Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 6. Dijodohkan


__ADS_3

Sekilas tentang Dirga. Dia sering ikut Om Reza saat ke rumah orang tua Aru. Walau begitu, bukan berarti sikap Dirga menjadi baik padanya ketika sudah mengetahui jika Aru adalah seorang anak dari Javas Kanagara.


Mungkin bisa dihitung jari berapa kali Dirga ikut karena memang tidak terlalu sering. Walau berjumpa dengan Aru dihadapan Papa Javas, bukan berarti Dirga tak meliriknya sinis. Dirga bukan ciri orang yang bermuka dua. Begitu perkiraan Aru.


Bukan tanpa sebab Dirga seakan membenci Aru. Laki-laki itu pernah memergoki Aru berciuman dengan Yoda di belakang gedung kampus yang sepi. Bukan hanya sekali, bahkan berulangkali.


Mengingat itu, Aru malu dan merasa rendah sendiri. Dulu, dia tidak terganggu ketika lontaran kebencian Dirga ucapkan. Namun, setelah dia memutuskan untuk memperbaiki diri, hatinya seakan begitu sensitif dengan kata-kata kasar.


Belum lagi ketika kabar tentang Aru yang hamil diluar nikah, membuat Dirga tidak segan mengucap kalimat makian ketika berjumpa atau sekedar berpapasan dengannya.


Mengingat itu, hati Aru kembali merasakan sesak. Tidak tahu mengapa pria itu selalu ada dimanapun Aru berada. Termasuk hari ini. Semesta seakan kembali mempertemukan dia dengan sosok Dirga.


"Apa yang bisa membuatmu memaafkan aku?" tanya Dirga menyadarkan lamunan Aru.


Aru menatap sekilas Dirga yang berada di depannya. "Aku tidak tahu. Rasanya, aku sulit melupakan setiap kata yang terucap dari bibirmu. Tidak ada yang baik. Semua tentang keburukanku," ucap Aru sendu dengan mata berkaca-kaca.


Obrolan keduanya harus terhenti ketika melihat Om Reza telah berada di samping mobil dan bersiap membuka pintunya. "Ayo, kita harus jalan lagi," pinta beliau tidak mengetahui jika baru saja terjadi perang dingin.


Akhirnya, mobil kembali melaju menuju rumah Aru. Tidak ada pembicaraan lagi karena Aru juga lebih nyaman dalam diam. Hingga mobil tiba di depan rumah megah milik orang tua Aru.


"Terima kasih, Om sudah menolong Aru. Tidak ingin mampir dulu?" tanya Aru sambil mengulas senyum terbaiknya.


"Tidak perlu. Salam saja untuk mama dan papamu. Mereka pasti sedang berpacaran," jawab Om Reza terkekeh geli.

__ADS_1


Aru ikut terkekeh, seakan membenarkan ucapan Om Reza. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Om," ucap Aru sambil melambaikan tangan.


Sesampainya di kamar, Aru mulai memikirkan permintaan maaf Dirga. Tidak ada dendam yang mendarah daging. Hanya saja, Aru ingin melihat usaha Dirga lebih keras lagi. Dia ingin melihat kesungguhan laki-laki tersebut.


Dia mencoba mengamalkan apa yang selama ini dipelajari saat berada di pesantren. Ilmu yang didapat, harus diamalkan agar bermanfaat. Seperti, memberi maaf sebelum yang bersalah memintanya. Bukan untuk ketenangan hidup si pelaku. Melainkan untuk ketenangannya sendiri.


Saat akan masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri, pintu kamarnya diketuk dari luar. "Non, Tuan memanggil agar Non Aru turun," ucap Bibi meninggikan suara yang membuat Aru mengernyit heran.


Apakah papa dan mamanya tidak pergi untuk berjalan-jalan? "Iya, Bi. Sebentar lagi Aru turun!" ucap Aru refleks berteriak.


Setelah urusan di kamar mandi selesai, Aru bergegas turun. Jika papanya sudah meminta Bibi untuk memanggil, pasti ada sesuatu yang penting. Setibanya di ruang tengah, Aru bisa merasakan ketegangan yang ditunjukkan papa dan mamanya.


"Ada apa, Pa?" tanya Aru berusaha bersikap tenang.


"Papa baru saja bertemu rekan bisnis di alun-alun." Papa Javas pun memulai pembicaraan. Aru mengangguk dengan mulut yang setia terkunci. Ingin memberikan kesempatan papanya berbicara tanpa disela.


"Kabar tentang kamu yang hamil lalu keguguran mulai merebak di lingkungan bisnis Papa. Banyak yang menganggap jika kamu bukannya keguguran melainkan sengaja menggugurkan. Lalu, mereka mengaitkannya dengan perubahan penampilanmu saat ini," jelas papa Javas yang membuat Aru membelalak tak percaya.


Demi Allah Aru tidak masalah jika dia menjadi gunjingan satu kompleks asalkan jangan sampai lingkungan kerja papa dan mamanya ikut terseret.


"Lalu, apakah beliau memilih memutuskan kerjasama?" tanya Aru berharap apa yang ada di kepalanya tidak benar-benar terjadi.


Sang Papa menghela napas lalu mengangguk lemah. "Sebenarnya, bukan hanya rekan yang bertemu tadi pagi. Dari kemarin-kemarin, sudah ada yang memutus kerjasama. Ya. Mereka adalah orang-orang yang terlalu mengurusi urusan pribadi seseorang. Seharusnya, urusan bisnis tidak menyangkut-pautkan dengan urusan pribadi."

__ADS_1


Aru terdiam. Jika ada sesuatu yang bisa membuat keadaan membaik, Aru akan melakukannya. Dia memang sudah banyak membuat malu orang tua selama ini. Bukannya prestasi, justru Aru menunjukkan kebobrokan hidupnya.


"Apa yang bisa Aru lakukan, Pa?" tanya Aru tidak ingin menunda.


Papa dan mamanya saling lempar pandang, lalu kembali menatap Aru lekat. "Oma meminta papa untuk segera menikahkan kamu," ungkap Mama Kalea yang membuat Aru terpaku di tempat.


Menikah? Siapa yang sudi menikah dengan perempuan bekas seperti dirinya? Kalaupun ada, bisa saja mereka adalah pria tua atau pria yang sudah berstatus duda.


"Bagaimana? Papa berharap kamu setuju. Ini demi kebaikan kita semua. Papa akan carikan pemuda yang sekiranya mau menerimamu apa adanya. Bukan pernikahan kontrak seperti yang ada di novel atau film. Tetapi, Papa ingin kamu bersungguh-sungguh menjalani biduk rumah tangga kelak. Papa harap, kamu tidak lagi mengecewakan kami."


"Mama juga khawatir jika kamu tak segera menikah, kamu akan hidup sendiri selamanya. Mama khawatir karena kamu—"


"Maafkan Mama, Ru. Tidak seharusnya mama berucap demikian," sambung Mama Kalea tak mampu meneruskan kalimatnya.


Walau Aru masih bingung mengapa dia harus menikah, dia mengangguk dsn menerima keputusan sang Papa. Menurut Aru, menikah bukanlah solusi yang tepat untuk masalahnya.


Tetapi, apa boleh buat. Sebagai anak, Aru ingin berbakti pada orang tua. Entah mengapa, Aru seakan membenarkan perkataan mamanya barusan. Jelas. Ketakutan itu ada dan nyata.


Walau harusnya Aru tak perlu risau perihal jodoh karena semua sudah Tuhan atur sesuai porsi dan waktunya masing-masing. "Aru bersedia dijodohkan, Pa. Aru percaya jika Papa tidak akan menjerumuskan Aru dalam hidup yang lebih buruk lagi."


Dua orang paruh baya di depannya menghela napas kasar. Seakan begitu lega karena anaknya menurut. "Bagus. Papa dan Mama melakukan ini demi kebaikan kamu. Besok, Oma akan datang ke rumah dan bersikaplah dengan baik. selama ini, kamu selalu membuat Oma pusing karena tingkah laku kamu. Sekarang, tunjukkan diri Aru yang baru," pinta sang Papa dan Aru mengangguk membenarkan.


Dia akan merubah sikap buruknya yang mungkin akan menyakiti orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2