
Benar. Karena pijat kemarin, semalam Aru tidur dengan nyenyak. Tidak ada nikmat yang paling besar selain diberi tidur nyenyak dan penjagaan oleh Allah SWT. Ketika suara murotal terdengar dari pengeras suara, Aru bergegas membangun Dirga.
"Mas? Bangun. Sudah subuh nih. Mau jamaah kan?" tanya Aru sambil menepuk pipi suaminya pelan.
Dirga mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Setelah mengucek, Dirga pun membuka mata sepenuhnya. "Iya, kita akan jamaah," jawab Dirga dengan suara khas bangun tidur.
Aru tersenyum dan mengecup pipi Dirga sekilas. "Aku wudhu dulu," pamitnya lalu segera turun dari ranjang. Dirga tersenyum simpul sambil menatap punggung Aru yang menghilang di balik pintu.
Tidak berapa lama, Aru telah kembali dengan wajah yang basah. "Wudhu gih, Mas. kita qobliyah subuh dulu," pinta Aru lembut. Dirga pun mengangguk dan segera mengambil air wudhu.
Sambil menunggu, Aru gunakan waktu untuk memakai mukenah dan menggelar sajadah milik suaminya, tepat satu shaf di depannya. Setelah siap, Aru memilih duduk dan berzikir terlebih dahulu.
Namun, kegiatan Aru terganggu dengan keberadaan Dirga yang sedang melepas kaos tidur lalu menggantinya dengan baju Koko berwarna putih. Aru tersenyum. Suaminya itu semakin tampan ketika mengenakan pakaian muslim.
"MasyaAllah Tabarakallah." Aru menggumamkan kalimat pujian dengan menyertakan nama Tuhannya.
"Kenapa? Apa yang sedang kamu puji, Sayang?" tanya Dirga yang kebetulan mendengar gumaman Aru.
Aru tidak langsung menjawab. Dia tatap wajah suaminya lalu tersenyum manis. "Aku sedang memuji paras kamu, Mas. Kata Umi Hafizdah, kalau ingin memuji seseorang, disarankan untuk mengucap MasyaAllah Tabarakallah dulu. Tujuannya adalah, agar orang yang kita puji tidak terkena penyakit ain," jelas Aru lalu Dirga tersenyum bangga.
"MasyaAllah. Benar sekali, Sayang. Karena efek dari 'ain itu sangatlah nyata dan berbahaya. Misal, kamu memujiku tanpa mengucap MasyaAllah terlebih dahulu, keesokan harinya, wajahku bisa langsung jerawatan. Dan masih banyak contoh lainnya. Bahkan, ain bisa membuat orang lain meninggal," jelas Dirga yang baru saja diketahui oleh Aru.
Mata Aru sampai membelalak tak percaya. "Meninggal? Sedahsyat itu penyakit ain?" tanya Aru masih tidak menyangka.
Dirga mengangguk membenarkan. "Bahkan, ada beberapa hadist yang menjelaskan, andaikan ada sesuatu yang mendahului takdir, maka ain itu bisa. Bukan hanya rasa kekaguman, rasa iri dan dengki juga akan menimbulkan penyakit ain. Penyakit yang berasal dari pandangan mata hasad."
"Nauzubillahiminzdalik. Semoga kita selalu dilindungi dari penyakit ain," jawab Aru seraya berdoa memohon perlindungan.
"Kuncinya, selalu berzikir dan jangan pelihara iri dan dengki. Sesungguhnya, hal tersebut adalah perbuatan tercela," jelas Dirga yang membuat pengetahuan Aru semakin bertambah.
"Lalu, bagaimana dengan anak kecil yang belum tahu apa-apa? Bukankah anak kecil itu rawan sekali terkena 'ain? Mereka akan banyak dipuji atau bahkan dicela fisiknya. Orang dewasa tidak banyak yang tahu mengenai 'ain," tanya Aru penasaran.
"Ada sebuah hadist yang menjelaskan bahwa, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mendoakan cucunya, Hasan dan Husein dengan doa, u’iidzukuma bikalimaatillahit taammah, min kulli syaithaanin wa haamah wa min kulli ‘ainin laamah," jelas Dirga yang membuat Aru tersenyum lebar.
__ADS_1
"Nanti aku akan catat doanya, Mas. Untuk anak kita suatu hari nanti," jawab Aru tersenyum malu-malu.
Dirga pun balas tersenyum. "Ya sudah. Ayo, kita sholat sunnah dulu lalu dilanjut sholat subuh."
...----------------...
Udara siang itu tampak mendung. Langit tampak menunjukkan awan hitam yang sebentar lagi mungkin akan menurunkan air hujan.
Hal itu membuat Aru semakin semangat untuk menyelesaikan kitab yang dipelajari. Baru dua Minggu, kitab itu sudah hampir selesai. Itu berarti, tidak butuh waktu satu bulan untuk menyelesaikannya.
Aru tersenyum mengingat hal tersebut. Paling tinggal empat atau lima harian lagi. Aru tidak boleh menyia-nyiakan biaya yang papanya keluarkan demi bisa masuk pesantren Darussalam.
"MasyaAllah. Umi bahagia melihat kamu begitu antusias menyelesaikan ini. Semoga, kamu juga mengamalkan ilmu-ilmunya ya, Nak. Apalah daya banyak belajar ilmu tetapi tidak diamalkan. Ilmu itu tidak akan berguna dan berujung hilang dalam ingatan," ucap Umi Hafizdah memberikan petuah.
Aru mengangguk menyetujui. Bismillahirrahmanirrahim, Umi. InsyaAllah Aru akan mengamalkannya agar bisa menjadi pahala jariyyah," jawab Aru tersenyum ramah.
"Baiklah. Sebaiknya kita sholat Dzuhur dulu ya. Nanti kita akan lanjutkan lagi." Nyai Hafidzah mengajak Aru untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Hal yang paling Aru sukai ketika berada di pesantren adalah, dia bisa belajar ilmu agama setiap detik, menit, bahkan setiap jamnya. Dengan begitu, hidupnya akan selalu diberkahi kebaikan. Semoga.
Padahal, sholat Maghrib sudah selesai beberapa menit yang lalu. Biasanya, Dirga akan tiba setelah Aru baru saja keluar dari mushola. Namun kali ini, rasanya berbeda. Aru sudah menunggu terlalu lama.
"Aku coba telepon saja," gumam Aru lalu mencoba menghubungi nomor suaminya. Namun, nomor Dirga tidak bisa dihubungi. Hingga mushola tampak lengang, suaminya itu tak kunjung datang.
"Apa aku pesan taksi online saja ya?" gumam Aru bertanya sendiri.
Ketika tiba di depan pintu gerbang, tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di tempat Aru berdiri. Aru tampak familiar. Namun, dia sedang tidak ingin berpikir ribet.
Hingga seseorang yang duduk di dalamnya membuka pintu mobil dan muncullah Yoda dari sana. Aru hampir saja mengumpat. Namun, dia segera mengganti dengan kalimat musibah. "Innallillahi wainnailaihi rojiun."
Aru selalu menganggap pertemuannya dengan Yoda adalah sebuah musibah. Ketika Aru berniat pergi, Yoda tiba-tiba mencekal lengannya. "Jangan pergi atau menghindari ku lagi, Ru," ucap Yoda penuh permohonan.
Dengan sekuat tenaga, Aru melepas cekalan tangan itu. Dia tidak suka dipegang oleh yang bukan mahram. "Lepas! Jangan sembarangan sentuh!" sentak Aru yang diabadikan begitu saja oleh Yoda.
__ADS_1
"Aku akan lepaskan. Tetapi, tolong ikut denganku sebentar. Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Yoda memelas.
Aru jelas marah. Tangannya yang menganggur, dia gunakan untuk menampar Yoda.
Plak.
Kepala Yoda sampai miring ke samping akibat tamparan keras dari Aru. "Rasakan! Makanya jangan sembarang sentuh!" kesal Aru lalu mengusap tangannya yang baru saja disentuh Yoda.
Seringai tipis pun Yoda tunjukkan. "Kenapa sih, Ru? Kenapa kamu jadi sok ekslusif seperti ini? Perasaan, dulu kamu tidak seperti ini," tanya Yoda sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
Aru menatap Yoda nyalang. "Aku yang dulu sudah mati. Kini, hanya ada Aru yang baru," ucap Aru penuh penekanan.
Yoda justru tertawa. "Yakin? Aku masih mempunyai video kita—"
Plak.
Sebelum Yoda menyelesaikan kalimatnya, Aru sudah lebih dulu menampar pipi pria kurang ajar di depannya. "Mau kamu apa sih?" kesal Aru rasanya ingin menangis.
Yoda mengepalkan tangan di samping tubuh. Rahangnya tampak mengeras dengan gigi-gigi yang bergemeletuk. "Ikut aku jika kamu tidak ingin video itu tersebar. Bukankah dulu kamu begitu bangga melihat video percintaan panas—"
Tangan Aru sudah terangkat untuk menampar Yoda lagi. Namun, hal itu segera ditepis oleh Yoda. "Ups, tidak bisa. Kamu sudah tidak berhak menamparku," ucap Yoda merasa sedang di atas awan.
Aru berhasil dibuat tertekan. "Apa mau kamu!" teriak Aru mulai menangis. Dadanya naik turun menahan amarah yang akan meledak.
"Ck, ck, ck. Jangan terburu-buru. Ikutlah masuk ke mobilku. Setelah itu, kamu akan tahu. Namun, jika kamu tidak mau, aku siap mengirim video itu pada suami tercintamu," ancam Yoda yang seketika membuat kedua telapak tangan Aru mengepal.
Dia tidak berdaya di bawah ancaman Yoda. Entah kemana perginya Dirga hingga sampai jam tujuh belum juga muncul. Area pondok juga tampak sepi tidak seperti biasanya.
'Ya Allah. Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong lindungi aku Ya Allah. Aku sangat takut,' gumam Aru berdoa dalam hati.
"Malah melamun. Mau aku gendong atau naik ke mobil sendiri?" tawar Yoda tak sabaran.
Dengan kemarahan yang memuncak, Aru berjalan lalu masuk ke kursi penumpang bagian belakang. Dia menutup pintu mobil dengan sangat kencang sampai-sampai, pintu itu akan rusak jika bukan mobil mahal.
__ADS_1
Melihat Aru masuk ke mobil, Yoda memberi isyarat pada seseorang di seberang sana dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf o.
Seseorang di seberang sana tersenyum lalu mengangkat ponselnya tinggi-tinggi. Mengisyaratkan jika dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan.