Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 14. Pillow talk


__ADS_3

Sejak masuk kamar hotel, Aru berusaha menghindari bertatap muka dengan suaminya. Dirga pasti sedang di atas awan karena mengetahui Aru bertanya-tanya tentang dirinya.


Setelah selesai mandi, Aru segera bersembunyi di bawah selimut dan menenggelamkan wajahnya. Aru bisa mendengar tawa Dirga menggelegar. Puas sekali bisa menertawakan istrinya.


Aru merasakan ranjangnya bergetar. Setelah itu, Aru merasakan pelukan erat di pinggang dan kecupan di tengkuk yang terhalang selimut. Aru menyerah dan membuka selimut. Dia membuang muka yang terpenting tidak menatap suaminya.


"Haha. Kenapa harus menghindar sih? Lagi pula, aku suka jika kamu bertanya-tanya tentang ku," ucap Dirga tertawa bahagia.


"Apaan sih. Lagi pula, apa salahnya aku bertanya? Kan aku heran mengapa seorang Dirga bisa berada di area pondok," elak Aru dengan bibir yang mengerucut.


Dirga tertawa lagi. "Baiklah. Alasan di terima. Oh iya. Aku berharap, kamu mau mengganti nama panggilan untukku. Rasanya, tidak sopan memanggil suami sendiri hanya dengan nama," ucap Dirga sambil memainkan rambut Aru yang masih basah.


Aru menoleh, menatap profil samping laki-laki yang menjadi suaminya. "Mas? Bang? Atau mau dipanggil Sayang?" tanya Aru yang merona sendiri setelah mengatakan kata terakhir.


Dirga mengulum senyum. Dia berpikir, panggilan 'sayang' sangatlah manis. "Panggil saja Mas Sayang," jawabnya lengkap.


Aru tersenyum lalu menganggukkan kepala setuju. "Baiklah, Mas Sayang." goda Aru yang berhasil membuat telinga Dirga memerah. Kini, giliran Aru tang tertawa. Senang sekali melihat suaminya yang salah tingkah.


Setelah tawa mereda, Dirga memeluk leher Aru agar istrinya itu merapat. Aru bisa merasakan tatapan yang begitu menenangkan dan menghanyutkan secara bersamaan.


Seketika, Aru memiliki niat untuk bertanya tentang hal apa yang membuat Dirga mau menerima dirinya apa adanya. Pasti, bukan tanpa alasan karena Dirga sudah tahu bagaimana perangai dirinya di masa lalu.

__ADS_1


"Dir—, Mas? Aku boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Aru sambil menatap suaminya itu.


"Tanya saja."


Aru menghembuskan napasnya pelan. "Apa sih yang membuat Mas mau menikahi ku? Padahal, Mas sudah tahu bagaimana aku di masa lalu? Dan itu tidak bisa dibanggakan," tanya Aru lembut.


Bukannya menjawab, suaminya itu justru menatap dirinya lekat-lekat hingga Aru merasa gugup. "Kamu ingin tahu? Tetapi, apakah jika aku mengatakannya kamu akan percaya?" Dirga justru balik melempar pertanyaan.


Tentu saja Aru mengangguk. Dia akan percaya apapun alasan yang Dirga berikan. "Aku akan berusaha percaya."


Tidak ingin langsung menjawab, Dirga menyingkirkan anak rambut Aru yang menghalangi pandangan dan menyelipkan di belakang telinga.


"Kamu tahu alasan kenapa dulu aku selalu berkata pedas padamu?" Dirga melempar pertanyaan.


"Mungkin ini terdengar klise. Tapi, itu memang yang aku rasakan. Saat itu, aku marah karena kamu sudah memiliki kekasih. Aku tidak terima melihat kamu tertawa bahagia bersama laki-laki lain di saat aku sedang berjuang di sepertiga malamku, dengan menyebut namamu," jelas Dirga yang membuat mulut Aru menganga lebar.


"Jadi selama ini ...." Aru tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


"Iya. Aku mencintai kamu dengan caraku. Aku tidak ingin rasa cintaku membuat kemudharatan untukmu. Setelah berpikir cukup lama, caraku mencintaimu ternyata masih salah. Aku terlalu berharap agar Tuhan menjodohkan aku denganmu. Aku lupa jika Tuhan-lah menentu segala. Puncaknya ketika kamu ... hamil ...." Dirga tampak ragu ketika mengucapkan di akhir kalimat.


Aru mengangguk paham. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Dirga. Dia justru semakin penasaran hal apa yang membuat Dirga jatuh cinta padanya. Sungguh, Aru merasa beruntung karena dicintai begitu besar oleh Dirga.

__ADS_1


Andai Aru tahu sejak dulu bagaimana Yoda, sudah dari lama dia tinggalkan sebelum musibah itu menimpa dirinya.


"Aku tidak menyangka jika Mas mencintaiku diam-diam," goda Aru sambil menusuk pipi suaminya pelan.


Dirga tersenyum. "Kamu tidak peka."


"Bagaimana aku bisa peka jika sikap yang selama ini Mas tunjukkan sangatlah berbeda? Ya Allah, Mas. Siapapun pasti akan salah paham," ucap Aru kesal.


Dirga terkekeh geli. "Iya. Kamu pasti salah paham denganku. Tetapi, ceritaku belum selesai loh. Mau dengar lagi?"


Aru tentu mengangguk antusias. Dia ingin mendengar Dirga bercerita tentang cinta untuknya. "Lanjut. Aku senang mendengarnya."


Cerita mengalir begitu saja. Dirga mengatakan setelah mengetahui Aru hamil, dia ganti berdoa dengan memasrahkan semua hanya kepada Allah SWT.


Ketika mengetahui Aru mulai menutup aurat, Dirga berdoa agar dimantapkan hatinya jika Aru memang jodoh terbaiknya. Namun bila tidak, Dirga meminta agar diberi hati yang ikhlas.


Sholat demi sholat Dirga kerjakan. Perasaanya pada Aru semakin mantap. Jadilah Dirga berkeinginan untuk mengkhitbah. Itu pun tidak secara langsung karena Dirga takut ditolak. Dia meminta bantuan Oma Belinda dan itu berhasil hingga sekarang.


Mendengar itu, Aru menutup mulut tidak percaya. Matanya sudah berkaca-kaca dan sedetik kemudian, air matanya luruh membasahi pipi.


"Hei! Kenapa menangis? Apakah caraku mencintaimu salah? Maaf jika aku telah melukaimu." Dirga panik ketika mendapati istrinya justru menangis sesenggukan.

__ADS_1


Aru langsung memeluk tubuh suaminya. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya berterima kasih kepada Dirga. "Itu tidak benar. Aku menangis karena telah menjadi manusia paling bodoh di dunia. Andai—"


"Jangan mengatakan andai. Semua sudah Allah atur dengan baik. Yang terpenting sekarang, kamu sudah menjadi istriku seutuhnya," sela Dirga cepat sebelum Aru menyelesaikan kalimatnya.


__ADS_2