Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 16. Dia hanya anakku


__ADS_3

Selepas sholat maghrib, Aru melihat Dirga telah menunggu di depan masjid. Sepertinya, Dirga juga baru saja ikut sholat berjamaah. "Sudah di sini, Mas?" tanya Aru dengan senyum manisnya.


Dirga mengangguk membenarkan. "Kita pulang sekarang?" tawar Dirga yang segera mendapat anggukan dari Aru.


Mengenai Yoda, setelah mengatakan penolakannya, Aru langsung meninggalkan rumah tamu begitu saja. Namun, dia tetap pamit pada Abah dan Umi serta memohon maaf karena harus pergi.


Umi dan Abah tidak masalah. Dua orang penting itu paham dengan kondisi yang Aru alami. Mereka sedikit tahu cerita masa lalu Aru.


Yang membuat Aru naik pitam adalah, Yoda menanyakan dimana keberadaan anak yang dulu dikandung Aru. Jelas saja hal tersebut membuat Aru marah besar-besaran. Namun, Aru tetap menahan agar amarahnya tidak meluap.


"Untuk apa kamu bertanya tentang anakku? Dia hanya anakku. Bukan anakmu. Dia sudah bahagia di surga. Bukankah itu yang kamu minta? Menggugurkannya?" jawab Aru sinis ketika pertanyaan dari Yoda seputar anak muncul.


Yoda hanya terdiam dan ketika itu, Aru langsung berpamitan.


"Sayang? Kenapa melamun?" tanya Dirga yang membuyarkan isi kepala Aru.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang mengingat-ingat pelajaran tadi sore," jawab Aru berbohong.


Bukan tanpa sebab dia berbohong. Dia hanya tidak mau hubungan yang baru saja dibangun, harus kembali dingin ketika nama Yoda disebutkan. Aru cukup paham bagaimana perubahan mimik Dirga ketika nama itu disebutkan.


Orang cemburu memang mengalahkan orang yang marah. Belum lagi, Aru takut Dirga yang dulu akan kembali ketika mengetahui dirinya baru saja bertemu Yoda.


"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Aru lalu menggandeng lengan suaminya menuju mobil.


Sesampainya di rumah, Aru langsung menyiapkan pakaian ganti suaminya yang tengah mandi. Dia juga telah memesan makanan terlebih dahulu untuk makan malam.

__ADS_1


Dirga memilih mengajak Aru untuk tinggal di apartemen yang Dirga beli dengan uangnya sendiri. Walau sambil menyelesaikan pendidikan, Dirga ternyata telah bekerja di perusahaan milik papanya.


Jadi, dia tidak perlu khawatir tentang nafkah uang yang wajib diberikan kepada sang Istri.


Tidak berapa lama, pintu terbuka dan Dirga muncul dari kamar mandi. Aru tersenyum dan menyambut suaminya untuk membantu mengeringkan rambut. "Sini, biar aku bantu keringkan," ucap Aru dan Dirga langsung mengambil posisi duduk di sisi ranjang, dimana baju ganti telah Aru siapkan.


"Sudah. Mau dibantu pakai baju juga?" tawar Aru yang langsung mendapat cubitan di hidungnya.


"Aku bukan balita. Lebih baik kamu mandi lalu kita akan makan, Sayang," jawab Dirga terkekeh geli. Aru juga ikut terkekeh. Dia mengangguk dan segera membersihkan diri.


Ketika Aru selesai, dia tidak menemukan suaminya itu berada di kamar. Mungkin, Dirga sudah keluar untuk mengambil makanan. Dia segera bergegas dan menyusul suaminya.


Benar saja, Dirga sudah duduk di meja makan dengan memainkan ponsel. Di depannya ada kantong kresek berlogo makanan yang Aru pesan. "Makanannya sudah sampai, Mas?" tanya Aru sambil menyugar rambut suaminya.


Dirga menoleh sepenuhnya. "Sudah. Mau aku bantu siapkan?" tawarnya dengan mata mengerjap polos.


Sebelum Aru menyelesaikan pekerjaannya, dia merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya diikuti dagu lancip yang bertumpu di bahunya.


Aru menoleh dan mendapati wajah Dirga sangat dekat. "Tunggu sebentar, Mas," ucapnya mengira jika Dirga sudah tidak sabar menunggu makanan.


"Aku siap menunggu. Tenang saja. Aku hanya ingin seperti ini dulu," gumam Dirga dan Aru hanya bisa pasrah.


Ketika Aru membawa satu per satu piring ke meja makan, Dirga masih bertahan di posisinya yang menempel di punggung Aru. Suaminya itu bagai cicak yang menempel di dinding dan sulit dilepas.


"Kenapa manja sekali sih?" tanya Aru gemas sendiri.

__ADS_1


"Aku sedang ingin makan," ucap Dirga ketika Aru telah kembali ke dapur untuk mengambil sendok.


"Ini, sedang aku siapkan. Duduklah dulu, Mas," titah Aru tetapi Dirga tak kunjung beranjak.


"Aku ingin makan kamu." Mendengar itu, Aru berhenti melangkah lalu membalikkan tubuh untuk menatap sang Suami sepenuhnya. Namun, Dirga yang ditatap justru menampakkan raut tanpa beban.


Aru mencebikkan bibirnya. "Aku harus makan dulu agar memiliki tenaga. Mas juga harus makan dulu kan," jawab Aru realistis.


Dirga terkekeh geli. "Baiklah, aku akan makan nasi dulu. Setelah itu, baru akan makan kamu."


Aru menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir jika Dirga memiliki otak yang mesyum. Tetapi, hal itu tidak masalah karena Dirga mengatakan kepada orang yang tepat, yaitu istrinya.


Sepanjang makan, Aru melihat Dirga tidak berhenti tersenyum menatap dirinya. Aru mengusap wajahnya malu karena Dirga mudah sekali membuat perasaannya berbunga-bunga.


"Kenapa sih, Mas? Kok senyum terus?" tanya Aru pada akhirnya.


"Kenapa memangnya? Tidak boleh? Aku hanya sedang bahagia karena akhirnya kamu aku miliki," jawab Dirga yang kini telah menyelesaikan makan malamnya.


Aru menggeleng. Dia berpikir jika saat ini Dirga sedang di mabuk kepayang. Wajar jika ucapannya sedikit melantur. Setelah selesai, Aru membereskan meja makan dan membawa piring kotor menuju wastafel.


Saat Aru berbalik, suaminya itu sedang menatap dirinya tak berkedip sambil memangku tangan di atas meja. Aru menghela napas pelan. Tidak tahan ditatap selekat itu. Gugup tiba-tiba mendera perasaanya.


"Mas! Sudah dong. Aku gugup bila terus ditatap seperti it— akh!" Aru memekik kaget ketika tubuhnya tiba-tiba melayang dan kakinya tak lagi menapak di lantai. Dirga telah menggendong tubuhnya ala bridal style dan membawanya menuju kamar.


"Mas! Aku kaget!" protes Aru dengan nada bicara yang mengayun manja.

__ADS_1


Dirga tertawa setelah berhasil membuka pintu lalu menutupnya kembali. "Sekarang, giliran aku memakan kamu." Setelah itu, Dirga merebahkan tubuh Aru di atas ranjang lalu menindihnya.


Aru hanya bisa pasrah berada di bawah kurungan suaminya itu. Dia juga senang melakukan kegiatan tersebut bersama Dirga yang sudah halal untuknya. Rasanya lebih indah dan membahagiakan.


__ADS_2