Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 32. Kedatangan Dirga 2


__ADS_3

Saat ini, Dirga dan Aru telah duduk di ruang tamu dengan posisi saling berhadapan. Sejak tadi, belum ada pembicaraan di antara keduanya. Mungkin masih sama-sama meresapi keadaan yang sedang keduanya lalui.


"Aru?" panggil Dirga untuk pertama kalinya membuka pembicaraan.


Aru hanya menatap sekilas lalu kembali menunduk, memilin jemarinya. Dia justru teringat pada pesan sang Papa yang mengatakan jangan mudah luluh dan mau kembali.


Helaan napas kasar pun terdengar. Aru mendongak dan benar-benar menelisik penampilan Dirga yang tampak kuyu dari biasanya. Terbesit pertanyaan di kepala, apakah suaminya itu hancur ketika ditinggal pergi oleh dirinya?


"Aku tidak pernah baik-baik saja selepas kamu pergi," ucap Dirga seakan sadar akan tatapan Aru yang menelisik.


"Bohong jika aku mengatakan bisa hidup normal setelah kamu pergi. Semua terasa buruk dan tidak tertata." Dirga berucap dengan bibirnya yang bergetar menahan tangis.


"Aku sadar, aku akan dikatakan tidak tahu diri jika meminta kamu untuk kembali. Namun, hal itulah yang aku inginkan. Maafkan aku karena sudah terbawa emosi hingga tidak mau mendengar penjelasan kamu lebih dulu. Aku sudah tahu semuanya," jelas Dirga yang membuat Aru menghela napas kasar.


"Tolong bersuara. Aku ingin mendengar suaramu walau hanya sepatah kata. Aku ... Merindukan kamu," ucap Dirga begitu pilu.


"Mas?"

__ADS_1


"Apakah jarak sudah cukup membuatmu sadar? Kamu boleh marah padaku dan berucap apapun tentang segala isi hatimu. Namun, aku hanya meminta satu. Tolong, jangan katakan sebuah kalimat yang akan membuat hubungan pernikahan kita terpisah. Aku bahkan tidak sanggup untuk mengatakannya. Rasanya begitu sakit sampai aku tidak bisa tidur akibat memikirkannya," ucap Aru mengeluarkan semua hal yang mengganjal di hati.


Dadanya kembali sesak bila harus mengingat kata talak yang Dirga ucapkan tempo hari. Dirga menekan sudut matanya agar tidak sampai meneteskan air mata. Rasanya begitu sakit ketika melihat sumber dari kesedihan perempuan yang dicintai adalah dirinya sendiri.


Dirga merasa tidak pantas untuk mengatakan jika dia masih sangat mencintai istrinya dan berharap Aru kembali. "Aku harus bagaimana agar kamu mau kembali lagi padaku?" tanya Dirga merasa putus asa.


Aru pun menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Hanya saja, untuk saat ini aku ingin tinggal di sini sementara waktu. Aku ingin melihat kesungguhan hati kamu dalam mempertanggung-jawabkan perbuatan yang sudah kamu lakukan."


Dirga terisak dengan jari yang masih menekan kedua sudut matanya. Ini memang salahnya yang tidak mampu menjaga Aru dan mempercayai istrinya sedikit saja. "Sampai kapan?" tanyanya putus asa.


Aru kembali menggeleng. Tidak tahu kapan akan berada di rumah orang tuanya. "Aku tidak tahu. Mungkin sampai aku bisa berdamai dengan rasa sakit itu. Begitu juga kamu. Aku berharap, Mas bisa lebih dewasa lagi dan tidak sembarangan berbicara ketika sedang marah," ucap Aru sambil memberikan nasehat.


"Aku ingin di sini," jawab Dirga layaknya anak kecil yang merengek tidak ingin ditinggal induknya.


Aru terkekeh. Merasa lucu dengan sikap Dirga. "Lalu, kenapa waktu itu kamu mengusirku? Sekarang apa? Kamu justru merengek-rengek kepadaku," ejek Aru yang membuat bibir Dirga seketika mencebik kesal.


"Kenapa? Tidak usah marah seperti itu. Ini adalah sebuah fakta," ucap Aru lagi tak henti-hentinya mengejek sang Suami.

__ADS_1


Dirga tersenyum mendengar candaan sang Istri. Dia bersyukur karena Aru bukanlah tipe perempuan yang marahnya sampai berbulan-bulan. Istrinya itu memang memiliki hati yang besar.


"Berarti, kamu sudah memaafkan aku kan?" tanya Dirga ragu-ragu.


Aru menggeleng lalu terkekeh pelan. "Kata siapa? Tidak semudah itu, Mas. Kalau aku mudah memaafkan, yang ada kamu bisa mengulang kesalahan. Lebih baik kamu berangkat ke kantor sekarang, atau kamu akan terlambat," pinta Aru yang sudah berdiri ingin meninggalkan Dirga.


"Aru? Tunggu," rengek Dirga tidak terima.


"Apalagi sih, Mas? Tidak bisakah kamu memberikan jeda untuk hubungan kita? Banyak yang harus dievaluasi dan perbaiki. Aku berharap, kamu juga melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan," ucap Aru panjang lebar.


Dirga menghela napas. "Apa aku boleh datang kesini setiap hari?" tanya Dirga penuh harap.


Aru tidak menjawab dan langsung berlalu meninggalkan Dirga sendirian. Hal itu membuat wajah Dirga kembali murung. Namun, dia akan berusaha untuk meluluhkan hati istrinya kembali.


Sesampainya di kamar, Aru menekan dadanya yang berdetak tidak karuan. Ada rasa tidak tega dalam hatinya ketika harus menyiksa Dirga dengan cara dia sendiri. Namun, suaminya itu memang harus diberi pelajaran agar bisa belajar dari setiap kesalahan yang dilakukan.


Dirga juga harus belajar jika masalah tidak bisa diselesaikan dengan kemarahan. Jangan sampai kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi.

__ADS_1


"Ya Allah. semoga aku tidak salah jalan. Hanya kepada-Mu aku meminta dan hanya kepada-Mu aku berserah, Ya Allah. Aku percaya jika aku tidak akan kecewa jika berharap hanya kepada Engkau. Aamiin."


__ADS_2