Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 15. Yoda?


__ADS_3

Hari baru telah tiba. Setelah lelah dengan acara pernikahan dan resepsi, Dirga dan Aru harus kembali pada rutinitasnya. Hanya cuti tiga hari yang mereka Dirga ambil karena harus segera membuat skripsi.


Begitu juga dengan Aru yang harus menyelesaikan pelajarannya di pondok. Paling tidak, satu tahun lamanya untuk Aru bisa menyelesaikan kitab yang dipelajari.


Dirga mendukung keinginan Aru yang ingin tetap mengaji dan memperdalam ilmu agama. Laki-laki itu juga yang mengantar Aru sebelum pergi ke kampus. Mereka sepakat untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. Walau Aru mengakui belum sepenuhnya mampu mencintai Dirga, suaminya itu tidak masalah.


Dirga yakin, perlahan-lahan Aru akan terbiasa dengan adanya dirinya.


"Salim dulu," ucap Dirga ketika Aru berniat membuka pintu mobil tanpa berpamitan terlebih dahulu.


Aru menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa jika laki-laki yang duduk di kursi kemudi adalah suaminya. "Maafkan aku yang lupa jika sudah memiliki suami," sesal Aru lalu mengambil telapak tangan Dirga untuk dikecup punggung tangannya.


"Aku pergi mengaji dulu ya, Mas," pamit Aru dengan tangan yang belum terlepas.


Dirga mengangguk lalu ganti menarik telapak tangan sang Istri dan menciumnya di sana. Aru jelas terkejut sampai matanya membelalak lebar. "Kenapa dicium telapak tangannya, Mas?" tanya Aru heran.


Dirga terkekeh pelan. "Karena di telapak tangan istri terdapat keberkahan untuk seorang suami," jawab Dirga memberikan alasan.


Pipi Aru terasa memanas ketika mendengar penuturan suaminya yang terbilang sangat manis dan romantis. Senyumnya mengembang malu-malu lalu memalingkan muka.


"Sini, mendekatlah," pinta Dirga sambil membingkai wajah Aru.


Mata Aru mengerjap beberapa kali. Tidak tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu. Mulut Aru sudah terbuka untuk bertanya. Namun, bibir itu tertutup lagi ketika merasakan sentuhan lembut dari bibir Dirga di keningnya.


"Aku pergi dulu ya, Mas. Assalamualaikum," pamit Aru berniat menghindar dari suaminya. Dia terlalu gugup jika menghadapi Dirga yang selalu dalam mode romantis.


Karena dulu, Aru terbiasa menghadapi Dirga yang cerewet dan bermulut pedas. "Waalaikumsalam. Nanti sore biar Mas yang jemput kamu," jawab Dirga terpaksa melepaskan sang Istri karena waktu sudah semakin beranjak.


"MasyaAllah. Pengantin baru sudah mulai mengaji lagi," sambut para santriwati ketika Aru telah tiba di kelas.

__ADS_1


Aru melempar senyum sebagai jawaban atas lontaran tadi.


"Bagaimana rasanya memiliki suami seperti Pak Dirgantara, Kak?" tanya Riri antuasias. Dia merupakan salah satu santriwati yang tidak hadir ke acara pernikahan maupun resepsi Aru.


"Alhamdulillah. Oh iya. Kenapa Riri tidak datang ke pernikahan ku?" tanya Aru merealisasikan pemikirannya.


Riri tersenyum meringis. "Maafkan aku, Kak. Waktu itu aku pulang kampung. Ibu dan ayah menjemput ku," jawabnya dengan raut bersalah.


Aru memanyunkan bibirnya. "Baiklah. Aku sudah memaafkan kamu. Ayo, kita buka kitabnya. Sebentar lagi Umi akan tiba," ajak Aru yang segera diangguki oleh Riri yang kebetulan duduk di sampingnya.


..................


Sehabis sholat asar, masih ada kajian tiga puluh menit. Namun, sore itu pondok digegerkan dengan kedatangan tamu yang tidak diundang. Apalagi, tamu itu mengatakan ingin bertemu Aru.


Nama Arunika di pondok pesantren hanya ada satu. Yaitu, Arunika Kanagara. Merasa namanya disebut, Aru yang semula cuek pun menjadi heran dsn bertanya-tanya. Siapakah gerangan sosok yang mencarinya?


"Dimana orangnya, Mbak?" tanya Aru pada Zahra, salah satu pengurus pondok.


"Ya sudah. Aru ke sana dulu ya, Mbak."


Setelah berpamitan, Aru segera menuju rumah tamu. Rumah itu semacam joglo yang dikhususkan untuk tamu yang berkunjung ke pondok. Para tamu yang anak atau saudaranya tidak ada di pesantren, dilarang masuk area santriwan maupun santriwati.


Setelah tiba, samar-samar Aru mendengar perbincangan Abah dengan tamu yang mencarinya tersebut. Namun, yang membuat dahi Aru semakin mengkerut dalam adalah, suara tamu tersebut terasa tidak asing lagi di pendengaran.


"Assalamualaikum," sapa Aru sambil mengetuk pintu walau pintu di depannya tidak sepenuhnya tertutup.


"Waalaikumsalam," jawab dua suara yang bisa Aru tebak adalah milik Abah dan Umi.


Tidak berapa lama, pintu terbuka dan Umi muncul dari sana lengkap dengan wajah gusarnya. "Kenapa, Umi?" tanya Aru heran.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Umi membuka pintu lebar-lebar hingga seseorang yang berada dalam ruangan terlihat jelas. "Dia siapa? Katanya kekasih kamu?" tanya Umi dingin.


Deg.


Aru terpaku di tempat kala melihat siapa sosok tamu yang Umi maksud. Yoda? Ada apa laki-laki itu mencari dirinya? Ingin sekali Aru menjambak rambut atau mencakar- cakar wajah lelaki yang sudah menjadi sumber lukanya.


Namun, yang dilakukan Aru saat itu hanyalah diam dengan telapak tangan yang setia mengepal. Dia marah, kecewa, dan ingin sekali menelan lelaki itu hidup-hidup.


"Afwan, Umi. Tetapi, saya tidak mengenal dia. Saya rasa, dia sudah salah orang," ucap Aru menolak keberadaan Yoda di sana.


"Aru?" panggil Yoda yang kini beranjak dari duduknya. Laki-laki itu berniat memegang tangan Aru tetapi segera ditepis oleh sang Empu.


"Jangan sembarang pegang. Aku bukan Aru yang dulu lagi," peringat Aru dingin dan datar.


Umi dan Abah melempar pandangan pada Aru. "Apakah kamu mau ditemani Abah untuk berbicara padanya?" tanya Umi pengertian. Beliau seperti sadar jika sedang terjadi perselisihan.


"Kalau boleh, Aru ingin ditemani Abah dan Umi. Tetapi, waktu Umi, Abah, dan aku terlalu berharga jika dihabiskan bersama laki-laki seperti dia. Afwan jika Aru tidak sopan. Tapi, Aru memang tidak ingin bertemu dia, Umi," jawab Aru menggebu-gebu dan penuh penekanan di setiap kata.


"Aru. Dengarkan penjelasan ku dulu. Semua tidak seperti yang kamu kira. Kita bisa bicara baik-baik dan memulai semuanya lagi—"


PLAK.


Sontak saja tindakan Aru yang menampar Yoda membuat Umi dan Abah terkejut. Sedangkan Yoda, dia tersenyum bagai tak memiliki dosa. Umi membawa Aru untuk masuk lalu menutup pintu agar tidak menjadi tontonan para santri lain.


"Nak Aru, masuk dulu. Umi akan temani kamu bicara," titah Umi yang tidak bisa Aru bantah lagi.


Setelah berada di dalam, Aru enggan menatap Yoda yang kini sedang menatap ke arahnya. "Afwan Nak Yoda. Kami tidak akan membiarkan santriwati kami bertemu pria asing dan hanya berdua di ruangan yang tertutup. Jadi, kami akan temani." Umi berucap sebelum Yoda melayangkan protes.


"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting, saya bisa bicara dengan Aru," jawab Yoda sok manis.

__ADS_1


Aru mendecih pelan. Merasa kesal dengan sosok Yoda yang kini mulai mencarinya entah dengan alasan apa. "Tapi aku tidak ingin bicara padamu. Aku sudah menikah dan hidup bahagia. Sebaiknya, kamu jangan lagi datang si hidupku. Jangan merusak hidupku lagi yang dulu pernah kamu hancurkan!"


__ADS_2