
Satu bulan telah berlalu. Aru baru keluar dari kamar mandi selepas membersihkan diri. Ketika pintu terbuka, sosok suaminya sedang berdiri di depan lemari. Sang Suami sedang mengenakan baju batik yang dijahit khusus untuk acara wisudanya.
Aru mengulum senyum sambil memegangi benda kecil di tangannya. Kakinya berjalan mengendap-endap mendekati nakas dimana ponsel suaminya diletakkan.
Aru menaruh benda kecil itu di atas ponsel suaminya. Setelah itu, Aru tersenyum tipis dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian yang sudah dipersiapkan demi menyambut acara hari ini.
Abaya berwarna moka yang begitu elegan sudah membalut tubuh Aru. Dirga yang sedang fokus menyimpulkan dasi, menatap tak berkedip. Aru terlihat sangat menawan menggunakan Abaya yang memiliki aksen batik seperti yang Dirga kenakan.
"Tidak ada gamis lain ya, Sayang? Pakai gamis ini apa tidak terlalu cantik?" tanya Dirga yang membuat Aru terkekeh pelan.
"Ada banyak. Cuma, yang hampir senada dengan kemeja batik Mas hanyalah ini, " jawab Aru santai.
"Oh iya, Mas. Aku ada hadiah untuk kamu tuh, di atas nakas," ucap Aru masih fokus merapikan abaya yang dikenakan.
"Hadiah apa sih?" tanya Dirga dengan dahi yang mengernyit bingung.
"Lihat saja, Mas." Setelah itu, Aru berjalan ke meja rias untuk mempercantik diri. Tidak berapa lama, suara Dirga kembali terdengar hingga membuat senyum Aru semakin lebar.
"Ini apa, Sayang? Apakah ini tidak salah?!" pekik Dirga terdengar kurang percaya.
"Itu tidak salah, Mas. Bagaimana? Apakah kamu tahu arti dari alat itu?" tanya Aru berjalan mendekati sang Suami.
Tampak jelas di mata Dirga jika laki-laki itu sedang sangat bahagia menatap alat kecil yang sering disebut alat test kehamilan. Alat tersebut menunjukkan dua garis merah yang berarti positif.
"Aku tidak salah mengartikan kan? Ini pertanda jika kamu hamil kan?" tanya Dirga dengan mata yang berkaca-kaca. Aru mengangguk sebagai jawaban. Setelah menjawab demikian, tubuhnya didekap erat oleh sang Suami.
Setelah itu, Aru merasakan kecupan bertubi-tubi di pelipis dan puncak kepalanya. Seakan, suaminya itu sedang begitu bahagia karena kabar baik pagi ini. "Terima kasih, Sayang. Ini adalah kado terindah dari Allah di hari wisuda ku. Ini di luar perkiraan ku," racau Dirga begitu bahagia.
Aru pun membalas pelukan sang Suami tak kalah erat. "Terima kasih kembali, Mas. Kamu juga ikut berjuang dalam hal ini. Kita sama-sama berjuang untuk bisa mendapat garis dia. Alhamdulillah, Mas. Aku sangat bahagia karena usaha kita membuahkan hasil!" Aru memekik girang untuk mengekspresikan perasaannya.
Kabar tentang hamilnya Aru belum terdengar hingga telinga para orang tua. Aru meminta Dirga untuk merahasiakannya hingga acara wisuda selesai. Sengaja agar para orang tua tidak panik dan menyelesaikan acara tersebut hingga selesai.
Mama Kalea dan Papa Javas turut hadir dalam acara wisudanya Dirga. Hingga beberapa jam kemudian, Aru telah duduk berjajar bersama kedua mama dan papanya.
__ADS_1
Aru sangat bangga pada suaminya itu karena mendapat gelar cumlaude. Kabar baiknya lagi, suaminya itu mendapat IPK tinggi dan memuaskan. Lengkap sudah kebahagiaan Aru saat ini.
Ketika melihat Dirga berdiri di atas panggung, Aru mengelus perutnya lembut. "Nak, lihat deh, Papi kamu. Mami yakin kamu akan bangga memiliki seorang ayah seperti papi kamu," gumam Aru tersenyum bahagia.
"Apa? Kamu tadi mengatakan apa? Mama tidak terlalu mendengarnya," tanya Mama Dita yang kebetulan duduk di sebelahnya.
Aru terkekeh sendiri lalu menggeleng. "Tidak, Ma. Aku tidak mengatakan apapun," jawab Aru berbohong. Dia tidak mungkin jujur sekarang karena kondisi yang tidak memungkinkan.
Setelah acara wisuda selesai dan Aru sudah memeriksanya ke dokter, baru Aru akan mengabarkan berita bahagia tersebut. Huh. Sungguh Aru tidak sabar menanti detik-detik yang berlalu.
...----------------...
"Selamat, istri Anda hamil dan sudah menginjak minggu ke-empat. Bayinya sehat, kondisi ibu juga sehat," jelas dokter kandungan tempat Dirga dan Aru memeriksakan kehamilan.
Mata Dirga berkaca-kaca menatap layar monitor yang menampilkan isi dari rahim Aru. Anak di dalam perut Aru masih sangat kecil. Namun, Dirga tahu jika itu adalah bakal dari anaknya.
Aru meneteskan air mata ketika merasakan genggaman lembut pada jemarinya. Tangan Dirga terasa dingin dan berkeringat. Mungkin terlalu bahagia.
"Itu anak kita, Mas. Kita akan bertemu delapan bulan lagi, InsyaAllah," ucap Aru yang langsung Mendapat kecupan di kening.
"Saya akan kasih vitamin dan tablet penambah darah. Mohon di minum dengan rutin ya, Bu," pinta dokter tersebut sambil menulis di kertas resep obat.
"Baik, Dok. Terima kasih. Kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu," jawab Dirga ketika resep yang ditulis telah beralih ke tangannya.
"Mari, Dok," pamit Aru sambil beranjak dari kursinya.
Setelah menebus obat, keduanya berniat untuk mengunjungi rumah papa Javas dan Mama Kalea. Mereka sudah tidak sabar ingin mengabarkan dengan segera.
"Assalamu'alaikum." Dirga dan Aru berucap hampir bersamaan ketika baru memasuki rumah kediaman orang tua Aru.
"Waalaikumsalam. Kok sore sekali pulangnya? Habis dari mana kalian?" tanya Mama Kalea yang menyambut kedatangan Aru dan Dirga.
Aru dan Dirga tersenyum manis. Setelah menyalami tangan sang Mama, Aru bertanya tentang keberadaan papanya. "Papa dimana, Ma? Belum pulang?" tanya Aru yang mengabaikan pertanyaan mamanya barusan.
__ADS_1
"Sudah pulang kok. Papa kamu sedang mandi di atas. Dita dan Sena juga sebentar lagi datang," jelas Mama Kalea yang segera mendapat anggukan mengerti dari Dirga dan Aru.
Sore itu, tiga keluarga tersebut ingin mengadakan syukuran atas wisudanya Dirga. Bukan. Lebih tepatnya Mama Kalea dan Papa Javas yang mengadakan acara tersebut untuk sang Menantu.
Papa Sena dan Mama Dita sampai tidak mampu berkata-kata karena putranya diurus dengan baik oleh orang tua Aru. Besannya itu sudah menganggap Dirga layaknya anak sendiri.
"Sudah datang, Kak?" tanya Abi dari arah tangga. Adiknya itu tampak bugar. Mungkin sehabis mandi.
"Sudah. Bagaimana sekolahmu?" tanya Aru ketika Abidzar mengambil posisi duduk di antara dirinya dan Dirga.
"Tidak ada masalah. Semua berjalan lancar. Oh iya. Katanya, Kak Dirga baru saja wisuda. Selamat ya, Kak. Semoga ke depannya semakin sukses dan berjaya." Abidzar berucap tulus mendoakan Dirga.
Dirga menatap Abi dengan tersenyum manis. "Terima kasih ya, Bi. Kamu juga harus sukses dan jadi orang yang berguna." Dirga balik mendoakan Abi.
"Assalamu'alaikum semuanya. Kami datang!" pekik suara dari arah pintu. Mama Dita dan Papa Sena muncul dari sana.
"Waalaikumsalam," jawab semua serentak. Kebahagiaan di rumah itu semakin bertambah kala keluarga Tante Kesha datang. Beliau juga akan turut merayakan wisuda yang telah Dirga lalui.
Banyak ucapan selamat dan doa baik untuk Dirga. Laki-laki itu juga menerima banyak hadiah di hari wisudanya. Setelah makan malam selesai, semua berkumpul di ruang tengah agar obrolan hangat itu bertahan lama.
"Aku mau mengabarkan sesuatu pada kalian semua!" pekik Aru yang berhasil membuat keadaan riuh menjadi hening. Semua mata kini tertuju kepadanya seakan sarat akan kebingungan.
"Apa yang ingin kamu kabarkan sih, Ru?" tanya Tante Kesha dengan dahi dan alis yang berkerut.
Aru menatap Dirga untuk meminta persetujuan. Setelah suaminya itu mengangguk, Aru menarik dan menghembuskan napasnya sebelum kembali bersuara.
"Aru ingin mengabarkan jika saat ini, aku sedang hamil." ucap Aru lantang. Keadaan ruangan semakin hening setelah Aru kembali berucap.
"Kenapa kalian diam? Aku tidak berbohong," ucap Aru lagi.
"Iya. Kami baru saja memeriksakan ke dokter dan usia kehamilan Aru sudah menginjak minggu ke empat." Dirga juga ikut menjelaskan.
Baru setelahnya, senyum semua orang tampak merekah. "Akhirnya aku akan punya cucu!" pekik Papa Javas bahagia.
__ADS_1
Sorak-sorai bahagia pun terdengar, mengisi ruangan yang semula hening menjadi riuh-riak.