Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 7. Fakta mengejutkan


__ADS_3

Oma Belinda benar-benar datang ke rumah keesokan harinya. Bukan tanpa sebab Omanya itu tidak tinggal bersama keluarganya Aru. Beliau mengatakan akan mati cepat jika hidup bersama cucu bandelnya, yaitu Aru.


Jadi, Oma Belinda memilih untuk tinggal bersama tantenya Aru yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.


"Assamu'alaikum, Oma," ucap Aru menyambut Oma kesayangannya.


"Waalaikumsalam," jawab Oma Belinda sambil mengulurkan lengan untuk dicium punggung tangannya. "Oma mau melihat apakah kamu sudah benar-benar berubah atau itu hanya alasan kamu saja. Rasanya, Oma masih tidak percaya," ucap sang Oma kelewat jujur.


Aru tersenyum berkaca-kaca. Omanya itu pasti trauma memiliki cucu seperti dirinya. Cucu yang suka mengambil uang milik beliau karena tidak diberikan uang jajan oleh papa Javas. Uang yang diambil Aru juga tidak main-main dan berjumlah jutaan.


Oleh karena itu, beliau merasa kesal dengan salah satu cucunya itu. Bukan hanya itu. Masih ada banyak kejahilan yang Aru lakukan hingga membuat Oma Belinda semakin tidak betah hidup bersama.


"Maafkan Aru yang dulu, Oma. Aru sudah durhaka pada Oma," sesal Aru lalu memeluk Oma tercintanya lembut. Dia menumpahkan semua tangis karena dosa di masa lalu. Dia sangat menyesal.


Oma Belinda menghela napas dan tersenyum manis. Cucunya memang sudah berubah. Dulu, mana mau Aru sekedar salim atau memeluk beliau? Melirik pun terasa sinis.


"Aru menyesal. Oma boleh kasih pelajaran ke Aru apapun itu. Oma boleh pukul Aru, boleh cubit, atau cambuk. Aru sudah terlalu banyak membuat Oma kecewa," racau Aru dengan air mata berderai dan sesenggukan.


Oma Belinda menatap menantunya yang sedang berdiri di belakang sang Cucu. Ketika menantunya mengangguk, Oma Belinda pun membalas pelukan sang Cucu.


Beliau memaklumi sikap sang Cucu yang memang sejak kecil selalu dimanja dan serba ada. Sekarang, setelah Aru mendapat ujian dalam hidup, beliau percaya Aru sudah berubah.


"Sudah. Oma sudah memaafkan kamu. Tidak ada nenek yang benar-benar kesal pada cucu-cucunya," ucap beliau menenangkan.

__ADS_1


Aru merenggangkan jarak dan menatap Omanya penuh sayang. "Makasih, Oma. Oma memang nenek terbaik sepanjang masa." Setelah berucap demikian, Aru mengecup kedua pipi Oma Belinda dengan sayang.


Mama Kalea yang melihat itu, tersebut penuh haru. Putrinya sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


Setelah acara maaf-maafan selesai, ketiganya menuju ruang tengah untuk lebih leluasa mengobrol. Papa Javas sedang ke kantor sedangkan Abidzar sedang ke sekolah. Hari ini Aru sengaja izin tidak ikut kajian karena akan kedatangan Omanya.


Perbincangan ketiga perempuan itu mengalir begitu saja. Aru benar-benar menunjukkan sisi dirinya yang berbeda. Dia sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


Hingga menjelang makan siang, papa Javas pulang. Mereka melakukan makan siang bersama di rumah megah nan besar itu. Setelah acara makan siang selesai, Papa Javas menggiring semua untuk duduk di ruang tengah.


"Ayo, Ma. Mama boleh memulai apa yang ingin Mama sampaikan pada Aru," pinta Papa Javas kepada Oma Belinda.


"Jadi bagaimana, Ru? Papa dan mama kamu pasti sudah bercerita bukan?" tanya Oma langsung pada intinya.


Aru mengangguk membenarkan. "Sudah, Oma. Aru ikut keputusan para orang tua. Aru percaya, jika semua yang dilakukan Mama, Papa, dan Oma adalah demi kebaikan."


"Kamu pasti sedang bertanya-tanya mengapa kami memilih untuk menikahkan kamu. Tenang, Oma akan jelaskan agar kamu tidak bingung," sambung Oma Belinda lagi dengan senyum lebarnya.


"Memangnya, apa alasannya, Oma?" Aru bertanya dengan ekspresi penuh minat. Tubuhnya pun condong, siap mendengar penjelasan.


"Tujuan kami menikahkan kamu adalah, agar kamu memiliki imam yang bisa membimbing kamu menjadi lebih dan lebih baik lagi. Yang pasti, lebih baik dari hari ini. Oma sudah memiliki kandidatnya. Oma percaya, laki-laki pilihan Oma akan membimbing kamu dengan sabar. Dan yang paling penting, dia mau menerima keadaan kamu yang sekarang. Dia yang terbaik," ucap Oma begitu antusias menceritakannya.


Aru terpaku di tempat. Benarkah laki-laki yang dijodohkan dengannya, mau menerima Aru apa adanya? "Benarkah dia mau menerimaku apa adanya?" tanyanya sangsi.

__ADS_1


"Tentu saja. Dia akan menemani hijrahmu dengan baik," jawab Mama Kalea baru ikut bicara.


Aru menatap matanya sambil memicing. "Apakah Mama mengenal laki-laki tersebut? Mengapa Mama bisa tahu?" tanya Aru semakin heran.


"Tentu saja kami tahu. Lusa, kami, para orang tua ingin mempertemukan kalian. Semoga, dipertemuan itu kalian saling cocok dan kita bisa beralih ke jenjang berikutnya. Pernikahan bila sudah ada dua mempelai, lebih cepat lebih baik untuk dilakukan." Kini giliran Papa Javas yang bersuara.


Seakan, mereka telah mengenal sosok pria yang akan menjadi calon suami Aru. "Apakah hanya aku yang tidak mengenalnya? Mengapa kalian seperti sudah mengenal lama?"


Papa Javas terkekeh lalu duduk di samping putrinya. Tangannya terulur mengelus kepala anaknya yang tertutup hijab instan khas rumahan. "Kamu sangat mengenalnya. Kamu juga sudah beberapa kali bertemu dengan dia."


Aru semakin mengerutkan alis. Siapa kira-kira?


"Tetapi, Papa pikir kamu belum mengetahui sifat dan sikap dia yang sebenarnya. Nanti, setelah kalian menikah, kamu akan tahu dan mungkin saja, akan jatuh cinta berkali-kali pada pasangan halalmu," ucap Papa Javas penuh keyakinan. Firasat orang tua memang tidak pernah salah.


"Siapa dia, Pa? Sebut namanya saja," kesal Aru dengan giginya yang saling bergemeletuk. Dia merasa gemas karena sejak tadi tidak ada yang berniat menyebut nama laki-laki yang disebut 'kandidat' oleh Omanya.


"Dia adalah Dirga."


Mata Aru membelalak tak percaya. Telinganya dipertajam takut salah dengar. "Siapa, Pa? Dirga? Papa tidak salah?!" tanya Aru tak percaya dengan kenyataan yang ada. Dia sangat terkejut hingga jantungnya hampir jatuh ke perut.


"Dirga yang mana, Pa?" tanya Aru masih mencoba berpikir positif barangkali dia mengenal nama Dirga lainnya. Bukan Dirga yang selalu mencemoohnya.


"Dirgantara Mahesa. Keponakan Om Reza," jawab Oma Belinda memperjelas kalimatnya.

__ADS_1


Hah? Apa Aru tidak salah dengar? Dirga? Akan menjadi imam yang baik untuknya? Lalu, apa tadi yabg dikatakan papanya? Akan jatuh cinta berkali-kali? Pada Dirga?


'Ya Allah! Ujian apa lagi ini? ' batin Aru menjerit dan meronta.


__ADS_2