Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 20. Cemburu


__ADS_3

Setelah masalah yang terjadi di antara Dirga dan Aru, hubungan keduanya bukannya merenggang, justru malah semakin dekat. Benar jika masalah yang hadir dalam sebuah rumah tangga itu sebagai bumbu.


Tinggal bagaimana dua pelaku menyikapi. Karena terkadang, mereka terlalu membesarkan ego sendiri hingga berujung menyakiti. Namun, bila rasa saling mengerti dan memahami ada, masalah sebesar apapun tidak akan berguna.


Seperti pagi ini, Aru tersenyum berada dalam pelukan suaminya. Suara murrotal telah terdengar dari masjid terdekat, yang menandakan jika adzan subuh sebentar lagi dikumandangkan.


Sebelum Dirga bangun, Aru sempatkan memandang wajah tampan suaminya. Sungguh, Dirga adalah anugerah terindah yang pernah Aru miliki. Bersama Dirga, Aru bisa merasakan apa itu arti saling mengerti.


Setelah pembahasan mantan yang tidak akan ada habisnya, Aru memilih mengajak Dirga untuk berciuman. Mungkin dengan itulah suaminya tak lagi marah. Disela ciuman, Dirga terus bergumam. "Jangan khianati aku, jangan tinggalkan aku, jangan berpaling dariku," ucapnya penuh kelembutan.


Aru tidak mungkin meninggalkan berlian hanya demi batu kali. Sekuat tenaga akan Aru jaga. Bahkan, Aru akan menjaga suaminya dari Mbak Sisil yang entah memiliki masalah apa hingga menceritakan semuanya.


Aru tersentak ketika merasakan tiupan di wajahnya. Ketika sadar, Dirga ternyata sudah bangun. "Curang kamu ya. Curi-curi pandang ketika aku sedang tidur," gumam Dirga terdengar masih mengantuk.


Aru membingkai wajah sang Suami dan mengelusnya lembut. "Kenapa dianggap kecurangan? Kamu kan suami aku, Mas. Memangnya tidak boleh?" Aru menjawab dengan kepala yang masih memikirkan tentang Mbak Sisil.


Dirga pun membuka mata sepenuhnya. Dan yang dilihat pertama kali adalah, dahi dan alis istrinya yang tampak mengerut. "Kamu sedang memikirkan apa? Pasti masalah Mbak Sisil kan?" tebak Dirga yang membuat Aru seketika kesal.


"Kenapa Mas tahu sekali jika aku sedang memikirkannya? Kenapa? Mas tidak terima?" ketus Aru dengan bibir yang mengerucut lucu. Kesal sekali ketika suaminya dengan mudah mengetahui isi kepalanya seputar Mbak Sisil.


Dirga terkekeh geli dan mengecup bibir yang saat ini sedang manyun itu. "Begitulah perempuan. Mereka mungkin bisa menyembunyikan rasa cinta selama empat puluh tahun. Namun, mereka tidak pandai menyembunyikan rasa cemburu," jawab Dirga yang membuat bibir Aru mencibir.


Bukannya kesal, Dirga justru semakin tertawa. Senang sekali bisa menggoda istri cantiknya. "Mbak Sisil itu yang sering bantu aku ketika akan mencairkan dana. Dia memberitahukan padaku karena merasa terganggu dengan keberadaan mantanmu itu," jelas Dirga yang sama sekali tidak masuk akal menurut Aru.


"Lalu, kamu percaya begitu saja?" tanya Aru mencemooh.

__ADS_1


Dirga terdiam menatap istrinya. "Kamu saja tidak bisa menjawab. Sudahlah, aku mau mandi lalu sholat." Aru segera melepaskan diri dari belitan tangan suaminya lalu menuju kamar mandi.


Dirga menghela napas kasar. Ingin sekali mencegah Aru tetapi subuh sebentar lagi tiba. Mereka harus bergegas melaksanakan kewajiban sebagai umat manusia.


Hingga Aru keluar dari kamar mandi, perempuan itu masih memasang wajah marahnya. Setelah Dirga masuk kamar mandi, Aru mendirikan sholat sendirian. Hari ini tidak ingin berjamaah bersama suaminya.


Saat Dirga keluar, Aru baru saja menyelesaikan sholatnya. Ketika Dirga berniat untuk memeluknya, Aru mencegah dengan sebuah kalimat." Sholat dulu, Mas. Sampai waktunya habis nanti." Dan Dirga tidak memiliki pilihan lain.


"Baiklah."


Selagi menunggu suaminya selesai, Aru memilih membaca Al Qur'an agar hatinya kembali tenang. Dia tidak ingin hanya karena rasa cemburu berlebihan bisa meretakkan hubungan rumah tangganya dengan Dirga.


Aru juga tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu pada Mbak Sisil. Namun, kenyataan yang dilihat dan didengar membuat Aru memiliki kesimpulan tersendiri. "Astaghfirullahal'adzim." Aru beristighfar agar pikiran buruk itu segera pergi.


Aru menghela napas kasar ketika tatapannya bertemu dengan mata Dirga. Dia segera menuju lemari dimana pakaian kerja suaminya berada. Aru sudah paham jika hari ini Dirga akan ke kantor cabang. Apalagi, suaminya itu telah melaksanakan sidang skripsi. Aru rasa, Dirga tidak lagi memiliki mata kuliah yang harus dipelajari.


Ketika baru saja pintu lemari terbuka, Aru merasakan pelukan dari belakang. "Lepas, Mas. Aku mau mencari pakaian kerjamu dulu," pinta Aru lembut.


"Tidak mau. Kita selesaikan dulu kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Baru aku akan melepaskan kamu," jawab Dirga yang justru semakin mengeratkan pelukan.


Helaan napas kasar pun terdengar. Suaminya itu benar. "Jadi, apa hubungannya kamu dengan Mbak Sisil?" tanya Aru masih pada topik yang sama.


"Tidak ada. Dia pengurus pondok di bidang keuangan, aku donaturnya. Hanya itu. Aku rasa, itu bukanlah sebuah hubungan," jawab Dirga apa adanya.


"Lalu kenapa kamu lebih percaya dia daripada istri kamu sendiri? Bagaimana jika Mbak Sisil memiliki niat buruk pada rumah tangga kita?" tebak Aru mengatakan prasangkanya.

__ADS_1


"Aru! Jangan suudzon. Hal tersebut tidaklah benar," peringat Dirga tidak ingin istrinya itu memiliki pemikiran yang berlebihan.


Aru membalikkan tubuh dan menatap suaminya tajam. "Bagaimana jika itu benar? Sebagai seorang istri, aku memiliki firasat yang mungkin belum memiliki bukti. Namun, firasat seorang istri tidak mungkin salah." Aru mencoba menyadarkan suaminya.


Dirga menggeleng. "Aku tidak tahu lagi dengan jalan pikiran kamu. Dia itu wanita berpendidikan dan berilmu. Tidak mungkin dia melakukan hal tersebut. Sebaiknya, bersihkan dulu hatimu itu agar tidak mudah berprasangka buruk pada orang lain," ucap Dirga yang membuat Aru semakin sedih.


Aru diam dengan menatap Dirga kecewa. Tidak ingin berdebat, Aru kembali mencari pakaian ganti untuk Dirga. Baru kemarin keduanya berbaikan, kini kesalahpahaman terjadi lagi.


Aru tidak meminta Dirga untuk tak lagi berkomunikasi dengan Mbak Sisil. Dia juga tidak ingin mendengar jika perempuan itu jelas-jelas lebih unggul dari dirinya. Berpendidikan dan berilmu agama tinggi. Aru sudah kalah jauh.


Dia hanya ingin mendengar suaminya itu menjawab, 'Baiklah, aku akan menjaga jarak dengannya' itu saja. Aru ingin hatinya ditenangkan seperti kemarin ketika dia mencoba menenangkan Dirga dari rasa cemburu.


"Pakailah ini," ucap Aru sambil menyerahkan pakaian kerja suaminya. Saat akan pergi, lengan Aru ditahan hingga terpaksa Aru menghentikan langkah. "Jangan marah aku mohon. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan. Jangan mendiamkan aku," mohon Dirga dengan wajah frustasinya.


Lagi-lagi Aru menghela napas. "Mas pikir saja sendiri," ketus Aru lalu membuang muka.


Dirga tertawa menyaksikan hal tersebut. Dia menarik istrinya agar semakin merapat pada tubuhnya. "Tenangkan dirimu, kau terlalu jauh. Sebenarnya aku, tak seburuk itu," ucap Dirga yang justru melantunkan sebuah lagu milik penyanyi terkenal tanah air.


Bibir Aru berkedut. "Apa-apaan sih," ketusnya tetapi tak mampu lagi menahan senyum.


Melihat sang Istri yang kembali tersenyum, Dirga memeluk Aru erat, layaknya guling yang tidak ingin dilepas. "Jangan cemburu terus. Tetaplah percaya diri karena hanya kamu yang sudah singgah di hati. Mau kemana pun aku pergi, hanya kamu yang selalu menjadi pembahasan pikiran dan hati."


Dirga mendekatkan wajah lalu mengecup kening Aru lembut. "Aku mencintaimu, Ya Zaujati," ucap Dirga yang membuat pipi Aru seketika merona. Hilang sudah rasa cemburu yang mengganjal di hati.


Yang ada, rasa itu berubah menjadi sebuah cinta yang lebih besar lagi. "Aku juga mencintaimu, Ya Zauji," jawab Aru mengikuti panggilan baru Dirga.

__ADS_1


__ADS_2