
Aru merasakan hatinya bergetar ketika mendengar suara Dirga menggema ketika mengumandangkan takbir dalam sholat dzuhur siang itu. Kini, Aru tak lagi sholat sendirian. Ada Dirga yang menjadi imam tepat satu shaf di depannya.
Keduanya mulai menjalankan sholat dengan khusyuk, yang hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Hingga sholat itu selesai, keduanya memilih bertahan di atas sajadah sambil melafalkan kalimat puji-pujian untuk Tuhan dan Rosul.
Hingga Aru memilih menengadahkan tangan dan berdoa demi kebaikan hidup dan rumah tangganya.
"Ya Allah. Begini saja aku sudah bahagia. Semoga, aku tidak salah langkah dan semoga Engkau memberkati rumah tangga ku, Ya Allah. Aamiin."
Tepat ketika Aru telah selesai berdoa, Dirga menoleh dan mengulurkan tangan kode untuk bersalaman. Aru tersenyum dan menerima tangan suaminya ragu.
Namun, Aru tetap melakukannya dan mencium punggung tangan suaminya. Dia bisa merasakan usapan lembut di puncak kepalanya. Tentu saja Dirga yang melakukan. Ketika mendongak, tatapan matanya berserobok dengan pemilik mata coklat dan tajam di depannya.
"Apakah kamu bersungguh-sungguh ingin membina hubungan ini bersamaku?" tanya Aru sambil menatap mata Dirga lekat.
Helaan napas kasar pun terdengar. "Apakah kamu masih ragu padaku?" Dirga justru melempar pertanyaan.
Aru menunduk. Ingin sekali mengatakan iya tetapi dia takut hal tersebut akan melukai hati suaminya. Namun, bukankah Dirga patut di curigai.
"Aku hanya masih tidak percaya. Bukankah selama ini kamu terlihat begitu membenciku? Apakah kamu tidak malu menikah dengan perempuan murah—"
Belum sempat Aru menyelesaikan kalimatnya, Dirga sudah membungkam dengan sebuah kecupan kilat di bibirnya. Aru membelalak. Ini terlalu tiba-tiba hingga membuat otak Aru rasanya nge lag.
Sedangkan pelakunya, justru menatap Aru bagai tanpa beban. "Jangan katakan itu lagi. Bukankah aku sudah meminta maaf atas ucapan burukku di masa lalu. Sekarang, aku suami kamu. Jadi, berprasangka baiklah," pinta Dirga lembut.
Bagai terhipnotis, Aru mengangguk patuh. Hal itu, membuat Dirga gemas dan mengelus puncak kepala Aru yang masih tertutup mukenah. "Jangan melamun. Kita harus makan siang terlebih dahulu agar lebih bertenaga nanti malam," ucap Dirga yang membuat Aru tersadar.
"Memangnya, nanti malam ada apa?" tanya Aru polos.
Dirga tertawa geli hingga kelopak matanya menyipit. "Memangnya, kamu berharap apa untuk nanti malam?"
Aru mengerjap. Otaknya sedang tidak mampu berfungsi dengan benar. Apalagi tadi ketika melihat tawa Dirga yang begitu lepas. Suaminya itu terlihat begitu tampan.
__ADS_1
"Nanti malam ada resepsi bukan? Atau kamu ingin di kamar saja? Kalau begitu, aku akan katakan pada Mama dan papa," ucap Dirga berniat menggoda Aru.
Dengan cepat, Aru menggelengkan kepala. Apa kata orang-orang jika resepsi pernikahan akan berjalan tanpa kedua mempelai. Apalagi, acara akan diadakan malam. Orang-orang mungkin akan berpikir macam-macam.
"Aku lupa. Sebaiknya kita harus segera makan siang," ajak Aru yang sudah berdiri lebih dulu untuk melepas mukenah.
"Kita pesan saja pada petugas hotel untuk membawakan makanan ke kamar. Biar aku yang melakukannya," ucap Dirga yang sudah berjalan menuju telepon kabel.
Aru mengangguk saja. Dia menyimpan sajadah dan mukenah di atas nakas yang terletak di samping single arm sofa.
"Mau pesan apa? Nasi goreng atau nasi uduk?" tanya Dirga.
"Nasi goreng saja."
Setelah menjawab demikian, Aru memilih duduk di sofa. Kerudungnya telah dipakai lagi ketika tadi Dirga sibuk menelepon. Dia duduk dengan canggung ketika Dirga berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya.
"Aru?" panggil Dirga lembut.
"Mungkin, kamu belum mencintaiku saat ini. Tetapi, bolehkah aku meminta satu syarat?" tanya Dirga yang membuat jantung Aru mencelos. Syarat apa yang akan diajukan Dirga?
"Memangnya, syarat apa?" tanya Aru gugup.
"Walau kamu belum mencintaiku, tolong jangan sampai kita pisah ranjang apalagi sampai berada di kamar yang berbeda. Mari, kita bangun rumah tangga ini dengan selayaknya. Aku akan berusaha dan aku berharap kamu juga melakukan hal yang sama," jelas Dirga yang mampu menerbitkan senyum di bibir Aru.
Demi Tuhan, Aru semakin terpesona pada sosok Dirga yang ternyata, lebih baik dari perkiraan yang Aru tahu. "Tentu saja. Aku ingin menikah sekali seumur hidup dan semoga saja, kamu yang akan menjadi orang terakhir itu," jawab Aru yakin.
Dirga pun mengangguk senang. Aru melihat dengan jelas raut berbinar itu. Sebahagia itukah Dirga?
"Tetapi, apakah kamu tidak keberatan jika statusku kini sudah tak lagi gadis? Kamu pasti tahu kalau aku hanyalah bekas," cicit Aru menunduk dalam.
"Itu sudah tidak penting lagi untukku. Yang terpenting adalah, kamu yang hari ini. Kamu yang sudah lebih baik dari hari kemarin. Itu sudah cukup untukku," jawab Dirga lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, Dirga," ucap Aru bersyukur.
Bukannya menjawab, Dirga justru semakin merapat pada Aru. Aru sampai menahan napas, resah dengan sesuatu yang akan Dirga lakukan setelahnya. Namun, ketika merasakan sentuhan di telapak tangan, Aru menoleh dan senyum Dirga adalah pemandangan pertamanya.
"Boleh pegang tangan kan?" tanyanya mengangkat satu alis.
Aru mengangguk. Tentu saja boleh. Jangankan berpegangan tangan, melakukan hal lebih juga boleh. Lagipula, Aru sudah halal untuk Dirga sentuh.
Aru bisa merasakan jemarinya dimainkan oleh Dirga. Ketika Aru menoleh, ternyata Dirga sedang menatapnya lekat. Aru pun terjerumus dalam tatapan itu hingga enggan untuk berpaling.
Perlahan, wajah Dirga mendekat dan mengikis jarak. Namun, ketika jaraknya tinggal beberapa senti lagi, Dirga berhenti. Beruntung, Aru belum memejamkan mata atau dia yang akan malu sendiri.
"Boleh aku menciummu?" tanya Dirga meminta izin lebih dulu.
Aru mengangguk lemah. Merasa tidak masalah. Dia tidak berniat menolak karena takut berdosa telah menolak permintaan suaminya.
Dirga kembali mengikis jarak dan Aru mulai menutup kelopak matanya. Dia sampai bisa merasakan hembusan napas Dirga yang begitu hangat, menerpa wajahnya.
Aru mencengkeram bagian samping gamisnya ketika sentuhan benda kenyal menempel di bibirnya. Rasanya, jantung Aru meletup-letup ketika ciuman itu benar-benar mendarat di bibirnya.
Cukup lama Dirga menekannya hingga sentuhan itu terlepas dan Aru merasa kehilangan. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama. Dirga kembali melabuhkan kecupan di seluruh sisi wajah Aru dan berakhir di kening.
Aru mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Perlakuan manis Dirga membuat Aru kehilangan napas. Rasanya lebih indah dan menyenangkan karena Dirga telah halal untuknya.
"Tadi pagi, kamu begitu cantik," celetuk Dirga yang membuat Aru segera membuka kelopak mata. Dirga telah menjauhkan wajah hingga Aru merasa malu sendiri karena masih memejamkan mata.
"Oh ya? Benarkah aku cantik?" tanya Aru tidak percaya dengan pendengarannya. Kemana perginya mulut pedas yang tak henti-henti mencemoohnya?
Dirga tampak salah tingkah dan membuang pandangan. Huh! Menyenangkan sekali bisa melihat sisi lain dari Dirga yang tampak malu-malu seperti tadi.
Aru mengulum senyum. Apalagi, Dirga justru berdiri dan mengatakan. "Sepertinya ada tamu." Padahal, tidak ada bel berbunyi sama sekali.
__ADS_1
Aru semakin yakin jika Dirga sedang salah tingkah. Huh! Lucu sekali sih!