
Sudah tiga hari ini Dirga dirawat. Keadaanya sudah lebih baik tetapi belum diperbolehkan untuk pulang. Mama Kalea dan Papa Javas selalu datang untuk melihat perkembangan keadaan sang Menantu. Begitu juga dengan Mama Dita dan Papa Sena. Namun, Aru meminta kedua mertuanya itu untuk beristirahat di rumah saja.
"Mau makan apa lagi, Mas?" tanya Aru ketika jatah makan siang suaminya telah tandas.
"Boleh minum air dingin tidak?" ucap Dirga lirih.
Aru mengangguk. "Boleh. Sebentar akan aku ambilkan." Lalu Aru berjalan pada lemari pendingin yang memang telah tersedia di ruang rawat inap tersebut. Karena memang, keluarga memesan kamar VIP demi kenyamanan Dirga juga keluarga yang menjenguk.
"Jangan terlalu banyak dulu ya, Mas," pinta Aru sambil menuang setengah air ke dalam gelas. Aru pun kembali mendekat dan menyerahkan gelas tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim dulu, Mas," pinta Aru dan Dirga melakukan hal baik tersebut.
"Duduk sini, Sayang," pinta Dirga sambil menepuk sisa tempat di brankar.
Setelah menaruh gelas di atas nakas, Aru pun duduk di sana. Suaminya itu langsung memeluk pinggang Aru dan menenggelamkan wajahnya pada perut rata sang Istri.
"Aku sudah tahu semuanya." Dirga tiba-tiba berucap demikian hingga membuat kening Aru berkerut.
"Tahu tentang apa?" tanya Aru bingung.
Dirga pun mengecupi punggung tangan Aru yang bertengger di lehernya. "Tahu tentang masalah kamu dengan Yoda. Aku sudah tahu semuanya karena sebelum kecelakaan terjadi, aku sempat datang ke kantor polisi demi mendapat informasi yang tepat," ungkap Dirga yang hanya ditanggapi anggukan oleh Aru.
"Jadi, sudah tahu kan? Makanya jangan tuduh sembarangan," jawab Aru kesal bila mengingat akan hal tersebut.
Dirga mengangguk dan mendongak untuk menatap wajah istrinya. "Maafkan aku, Ru. Seharusnya, aku tidak bertindak gegabah dengan menuduh kamu tanpa adanya bukti yang valid. Aku memang suami yang tidak berguna." Dirga benar-benar menyesal karena tidak mempercayai sang Istri.
"Aku mungkin bisa memaafkan kamu berulangkali. Tetapi, aku hanya takut kamu juga mengulangi berkali-kali." Aru mencoba melepaskan diri dari belitan Dirga. Namun, suaminya itu sekuat tenaga menahan.
"Jangan pergi. Aku salah. Aku mengaku salah. Tolong, ingatkan aku bila sedang membuat kesalahan," ucap Dirga ketakutan jika Aru benar-benar akan pergi meninggalkan dirinya. Mungkin saja, istrinya itu sudah bosan disakiti atau bisa saja sudah jengah dengan sikapnya yang terlewat cemburuan.
__ADS_1
Aru berdecak sebal. "Aku tidak pergi. Hanya ingin mengambil tisu. Bibir kamu belum dilap tuh," ucap Aru sambil menunjuk bibir Dirga yang masih terdapat sedikit noda makanan di bagian sudutnya.
Dirga baru bisa melepas Aru dengan tenang. Istrinya itu kembali dengan membawa satu bungkus tisu dan mengambil selembar untuk mengelap bibirnya. Bila sedang serius, kecantikan Aru bagai menambah berkali-kali lipat. Dirga tak pernah jemu memandang wajah istrinya cantiknya itu.
"Kenapa begitu melihatnya?" tanya Aru melirik sekilas lalu menjauhkan tubuh agar bisa menatap Dirga.
"Kamu cantik. Boleh cium kan?" ucap Dirga memohon.
Helaan napas kasar keluar dari bibir Aru. Dia juga mengusap wajahnya kasar. "Kunci dari awet nya sebuah hubungan adalah kepercayaan, komunikasi, dan timbal balik. Jadi aku mohon, untuk kejadian yang telah berlalu harus menjadi pembelajaran di masa mendatang. Kita butuh saling percaya. Bila ada kesalahpahaman, kita harus bicara dan saling memahami. Setelah itu, kita juga butuh timbal-balik. Dalam artian, bukan hanya komunikasi satu arah. Percuma komunikasi kalau misal hanya aku yang bicara tetapi Mas tidak mau memahami dan mengerti."
Aru berucap panjang lebar dan Dirga hanya mampu terdiam. Aru sudah memiliki pemikiran yang begitu dewasa. Sedangkan dirinya yang seorang suami, justru sering bersikap kekanak-kanakan.
Sungguh, hatinya merasa tersentil beberapa kali akibat ucapan Aru barusan. Dia sadar jika selama ini tidak mau mendengar penjelasan dari istrinya itu.
"Kenapa diam?" tanya Aru kesal.
Dirga menggeleng. "Aku hanya sedang memahami ucapan kamu. Aku sedang introspeksi dan ingin membenahi diri," jawab Dirga lalu kembali memeluk pinggang sang Istri.
"Tidak. Biasa saja. Justru seperti mati rasa."
"Oh iya. Lalu, bagaimana ini? Kondisiku sedang dalam masa terburuk. Apakah kamu masih ingin bertahan untukku?" tanya Dirga dipenuhi rasa takut akan kehilangan Aru.
Melihat wajah suaminya yang tampak ketakutan, terbesit di hati Aru untuk menjahilinya. Suaminya itu sesekali perlu dikerjai agar bisa menghargai keberadaan dirinya.
"Aku berpikir, pergi adalah jalan yang tepat. Untuk apa aku bertahan dan menunggu laki-laki yang sedang sakit. Dan untuk pulih pun, sepertinya membutuhkan waktu lama," gurau Aru yang berhasil membuat wajah Dirga memucat.
"Aru! Aku tidak ingin mendengar hal tersebut. Bukan itu yang ingin aku dengar," protesnya dengan bibir yang sudah maju lima senti.
Aru tertawa. "Aku hanya berbicara secara realistis, Mas. Mungkin, kebanyakan perempuan akan melakukan hal yang sama jika ada di posisiku," jelas Aru masih ingin menggoda suami posesifnya.
__ADS_1
"Lalu, apakah kamu juga dari golongan para perempuan lain?" tanya Dirga semakin dirundung rasa khawatir yang berlebihan.
Aru baru saja membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang Suami. Namun, bibir itu seketika terkatup lagi karena tiba-tiba dibungkam dengan ciuman dari Dirga.
Aru mencoba menghindar dengan mendorong bahu suaminya. Namun, tenaganya tetap kalah jauh hingga pada akhirnya memilih pasrah dan membalas ciuman itu.
Keduanya sama-sama menikmati pertautan bibir dan menyalurkan rasa rindu akan sentuhan satu sama lain. Hingga suara derit pintu berhasil melepaskan pertautan itu.
"Oh! Maafkan Mama yang sudah masuk di waktu yang tidak tepat. Silahkan lanjutkan! Mama akan keluar dulu!"
Bang!
Aru sampai memejamkan mata ketika pintu itu kembali tertutup bersama menghilangnya Mama Dita dari balik pintu. Jantungnya berdegup tak menentu karena baru saja tertangkap sedang berciuman dengan Dirga.
"Mas! Kan ketahuan sama Mama. Ini kan di rumah sakit. Tidak enak, Mas," protes Aru sambil memukul dada suaminya pelan.
Bukannya marah, Dirga justru terkekeh. "Mama itu paham kok. Mama juga pernah muda. Mungkin, Mama juga ingin memberikan kesempatan pada kita untuk membuatkan cucu-cucu yang lucu untuknya," jawab Dirga seakan tanpa beban.
Membahas tentang anak, tiba-tiba saja Aru dirundung ketakutan. Sudah hampir lima bulan pernikahan, tetapi rahimnya tak kunjung ditiupkan makhluk kecil di dalamnya.
Wajah Aru mendadak murung dengan bibir yang tertekuk ke bawah. Melihat sang Istri yang moodnya berubah, Dirga memilih bertanya. Dia akan coba menjadi seseorang yang mampu memahami perasaan istrinya itu.
"Kenapa mukanya jadi murung? Kamu tidak ingin mempunyai anak bersamaku?" tanya Dirga sedih.
Aru pun menggeleng. "Bukan karena itu. Aku hanya khawatir karena pernikahan kita sudah berjalan lima bulan tetapi aku tak kunjung hamil. Bagaimana jika—"
Belum sempat Aru menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah dibungkam oleh sebuah ciuman dari suaminya. "Jangan katakan apapun. Sebagai manusia kita hanya bisa berusaha. Jika sampai nanti ketakutan itu benar terjadi, aku tidak akan meninggalkan kamu. Kamu juga harus berjanji untuk tidak meninggalkan aku," sela Dirga sambil mengusap perut sang Istri lembut.
"Masalahnya sekarang bukan disitu, Mas. Tetapi lebih ke kaki kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Sembuh dulu makanya," ucap Aru lalu berniat pergi karena malu dengan ucapannya barusan. Seakan, Aru juga terlihat menginginkan.
__ADS_1
Dirga tertawa. "Berarti kalau sudah sembuh boleh ya? Baik. Aku akan buatkan cucu-cucu yang lucu untuk Mama!"