
Pagi pun menjelang. Hampir semalaman Aru tidak mampu terlelap. Rasa rindu yang menderanya sulit sekali dibendung. Aru ingin bertemu suaminya. Namun, Aru cukup sadar diri setelah kata talak itu keluar dari bibir sang Suami.
Aru berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan dimana sudah ada papa dan Abidzar di sana. "Assalamualaikum. Selamat pagi semua," sapa Aru lalu mengambil posisi duduk di samping Abidzar.
Liburan yang papanya berikan, nyatanya tidak mampu membuat pikiran Aru tentang Dirga lupa. Justru, Aru semakin kesepian saat berada dalam keramaian saat tidak ada Dirga.
"Pagi, Kak. Kenapa mukanya kusut begitu? Galau lagi?" celetuk Abi yang langsung mendapat tatapan tajam papa Javas.
"Jangan singgung masalah itu lagi. Papa sudah jengah," peringat beliau dengan nada bicaranya yang dingin.
Aru menghela napas kasar. Pada akhirnya, Aru menceritakan pertengkarannya bersama Dirga pada Mama dan Papanya. Rasanya, sulit sekali untuk tidak menceritakan masalah hidupnya kepada sang Sandaran ternyaman, yaitu kedua orang tuanya.
Apalagi, kasih sayang dan kelembutan yang mereka berikan, membuat Aru terbawa suasana dan merasa nyaman. Mamanya bisa menanggapi dengan bijak dan tidak memihak salah satu di antara anak dan menantunya.
Sedangkan sang Papa, beliau secara terang-terangan kecewa kepada sikap Dirga yang telah menyakiti Aru. Beliau juga kesal dengan Yoda, mantan pacar sang Putri yang telah menghancurkan masa depan anaknya.
Setelah mendengar cerita yang seutuhnya, Papa Javas tidak segan memberikan hukuman bui dan tidak akan memaafkan Yoda. Hitung-hitung, kasus beberapa hari yang lalu anaknya alami, sebagai alat meluapkan kekesalan kepada Yoda, si pria tidak bertanggung jawab.
Dulu dia bodoh karena tidak langsung menghabisi bocah ingusan tersebut. Kini, dia bisa melupakannya dengan memenjarakan di balik jeruji besi.
"Pagi-pagi kok sudah tegang. Santai. Kita harus bijak mengambil sikap," ucap Mama Kalea menengahi.
Terdengar helaan napas kasar dari papanya diikuti oleh sebuah kalimat yang mengatakan. "Orang tua mana yang rela anaknya disakiti sih, Ma? Papa jelas tidak akan memberikan Aru begitu saja pada laki-laki sentimental seperti Dirga."
"Dirga bukan sentimental. Tetapi, dia terlalu cemburu hingga kehilangan akal sehat. Ya sebelas dua belas dengan Papa dulu lah," ungkap Mama yang membuat Aru dan Abi sontak terkekeh.
"Mama kenapa buka kartu Papa sih? Ini rahasia, Ma. Anak-anak jangan sampai tahu," kesal Papa lalu meminum air putih di depannya.
"Sudah. Lebih baik kita makan dulu," sergah sang Mama yang segera diangguki oleh semua. Ketika sarapan bersama selesai, Bibi datang dengan tergopoh-gopoh dari arah depan.
__ADS_1
"Tuan?" panggil Bibi yang membuat semua orang menoleh, mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Bibi.
"Ada apa, Bi? Ada tamu?" tanya Mama Kalea lembut.
Bibi mengangguk lalu melanjutkan kalimatnya. "Iya, ada tamu. Eh. Bukan tamu sih, Nyonya. Tetapi, Tuan Dirga yang datang." Mendengar penuturan Bibi, Aru melihat wajah papanya menegang dengan urat-urat di lehernya yang menampakkan diri.
Mamanya mencoba menenangkan dengan mengelus lengan suaminya lembut dan kepalanya mengangguk.
Aru tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dalam hati, dia ingin berlari dan menemui suaminya itu. Namun, bila teringat kemerahan Dirga, sontak hal itu membuat keinginan Aru luntur.
"Kamu tetap di sini. Jangan keluar atau Papa akan marah," peringat papanya dingin dan datar. Aru mengangguk dan membiarkan sang Papa berlalu ke ruang tamu.
Namun, rasa penasaran seketika hinggap di hatinya. Melihat Abi yang berdiri dari kursinya, Aru pun berniat menguping pembicaraan suami dan papanya itu. Dia duduk di ruang tengah yang beruntungnya, tidak bisa dilihat dari ruang tamu. Akan tetapi, Aru bisa mendengar pembicaraan dua orang di depan sana.
"Mau apa kamu kesini?" tanya papanya ketus.
"Jika diizinkan, aku ingin berbicara pada Aru, Pa. Boleh?" tanya Dirga penuh harap.
Saat Aru akan bangkit, suara mamanya berhasil mengagetkan jantungnya. "Aru? Mau kemana? Tetaplah duduk di sana bila tidak ingin papamu marah," ucap mama Kalea dengan suara yang merendah.
Aru sampai harus menahan napas agar tidak berteriak karena suara sang Mama yang datang tiba-tiba. Dia tidak ingin ketahuan sedang menguping pembicaraan dua pria berbeda generasi di depan sana.
Aru hanya menyatukan telunjuk dan ibu jari membentuk huruf 'o' mengisyaratkan sebuah kata 'oke'. Setelah itu, mamanya berlalu menuju ruang tamu untuk menemui Dirga.
"Assalamualaikum, Ma. Apa kabar?" tanya suara yang tidak lain adalah milik Dirga. Aru masih mendengarkan dengan seksama. Dia merindukan pemilik suara yang berhasil menggetarkan jiwanya.
"Untuk apa kamu ingin menemui seorang perempuan yang hatinya telah kamu sakiti? Sebagai seorang Ayah, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jawab Papa Javas kekeh pada pendiriannya.
"Pa!" tegur mamanya. Kurang suka dengan sikap sang Suami yang tidak bijak.
__ADS_1
"Lagi pula, ayah mana yang rela anaknya disakiti sih, Ma? Cukup sekali Papa gagal menjaga Aru. Sekarang, Papa tidak akan biarkan hal itu terjadi lagi," protes papanya. Aru hanya menghela napas kasar. Semenjak kejadian masa lalu itu, sang Papa memang lebih posesif kepadanya.
"Tidak masalah, Ma. Aku bisa mengerti. Ini memang pelajaran yang pantas untuk Dirga. Namun, apakah Dirga tidak boleh menemui Aru sebentar saja?" pinta Dirga memohon kasihan.
"Boleh kok. Kamu boleh menemui dia."
"Mama!" peringat papanya ketika mamanya luluh begitu saja pada laki-laki di hadapan. Aru yang mendengar itu, mengusap wajahnya kasar. Orang tuanya suka berdebat di waktu yang kurang tepat.
"Kenapa sih, Pa? Dirga masih suami Aru. Dia juga berhak menemui istrinya sendiri. Sebagai orang tua, kita harus bersikap adil." Mamanya itu tidak berhenti memberi saran.
"Ya sudah. Kita tanya saja pada Aru langsung. Apakah dia mau menemui dia atau tidak. Jika tidak, tolong kamu segera pergi sebelum aku bertindak yang lebih buruk lagi," kesal Papa Javas lalu bangkit lebih dulu untuk memanggil sang Putri.
"Aru!"
Aru sampai berjenggit kaget mendengar panggilan dari papanya yang kelewat kencang. Dia memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang. "Apaan sih, Pa? Pelan-pelan kan bisa," protes Aru kesal.
Papanya itu mendekat lalu menatap Aru serius. "Dia ingin bertemu. Jangan mau ya," ucap sang Papa yang membuat Aru mengerjap bingung.
Mamanya datang dan menenangkan suaminya yang posesif. "Pa? Tidak boleh seperti itulah."
"Temui suami kamu, Ru. Kalian butuh bicara berdua," titah mamanya lembut.
"Ingat, Ru. Jangan mau diajak pulang sekarang. Kamu harus bersikap jual mahal," ucap papanya mengingatkan.
"Papa!" Mama Kalea memperingatkan agar suaminya tidak ikut campur terlalu jauh.
"Kenapa mama membela dia sih?"
"Bukan mama bermaksud membela. Entahlah. Mama kesal pada Papa," ucap Mama Kalea lalu pergi dengan menghentakkan kaki, meninggalkan anak dan suaminya yang masih terbengong.
__ADS_1
"Temui dia. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan kan? Papa tahu kamu sudah dewasa. Papa mau menenangkan singa Papa dulu," pamit sang Papa pada akhirnya. Beliau segera berlalu mengejar sang Isteri yang mulai dalam mode merajuk.
Aru tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. Tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya.