
Aru baru saja selesai sholat Dzuhur ketika dering panjang di ponselnya terdengar nyaring. Setelah melepas mukenah yang dikenakan, Aru berjalan menuju nakas dimana letak ponselnya berada.
Tanpa melihat si penelepon, Aru langsung mengangkatnya dan, "Halo? Assalamualaikum?"
"............."
Setelah mendengar penjelasan di seberang sana, Aru terpaku di tempat. Tubuhnya terasa lunglai seakan otot dan syarafnya tak berfungsi dengan benar.
Cukup lama hingga detakan jantung Aru berhasil menyadarkan jika dia harus bergegas. Dia berlari ke lantai dasar untuk mencari keberadaan sang Mama.
"Mama! Mama!" teriak Aru dengan air yang mulai menetes di pipi mulusnya.
"Mama!"
"Kenapa, Aru? Kenapa teriak-teriak?" Mama Kalea muncul dari balik sekat dapur dengan wajah yang terlihat panik.
"Ma, Mas Dirga. Mas Dirga kecelakaan. Sekarang sudah dibawa ke rumah sakit!" pekik Aru kepanikan.
Mama Kalea membelalak dengan tangan yang digunakan untuk menutup mulut. Kabar ini sungguh begitu mengejutkan. "Kita harus segera kesana, Sayang. Kamu tenang ya. Semua akan baik-baik saja."
Tidak menunggu lama, Aru dan Mama Kalea segera berangkat menuju rumah sakit dimana Dirga ditangani. Di perjalanan, Mama Kalea sudah menyempatkan untuk menelepon sang Suami. Sedangkan untuk dua besannya, beliau memilih untuk mengabari nanti.
Selain tidak ingin membuat khawatir, beliau ingin memastikan terlebih dahulu bagaimana kondisi Dirga sekarang.
Sepanjang mobil melaju, Aru tidak berhenti menyeka air mata yang lancang turun secara terus-menerus.
Setelah setengah jam perjalanan yang bagai tiga puluh hari bagi Aru, dua perempuan berbeda generasi itu berjalan cepat menuju Unit Gawat Darurat.
..................
__ADS_1
Aru menunggu dengan gelisah ketika sudah hampir Dua puluh tiga jam suaminya tak kunjung terbangun. Mama Dita dan Papa Sena telah tiba di tanah air dan langsung menuju rumah sakit tempat Dirga dirawat.
"Bagaimana ini? Mengapa Dirga tak kunjung bangun?" ucap Mama Dita yang sudah sembab karena air mata.
"Dirga akan baik-baik saja, Ma. Mama harus bantu doa agar Dirga segera sadar." Papa Sena mencoba menenangkan.
Mama Kalea dan Papa Javas sedang pulang ke rumah lebih dulu. Papa Sena yang meminta mereka untuk beristirahat karena telah menjaga sang Putra hampir seharian.
Aru yang mendengar racauan ibu mertuanya, hatinya mendadak nyeri. Hatinya diserang rasa takut yang berlebihan. Apalagi ketika melihat banyaknya alat medis yang menempel di tubuh Dirga. Aru hanya mampu menggumamkan doa semoga Allah memberikan mukjizat-Nya.
Air mata Aru rasanya sudah kering karena hampir lima jam menangisi keadaan Dirga. Hatinya mendadak hampa dan terasa kosong. Seperti tidak memiliki semangat untuk hidup.
Mungkin karena pertemuan di antara keduanya yang berakhir kurang baik. Atau, Aru sedang menangisi seseorang yang dia cintai. Ya. Aru akui dia masih sangat mencintai suaminya itu. Aru hanya butuh Dirga berubah dan tidak lagi menuduh dirinya secara sembarangan tanpa mencari tahu lebih dulu keadaan yang sebenarnya.
"Bangun, Mas. Kamu tidak merasa lelah tidur selama itu?" tanya Aru lirih tepat di dekat telinga Dirga.
"Aku mohon bangunlah! Banyak yang sudah menanti kamu untuk membuka mata. Kamu juga belum meminta maaf padaku karena telah menuduhku yang bukan-bukan," bisik Aru lagi semakin merasakan kerapuhan.
Namun, sebanyak apapun Aru bicara, Dirga masih setia dalam tidurnya. Kondisinya masih kritis dan belum ada tanda-tanda akan bangun. Aru menatap wajah suaminya yang tampak pucat dan ada perban di kening, tulang bawah mata, dan bagian rahangnya.
Dokter mengatakan tidak ada luka serius. Hanya kaki bagian kanannya saja yang mengalami patah.
"Bangun, Mas," lirih Aru dan setitik air mata jatuh mengenai wajah Dirga.
Tiba-tiba, sebuah keajaiban datang setelahnya. Jari telunjuk dan tengah Dirga terlihat bergerak-gerak. Aru lah yang menyadari pertama kali.
"Ma? Lihat jari Mas Dirga, Ma," ucap Aru sangat terkejut.
Mama Dita yang duduk di seberang brankar langsung melihat pada jemari Dirga. "Ya Allah! Akhirnya kamu bangun juga Dirga!" pekik mama Dita bahagia. Papa Sena juga tersenyum penuh haru. Setelah itu, mata Dirga terbuka.
__ADS_1
Aru langsung memencet tombol darurat agar dokter segera tiba. Tidak berapa lama, dokter yang menangani suaminya datang dan memeriksa keadaan Dirga.
Dokter pun menjalankan tugas dengan mengadakan berbagai test untuk mengetahui apakah ada luka serius atau tidak setelah kecelakaan yang Dirga alami. Sekitar lima belas menit, sang Dokter telah selesai dan mengatakan jika semuanya aman. Paling, kakinya yang membutuhkan waktu untuk sembuh dan bisa digunakan untuk kembali berjalan.
Semua tampak bersyukur. Itu tidaklah masalah karena luka yang dialami Dirga masih terbilang ringan. Karena di luar sana banyak yang mengalami kecelakaan mobil sampai tubuhnya pun remuk. Yang lebih parahnya lagi, terkadang banyak yang tidak tertolong. Allah masih melindungi Dirga.
"Aru?" panggil Dirga lirih.
Aru yang masih duduk di samping brankar, menyentuh jemari sang Suami lembut. "Aku di sini, Mas."
"Mama dan Papa juga di sini, Ga," sahut Mama Dita sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dirga pun langsung menoleh dan mendapati kedua orang tuanya sedang menatapnya dengan bibir mencebik. Dia tersenyum malu. "Maaf, Ma, Pa. Terakhir aku dan Aru bertemu sempat ada kesalahpahaman. Aku ingin masalah ini segera selesai," ucap Dirga dengan lirih.
"Jangan bahas hal itu dulu, Mas. Adakalanya kita harus mengesampingkan kesalahpahaman di antara kita," ucap Aru menenangkan. Dia mencoba untuk menurunkan ego dan tidak ingin jauh lagi dari suaminya.
Cukup sekali Aru merasakan ketakutan yang teramat dalam karena mendengar Dirga kecelakaan. Aru tidak akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk saling meninggikan ego selagi jasadnya masih bernyawa. Dia ingin memanfaatkan dengan baik sisa umur yang entah sampai kapan tenggat waktunya.
"Memangnya, kalian ada masalah apa?" tanya Papa Sena dengan alis yang saling bertaut.
Dirga dan Aru sontak saling lempar pandang lalu tersenyum tipis bersamaan. "Hanya masalah suami istri yang menikah baru seumur jagung, Pa. Setiap kapal pasti mendapatkan ombaknya sendiri," jelas Aru tidak ingin membuat Mama dan Papa Dirga mengetahui.
Dua orang paruh baya itu menganggukkan kepala tanda paham. "Mama mengerti. Namun saran Mama, sebaiknya jangan bahas hal itu dulu, Ga. Kalian bisa membahas ketika keadaan mu sudah lebih baik," nasehat mama Dita yang segera diangguki oleh Dirga dan Aru.
Tatapan Dirga tertuju pada sang Istri yang terlihat begitu kelelahan. "Aku sudah tidur berapa jam memangnya?" tanyanya bingung.
"Hampir dua puluh empat jam, Mas," jawab Aru santai tanpa ada rasa mengeluh sedikitpun.
Mata Dirga membelalak lebar. "Apakah selama itu kalian tidak tidur? Jika benar, sebaiknya mama dan papa istirahat di rumah dulu. Biar Aru yang menjaga Dirga dan tidur di sini," jelas Dirga yang sebenarnya juga memiliki niat lain. Dia ingin masalah yang terjadi dengan Aku segera diselesaikan.
__ADS_1
"Baiklah. Mama akan pulang dan istirahat. Biarkan Aru beristirahat juga di sini. Dia juga sama lelahnya."