Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 39. Talk time


__ADS_3

Aru sedang berada di dapur demi memasak sarapan untuk sang Suami. Tiba-tiba dia merasakan pelukan dari belakang hingga membuat tubuhnya berjenggit kaget.


"Ya Allah, Mas. Datang-datang bukannya mengucap salam kek," kesal Aru sambil mengelus dadanya. Tongkat penyangga yang digunakan Dirga sudah lepas. Suaminya itu kini mulai sanggup berjalan tanpa alat bantu.


Sudah terhitung satu bulan dan perkembangan berjalan Dirga semakin pesat. Bukannya menjawab, Dirga justru mengelus perut Aru yang masih rata.


Aru yang merasakan sentuhan lembut tersebut, menoleh menatap tangan suaminya. "Jangan pikirkan apapun. Aku hanya sedang berdoa dalam hati. Doa suami bisa jadi keberkahan untuk istri juga bukan?" tanya Dirga yang kini membalik tubuh Aru untuk menghadapnya. Dia seakan tahu dengan isi kepala sang Istri.


Aru menatap mata Dirga sebentar lalu menunduk dalam. "Maafkan aku karena tak kunjung hamil. Apa lebih baik kita periksa ke dokter?" tanya Aru murung.


Dirga pun menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku percaya Allah akan kasih jika memang sudah tiba waktunya. Jika tidak, bukankah kita masih bisa memiliki anak di surga? Bukankah kamu juga ingin berada di surga bersamaku?"


Aru mendongak dan tersenyum bahagia. "Pasti. Aku ingin kita selalu bersama di dunia dan akhirat," jawab Aru antusias.


Dirga pun tersenyum dan salah satu tangannya digunakan untuk membingkai pipi Aru. Sedangkan satu tangan lainnya digunakan untuk mematikan kompor lalu menarik pinggang sang istri untuk mengikuti langkahnya.


"Sudah lama kita tidak melakukannya lagi." Dirga memberi kode pada Aru yang ditanggapi kekehan renyah.


"Melakukan apa? Memangnya Mas mau melakukan apa sih? Jangan pakai kode deh. Aku tidak pandai membacanya," jawab Aru pura-pura bodoh.


Dirga pun mencubit hidung mancung Aru lalu menempelkan dengan hidung miliknya gemas. "Aku rasa, kamu tidak sepolos itu. Tetapi, karena istriku ini tidak mengerti, maka akan aku jelas—"


Cup.


Aru langsung mengecup bibir Dirga agar tak lagi melanjutkan kalimatnya. Pipi Aru terasa memanas hanya karena tingkah suaminya. "Jangan dilanjutkan. Aku sudah paham. Mau sekarang dan dimana?" tanya Aru sengaja menggoda. Dia sama menginginkan sentuhan dari Dirga yang sudah sejak lama tidak dia rasakan.


Senyum manis pun terbit di bibir Dirga lalu berkata. "Di kamar kita."

__ADS_1


...----------------...


Acara sarapan yang sempat tertunda itu kini benar-benar dilakukan. Pukul sebelas siang sepertinya sudah tidak layak disebut sarapan. Namun, pasangan suami istri itu tetap menyebutnya sarapan.


"Gara-gara Mas nih, aku gagal masak. Jadi, Bibi deh yang masak," ucap Aru sambil menikmati nasi goreng buatan salah satu pekerja di rumahnya.


Dirga hanya tertawa dan menyuapkan sendok demi sendok nasi ke dalam mulutnya. Setelah sarapan selesai, Dirga membawa istrinya untuk duduk di teras belakang rumah yang terbilang luas. Mereka duduk bersebelahan di kursi rotan yang terdapat sebuah meja di depannya.


"Aku bersyukur akhirnya kamu bisa kembali berjalan normal. Allah juga masih melindungi kamu dengan diberi musibah patah tulang ringan. Padahal, kecelakaan itu cukup parah. Sampai mobil kamu ringsek semua," ucap Aru dengan tatapan menerawang ke atas.


Dirga berdecak sebal. "Sebenarnya, kamu khawatir dengan mobilnya atau sedang mengkhawatirkan aku? Mengapa di sini seakan-akan kamu merasa sangat kasihan pada kondisi mobil?" tanya Dirga tidak habis pikir.


Aru pun tertawa hingga deretan gigi putihnya terlihat. "Ya aku khawatir dengan kamulah, Mas. Tetapi, mobil kamu itu bukannya berharga milyaran? Apa tidak sayang jika tidak diservis oleh ahlinya?" tanya Aru berbicara realistis.


"Lebih baik membeli yang baru daripada memperbaiki dengan harga yang cukup fantastis. Aku juga cukup trauma menggunakan mobil tersebut," jelas Dirga dengan hidung yang berkerut.


"Sebenarnya tidak harus dilepas. Tetapi jika mengganggu, aku akan melepasnya. Karena melepas pen juga memiliki efek samping. Untuk saat ini sepertinya aku belum siap. Apalagi, hari wisudaku sudah sangat dekat," jelas Dirga dan Aru mengangguk paham.


Aru kini terdiam dengan menatap profil samping suaminya. Satu bulan ini memperbaiki hubungan, Dirga benar-benar berubah. Tidak ada lagi kemarahan yang meluap seperti dulu.


Dirga memang memiliki sikap yang lembut. Namun, ketika sedang marah dia bagai singa yang lapar. Sungguh. Sebanyak apapun Dirga menyakiti perasaanya, hal itu akan kalah dengan rasa cinta yang ada di hati Aru.


Entah bagaimana bisa Aru mencintai Dirga sedalam ini. Selain karena sikap manisnya, Dirga benar-benar memanjakan dirinya di luar keadaannya yang harus berjalan menggunakan alat bantu.


Tidak sekalipun Dirga ingin merepotkan Aru walau Aru akan dengan sukarela membantu suaminya itu.


"Kenapa melamun sih?" tanya Dirga sambil mencubit hidung Aru pelan.

__ADS_1


Lamunan Aru pun tersentak. "Tidak ada. Aku hanya ingin menatap suamiku saja. Apa rencana kamu untuk wisuda bulan depan?" tanya Aru penuh perhatian.


Pembicaraan ringan seperti itu nyatanya berhasil merekatkan hubungan yang sempat merenggang.


"Aku berencana untuk berbulan madu setelah wisuda itu dilaksanakan," jawab Dirga tanpa beban. Aru yang mendengar itu, tidak mampu menyembunyikan senyumnya yang menawan.


"Baiklah. Siapa kira-kira orang yang akan Mas ajak untuk berbulan madu?" tanya Aru kembali berpura-pura bodoh.


Dirga yang gemas, langsung berdiri dan mengukung tubuh Aru yang sedang duduk di kursi. Wajah keduanya sangat dekat bagai tak berjarak. "Jangan kebanyakan gerak dulu, Mas. Kaki kamu baru sembuh loh," peringat Aru sambil mengalihkan pembicaraan tentang bulan madu.


"Tatap mataku, Sayang. Jangan membuang pandangan," pinta Dirga karena Aru justru melengos.


"Aku tidak bisa," jawab Aru sambil mengulum senyum.


"Kenapa tidak bisa? Aku rasa tidak akan sesulit itu. Tadi saja kamu menatapku lekat," ucap Dirga lalu mendekatkan wajah dan mencium rahang Aru berkali-kali.


"Mas!" peringat Aru karena suaminya itu memang sedang memiliki energi yang bukan main-main.


"Apa, Sayang?" tanya Dirga lembut.


"Ini masih siang. Sebentar lagi azan dzuhur akan dikumandangkan," jawab Aru memejamkan mata ketika suaminya itu tak berhenti melakukan aksinya.


Apalagi, Dirga kini telah berjongkok dan menenggelamkan wajah di dada Aru. "Mas!"


"Berarti, setelah dhuhur boleh lagi?" tanya Dirga tanpa menjauhkan wajahnya. Aru berdecak. Suaminya itu memang pandai membuat dirinya tidak sanggup menolak.


"Iya, Mas. Sekarang jangan dulu. Aku kan baru mandi. Pagi ini saja aku sudah mandi dua kali," rengek Aru ketika Dirga tak kunjung melepaskan dirinya.

__ADS_1


Dirga sontak tertawa. Kepalanya mendongak untuk menatap wajah sang Istri yang tampak memerah. "Aku sudah tidak sabar menunggu sehabis dhuhur," celetuknya lalu mencuri sebuah kecupan di bibir sang Istri.


__ADS_2