Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 18. Lagi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Aru tidak berhenti tersenyum bila mengingat permintaan Dirga yang secara tidak langsung meminta cuti. Aru akui Dirga memang sosok laki-laki yang hebat. Selain mengurus cabang perusahaan, Dirga juga telah menyelesaikan pendidikan dengan baik.


"Kenapa senyum-senyum terus sih? Lagi pula, aku meminta hal tersebut demi kebaikan kita, Sayang. Kita butuh waktu yang tenang dan jauh dari kebisingan. Aku harap sih, Mama dan Papa mau menyetujui," ucap Dirga menjelaskan maksud keinginannya.


Aru tertawa kencang. Tidak mampu lagi menahan terlalu lama. Setelah tawa mereda, Aru baru kembali mengalihkan perhatian pada suaminya. "Aku ikut Mas saja. Kemanapun Mas pergi, aku akan ikut. Termasuk ... Pergi healing," tanya Aru meragu di akhir kalimat.


Dia masih sedikit canggung bila mengucapkan kata yang khas dengan pengantin baru. Ya, walaupun dia dan Dirga tidak bisa disebut pengantin baru lagi.


"Bukan healing, Sayang. Tetapi, honeymoon." Dirga memperjelas kalimatnya. Aru terkekeh lalu mengangguk saja.


"Terserah kamu saja, Mas. Aku ikut," jawab Aru pada akhirnya.


Tidak berapa lama, mobil pun memasuki gedung apartemen tempat mereka tinggal. Setelah memarkirkan di basemant, perut Aru tiba-tiba bunyi meminta untuk diisi.


Kruukk....


Dirga tertawa mendengar bunyi perut istrinya yang cukup kencang. Mungkin karena suasana sudah sepi dan tidak banyak orang berlalu-lalang.


"Kamu lapar?" tanya Dirga dengan tawa yang masih tersisa.


Aru mengangguk polos. Tidak ingin berbohong masalah yang satu ini. Jika dia berbohong, bisa dipastikan jika Aru tidak akan tidur semalaman. "Bisa antar aku makan di restoran depan dulu, Mas? Aku tidak mungkin tidur dalam keadaan lapar," gumam Aru dengan bibir mencebik lucu.


Dirga mengacak rambut Aru gemas. "Tentu saja. Ayo, akan aku temani," ajak Dirga lalu keluar dari mobil. Setelah sama-sama berada di luar, Aru langsung dirangkul mesra oleh sang Suami.


Apalagi, Dirga beberapa kali melabuhkan kecupan pada pipi miliknya. Sesampainya di restoran, Aru segera memesan makanan yang diinginkan. Yang pasti, makanan yang tidak akan membuat tubuhnya melar karena makan di jam malam.

__ADS_1


"Mas mau pesan sesuatu? Nanti biar sekalian Mas bayar?" tanya Aru terkekeh sendiri.


Dirga tersenyum dan menggeleng. "Mas sudah kenyang. Mas lihat kamu makan saja," jawab Dirga yang sudah menumpu dagu dengan telapak tangan. Keduanya duduk dengan saling berhadapan.


Aru mengangguk dan mulai memakan hidangan. Dia sedikit tidak nyaman ketika Dirga menatapnya lekat. Dia gugup dan memilih untuk menghentikan kegiatannya sejenak. "Kenapa begitu sih melihatnya,Mas?" tanya Aru dengan pipi merona.


"Tidak. Hanya ingin segera membungkus kamu dan membawanya ke kamar," celetuk Dirga yang membuat mata Aru seketika melotot.


"Mas! Ini di luar. Jangan sembarangan bicara," peringat Aru yang diabaikan begitu saja oleh Dirga.


"Tidak masalah kan? Lagi pula, kamu istri aku," jawab Dirga sambil tersenyum manis. Aru hanya mampu geleng-geleng kepala dan menyelesaikan kegiatan makannya.


Ketika makanan telah habis dan Aru mendongakkan kepala, tepat satu meja di belakang Dirga, ada seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya. Seseorang tersebut mengenakan masker yang menutupi mulutnya.


Ketika masker itu dibuka, Aru seketika tersedak. Dirga berusaha menenangkan dan mengangsurkan air minum. "Pelan-pelan, Sayang. Nih, minum dulu," pinta Dirga lembut yang kini sudah beranjak dari kursi demi menepuk punggung Aru.


"Kamu kenapa? Seperti melihat hantu saja," tanya Dirga heran.


Aru menggelengkan kepala. Dia tidak mungkin mengatakan jika baru saja melihat Yoda duduk di belakang Dirga. Nyatanya, laki-laki itu entah kemana perginya. Padahal, Aru yakin jika tadi adalah Yoda.


"Tidak ada, Mas. Mungkin, aku hanya terlalu terburu-buru," jawab Aru mencoba menenangkan.


"Ya sudah. Aku bayar tagihannya dulu. Kamu tunggu disini atau mau ikut?"


"Aku ikut saja, Mas. Setelah itu, kita langsung naik saja," jawab Aru cepat. Entah apa yang dilakukan Yoda di gedung apartemen yang ditinggalinya. Aru berharap, laki-laki itu tidak pernah muncul lagi di hadapan Dirga.

__ADS_1


Selama tiga bulan terakhir ini, Yoda selalu menunggu Aru di depan pesantren. Laki-laki itu tidak kenal lelah untuk menanyakan dimana keberadaan anak yang di kandung Aru.


Karena jengah, Aru pun menjawab jujur. Dia malas bila setiap hari selalu diikuti oleh mantan yang masih gentayangan.


Hingga tiba di momen itu, Aru bisa menangkap wajah Yoda yang tampak kecewa. Namun, Aru lah yang lebih kecewa dan sedih kala itu. Dia tidak mau terhasut lagi oleh mulut manis dari buaya darat.


"Kalau begitu, dimana kuburannya?" tanya Yoda dengan bahu yang merosot.


Aru tidak menjawab. Rasanya, laki-laki itu tidak pantas untuk sekedar menginjak tanah makam. Apalagi, sampai tahu dimana calon anaknya dimakamkan. Aru tidak pernah rela dengan hal tersebut.


"Pergilah. Kamu tidak layak mengetahui dimana anakku di kubur. Kamu sama sekali tidak pantas bahkan ketika sejengkal saja kakimu menginjak tanahnya. Aku tidak akan pernah sudi memberitahumu!" ucap Aru dengan menggebu-gebu. Jelas sekali jika Aru masih menyimpan banyak sekali kemarahan pada sosok di depannya.


"Untuk hari ini, aku akan pergi. Tetapi, aku tidak akan pernah lelah untuk bertanya demi mengetahui dimana anakku di kubur." Setelah berucap demikian, Yoda benar-benar pergi untuk hari itu.


Namun, untuk hari-hari selanjutnya, laki-laki itu tetap datang dan menunggu di depan pesantren. Lalu akan pergi ketika mobil Dirga telah tiba.


Aru masih setia pada pendiriannya. Yoda tidak pantas mengetahui keberadaan makam anaknya. Dia memilih menunggu Dirga di depan mushola pondok. Itu akan lebih aman untuknya.


"Kenapa sering sekali melamun sih akhir-akhir ini? Sepertinya benar, jika kamu membutuhkan tempat yang tenang," tanya Dirga membuyarkan lamunan Aru. Tanpa sadar, kakinya sudah tiba di depan unit apartemen.


Aru menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya masih merasakan sakit di tenggorokan akibat tersedak tadi," jawabnya beralasan bohong.


"Benar? Tetapi, aku lihat kamu itu seperti tertekan. Jangan ragu untuk bercerita padaku," ucap Dirga lalu mendorong bahu Aru untuk masuk.


Aru terkekeh karena seperkian detik justru terpesona dengan ketampanan suaminya. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Dirga semakin keheranan. Entah mengapa, jiwa terpananya tidak mengenal waktu dan tempat. Padahal, baru saja di melamun.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku hanya sedang merasa konyol karena justru terpesona ketika Mas berbicara," jawab Aru lalu berhenti melangkah dan menatap suaminya lekat.


Tanpa aba-aba, Aru langsung mengecup bibir suaminya sekilas. Setelah itu, dia berlari masuk ke kamar, meninggalkan suaminya yang masih terpaku di tempat sambil memegangi bibirnya.


__ADS_2