
Aru diantar Dirga menuju pesantren. Setelah mobil terparkir di area parkir, Dirga justru ikut turun hingga membuat Aru kebingungan. "Mas mau ikut turun?" tanyanya heran.
Dirga mengangguk. "Ada sedikit urusan dengan Abah."
Mendengar hal tersebut, raut wajah Aru mendadak masam. Semoga saja benar-benar bertemu Abah dan bukan orang lain yaitu Mbak Sisil. "Cuma ketemu Abah atau—"
"Cuma Abah, Sayang. Tidak perlu berpikiran negatif," sergah Dirga lebih dulu sebelum Aru beranggapan yang aneh-aneh.
Aru tersenyum lalu menyalami tangan suaminya. "Aku pergi ngaji dulu ya, Mas. Nanti kalau sudah selesai urusan dan mau ke kantor, hati-hati." Setelah mencium punggung tangannya, baru Aru melambaikan tangan meninggalkan suaminya.
Saat berada di pelataran mushola, dia melihat Mbak Sisil yang tengah menatap dirinya dengan sinis. Aru hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah perempuan yang katanya berpendidikan tinggi dan memiliki ilmu agama yang dalam.
Nyatanya, hal itu tidak terwujud dalam sikapnya. Sebagai seorang perempuan, Aru paham akan tatapan itu yang dilayangkan Mbak Sisil. Itu merupakan tatapan permusuhan.
Mengabaikan keberadaan perempuan tersebut, Aru bergegas masuk sebelum Umi tiba lebih dulu.
Ketika jam siang tiba, Aru ikut makan bersama santri lainnya. Makanan yang disuguhkan juga terbilang sederhana. Namun, Aru tidak merasa keberatan akan hal itu. Walau selalu hidup mewah dan makan enak, bukan berarti Aru tidak bisa hidup sederhana.
Mungkin karena dia sudah terbiasa. Awal-awal masuk pondok, Aru ingin protes. Namun, bila mengingat wajah mama dan papanya, Aru pun menerima keadaan yang sedang dihadapi.
"Mau nambah lauk, Ru?" tanya Mbak Zahra yang duduk di sebelahnya. Di pondok tersebut, baik pengurus maupun santri tidak dibedakan dalam hal makanan. Mereka akan makan bersama dan dengan jenis makanan yang sama.
"Tidak, Mbak. Sudah cukup," jawab Aru ramah.
Belum juga Aru selesai dengan makanannya, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Piring yang berada di tangan Aru hampir saja terjatuh. Namun, Aru begitu sigap menjaga keseimbangan sehingga isi dalam piring tidak tumpah. Aru menoleh dan mendapati Mbak Sisil tersenyum menyeringai ke arahnya.
"Kamu apa-apaan sih, Sil? Yang sopan kenapa?" kesal Mbak Zahra yang justru merasa tidak terima. Aru memberi kode dengan gelengan kepala, menandakan dia tidak apa-apa.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Mentang-mentang istri orang kaya? Jadi, aku tidak boleh duduk di sebelahnya? Cih, sombong!" cibir Mbak Sisil yang membuat Aru mengelus dadanya sendiri.
"Ada apa ya, Mbak? Kenapa sikap Mbak ke saya seperti itu? Apakah Mbak memiliki dendam pribadi?" tanya Aru memberanikan diri.
Mbak Zahra yang ada samping Aru, mengangguk menyetujui tindakan Aru yang melawan Mbak Sisil. "Iya. Kenapa kamu langsung seperti itu? Oh aku tahu. Atau sebenarnya, kamu itu sedang mengalami penyakit bernama iri dan dengki?" tanya Mbak Zahra setengah mengejek.
Sisil tampak mengepalkan tangan. Tidak terima dengan penghinaan yang Zahra lakukan. "Diam kamu! Tidak perlu ikut campur urusan ku dengan dia!" teriak Mbak Sisil yang berhasil mengundang perhatian santri lain.
Kini, banyak pasang mata yang menyaksikan perdebatan ketiganya. Aru semakin tidak memiliki muka. Dia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti saat ini. "Sudah, Mbak. Lebih baik kita pergi," ajak Aru sambil berbisik.
Mbak Zahra menyetujui dan berdiri lebih dulu dan diikuti oleh Aru. Namun, ketika kaki Aru akan melangkah, ada sebuah kaki yang menghalangi langkahnya hingga Aru terjerembab dan jatuh ke lantai.
"Awh!!"
Pekikan kesakitan dari Aru pun terdengar. Belum lagi suara tawa yang menggelegar dari hampir semua santri. Aru memejamkan mata agar emosinya tidak meledak dan berujung fatal. Ketika membuka mata, hal yang pertama kali Aru lihat adalah sebuah uluran tangan dari Mbak Zahra.
Aru menggeleng dengan wajah meringis. Sakit. Hanya saja Aru malu untuk mengakuinya.
"Diam!" Suara teriakan itu membuat suara tawa dari semua santri mereda. Berganti dengan keheningan lalu semua mata tertuju ke arah pintu ruangan.
"Siapa yang membuat keributan disini? Kalian itu seorang perempuan. Sudah fitrahnya memiliki rasa malu dan menjaga suara kalian yang termasuk dalam macam aurat!" peringat seorang laki-laki muda dengan pakaian gamis dan sorban di kepala.
Semua menunduk takut pada ketegasan laki-laki tersebut. Di kesempatan itu, Aru gunakan untuk berdiri dengan dibantu Mbak Zahra.
"Kamu yang jatuh? Tidak apa-apa?" tanya laki-laki tadi dan Aru mengerjapkan matanya polos.
"Dia sedang bertanya padaku, Mbak?" bisik Aru bertanya pada Mbak Zahra.
__ADS_1
"Iya, Ru. Gus Zain sedang bertanya padamu." Mbak Zahra tak kalah berbisik lirih.
Aru mendongak dan mengangguk ragu. "Saya tidak apa-apa," jawabnya lalu menunduk lagi. Aru akui, laki-laki tadi sangatlah tampan. Namun, Dirga lah yang lebih tampan.
"Kamu juga, Sisil. Harusnya kamu tidak membuat masalah dengan siapapun. Kamu itu pengurus yang harusnya membimbing pada jalan kebenaran," peringat laki-laki itu lagi.
"Baik, Gus. Maafkan saya," jawab Mbak Sisil tanpa beban dan rasa bersalah sedikitpun.
"Ya sudah. Sebaiknya kamu meminta maaf pada yang bersangkutan. Allah Maha Tahu dengan apa yang dilakukan hamba-Nya." Setelah itu, laki-laki itu berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Ketika Aru menatap Mbak Sisil, aura permusuhan semakin tampak nyata. Aru bergidik ngeri dan menarik lengan Mbak Zahra untuk keluar dari sana.
Aru dibawa oleh Mbak Zahra menuju UKS dimana obat-obatan berada. Aru diminta duduk pada brankar sedangkan Mbak Zahra tampak sibuk mondar-mandir mencari obat yang dibutuhkan.
Aru mengalami luka lebam di siku. Mungkin akibat menahan berat tubuhnya agar tidak terjatuh. Sedangkan lututnya lecet dan membiru akibat terbentur lantai.
"Duh. Saya tidak habis pikir dengan Sisil. Dia itu sombong sekali jadi orang. Mentang-mentang keponakan Umi Hafizdah, kelakuan jadi seenaknya," omel Mbak Zahra yang ditanggapi senyuman oleh Aru.
"Biarkan saja, Mbak. Yang penting bukan kita yang sombong," jawab Aru menanggapi dengan santai.
Mbak Zahra membelalakkan mata lebar. Kesal sekali mendengar Aru yang justru menerima dengan lapang dada karena telah diperlakukan dengan buruk. "Saya tidak tahu lagi hati kamu terbuat dari apa. Namun, jika saya ada di posisi kamu, sudah pasti saya akan membalasnya," kesal Mbak Zahra menggebu-gebu.
Aru tertawa renyah. "Sudah, Mbak. Lupakan. Aku tidak apa-apa," jawab Aru menenangkan.
Mbak Zahra menghela napas kasar dan menggumamkan istighfar. "Ya sudah. Sini, biar saya obati lukanya dulu."
Aru mengangguk dan menyerahkan siku tangannya untuk Mbak Zahra obati. Dia tersenyum bahagia karena masih ada yang peduli dengannya.
__ADS_1