
Sebenarnya, Aru tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Namun, jika Dirga yang sebagai seorang suami sudah memintanya pergi, Aru tidak mungkin bertahan.
Dalam kepalanya dipenuhi pikiran apakah ini adalah akhir dari pernikahannya?
Ingin sekali Aru mengulur waktu, berharap Dirga berubah pikiran dan memutar balik arah perjalanan. Namun, hal tersebut tidak terjadi karena mobil yang ditumpangi telah berada di depan pagar rumah orang tuanya.
Dirga hanya diam tanpa mengucap sepatah kata. Hal itu membuat perasaan Aru semakin terluka. Belum lagi jika mengingat kata talak yang dilayangkan Dirga beberapa waktu yang lalu.
"Aku akan turun. Satu hal yang harus kamu ketahui, aku tidak pernah berkhianat dengan siapapun. Dan lagi, ketika nanti kebenaran terungkap, jangan menyesali perbuatan kamu saat ini. Saat kamu meminta ku untuk kembali, rasanya tidak akan semudah seperti dulu lagi," ucap Aru yang sudah bersiap untuk keluar.
"Namun, hal itu tidak mungkin terjadi bukan? Kehadiranku tidak begitu diharapkan." Lalu Aru tertawa getir.
Setelah itu, Aru benar-benar turun. Dirga juga turun untuk membantu menurunkan koper di bagasi belakang. Setelah itu, Aru benar-benar masuk ke rumah orang tuanya.
Aru tidak lagi menoleh ke belakang. Dia kembali menangis sambil berjalan memasuki rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Orang tuanya mungkin sudah tidur. Pak satpam yang membukakan pintu untuknya saja seperti terkejut melihat kedatangan Aru yang semalam itu.
Ketika Aru tiba di ruang tengah, papanya ternyata belum tidur. Beliau terkejut melihat kedatangan Aru dengan kondisi yang begitu menyedihkan. "Pa? Aru boleh tinggal disini untuk beberapa hari kan?" tanya Aru mencoba untuk menahan air mata yang sudah dihapusnya.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Papa Javas lalu segera mendekap tubuh Aru dalam pelukan. Pecah sudah tangis Aru yang sejak tadi berusaha ditahan. Tangis yang begitu menyedihkan dan memilukan.
Aru membalas pelukan sang Papa dengan erat. Pelukan dari seorang laki-laki yang selalu pasang badan untuknya. "Ada sedikit masalah antara aku dan Dirga. Tetapi, aku yakin itu tidak akan lama. Kami hanya butuh waktu," jawab Aru yang bahkan tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
Papa Javas merenggangkan jarak dan menatap putrinya dengan iba. "Jangan ceritakan apapun dulu. Kamu sebaiknya istirahat ya. Besok pagi baru kamu boleh bercerita," cegah papa Javas ketika melihat anaknya yang tampak kelelahan.
Aru mengangguk. "Mama dimana, Pa?" tanya Aru sambil menghapus air matanya.
"Mama sudah tidur. Sebaiknya kamu istirahat dulu. Papa akan selesaikan pekerjaan papa yang tinggal sedikit lagi."
Sesampainya di kamar yang dulu menjadi kamarnya, Aru duduk di sisi ranjang. Dilepasnya hijab yang dia kenakan dan melepas ikat yang menjerat rambutnya.
__ADS_1
Kamar itu masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah atau bergeser sedikit pun. Aru menyandarkan kepala pada headboard lalu mendongak menatap langit-langit kamar.
Air matanya kembali luruh mengingat ucapan Dirga beberapa waktu yang lalu. "Setipis itu kepercayaan mu kepadaku, Mas?"
Aru akui jika saat ini, rasa cinta pada sang Suami sudah teramat besar. Dia tidak menyadari sejak kapan rasa itu ada. Hingga kehadiran Yoda tidak lagi menggetarkan jiwanya.
Tetapi, Aru masih tidak percaya jika Dirga bisa semarah itu pada masa lalunya. Aru menghela napas kasar. Sesak sekali ketika harus mendengar jika suaminya lebih percaya pada orang lain dibanding dirinya.
...----------------...
Keesokan harinya, Aru dikagetkan dengan suara mamanya yang sedang mendatangi dapur. Mungkin karena kondisi Aru yang sedang melamun hingga suara mamanya terdengar cukup kencang.
"Loh, Aru! Kapan kamu datang?"
Aru menoleh dan memasang senyum manisnya. Namun, raut wajah yang semula begitu antusias, berubah sendu menatap Aru. "Kenapa, Ma? Mama tidak suka Aru datang?" Aru balik melempar pertanyaan.
Mamanya menggelengkan kepala. "Tidak. Mama bahagia kamu datang. Hanya saja, Mama merasa seperti telah terjadi sesuatu pada rumah tanggamu," ucap beliau sendu.
Mama Kalea tersenyum dan mengelus pundak sang Anak. "Jangan melamun, Sayang. Tuh, airnya tumpah," ucap beliau yang menyadarkan Aru jika saat ini sedang mengisi gelas di water dispenser .
"Astaghfirullahal'azdim!"
Mama Kalea geleng-geleng kepala. "Benahi dulu hatimu, Nak. Mama tahu jika saat ini hatimu sedang tidak baik-baik saja. Duduk dulu," pinta Mama Kalea dan membawa Aru untuk duduk di kursi bar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Apa ada masalah?" tanya Mama Kalea penuh kelembutan. Sebagai seorang ibu, beliau mengetahui sesuatu tanpa harus diberitahu terlebih dahulu. Namun, Mama Kalea tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Kecuali, anak dan menantunya meminta pendapatnya atau sudah dalam tahap tidak wajar. Beliau paham karena dulu pernah muda.
Aru menunjukkan raut murungnya. "Ada sedikit kesalahpahaman. Mas Dirga memintaku menjauh terlebih dahulu. Mungkin agar dia bisa mengontrol cara bicaranya. Aku tahu jika Mas Dirga sedang marah, kata-kata kasar mungkin akan keluar dan akan semakin menyakiti aku," jelas Aru tidak ingin menjelekkan nama sang Suami.
Mamanya tersebut hangat. Senyuman yang membuat perasaan Aru menjadi nyaman. Kemudian, Aru merasakan elusan lembut di punggung tangannya. "Mama percaya kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Mama berharap, apapun yang terjadi jangan sampai kalimat perpisahan terucap. Karena akibatnya akan fatal jika itu terucap hingga tiga kali." Sang Mama menasehati seakan sudah mengetahui semuanya dengan baik.
__ADS_1
Buktinya tanpa Aru bercerita, Mamanya itu seperti memiliki firasat yang kuat. Aru tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Ma. Mama memang yang terbaik," ucap Aru lalu berdiri dan memeluk mamanya.
Nyatanya, sepanjang apapun nasehat sang Mama, tidak ada yang bisa menghilangkan rasa kecewa yang sedang Aru alami. Kecewa akan ucapan Dirga yang telah menjatuhkan talak satu padanya.
Tidak ada hal yang paling menyakitkan bagi Aru selain kata talak yang keluar dari bibir suaminya sendiri ketika dalam keadaan marah. Mungkin, kata kasar dan menghina masih Aru terima. Namun kata talak? Sungguh, Aru tidak memiliki hati sebesar itu.
"Jangan melamun lagi, Sayang. Lebih baik kita sarapan dulu ya," ajak Mama Kalea lalu menarik lengan Aru untuk menuju ruang makan.
Aru pun mengangguk. Setelah berada di meja makan, Abidzar tampak kaget dengan kehadiran dirinya yang tiba-tiba. "Loh! Kak Aru kapan datang?" tanyanya keheranan.
"Tadi malam. Kalian sudah tidur. Papa yang menyambut kakakmu itu," jawab suara dari arah tangga yang tidak lain adalah milik sang Papa.
"Loh, kok tidak membangunkan aku, Kak?"
"Memangnya kamu mau melakukan apa kalau dibangunkan? Makan sarapanmu," titah Papa Javas yang sudah mengambil posisi duduk di ujung meja.
"Duduk, Aru," pinta Papa Javas lembut disertai senyuman yang menenangkan. Aru pun duduk berdampingan dengan sang Mama. Acara sarapan pun berjalan lancar dengan diselingi candaan dari Abi. Aru cukup terhibur dengan kehadiran keluarganya di tengah-tengah masalah yang sedang menderanya.
Setelah semua selesai, suara papanya kembali terdengar. "Abi? Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya beliau.
"Jam dua, Pa. Kenapa? Mau jemput?" tanya Abi yang langsung mendapat anggukan dari papanya. Abi pun bersorak senang. Hal itu membuat Aru ikut merasakan kebahagiaan sang Adik tercintanya.
"Besok dan Minggu libur sekolah kan? Nanti sore kita akan ke puncak," putus Papa Javas yang semakin membuat Abi bersorak-sorai.
"Yeay! Akhirnya bisa liburan! Kak Aru ikut kan, Pa? Harus ikut dong."
Merasa namanya disebut, Aru pun mengerjapkan mata beberapa kali. "Ikut kemana, Bi?" tanya Aru bingung.
"Ikut liburan, Kak. Sudah lama kita tidak berlibur bersama. Ini adalah kesempatan kita memeras uang Papa," ucap Abi menggebu-gebu.
__ADS_1
Aru pun tertawa terbahak-bahak. "Benar juga. Sudah lama kita tidak menghabiskan uang Papa. Kita harus jajan yang banyak nanti," sahut Aru antusias.
Papa Javas dan Mama Kalea saling lempar pandang dan tersenyum manis. Ini adalah rencana mereka berdua yang berniat untuk menghibur Aru.