Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 40. Hobi baru


__ADS_3

Saat ini, Aru sedang dalam perjalanan menuju pondok pesantren Darussalam. Suaminya, Dirga sudah kembali bekerja. Dia mengatakan ingin segera menyelesaikan pekerjaan agar bisa pergi berbulan madu beberapa minggu ke depan.


"Assalamu'alaikum, Umi, " sapa Aru ketika baru turun dari mobil dan langsung bertemu dengan Nyai Hafidzah yang sedang berada di taman.


Waalaikumsalam. Apa kabar kamu, Nak? Sudah lama sekali tidak mengunjungi pondok." Umi bertanya penuh perhatian dan kelembutan.


"Alhamdulillah, Umi. Kabar Aru baik."


"Kamu sendiri? Oh iya, bagaimana kondisi Nak Dirga? Umi dengar, Nak Dirga sudah pulih? " tanya Umi yang memang sudah tahu keadaan Dirga yang pernah mengalami kecelakaan. Beliau bersama Abah pernah datang ke rumah untuk menjenguk Dirga.


"Alhamdulillah, Umi. Semua karena Allah dan doa dari orang-orang baik, " jawab Aru ramah.


"Alhamdulillah. Sekarang masuk dulu ya? Umi ingin mengobrol sebentar sebelum kamu datang ke ruang administrasi, " pintar Umi lembut.


Aru mengangguk dan mengikuti langkah Umi yang berjalan menuju rumah tinggal beliau. Setelah sampai, Aru dipersilahkan untuk duduk dan diberi kudapan seperti biasa. Begitulah Umi Hafidzah memperlakukan semua tamunya. Sangat ramah dan tahu adab dengan baik.


"Umi tidak ingin berbasa-basi karena pasti Nak Aru sudah bertanya-tanya mengenai pembicaraan yang Umi katakan. Ini mengenai Sisil," ucap Umi memulai pembicaraan.


Aru seketika menegakkan badan dan mendengarkan dengan baik penjelasan yang akan Umi katakan. "Baik. Ada apa dengan Mbak Sisil ya, Umi?"


Umi tampak menghela napas berat sebelum kembali bersuara. "Sebelumnya, Umi ingin meminta maaf karena kurang memperhatikan para pengurus di pondok pesantren. Hingga ada salah satu dari mereka melakukan tindakan tercela dan hampir merusak rumah tangga kamu. Bagi kami, hal itu adalah kesalahan dan tidak bisa dimaafkan." Umi menjeda kalimatnya. Seakan pembahasan kali ini akan begitu berat.


"Iya, Umi. Aru sudah tidak masalah lagi dengan hal tersebut, " jawab Aru tidak ingin membuat Umi yang justru merasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu pasti tahu jika di pondok, tingkah laku sangatlah penting apa lagi tingkah laku para pengurus. Mereka akan menjadi contoh santri yang belajar di sini. Maka dari itu, Umi, Abah, dan Zain sepakat untuk memberikan SP2. Namun, bukannya berubah menjadi lebih baik, Sisil justru semakin menunjukkan sifat aslinya. Dengan berat hati, kami mengeluarkan Sisil."


Penjelasan Umi cukup membuat Aru terkejut. Dia tidak habis pikir jika pengaduan Dirga akan berimbas pada karir Sisil sendiri. Aru lah yang meminta Dirga untuk mengadukan masalah tersebut sebagai alat untuk membuat Sisil jera. Rasa bersalah seketika menelusup ke dasar hatinya.


"Tidak perlu merasa bersalah. Apa yang Nak Aru dan Nak Dirga lakukan sudah benar. Bukan hanya nama baik pondok saja yang dipertaruhkan. Melainkan mental para santriwati juga yang mendapat perlakuan kurang baik dari Sisil. Umi sampai tidak percaya jika Sisil ternyata sering sekali mengintimidasi beberapa santriwati jika kehendaknya tidak dituruti. Awalnya mereka tidak berani mengadu. Namun setelah ada pengaduan dari kamu, santri lainnya mulai berani," jelas Umi panjang lebar.


"Lalu, Mbak Sisil sekarang dimana, Umi?" tanya Aru penasaran. Helaan napas berat kembali terdengar.


"Sisil pulang ke kampung halaman. Sebelum pergi, dia menitipkan pesan pada Umi agar memintakan maaf darimu. Dia bilang, sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu kamu," ungkap Umi yang membuat Aru terkejut bukan main.


----------------


Sepulang dari pondok, Aru terus memikirkan kata-kata Umi yang menjelaskan tentang kondisi Mbak Sisil sekarang. Sanksi yang dia terima memang berat. Namun, menurut Umi itu sepadan dengan kesalahan yang sudah Sisil lakukan.


"Aku lihat, kenapa lebih banyak melamun sih sepulang dari pesantren? Apa ada masalah yang berat? Bertemu dengan Sisil lagi?" tebak Dirga salah besar.


"Memangnya, apa yang salah? Wajar jika dia pulang kampung karena masih memiliki keluarga di sana." Dirga menanggapi dengan santai dan menganggap wajar atas kepulangan Sisil.


Aru pun ikut duduk di double arm sofa yang tempat lainnya telah di tempati Dirga. Aru menatap Dirga sepenuhnya dengan raut wajah murung. "Masalahnya, Mbak Sisil sudah diberhentikan bekerja di pesantren. Ternyata, Mbak Sisil tidak hanya bersikap buruk kepadaku. Tetapi, dengan santri lain juga. Dia mendapat laporan dari banyak pihak. Kata Umi juga, kelakuan Mbak Sisil bukannya semakin baik justru malah semakin menjadi-jadi," jelas Aru tanpa ada yang ingin ditutup-tutupi.


Dirga terkejut mendengar penuturan sangat Istri tentang kisah Sisil saat ini. Namun, Dirga menganggap hal tersebut wajar. Apa yang susah Sisil perbuat, harus dipertanggungjawabkan.


"Kalau menurutku ya. Itu memang sanksi yang harus dia terima. Dia harus bertanggung jawab atas setiap kesalahan di masa lalunya. Dan aku ingin meminta sesuatu padamu, tolong jangan menyalahkan diri kamu sendiri setelah apa yang menimpa Sisil. Ini bukan salah kamu." Dirga berucap seakan mengerti akan isi kepala Aru.

__ADS_1


Bibir Aru mengerucut. "Tapi, Mas—"


Cup.


Dirga langsung membungkam bibir Aru dengan ciuman agar istrinya itu tak lagi protes. "Tidak ada kata tapi. Sisil harus mendapat pelajaran agar hidupnya bisa lebih baik lagi." Lalu setelah itu, Dirga memeluk Aru dari samping dan mengusapkan tangan dengan lembut pada bahu sang Istri.


Aru mengangguk membenarkan. Mbak Sisil memang harus belajar dari kesalahan yang telah diperbuat. "Baiklah kalau begitu, Mas." ucap Aru pada akhirnya.


"Nah, gitu dong. Mau tadarus Al-Quran bersama tidak?" tawar Dirga yang langsung mendapat anggukan antusias dari Aru. Keduanya pun larut dalam bacaan mushaf untuk beberapa menit. Mungkin sekitar setengah jam mereka larut.


Hingga suara azan isya terdengar, keduanya sontak menghentikan kegiatan mengajinya. Keduanya sama-sama menghayati setiap kalimat demi kalimat azan yang terdengar dengan menimpalinya.


Ketika azan telah selesai, keduanya kembali mendirikan sholat isya berjamaah. Di akhir sholat, Aru berdoa untuk keselamatan dan kerukunan kehidupan rumah tangganya.


Dia juga meminta agar segera diberi momongan sebagai pelengkap rumah tangganya bersama Dirga.


"Ya Allah. Sesungguhnya, Engkau yang Maha Mengetahui dan Maha Pemberi. Jika sampai saat ini Engkau belum mengaruniakan aku seorang anak, semoga Engkau segera meniupkan ruh itu ke dalam rahim ku. Namun, jika memang Engkau berkehendak lain, aku pasrah Ya Allah. Aku percaya bahwa rencana-Mu adalah yang paling indah. Aamiin."


Aru hanya berdoa dalam hati karena terlalu malu pada suaminya yang kini juga sedang khusyuk berdoa. Aru melepas mukenah yang dikenakan lalu menyimpannya.


Melihat sang Suami yang masih bertahan di atas sajadah, membuat Aru bertanya-tanya doa apa yang sedang Dirga panjatkan. Hingga Aru memilih untuk naik ke ranjang lebih dulu, menunggu suaminya selesai.


"Sepertinya, kamu memiliki hobi baru akhir-akhir ini," celetuk Dirga yang membuat Aru tersentak. Dia memang sedang mengamati suami tampannya.

__ADS_1


Aru membuang muka asal. "Hobi apa memangnya? "


"Hobi memandang suami sendiri."


__ADS_2