
Beberapa bulan kemudian, suasana rumah sakit tampak riuh akibat kedatangan dua keluarga yang mengantar Aru untuk melahirkan. Semua ikut cemas menanti kehadiran bayi yang ada dalam rahim Aru.
"Mohon jangan berisik karena hal tersebut akan menganggu pasien lain," ucap salah satu nakes kepada dua keluarga tersebut.
Mama Kalea dan Mana Dita sontak mengunci mulut bersamaan dengan brankar yang membawa Aru masuk dalam ruangan dan pintu tertutup.
"Ya Allah. Tolong berikan keselamatan kepada putri dan cucuku," ucap Mama Kalea sambil menengadah merapalkan doa. Mama Dita juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Papa Javas dan Papa Sena sudah berdiri mondar-mandir, merasa gelisah.
Tidak berselang lama, karena pembukaan Aru sudah tujuh, suara tangis bayi pun terdengar menggema. Semua mengucapkan hamdalah mendengar cucu pertama dari dua keluarga itu lahir. Mereka juga penasaran jenis kelamin cucunya itu. Karena memang, Aru tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya sebelum waktunya tiba. Dia ingin hal tersebut menjadi rahasia.
Sedangkan dalam ruangan, tangis haru dari Dirga pun terdengar. Dirga bahkan sampai mengecupi kening sangat Istri, merasa sangat berterimakasih karena sudah berjuang menyelematkan anaknya.
"Selamat, Pak, Bu. Anaknya laki-laki dengan berat tiga kilo gram. Bayinya sehat tanpa kurang suatu apapun," beritahu dokter yang menangani proses melahirkannya Aru.
"Terimakasih, Dok. Sudah bersedia membantu istri saya," ucap Dirga berhutang budi.
"Ayo, Pak. Putranya di azan dan iqomah dulu," pinta dokter tersebut yang segera Dirga lakukan.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Dirga menggendong bayi mungil yang begitu mirip dengannya. Air matanya sudah tak terbendung melihat mata bulat kecil dan jernih milik sang Putra, seperti menatap dirinya.
Dirga segera mengumandangkan azan di telinga kanan putranya. Disusul dengan Iqamah yang dikumandangkan pada telinga kirinya. Setelah selesai, dokter izin membawa putranya untuk dibersihkan dan dicek kesehatannya. Termasuk cek darah dan organ tubuh lainnya.
Setelah dokter membersihkan ari-ari dan Aru sudah dalam keadaan bersih, Dirga kembali melabuhkan kecupan di kening sang Istri.
Aru pun tersenyum mendapat sentuhan lembut tersebut. "Kamu bahagia, Mas?" tanya Aru. Tubuhnya terasa lelah namun terbayar sudah ketika mendengar suara tangis anaknya pecah.
"Sangat. Hidupku lebih sempurna ketika ada kalian. Terima kasih banyak, Sayang," jawab Dirga lembut.
Dua hari dirawat, Aru sudah diizinkan pulang ke rumah. Mama Kalea dan Mama Dita menjadi nenek siaga untuk cucu pertama dari keluarga Mahesa maupun Kanagara. Keduanya tidak ingin sampai lalai merawat Aru dan cucunya.
"Atututu... Cucu Oma, Sayang." Mama Dita tampak gemas dengan Raefan, anak Dirga dan Aru. Putra pertama dari pasangan tersebut diberi nama Raefan sangkara.
"Dia cucuku juga, Ta," ucap Mama Kalea tak ingin kalah. Apalagi, cucunya itu sedang berada si gendongannya.
Mereka sedang berkumpul di ruang tengah. Pagi hari itu, Raefan baru saja dijemur di bawah sinar matahari yang masih sehat. Ketika sibuk memperhatikan dua mamanya, tiba-tiba Aru merasakan tubuhnya dipeluk dari samping.
__ADS_1
"Kamu bahagia, Mi? Mulai sekarang, aku akan panggil kamu dengan Mami. Kamu juga harus memanggilku dengan Papi. Sudah saatnya kita menggunakan panggilan baru." Setelah mengucapkan hal tersebut, Dirga melabuhkan kecupan di pipi Aru.
Aru tersenyum malu-malu lalu menelusupkan wajah di dada Dirga. "Iya. Kita harus mengganti panggilan mulai hari ini," jawab Aru lalu balas memeluk suaminya.
Hasil dari kesabaran dan kesakitan yang selama ini Aru rasakan, telah membuahkan hasil yang manis. Suami yang sholeh, dan diberi anak yang tampan.
Sebagai seorang wanita, Aru akan tetap menjaga ukhwah khasanahnya. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya dan keluarga.
Selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Akhirnya..... ...
...Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca novel remahan ku ini. semoga kalian diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah. ...
...Sampai jumpa di novel selanjutnya ya😘🥰🥰...
__ADS_1