Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 8. Istikharah


__ADS_3

Pertemuan Aru dan Dirga pun terjadi. Orang tua dari kedua pihak telah merencanakan pertemuan ini sehari setelah Aru diberitahu akan dijodohkan. Sudah terhitung seminggu dari waktu itu. Orang tua Dirga yang berada di luar negeri, menyempatkan pulang demi sang Putra.


Para orang tua tengah mengobrol dengan akrab, seakan Papa dan Mamanya Aru telah mengenal orang tua Dirga sejak lama. Merasa penasaran, Aru yang semula bertahan dalam diam, memilih bertanya. "Apa kalian sudah saling mengenal sejak lama? Mengapa kalian begitu akrab?" tanya Aru heran.


Kekehan renyah terdengar dari semua. Aru merasa menjadi manusia terbodoh disana karena tidak tahu apa-apa. "Papamu itu teman Om sewaktu di kuliah. Kami juga terlibat beberapa kerjasama bisnis," jawab Pak Sena, ayah dari Dirga.


"Sebenarnya, kamu sudah bertemu kami di beberapa pertemuan. Hanya saja, dulu kamu tidak peduli dengan sekitar. Kamu terlalu asik dengan dunia kamu sendiri. Tetapi, Tante senang melihat kamu yang sudah berubah dan peduli pada sekitar." Kini giliran Bu Dita yang menjelaskan.


Aru tersenyum kaku. Dulu, dia memang tidak sepeduli itu. Terlalu sibuk dengan gadget dan dunianya hanyalah Yoda. Kini, Aru menyesal telah melupakan orang-orang terdekat hanya demi pria yang tidak tahu diri.


"Maafkan Aru yang dulu ya, Tan. Tanpa sengaja, mungkin Aru sudah menyakiti Tante kala itu," ucap Aru penuh penyesalan.


"Tidak masalah. Kamu hanya sedang kehilangan arah. Sekarang, kamu sudah menemukan diri kamu yang hilang itu. Tetap bertahan dan tingkatkan ya, Sayang," jawab Bu Dita penuh kelembutan dan kasih sayang.


Dirga yang melihat itu, menampakkan senyum tipis yang mungkin tidak bisa dilihat oleh satu orang.

__ADS_1


Tatapan Aru jatuh pada Dirga yang kini juga sedang menatapnya. Tidak ada sinyal terpaksa seperti yang ada di film dan novel yang Aru baca. Bahkan, Dirga begitu menikmati suasana malam ini yang menurut Aru sebenarnya begitu menegangkan.


Mungkin, hanya tegang baginya karena tahu bagaimana tabiat Dirga. Entah apa yang terjadi jika dia memang akan satu atap dengan pria pemilik mulut pedas itu.


"Jadi bagaimana? Apakah Aru menyetujui perjodohan ini?" tanya Bu Dita penuh harap.


Aru menatap Dirga lagi untuk meminta bantuan. Dia juga berharap jika pertanyaan itu akan dilontarkan pada pria itu lebih dulu. "Arunya masih malu-malu. Kalau Dirga sendiri bagaimana? Kamu pasti sudah tahu bagaimana Aru di masa lalu, dan itu tidak bisa dibanggakan," ucap Mama Kalea lalu melipat bibirnya ke dalam.


Pembicaraan tentang masa lalu putrinya selalu menjadi hal yang sensitif. Dirga tersebut dan Aru melihat ekspresi itu dengan jelas. "Dirga tidak masalah, Tan. Yang terpenting adalah Aru di masa kini. Saya akan menerima semua masa lalu baik maupun masa lalu buruknya," jawab Dirga begitu manis.


Para orang tua tersenyum lega. Kini, semua mata kembali tertuju pada Aru yang belum memberikan jawabannya. "Bagaimana Aru?" tanya Pak Sena tersenyum tanpa ada tatapan mengintimidasi.


Aru menarik dan menghembuskan napasnya pelan. "Aru bersedia, Om. Semoga, Dirga bisa membimbing dan mengajarkan Aru tentang kebaikan. Terima kasih juga karena Dirga bersedia menerima Aru apa adanya," ucapnya tulus. Aru tidak pernah memanipulasi ucapannya. Dia bersungguh-sungguh memuji Dirga yang telah dengan lapang menerimanya.


Terlepas dari niat apa yang tersembunyi di dalamnya. Aru tidak ingin menduga-duga dan berujung sakit kepala karena memikirkannya.

__ADS_1


Semua tersenyum dsn bernapas lega. Tidak ingin menunda, mereka segera membahas tentang pernikahan. Aru diajak berdiskusi begitu juga Dirga. Karena mereka yang akan menikah, semua keputusan tetap membutuhkan pertimbangan dari mereka.


Setelah acara makan malam itu selesai, mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Aru sudah berada dalam kamar mewahnya dan duduk termenung di sisi ranjang.


"Apakah keputusanku sudah benar dengan menerima perjodohan ini?"


"Apakah Dirga benar-benar akan mengajarinya tentang kebaikan?"


Aru bermonolog ketika kepalanya terasa riuh oleh pertanyaan. Mengingat hal tersebut, Aru pun mengingat pesan Umi Nyai ketika kajian sore tadi. Aru tersenyum, merasa mendapat pencerahan atas kebimbangan yang sedang dirasakan.


"Sholat istikharah," gumam Aru lalu mencari tahu di internet tentang tata caranya. Tidak lupa, dia juga bertanya pada Mbak Zahra agar terbukti kevalidannya. Dirasa sudah paham, Aru ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dia percaya, Allah akan membantunya menemukan jalan yang terang. Sebelum hari pernikahan tiba, Aru harus memantapkan hatinya terlebih dahulu.


Setelah kembali dari kamar mandi, Aru mengenakan mukenah dan menggelar sajadah. Dia ingin menenangkan hati juga pikirannya. Dengan dekat dengan Sang Maha Pencipta, Aru percaya bisa menemukan jalan keluar.

__ADS_1


__ADS_2