
Sepanjang acara resepsi berjalan, Aru tidak lepas menatap Dirga yang kini justru membuang muka. Kemana tatapan sangar dan angkuhnya selama ini? Bahkan, sikap laki-laki di sampingnya sudah berubah hampir seratus delapan puluh derajat.
"Kenapa sejak tadi melihatku?" tanya Dirga yang sudah tak tahan lagi.
Aru tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya. "Aku hanya sedang melihat sosok berbeda dari Dirga. Apakah kamu memiliki kepribadian ganda?" tanya Aru kemudian tertawa meledek.
Dirga yang kesal, mencubit pipi Aru gemas. Dia sedang dalam keadaan salah tingkah tetapi Aru justru membuat dirinya sebagai bahan ledekan. "Jangan banyak bertanya. Nanti, kamu akan tahu sendiri," jawab Dirga lalu menjepit hidung Aru gemas.
Aru mengaduh kesakitan. Namun, dia masih tertawa walau tak sekencang tadi. "Benarkah? Jangan-jangan, kamu memiliki kepribadian ganda," tebak Aru dengan mata memicing penuh selidik.
Dengkusan pelan pun terdengar. "Jangan sembarang menebak. Kalau sudah tahu, nanti kamu malah jatuh cinta," jawab Dirga dengan percaya dirinya.
Kini Aru yang terdiam dan membuang muka. Harusnya, ucapan Dirga tidak membuat pipinya memerah. Namun, keinginan sangat jauh dari kenyataan.
"Salah tingkah ya?" tebak Dirga lengkap dengan senyuman meledek. Aru menatap Dirga dengan mata bulatnya.
"Kata siapa? Memangnya, kalau jatuh cinta pada suami sendiri tidak boleh ya?" tanya Aru menantang. Dagunya terangkat angkuh.
Dirga justru terkekeh. "Sudah dulu ngobrolnya. Tuh, ada tamu undangan yang mau salaman," interupsi Dirga yang membuat Aru merubah ekspresi wajah menjadi ramah kembali.
••••••••••••
Aru menghempaskan tubuh di atas kasur. Tubuhnya sangat lelah karena hampir empat jam berdiri menyambut tamu undangan. Matanya menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih. Biarlah dia merusak susunan kelopak bunga yang sudah dibentuk sedemikian rupa.
Ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, Aru mendongak dan mendapati Dirga keluar dalam keadaan yang lebih segar.
__ADS_1
"Belum membersihkan make up nya? Mau aku lagi yang bersihkan?" tawar Dirga sambil mengelap rambut yang masih basah dengan handuk kecil.
Aru seketika bangkit. Dia tidak ingin adegan salah tingkah kembali terulang lagi. "Aku akan segera membersihkannya." Aru segera berjalan menuju meja rias. Dia melepas hijab yang dikenakan lalu mulai menghapus riasan.
Tidak butuh waktu lama karena Aru hanya menggunakan riasan tipis. Setelah itu, Aru pamit mandi, mengabaikan Dirga yang kini sedang menatapnya tak berkedip. Untuk pertama kalinya setelah Aru menutup kepala dengan hijab, Dirga kembali melihat rambut hitam kecoklatan yang sejak dulu berusaha dia hindari. Dalam artian, Dirga tidak ingin menatapnya terlalu lama. Dia khawatir hal itu akan memperberat hisab Aru di akhirat kelak.
Sekarang, Dirga bisa menatapnya puas-puas karena Aru telah menjadi istrinya. Ya. Dirga sudah menyimpan perasaanya sejak dulu. Namun, dia tidak ingin menyatakan cinta dengan cara salah seperti mengajak berpacaran.
Namun, suatu hari Dirga mengetahui sebuah fakta jika Aru sudah memiliki kekasih. Dia memergoki Aru sedang berciuman dengan seorang laki-laki di belakang gedung kampus.
Kecewa? Tentu saja. Sampai Dirga marah dan sempat menyesal karena mencintai Aru dalam diam. Namun, itulah cara terbaik Dirga untuk menjauhkan dari dosa.
Suatu ketika, Dirga memergoki Aru dalam keadaan mabuk dan keluar dari klub malam. Dirga sangat marah hingga berakhirlah dia selalu mengejek Aru dengan mulut pedasnya.
"Oh. Jadi ini yang kamu lakukan malam-malam. Dasar mu ra han!" kesalnya tanpa sadar.
"Tidak punya harga diri!" umpat Dirga dan lagi-lagi hanya mendapat senyuman miring dari Aru. Seakan tidak peduli dengan ucapan Dirga barusan.
"Sok suci kamu! Tidak perlu menasehati ku!"
"Jadi perempuan tuh yang jual mahal. Jangan terlalu murah! Diinjak-injak baru tahu rasa!" kesal Dirga lagi dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.
Namun, ketika mendapati Aru beberapa bulan kemudian, Dirga tertegun. Aru telah menutup aurat sepenuhnya. Dia sempat memiliki prasangka buruk jika Aru berhijab hanya untuk menutupi wajah aslinya.
Tetapi, ketika Dirga melihat Aru ada di pesantren, ketika itu juga Dirga yakin jika Aru telah berubah. Perempuan itu berniat memperbaiki diri.
__ADS_1
Dirga masih ingat ketika sehabis sholat Maghrib, dia keluar dari masjid begitu juga Aru yang sedang mengikat sepatunya. Saat itu, rasa kecewa dan marah terhadap Aru seakan luntur.
Rasa cinta yang sempat padam, seakan kembali menggebu-gebu. Namun, Dirga belum bisa untuk mengungkapkan rasa. Dia ingin meminta persetujuan Tuhan atas keputusan yang akan dia ambil.
"Ya Allah, jika memang dia yang terbaik, yakinkan aku. Namun, jika dia bukan jodohku, berikan aku ikhlas yang lebih luas lagi. Berikan aku petunjuk agar tidak sampai salah langkah," ucap Dirga di sholat sepertiga malamnya.
Setelah beberapa kali sholat, rasa cinta yang Dirga miliki semakin kuat. Hatinya juga semakin mantap untuk mengkhitbah Aru. Dia datang langsung pada Papa Javas dan mengatakan niatnya. Beruntung, niat baik itu ditanggapi dengan baik.
"Baiklah. Namun, apakah kamu yakin? Kamu tahu kan, bagaimana Aru di masa lalu?" tanya Papa Javas tampak masih ragu.
"Saya siap menerima masa lalu baik maupun buruk Aru, Om. Semoga, niat baik saya bisa membuahkan hasil," jawab Dirga sopan.
Papa Javas mengangguk kepala beberapa kali. "Baiklah. Sebenarnya, Om sangat setuju jika kamu akan menjadi menantu, Om. Hanya saja, yang akan menjalani rumah tangga nantinya adalah Aru. Jadi, Om harus menanyakan hal ini terlebih dahulu."
Itulah awal mula kisah Dirga bisa menjadi suami dari perempuan yang dicintainya. Arunika Kanagara.
"Dirga? Kok melamun?" Pertanyaan itu membuat nyawa Dirga tertarik paksa dari kesadaran. Aru sudah mengenakan pakaian lengkap. Hanya saja, kepalanya tak lagi ditutupi hijab.
"Memangnya aku melamun ya?" Dirga justru balik bertanya yang membuat Aru seketika berdecak.
"Sejak aku keluar kamar mandi, sampai aku berganti pakaian, kamu masih melamun. Tidur gih. Sudah malam loh," ucap Aru yang kini berjalan meninggalkan Dirga menuju ranjang. Dirga yang sedang duduk di sofa, mengikuti langkah Aru dan berbaring di sebelah istrinya.
Melihat Aru yang menutup tubuh dengan selimut kemudian bergerak memunggungi, Dirga pun tak tinggal diam. Dia mencoba mencari cara agar Aru mau menoleh ke arahnya.
"Aru? Mengapa kamu memunggungi ku? Apakah kamu sedang marah?" tanya Dirga dan itu berhasil membuat Aru berbalik. Ketika tatapannya bertemu, Dirga pun tersenyum puas.
__ADS_1
"Itu tidak benar. Aku hanya merasa gugup," jawab Aru dan Dirga bisa menangkap mata Aru yang bergerak gelisah.
Tak ingin membuat Aru kurang nyaman, Dirga langsung memeluk Aru hingga wajah istrinya bersembunyi pada dada miliknya. "Tidurlah. Dengan begini, aku bisa tidur lebih nyenyak."