Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 30. Sia-sia


__ADS_3

Satu minggu hari berlalu. Satu minggu itu juga hidup Dirga bagai sebuah robot. Berangkat, kerja, pulang, tidur, begitu terus polanya selama tujuh hari ini. Dirga merasa ada yang hilang tetapi masih enggan untuk mencari.


Entah enggan mencari atau karena dia sudah mengetahui sesuatu yang hilang tersebut. Tepat pukul sembilan malam, mobilnya baru tiba di basemant apartemen. Dia menatap ke atas dimana unit apartemennya terlihat.


Di sanalah Dirga mendapatkan kebahagiaan sekaligus kesedihan yang disebabkan oleh seorang wanita. Rasa kecewanya belum juga sirna dan memaksanya untuk membesarkan ego.


"Tidak adakah keinginan Aru untuk menemui ku? Apakah dia sudah tidak lagi peduli padaku?" gumam Dirga bertanya pada dirinya sendiri.


Lingkar hitam di bawah mata tak mampu mengelabuhi jika selama satu minggu itu Dirga dalam kondisi baik-baik saja. Bohong jika Dirga mengatakan hal tersebut.


Akhirnya, karena merasa tidak tahan bila harus mengingat Aru, Dirga kembali melajukan mobil menuju rumah orang tuanya. Rumah itu kosong dan akan dibersihkan dua kali dalam seminggu. Kebetulan, Dirga memiliki kunci cadangan untuk masuk ke sana.


Sepanjang perjalanan, hanya Aru yang terlintas di kepala. Perempuan itu seperti enggan enyah dari pikiran dan hatinya. Semakin Dirga mencoba melupakan, semakin besar pula ingatan yang terkenang.


Dirga menghela napas kasar. Dia tidak bisa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Selain kondisinya yang lelah, Dirga merasakan matanya memberat.


Sekitar setengah jam, Dirga sampai di depan gerbang rumah orang tuanya. Dia harus turun dan membuka gerbang itu sendiri. Keadaan di dalam tampak gelap karena tidak berpenghuni.


Setelah mobil masuk dan mengunci gerbangnya kembali, Dirga berjalan memasuki rumah. Hal yang pertama kali dia lakukan adalah menghidupkan semua lampu.


Keadaan sudah lebih terang dan Dirga langsung duduk di depan televisi lalu menyalakannya. Hanya acara membosankan yang ditayangkan dari stasiun televisi.


Setelah mengganti channel-nya, Dirga memilih sebuah acara berita yang ditayangkan oleh stasiun televisi tanah air. Yaitu stasiun televisi bernama TV satu. Saluran yang selalu menayangkan sebuah berita setiap harinya.


Dia tidak terlalu menyimak presenter yang sedang membacakan berita. Hingga dia melihat sosok yang dikenalinya, menggunakan pakaian berwarna oranye yang bertuliskan 'TAHANAN' di belakangnya.


Mata yang tadi sempat akan tertutup, kini terbuka lebih lebar lagi.


"Aksi pria berinisial Y di sebuah kafe mendadak viral di jagad maya. Aksi yang dilakukan satu minggu yang lalu itu mendapat banyak perhatian publik karena Y akan melakukan hal tindak ke ke ra san kepada seorang wanita berinisial A. Yang mirisnya lagi, pria Y melakukannya di sebuah toilet wanita. Korban berteriak meminta tolong hingga banyak orang yang berdatangan untuk membantunya. Korban A menuntut kasus ini dan tidak akan memaafkan pelaku Y. Berikut cuplikan yang diambil dari rekaman CCTV, yang berhasil diamankan oleh pihak berwajib."

__ADS_1


Lalu, berputar lah rekaman CCTV yang wajah pelakunya tidak disensor. Hanya korban yang mendapat sensor di bagian wajahnya. Namun, hal itu membuat Dirga membelalak tak percaya. Dia tahu jika itu merupakan istrinya.


"Satu minggu yang lalu? Bukannya itu ...."


Dirga sampai tidak bisa berkata-kata. Jantungnya terasa berhenti berdetak detik itu juga. "Jadi, apa yang selama ini aku tuduhkan tidaklah benar? Aru tidak pergi berkencan dengan Yoda?" Seketika, kepala Dirga dipenuhi akan pertengkarannya dengan Aru.


Dalam pertengkaran itu, tidak sekalipun Aru melawan atau marah karena telah menuduhnya yang bukan-bukan. Apalagi, Dirga baru ingat jika dia telah berkata kasar dengan mengatakan jika tangan istrinya kotor.


Bahu Dirga merosot. Dia ingat jelas bila pernah mengucapkan talak lalu mengusir Aru begitu saja. "Ya Allah. Apa yang sudah aku lakukan," sesal Dirga lalu terduduk di lantai dengan punggung bersandar pada kaki sofa.


Menyesal? Mungkin itu adalah satu kata yang mewakili perasaan Dirga saat ini. Tidak ingin semakin kehilangan, Dirga mencari keberadaan ponsel miliknya. Namun sayang, ponsel itu tertinggal di dalam mobil.


"Aku harus mengambilnya segera," gumam Dirga lalu berlarian menuju teras depan. Karena terlalu bersemangat agar segera mencapai mobilnya, Dirga sampai jatuh beberapa kali ke lantai.


Mungkin juga karena kondisi tubuhnya yang lelah dan butuh istirahat. Setelah ponselnya di dapat, dia langsung mencari nama Aru yang masih tersemat di urutan paling atas pada aplikasi perpesanan.


Tut. Tut.Tut.


Brak.


Dirga memukul mobilnya sendiri dan menendang ban bagian samping. Tangannya bergerak untuk menjambak rambutnya kasar. "Bagaimana ini? Apakah aku harus datang malam ini?" Dirga berada dalam kebimbangan.


Dia kembali duduk dengan bersandar body mobil. Salah satu kakinya ditekuk untuk digunakan sebagai tumpuan salah satu tangannya.


"Aru, Maafkan aku ... Maafkan aku," gumam Dirga penuh sesal.


Kepala Dirga mendongak menatap langit yang malam itu tampak cerah dengan adanya bintang-bintang. Dirga baru menyadari jika dirinya merindukan Aru.


"Aru, aku rindu. Sangat rindu. Apakah kamu juga sedang merindukan aku? Mungkin aku tidak pantas mengucapkan hal tersebut setelah apa yang telah aku lakukan padamu. Namun, rindu inilah yang selama ini menyiksa hari-hariku. Rindu yang selalu aku tepis dan aku sangkal dengan membesarkan ego. Maukah kamu memaafkan atas semua yang telah aku lakukan?" racau Dirga menyesali.

__ADS_1


Matanya sudah memerah karena kurang tidur ditambah menahan tangis akibat rasa yang perlahan bisa saja membunuhnya.


Sedangkan di tempat lain, Aru baru saja selesai membaca Al Qur'an. Ada Abi yang ikut serta mendengarkan Aru membacanya.


"Shodaqollahu a'dzim."


"Sudah selesai ya, Kak? Abi juga ingin diajari ngaji, Kak," tanya Abi antusias.


Aru tersenyum. "Bagaimana jika kita belajar di rumah saja. Kakak sepertinya tidak ingin lagi ke pondok. Biar nanti Kakak cari guru ngaji private." Aru berucap sambil sibuk melepas mukenah yang baru saja dikenakan.


"Rencananya sih, setelah aku lulus SMP, ingin sekolah SMA disertai mengaji, Kak. Biar ilmu dunianya dapat, akhiratnya juga dapat," ucap Abi yang membuat Aru tersenyum lebar.


"Itu lebih bagus. Pikiran kamu sangat luar biasa. Memang sudah seharusnya seorang laki-laki itu belajar agama. Agar ketika menikah nanti, bisa menjadi imam yang baik dan selalu menuntun istri agar tidak sampai salah jalan. Laki-laki yang memiliki ilmu agama pasti tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita dengan baik," jawab Aru panjang lebar.


Abidzar mengangguk-angguk kepalanya tanda paham. "Kalau Kak Dirga bagaimana, Kak? Apakah paham agama?" tanya Abi yang membuat Aru seketika terdiam.


Aru berdehem pelan lalu berucap. "Tidurlah, Bi. besok kamu harus sekolah. Nanti Kakak akan ajarkan kamu iqro' lagi," titah Aru menghindari pertanyaan seputar suaminya.


Abi membuang napas pelan. "Baik, Kak. Selamat malam. Abi tidur dulu," pamit sang Adik lalu menutup pintu kamar kakaknya rapat.


Sepeninggalan Abidzar, bukannya tidur Aru justru menuju balkon kamarnya. Dia cukup khawatir dengan kondisi suaminya saat ini. Susah satu Minggu lamanya. Namun, belum ada tanda-tanda jika Dirga akan menjemputnya.


"Entah sampai kapan aku harus menunggu. Rasanya, aku sedang berada di pengasingan dan berharap ada seseorang yang membebaskan. Namun, pangeran ku tak kunjung datang," gumam Aru sambil menatap langit malam yang tampak cerah.


"Memang benar. Berharap kepada manusia adalah tindakan yang sia-sia. Tidak ada yang didapat selain rasa kecewa. Maafkan aku, Ya Allah. Aku sudah berharap kepada selain Engkau. Sesungguhnya, hanya Engkau yang sanggup mewujudkan semua harapanku," ucap Aru lagi dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...terima kasih atas setiap dukungan yang kalian berikan ya😘...

__ADS_1


...jadi makin semangat nih🌝...


...lope sekebon😘...


__ADS_2