Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 19. Terbongkar


__ADS_3

Setelah selesai sholat Maghrib, Aru tidak langsung beranjak. Dia tetap bertahan hingga semua santriwati meninggalkan mushola. Hal itu memicu pertanyaan besar di kepala Umi yang masih bertahan di sana, hingga sebuah pertanyaan meluncur.


"Apakah ada yang ingin kamu tanyakan, Nak Aru?" ucap Umi Hafizdah lembut seperti biasanya.


Aru tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada, Umi. Hanya saja, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Ini mengenai pelajaran kitab yang sedang saya tekuni," jelas Aru langsung membahas ke inti masalah.


Umi tampak mengangguk hingga Aru yakin untuk melanjutkan. "Apakah saya bisa menyelesaikan dua kitab itu lebih cepat? Bagaimana pun, saya sudah menjadi seorang istri. Saya ingin sepenuhnya mendedikasikan hidup untuk suami." Aru berbicara gamblang tanpa ada yang ingin ditutup-tutupi.


Umi tersenyum manis. "MasyaAllah. Niat kamu sudah benar, Nak. Baiklah, Umi akan bantu kamu menyelesaikannya dengan cepat. Kira-kira, berapa lama yang kamu butuhkan?" tanya Umi Hafidzah agar lebih mudah mengatur jadwal.


"Satu bulan? Apakah mungkin Umi?" Aru sendiri ragu karena kitab yang dipelajari baru setengah dari isi bukunya.


"Insya Allah jika kamu yakin dan siap, kamu pasti bisa. Umi akan bantu doa," ucap Umi turut bahagia.


Aru tidak mampu menyembunyikan senyumnya. Dia bahagia karena setelah ini bisa mengurus suaminya penuh waktu.


Setelah berpamitan, Aru segera memakai sepatu miliknya. Entah magnet apa yang membuat Aru pada akhirnya menoleh ke samping kanan hingga menemukan sosok suaminya sedang berbincang dengan seorang wanita.


Aru mengetahui siapa wanita tersebut. Beliau adalah salah satu pengurus pondok di pesantren Darussalam. Namun, yang menjadi pertanyaan Aru adalah, ada urusan apa antara Dirga dan wanita tersebut sehingga seperti terlibat perbincangan serius.


Tidak ingin ikut campur, Aru memilih menunggu di depan mushola dengan mata yang setia menatap punggung suaminya. Hingga beberapa menit kemudian, Dirga meninggalkan wanita itu lebih dulu. Baru, Aru berani mendekat dan memanggil nama suaminya.


"Mas Dirga!"


Yang dipanggil pun menoleh dan berjalan mendekati Aru. Gurat lelah tampak menghias wajah tampan suaminya. Belum lagi, lengan kemeja yang digulung hingga siku, menandakan jika hari yang dilewati suaminya tidaklah mudah.


Aru menyalami suaminya dan mencium punggung tangannya. Aru berharap, suaminya itu akan balas mencium telapak tangan Aru seperti biasa. Namun, hal tersebut tidak dilakukan oleh Dirga.

__ADS_1


Aru menghela napas pelan. Mungkin, Dirga terlalu lelah hingga melupakan hal kecil seperti itu. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Aru yang kini mulai menggandeng lengan suaminya dan berjalan bagai menyeret bayi besar.


Dirga tidak menjawab. Dia masih setia dalam diam sejak kali bertemu Aru. Hal tersebut juga tidak biasa terjadi hingga membuat Aru semakin keheranan sekaligus merasa tidak nyaman.


"Kamu kenapa sih, Mas? Kenapa sejak tadi hanya diam?" tanya Aru lagi ketika sudah berada di dalam mobil dan duduk di kursi penumpang samping kemudi.


Dirga menoleh dengan tatapan yang sulit sekali diartikan. Lalu, suara Dirga selanjutnya membuat jantung Aru rasanya berhenti berdetak detik itu juga. "Sudah sejak kapan Yoda selalu menunggu di depan?"


Aru menelan saliva susah payah. Rasanya, seperti ada batu besar yang mengganjal tenggorokannya. "Jawab, Aru!" ucap Dirga penuh penekanan.


Aru sampai memejamkan mata. Padahal, Dirga tidak membentak. Hanya menekankan di setiap katanya. Namun, rasanya begitu sakit dan menghujam jantungnya dengan pisau.


"A-aku t-t-idak tahu, Mas," jawab Aru tergagap. Dia ketakutan bila sampai Dirga akan marah.


Helaan napas pun terdengar dari Dirga. "Benarkah kamu tidak tahu? Atau kamu sedang menutupi sesuatu?" tanya Dirga yang sudah lebih bisa menguasai diri. Dia sadar karena telah membuat istrinya itu takut.


Dia sangat takut jika hal seperti ini terjadi. Nyatanya, ketakutan itu benar-benar terjadi. Niat hati ingin menutupi agar Dirga tidak marah, tetapi yang ada, semua justru lebih buruk dari perkiraan.


Dirga memilih menepikan mobil di jalanan yang sepi. Dia mengusap wajahnya kasar lalu mengucap istighfar beberapa kali. Dia tidak sanggup jika istrinya itu bertemu dengan mantan kekasih yang dulu pernah Aru cintai. Dirga takut kehilangan Aru.


"Demi Allah, Mas. Aku tidak menemui dia. Justru, aku selalu menghindar dan memilih menunggu Mas di depan mushola. Aku hanya tidak ingin membuat Mas salah paham." Aru mencoba menjelaskan agar suaminya itu bisa tenang.


"Jangan menyebut nama Allah jika kamu tidak mampu mempertanggungjawabkan ucapanmu," peringat Dirga yang membuat Aru semakin sakit hati. Dengan kalimat tersebut, Aru tahu jika Dirga belum sepenuhnya percaya.


Tangis Aru semakin pecah. Mungkin inilah yang dimaksud ujian pernikahan setelah tiga bulan seperti yang dikatakan pak Penghulu ketika Aru akan menikah dengan Dirga. Aru benar-benar sedang mengalami ujian tersebut.


"Apa kamu tidak percaya padaku? Lalu, aku harus bagaimana agar kamu mau percaya?" tanya Aru mencoba menurunkan ego.

__ADS_1


Dirga menatap Aru penuh luka. Tampak sekali ada genangan air di pelupuk matanya. Hal itu membuat Aru semakin dirundung rasa sakit yang mendalam. "Mbak Sisil mengatakan, kamu pernah menemui dia. Ketika mobilku datang, dia pergi dan yang aku lihat, kamu itu pandai memainkan peran. Pantas saja kamu sering melamun akhir-akhir ini," cecar Dirga tertawa getir.


"Kenapa kamu tidak menaruh sedikit saja kepercayaan padaku, Mas? Sebenarnya, yang istri kamu itu siapa? Aku atau Mbak Sisil? Kenapa kamu lebih percaya dia daripada aku?" tanya Aru semakin sesenggukan.


Dia sampai harus memukul dadanya agar sesak yang menghimpit sedikit melonggar. Kenapa rasanya sakit sekali? Apakah Aru sudah mencintai Dirga sepenuhnya?


Aru menutup wajah dengan telapak tangannya. Melihat dirinya yang menangis, apakah suaminya itu tidak ada niatan untuk menenangkan? Mengingat hal tersebut, Aru semakin menangis sejadi-jadinya.


"Aru?" panggil Dirga setelah cukup lama terdiam. Setelah itu, Aru merasakan hangat yang melingkupi tubuhnya. Sadar jika pelakunya adalah Dirga, Aru semakin tersedu-sedu di dada suaminya.


"Kamu jahat!" pekik Aru sambil memukul lengan suaminya.


Dirga tidak melawan maupun menghalau. Dia pasrah dengan apa yang akan dilakukan Aru padanya. Setelah tangis Aru mereda, Dirga merenggangkan jarak. Dia membingkai wajah sang Istri yang tampak sembab dan hijab yang dikenakan tampak acak-acakan.


"Kenapa kamu tidak jujur dan mengatakan sejak dulu? Maafkan aku karena terlalu percaya dengan orang lain daripada kamu," ucap Dirga meminta maaf lebih dulu. Dia mengaku salah dan berusaha menurunkan ego yang berusaha menghancurkan rumah tangganya.


"Tidak, Mas. Aku yang harus meminta maaf karena sejak awal tidak jujur. Maafkan aku ... maafkan istrimu yang durhaka ini ...." Aru meraih tangan Dirga lalu menciumnya sebanyak mungkin. Jika hal tersebut mampu menggugurkan dosa, Aru rela melakukan semalaman suntuk.


Dirga terkekeh dan menghentikan tindakan Aru yang konyol. Aru merasakan kepalanya diangkat lembut hingga kini mendongak menatap wajah suaminya. Setetes air mata lolos dari sudut mata suaminya.


Dan melihat itu, hatinya pun berdenyut nyeri. "Kenapa menangis? Ku mohon jangan menangis," mohon Aru yang kembali berkaca-kaca.


Dirga menggeleng dan menyatukan kening dengan kening Aru. "Aku sangat takut kehilangan kamu. Aku takut kamu meninggalkan aku demi laki-laki itu. Mengingat bagaimana kamu dulu begitu mencintai dia. Dari segi apapun, aku kalah," racau Dirga mengutarakan ketakutannya.


Hal itu membuat Aru terenyuh lalu segera memeluk suaminya erat. Hal tersebut tidak akan pernah terjadi. "Jangan berlebihan, Mas. Itu tidak benar. Aku memang memiliki hati yang mudah dibodohi. Tetapi, aku memiliki akal untuk berpikir logis. Hanya kamu yang terbaik. Sosok lelaki yang selama ini aku butuhkan."


Keduanya pun saling berpelukan, seakan tidak ingin menit itu segera berlalu. Menit dimana rasa kasih dan sayang itu tercurahkan.

__ADS_1


__ADS_2