Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 38. Rollercoaster


__ADS_3

Dua Minggu berlalu. Pada akhirnya, Dirga susah diperbolehkan untuk pulang. Aru merasa bersyukur karena kondisi suaminya semakin hari semakin membaik. Hanya saja, butuh waktu hampir satu atau dua bulan untuk bisa kembali berjalan normal.


Itu pun harus ada usaha yang keras dan jiwa yang tidak pernah menyerah. Ada suatu kejutan yang membuat hidup Aru bagai sedang naik roller coaster. Papa Sena datang dengan memberikan sebuah kunci rumah ketika Aru sedang membereskan barang-barang di ruang rawat inap.


"Ini apa, Pa?" tanya Aru bingung sekaligus terkejut. Dia tidak bodoh untuk segera menyadari apa yang sedang terjadi.


"Terima ini. Ini adalah hadiah pernikahan untuk kalian yang sempat tertunda. Papa butuh waktu lima bulan untuk menyelesaikan pengerjaan rumahnya. Sekarang, rumah itu sudah jadi dan siap dihuni. Jangan menolaknya," jelas Papa Sena yang membuat Aru tidak bisa berkata-kata.


"Papa, tetapi ini terlalu berlebihan," jawab Aru lirih. Dia masih terlalu sulit mencerna apa yang sedang terjadi.


"Terima, Sayang. Ini pemberian dari kami. Juga juga tenang saja, Papa Javas sudah mencari pekerja untuk mengurus rumah. Untuk sementara, sebelum Dirga sembuh, gaji pekerja akan ditanggung oleh Papa Javas. Setelah Dirga sembuh, dia yang akan bertanggung jawab." Mama Dita mendekat dengan membawa sertifikat lengkap rumah tersebut.


"Terima ini ya, Sayang," pinta beliau lembut.


Aru tak kuasa menolak. Dia menerima dua benda yang terlihat tidak berharga tetapi ketika tahu fungsinya, benda tersebut begitu bernilai besar.


"Apakah ini tidak berlebihan, Pa, Ma? Aru tidak masalah tinggal di apartemen selama itu bersama Mas Dirga." Aru merasa tidak enak hati karena sudah diberi hadiah yang bernilai fantastis.


"Tidak ada yang berlebihan untuk anak. Orang tua ingin yang terbaik untuk anak da cucunya kelak. Terimalah ini. Maka kami akan merasa dihargai."


Dua benda itu, kunci dan sertifikat tanah telah berada di tangan Aru. Refleks, Aru membuka map sertifikat dan membaca tulisannya. Mata Aru semakin membelalak kala menyadari jika namanya menjadi pemilik rumah besar tersebut. Aru tentu sudah tahu bagaimana luasnya rumah tersebut karena sudah tercatat dalam sertifikat.


"Papa ... Apa ini tidak salah? Mengapa disini namaku yang menjadi pemilik rumah tersebut?" tanya Aru memastikan sekali lagi. Barangkali kedua mertuanya salah menuliskan nama.


"Tidak ada yang salah. Semua sudah dicek dengan benar. Rumah itu memang atas nama kamu juga diperuntukkan untuk kamu. Tujuannya apa? Agar ketika kalian bertengkar, Dirga tidak lagi mengusir kamu. Dia pasti tidak bisa melakukannya karena itu rumah kamu," jelas Papa Sena yang berhasil menerbitkan senyum di bibir Aru.


Benar juga apa yang telah direncanakan para orang tua. Papa Sena dan Mama Dita memang sudah mengetahui masalah yang sempat terjadi antara Aru dan Dirga. Mereka menyangkan sikap Dirga yang bertindak impulsif.


"Kalian ini berbicara seakan-akan aku tidak ada di sini," celetuk suara yang tidak lain adalah milik Dirga. Semua terkekeh mendengar celetukan tersebut.


"Itu tandanya, kami tidak bermuka dua. Papa berbicara ketika ada orangnya langsung. Daripada berbicara di belakang orangnya. Lebih baik mana?" Papa Sena melempar sebuah pertanyaan pada Dirga.

__ADS_1


"Mending tidak semuanya. Papa pendam saja keluh kesal tentang Dirga," jawab Dirga tanpa beban.


Papa Sena mencebikkan bibir dan siap membalas perkataan sang Putra. Namun, hal tersebut urung dilakukan ketika suara dari arah pintu terdengar berdecit.


"Pada bahas apa sih? Kok debat begitu?" tanya Mama Kalea tenang dan penuh karisma.


Aru dan Mama Dita pun tertawa. "Biasalah. Anak dan Bapak kadang kelakuannya seperti kucing dan tikus, tidak akur mulu," jawab Mama Dita menyambut kedatangan besannya.


Aru menoleh pada Dirga yang kini sedang tersenyum menatap dirinya. Dia berniat mendekat dan menunjukkan sertifikat tanah yang resmi atas nama dirinya.


"Nih, Mas. Kamu jangan macam-macam denganku. Bisa habis kamu kalau sampai melakukan itu," ancam Aru sengaja ingin menggoda suaminya.


"Ampun, Ratu. Hamba mengaku salah," jawab Dirga mengikuti candaan yang Aru buat.


...----------------...


Aru benar-benar takjub dengan desain rumah yang telah papa Sena persiapkan. Entah darimana beliau tahu tentang rumah impian yang Aru inginkan.


Dirga yang mendengar hal tersebut, tersenyum simpul dan berkata. "Ayo turun. Bismillahirrahmanirrahim, rumah baru kebahagiaan baru," ucapnya penuh semangat.


Aru pun ikut tersenyum melihat kebahagiaan sang Suami. Dia bersyukur karena pada kondisinya yang sekarang, Dirga tidak menunjukkan sebuah raut atau tindakan keterpurukan. Hidupnya begitu optimis dan yakin akan sembuh.


"Ayo, Mas. Bismillahirrahmanirrahim." Aru lun menyahuti dengan baik. Dia membantu Dirga yang kini berjalan dengan menggunakan tongkat di keduanya ketiaknya. Awalnya, Dirga tampak kesusahan. Namun lama-kelamaan, suaminya itu mulai terbiasa.


"Pelan-pelan saja, Mas," ucap Aru ketika akan membuka pintu besar berwarna coklat di depannya.


Ketika pintu telah terbuka, mata Aru disuguhkan dengan pemandangan interior yang begitu luar biasa. "MasyaAllah, Mas. Sebagus ini habis uang berapa ya sih Papa?" tanya Aru geleng-geleng kepala.


"Selamat datang Nona Arunika dan Tuan Dirga," sapa suara yang menyadarkan ketakjuban Aru. Walau dia anak orang kaya, bukan berarti jiwa noraknya tidak meronta. Apalagi, rumah yang dibangun dan diberikan padanya merupakan sebuah rumah impian yang pernah masuk dalam buku sketsa-nya.


Mengingat hal tersebut, seketika pikiran Aru tertuju Abidzar. Hanya adik laki-lakinya itu yang tahu tentang rumah impiannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu." Aru menjawab ramah salam dari perempuan paruh baya tersebut.


Aru kembali dibuat tercengang dengan adanya empat pekerja yang menggunakan seragam senada dan membungkuk hormat padanya. "Kalau boleh tahu, apakah benar jika ibu ini adalah salah satu pekerja di rumah kami?" tanya Aru memastikan.


"Benar sekali, Nona. Tuan besar Javas yang meminta kami untuk bekerja dengan Nona Aru. Apapun yang Tuan Muda dan Nona Aru butuhkan, bisa langsung meminta pada kami," jawab wanita tersebut yang mungkin adalah pemimpin dari para pekerja lainnya.


Aru menggelengkan kepalanya pelan. Papanya itu menyewa empat pekerja sekaligus di hari lebaran. Aru hanya khawatir jika suatu hari nanti suaminya tidak bisa membayar.


Namun, mengingat bagaimana Dirga bekerja di perusahaan cabang, Aru yakin suaminya itu sangat mampu.


"Baik, Bibi. Kalau begitu, kami pamit ke kamar dulu. Suami saya harus beristirahat dan tidak boleh terlalu lelah." Aru dan Dirga akhirnya berjalan melewati empat orang yang seakan sedang membuat sambutan untuknya.


"Permisi ... permisi ...."


Sesampainya di kamar, Dirga mengeluh jika kaki yang tidak patah merasakan pegal dan nyeri. Mungkin karena efek naik tangga membuat keadaan kakinya sedikit buruk.


"Ya sudah. Di selonjoran saja, Mas. Biar nyerinya hilang juga kan," ucap Aru santai.


Setelah membantu Dirga untuk berbaring, Aru baru mulai membuka pembicaraan dengan duduk sisi ranjang lebih dahulu. "Apakah ini tidak terlalu mewah, Mas?" tanya Aru masih merasa tidak enak hati.


"Tidak. Bagiku, apapun itu tetapi masih bersama kamu, semua akan terasa mewah dan indah," jawab Dirga mulai menggombal lagi.


Aru tersenyum. "Ya sudah. Mas harus istirahat dulu. Kalau boleh, aku juga mau ikut istirahat," ucapnya lantang.


"Tentu saja. Kamu harus tidur dan beristirahat agar tubuhnya kembali bugar." Setelah itu, Aru ikut bergelung dalam selimut dimana sang Suami menenggelamkan tubuhnya di sana.


"Begini terus ya, Ru. Maaf karena aku selalu menyakiti kamu. Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untuk berubah. Terimakasih juga karena telah sudi bertahan bersama laki-laki seperti aku." Ungkapan hati Dirga barusan nyatanya berhasil membuat hati Aru luluh.


Dia tersenyum. Aru ingin memulai lembaran baru ujian rumah tangganya. Apapun masalah yang terjadi kedepannya, semua akan terasa ringan ketika memiliki bahu untuk bersandar dan tanah untuk sujud.


"Lain kali jangan sampai terulang lagi ya, Mas. Ini adalah kesempatan terakhir kamu."

__ADS_1


__ADS_2