di kantor nanti," tolak Dirga halus, merasa tidak enak hati karena sepagi ini telah menimbulkan huru-hara.


Aru pun bangkit dan mulai mengambilkan sarapan untuk Dirga. Setelah selesai, Aru menyuguhkan di hadapan suaminya. "Nih."


"Untung istriku baik. Kalau tidak, bisa-bisa kamu—"


"Papa! Sudah! Katanya mau berangkat. Kok malah penasaran?" tanya Mama meledek.


Sang Papa pun menghela napas kasar. "Iya, Papa berangkat dulu." Setelah itu, papanya benar-benar pergi di antar oleh sang Mama.


"Abi juga mau berangkat dulu ya, Kak," pamit Abidzar yang sudah meletakkan ransel di punggungnya.


"Kak Dirga, aku tinggal dulu ya? Lanjut saja sarapannya. Jangan dengarkan ucapan Papa kalau Kakak benar-benar ingin mengambil hati Papa." Lalu Abidzar menepuk bahu Dirga layaknya orang yang sudah dewasa dan menasehati orang yang lebih muda.


Bukankah nasehat bisa datang darimana saja? Bahkan, dari mulut sang pendosa pun. "Terima kasih, Bi. Yang fokus sekolahnya ya," ucap Dirga disertai senyum manis.


Kini, tinggallah Aru dan Dirga di ruang makan tersebut. Aru telah selesai pada sarapannya tetapi memilih bertahan hanya demi menyaksikan suaminya makan. "Makan, Mas!" titah Aru sambil meminum air putih di depannya.


"Aru?" panggil Dirga setelah beberapa detik berlalu dengan keheningan.


"Kenapa?" tanya Aru cuek.

__ADS_1


"Besok aku mau ke pesantren Darussalam," beritahu Dirga memulai pembicaraan.


"Ya terus? Apa urusannya denganku?" tanya Aru kesal.


Dirga menghentikan acara makannya dan menatap sang Istri sepenuhnya. "Aku pasti akan bertemu dengan Sisil."


"Ya terus? Kamu kenapa sih, aneh sekali. Ketemu tinggal ketemu. Biasanya juga tidak pernah meminta izin," jawab Aru kesal lalu beranjak dari duduknya menuju dapur untuk mencuci tangan.


"Kenapa marah-marah sih? Tidak ayah tidak anaknya sama saja." Mama Kalea muncul dari depan dengan menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan pikirkan ya, Ga. Kalau mau berjuang, ya harus rela seperti ini dulu," ucap beliau sambil mengambil majalah yang terletak di atas meja.


Dirga tersenyum maklum menanggapi. Dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. "Mama tinggal dulu. Susul gih si Arunya. Dia ngambek deh."


Setelah Mama Kalea berlalu, Dirga memikirkan ucapan beliau yang mengatakan untuk menyusul sang istri. Kebetulan juga makanan yang berada di piringnya telah tandas. Dengan alasan cuci tangan dan membawa piring kotor, Dirga pun menuju dapur dimana tadi Aru mendatanginya.


Namun, setelah sampai di dapur Dirga tidak menemukan siapapun. Tidak ada asisten rumah tangga juga yang sedang bekerja. Ketika melihat pintu penghubung teras belakang terbuka, Dirga berniat untuk mengeceknya. Mungkin, istri cantiknya itu berada di luar.


"Aru?" panggil Dirga berharap ada sahutan.


Ketika kakinya melangkah melewati batu-batuan andesit, ada sebuah gazebo dan Dirga bisa melihat istrinya yang sedang melamun.


"Aru?" panggilnya dan Aru menoleh terkejut.


"Kenapa sih, Mas, kamu memiliki mulut yang begitu pedas dan mudah sekali menyakiti? Harusnya, itu bukan kodrat kamu sebagai laki-laki. Kodrat laki-laki tuh kalau marah diam," tanya Aru sambil mendongak, menatap langit yang tampak bersinar terang.


Dirga pun mengambil posisi duduk di samping Aru dengan kakinya yang dibiarkan menjuntai ke lantai. "Apakah sifat buruk ku begitu mengganggu? Aku terkadang tidak bisa mengontrol ketika sedang marah dan cemburu. Maafkan aku, Ru," sesal Dirga menunduk dalam.


Aru hanya diam dan setia menatap indahnya sang Surya yang menyilaukan mata. Kelopak mata Aru sampai menyipit agar tidak menyakiti retinanya.


Dirga ikut melakukan hal yang sama. "Bolehkah aku mengajakmu pergi besok pagi? Aku tidak bisa datang sendiri ke pondok," ucap Dirga yang membuat Aru mengalihkan perhatian.


"Kenapa? Biasanya juga datang sendiri," tanya Aru ketus.


"Karena aku sudah terbiasa ada kamu. Besok aku harus datang untuk pencairan dana umat. Program itu masih berjalan dengan baik dan tidak akan pernah berhenti sampai anak dan cucu kita," ucap Dirga lagi yang membuat Aru sampai mengulum senyum. Dia tidak ingin luluh begitu saja hanya karena kata 'anak dan cucu'

__ADS_1


Aru tersentak ketika mendapat sentuhan di tangan. Dirga telah berhasil menautkan jari-jarinya pada sela jemari Aru. Dirga pun semakin merapat dan menyentuh dagu Aru dengan telunjuk dan ibu jarinya.


Keduanya saling tatap, meresapi perasaan yang berdebar-debar menyenangkan. Aru mencoba mencari dusta dalam tatapan Dirga. Tetapi, dia tidak menemukannya.


Yang ada, suaminya itu kini tengah menatapnya penuh kerinduan. "Mas—"


Belum sempat Aru menyelesaikan kalimatnya, Dirga sudah lebih dulu membungkam dengan sebuah ciuman. Setelah wajah suaminya menjauh, Aru memukul lengan Dirga kesal.


"Kenapa kurang ajar sih, Mas?" tanya Aru kesal.Dirga terkekeh seakan tidak merasa berdosa karena telah membuat jantung Aru bertalu-talu.


"Kamu istriku. Apa yang aku lakukan akan menjadi pahala termasuk mencium istri sendiri," ungkap Dirga yang membuat bibir Aru bungkam.


Melihat itu, Dirga kembali berucap. "Bahkan, hanya dengan tersenyum padaku, kamu akan pahala luar biasa. Mudah bagi seorang istri untuk mencari ridho Allah," lanjutnya.


"Aru?" panggil Dirga lembut. Kepalanya sudah bersandar di bahu sang Istri dan menghirup ceruk leher yang selalu tertutup hijab milik istrinya.


"Temani aku ya? Aku tidak ingin membuat istri cantikku salah paham lagi. Apapun yang ingin aku lakukan, restu istri adalah hal yang paling utama." Dirga mulai merayu hingga Aru tak mampu lagi berkata-kata.


"Geli, Mas," ucap Aru lalu terkikik sendiri.


"Makanya jawab iya. Nanti akan aku lepaskan," pinta Dirga memang cerdas.


"Curang kamu ya. Ya sudah, Iya. Akan aku temani," jawab Aru pada akhirnya. Dia tidak tahan dikecup berulangkali pada area rahang. Hal itu membangkitkan sesuatu dalam diri Aru yang sejak beberapa hari ini tidak ada tempat untuk melepaskan.


Bukannya menjauh, Dirga justru menangkup wajah sang Istri dan menyatukan kening. "Aku rindu hal seperti ini denganmu. Pulang ya? Aku kesepian di rumah."


Aru memutar bola matanya jengah. Dirga diberi jantung kini sudah berani meminta hati. "Bukankah sudah aku katakan untuk diberi waktu?" tanya Aru yang sudah menjauhkan diri. Namun, Dirga tidak memberikan kesempatan itu dan memilih mendekap sang Istri.


"Baiklah. Aku akan berjuang lebih keras lagi, berdoa lebih lama lagi agar istri cantikku tidak lagi marah."


Mereka tidak tahu saja jika mama Kalea tidak sengaja mendengar pembicaraan anak dan menantunya. Niat awal ingin merawat bunga-bunga, terpaksa urung ketika melihat pasangan muda yang masih meninggikan gengsi.


"Nanti sajalah. Jangan sampai aku mengganggu waktu mereka. Sudah sewajarnya mereka harus saling bicara agar kesalahpahaman tidak sampai berlarut-larut," ucap Mama Kalea lalu bergegas masuk ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2