Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 13. Tamu dari pondok


__ADS_3

Tidur nyenyak pun Aru dapatkan. Dia merasa aman dan nyaman berada dalam pelukan Dirga. Rasanya, tubuh rapuh miliknya ada yang merengkuh dengan kelembutan.


Entah sudah berapa lama Aru terlelap hingga tidurnya terganggu akibat gerakan yang membuat kesadarannya meminta kembali. Ketika matanya terbuka, Aru mendapati wajah Dirga sangat dekat bagai tak berjarak dengan wajahnya.


Dirga tampak menghentikan aksinya. Aru bisa melihat mata Dirga yang tampak sayu dan berkabut. "Maaf jika aku mengganggumu. Aku tidak mampu menahannya," sesal Dirga lalu mengembuskan napasnya kasar.


Aru mengerjapkan matanya beberapa kali agar kelopaknya terbuka sempurna. Dia tidak boleh mengabaikan keinginan suami di atas ranjang. Jangan sampai dia membuat Dirga kecewa.


Namun, Aru masih terlalu takut dengan rasa sakit akibat hubungan tersebut. "Dirga?" panggil Aru lirih.


"Hm? Tidurlah. Aku akan mengurus semuanya sendiri," jawab Dirga yang masih setia terpejam.


Bola mata Aru bergerak gelisah. Sebenarnya, Aru cukup tersengat dengan sentuhan yang Dirga berikan tadi. Rasanya sangat berbeda ketika dia melakukannya bersama Yoda.


Aru menggelengkan kepala agar bayangan tentang Yoda tidak lagi mengisi kepala dan hatinya. Laki-laki itu harus ditendang jauh-jauh dari kehidupannya.


Setelah menarik dan menghembuskan napas, Aru kembali berucap. "Kamu bisa melakukannya sekarang. Aku tidak keberatan sama sekali."


Hening.


Aru menunggu reaksi seperti apa yang ditunjukkan Dirga, tetapi nihil. Dirga bergeming di tempatnya. Padahal, Aru sudah memutus urat malu demi membuat sang Suami tak kecewa.


"Ya sudah kalau tidak mau," ketus Aru lalu ingin membalikkan badan untuk memunggungi Dirga. Namun, gerakan itu terhenti ketika ada tangan lain yang lebih dulu menahannya.


"Jangan memunggungi ku," pinta Dirga memelas. Laki-laki itu masih menatapnya sayu.


Aru menghela napas kasar. Dia kembali menghadap Dirga dan menatap wajah tampak itu lekat-lekat. "Namun, sebelum kamu melakukannya, ingatlah jika aku sudah tidak lagi—"


Cup.


Kalimat Aru terhenti oleh ciuman yang Dirga berikan. Ciuman yang lembut tetapi lama-kelamaan semakin menggila seiring debaran jantung yang tidak beraturan. Keduanya saling menginginkan dan mendamba.


Malam yang panas penuh keringat itu pun tak terelakkan.


"Aku mencintaimu, Aru Istriku," ucap Dirga penuh kelembutan.

__ADS_1


...----------------...


Hari berganti. Ini adalah malam terakhir acara resepsi diadakan. Untuk malam itu, kebanyakan tamu berasal dari rekan bisnis dan pondok pesantren tempat Aru menimba ilmu. Di sana juga, Dirga mengenal para pengurusnya.


Acara berjalan meriah ditemani senyum pengantin baru yang telah memiliki semangat baru. Hal tersebut tidak luput dari pandangan Mama Kalea dan Mama Dita. Dua Mama itu memandang penuh bahagia pada kehidupan baru putra dan putrinya.


"Aku mau menemui Aru dulu ya, Ta. Sudah dua hari ini ketemu sebentar-sebentar doang," pamit Mama Kalea. Karena merasakan hal yang sama, Mama Dita pun memilih untuk ikut.


"Kalau begitu, aku ikut," jawab Mama Dita lalu menggandeng lengan sang Besan lembut.


Hal tersebut tidak lepas dari pandangan dua Bapak yang persahabatannya semakin erat. Siapa lagi jika bukan Bapak Javas Kanagara dan Bapak Absena Mahesa? Wajah bahagia tidak dapat disembunyikan lagi dari keduanya.


"Lihatlah. Istriku dan istrimu sudah selayaknya saudara. Akur sekali mereka," ucap Papa Sena sambil tersenyum geleng-geleng kepala.


Papa Javas berdecak dan meminum jus di tangannya. "Namanya juga satu frekuensi. Tahu sendiri seperti apa jika sudah ada di lingkaran yang sepemikiran?"


"Ya seperti kita ini," jawab Papa Sena dan keduanya tertawa bahagia. Dua keluarga telah bersatu dan akan saling menjaga juga menguatkan. Entah dalam lingkungan pribadi maupun lingkungan bisnis.


Aru begitu bahagia ketika melihat Mbak Zahra, Umi Hafizdah, Abah Muntaha, dan teman-teman lainnya hadir. Sengaja Aru mengundang mereka di hari terakhir agar tidak terlalu ramai tamu dan Aru bisa menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan mereka.


"Duh, pengantin baru auranya memang berbeda ya," ledek Mama Dita sambil tersenyum manis.


Aru menunduk malu sedangkan Dirga, dia langsung memeluk sang Mama. Entah apa yang dikatakan sang Suami pada ibu yang melahirkannya. Aru tidak cukup jelas mendengar karena musik sedang berputar.


Yang Aru tangkap adalah, ekspresi Keduanya mendadak sangat cerah. Lalu, Mama Dita mengelus puncak kepala putranya.


"Heh! Terpesona kamu ya? Mama di depan kamu sampai tidak dilirik," kesal Mama Kalea yang telah menjitak kening putrinya.


"Aw! Sakit, Mama," aduh Aru sambil mengelus keningnya. Mama Kalea tertawa tanpa beban. Sedangkan Dirga yang mendengar itu, langsung panik dan mengelus kening sang Istri.


"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Dirga yang membuat Aru ingin sembunyi di kantong ajaib milik Doraemon saja. Pasalnya, duo Mama di depannya sedang menatap penuh binar di matanya.


"Aku tidak apa-apa. Mama tidak akan melakukannya dengan kasar," kilah Aru tersenyum menenangkan.


"Aru saja yang lebay. Nanti, kalau Aru sudah BuCin, kamu harus siap-siap untuk menjadi tempat bermanja," ungkap Mama Kalea sambil mengulum senyumnya.

__ADS_1


"Apa-apaan sih, Ma. Jangan bongkar dulu dong," cegah Aru sebelum mamanya itu bercerita panjang lebar.


Bukannya takut, Dirga justru tersenyum. "Itu akan baik, Ma. Dengan begitu, Aru akan bergantung kepadaku dan tidak bisa hidup bila tiada aku," ucap Dirga percaya diri.


Aru mendengkus kencang. Suami dan dua mamanya itu senang sekali menggoda. Seketika Aru kembali teringat lada Abidzar.


"Ma? Abi kemana? Kenapa tidak muncul?" tanya Aru heran.


Helaan napas kasar pun terdengar. "Biasa. Dia kan kurang suka keramaian. Kamu tahu sendirilah. Dia itu tipe introvert. Lebih nyaman sendiri daripada di keramaian. Katanya, dia sekalian mau belajar. Minggu depan kan ada UTS," beritahu Mama Kalea panjang lebar, khas seorang ibu-ibu kompleks.


Aru terkekeh. Kepribadiannya dengan sang Adik bagai terbalik. Aru cenderung lebih urakan sedangkan Abi lebih kepada kalem dan jaga image. "Aku kira kemana dia," jawab Aru terkekeh pada akhirnya. Ketakutannya tidak benar-benar nyata.


"Eh! Itu ada Pak Kyai dan Bu Nyai," ucap Mama Dita menunjuk ke arah bawah panggung dimana rombongan dari pondok pesantren Darussalam tengah berbaris. Mama Kalea dan Mama Dita sontak ikut berbaris di samping putra dan putrinya.


"Assalamualaikum, Nak Aru, Nak Dirga," Sapaan pertama yang Umi Hafizdah ucapkan untuk Aru dan Dirga.


"Waalaikumsalam Umi, Abah," jawab keduanya bersamaan.


"MasyaAllah. Umi bahagia ketika mendapati seseorang datang ke pesantren untuk mengundang Umi dan Abah ke pesta ini. Umi masih tidak percaya jika takdir kalian sangatlah dekat," ucap Umi Hafizdah selalu mampu menjadi penyejuk jiwa.


"Alhamdulillah, Umi. Ini semua tidak lepas dari bantuan Umi dan Abah," jawab Aru menunduk hormat.


"Terima kasih juga. Karena adanya pondok pesantren Darussalam yang Abah dan Umi bangun, kami bisa bertemu dalam versi terbaik dan cara terbaik." Kini giliran Dirga yang berbicara.


"Alhamdulillah. Semua sudah Allah atur dengan baik. Rezeki, jodoh, dan maut itu rahasia Allah. Tugas kita hanya terus memperbaiki diri agar diberikan jodoh yang sama baiknya. Karena pria baik-baik hanya untuk perempuan baik-baik, begitu juga sebaliknya," ucap Abah memberikan nasehatnya.


Aru menggelengkan kepala. "Tetapi, Aru bukanlah perempuan baik-baik, Bah. Dan Allah mempertemukan Aru dengan pria baik-baik seperti Dirga. Apakah kita bisa berjodoh?" tanya Aru murung.


"Astaghfirullah. Bukanlah sudah Abah katakan. Semua sudah Allah atur sesuai porsi. Buruk menurut manusia belum tentu buruk di hadapan Tuhan. Dan Umi percaya, Insya Allah, Aru adalah perempuan baik," jawab Umi Hafizdah tersenyum menenangkan.


Aru dan Dirga mengangguk paham. Semua sudah menjadi ketentuan Tuhan.


Umi dan Abah memilih berpamitan dan turun dari pelaminan. Kini giliran para santriwan dan santriwati yang menyalami pengantin baru.


"MasyaAllah, Aru! Saya sampai tidak percaya jika kamu telah menikahi Pak Dirga. Rasanya, baru kemarin kamu bertanya tentang sosoknya. Kini, beliau sudah resmi menjadi suamimu. Sungguh, aku turut bahagia atas pernikahan ini," ucap Mbak Zahra antusias. Senyum sumringah tampak ditunjukkan dengan tulus.

__ADS_1


Aru mendelik kesal. Kenapa Mbak Zahra membongkar hal tersebut. Sekarang, Aru sudah ketahuan kepo dengan kehidupan Dirga. Apalagi, suaminya itu tengah menatapnya seperti menuntut penjelasan. Huh. Mbak Zahra memang tidak bisa menjaga rahasia.


__ADS_2