
Aru menatap kesal pada Yoda yang kini duduk di depannya. Laki-laki itu dengan santai menikmati camilan dan kopi hitam yang dipesan. "Minum kopinya, Ru," pinta Yoda sok lembut.
"Kamu pikir aku akan nurut? Laki-laki licik seperti kamu bisa saja memberi racun dalam minuman," tolak Aru berusaha bersikap santai.
Yoda tertawa kencang. Dia sengaja mengajak Aru ke sebuah kafe terdekat untuk membuat kesalahpahaman antara Aru dan Dirga. Dia juga yang meminta Sisil untuk memotret dirinya dengan Aru tadi.
Setelah mendapat balasan pesan dari Sisil yang mengatakan jika Dirga memilih pulang daripada mencari Aru, itu sudah cukup untuk menghancurkan rumah tangga mantan pacarnya.
Kalau dilihat-lihat, Aru semakin cantik setiap harinya. Timbul keinginan Yoda untuk bisa memiliki Aru lagi. "Jangan cemberut terus dong, Ru. Senyum," pinta Yoda tanpa beban.
Brak. Prang.
Aru menggebrak meja lalu menyambar apa saja yang ada di atasnya. Kopi dan piring yang digunakan sebagai tempat camilan, pecah dan berceceran di lantai. Sontak hal itu menimbulkan perhatian oleh pengunjung lain.
"Kamu maunya apa sih? Masih kurang untuk membuatku menderita? Masih belum puas menghancurkan masa depanku? Kamu adalah salah satu laki-laki yang tidak punya malu dan tidak bertanggung-jawab!" teriak Aru tepat di depan wajah Yoda.
Laki-laki itu hanya meringis dan mengorek telinga. Seringai tipis pun ditunjukkan seakan tidak merasa terganggu dengan sikap Aru.
"Tenang, Sayang. Kita bisa selesaikan semuanya dengan baik-baik," ucap Yoda bermulut manis sambil menunduk meminta maaf pada pengunjung lain. Ketika ada pramusaji yang akan mendekat, Yoda mengangkat tangan, isyarat agar diberi waktu untuk menyelesaikan masalahnya.
Aru memejamkan mata lalu menarik napas dalam-dalam. Yoda sangat licik dan Aru harus menghadapi dengan lebih licik. Setelah berhasil mengatur amarahnya, Aru kembali duduk dan menghirup udara banyak-banyak.
dia memutar otak agar bisa menghilangkan video yang Yoda gunakan sebagai ancaman untuknya. Saat pikiran sudah lebih tenang, mata dan otak Aru tertuju pada ponsel Yoda yang tergeletak di atas meja.
Entah bagaimana caranya, dia harus mendapatkan ponsel itu. Dia mengusap wajah kasar lalu menatap Yoda. Mencoba mencari cara untuk mengelabuhi pria itu.
Buang-buang waktu sekali jika Aru hanya diminta untuk menemani Yoda ngopi. Ingin sekali dia menjambak rambut laki-laki di hadapannya atau mencakar wajah menyebalkan itu.
"Katakan. Apa yang kamu inginkan," pinta Aru sudah lebih tenang.
"Santai dong. Aku hanya ingin duduk ditemani mantan terindah. Karena kemarin kamu jual mahal, terpaksa aku melakukan cara ini untuk bisa bersamamu. Soal pertanyaan tentang makam anak kita, aku sudah tahu dimana. Hanya saja, aku beralasan agar selalu bisa melihatmu," ungkap Yoda yang membuat amarah Aru hampir saja meledak.
__ADS_1
Namun, hal tersebut hanya sampai tahap hampir. Aru harus main cantik ketika menghadapi Yoda. "Tolong jangan membuat kepalaku bertambah pusing. Pesankan aku jus alpukat sekarang," pinta Aru sambil memijit pelipisnya.
Yoda terkekeh. "Akhirnya kamu luluh juga. Aku tahu jika sebenarnya, kamu masih menyimpan rasa untukku bukan?" tanya Yoda dengan percaya diri tingkat tinggi.
Ingin sekali Aru muntah mendengar pertanyaan Yoda. Perutnya mendadak mual. Aru pura-pura tersipu dan menunduk malu. Hal itu membuat senyum Yoda semakin lebar.
'Tersenyumlah kamu. Setelah ini, aku akan jatuhkan kamu ke dasar jurang,' gumam Aru dalam hati.
"Baiklah. Aku akan pesankan jus untukmu," jawab Yoda sambil menyeringai.
Aru bergidik ngeri melihatnya. Beruntung, Yoda benar-benar pergi dan meninggalkan ponselnya. Secepat kilat, Aru mengambil ponsel tersebut dan memasukkannya ke saku gamis. Dia tersenyum ketika Yoda menoleh ke arahnya.
Saat Yoda kembali berbicara pada Pramusaji, Aru memutar bola matanya jengah dengan bibir yang komat-kamit. Saat Yoda akan kembali ke meja, Aru berdiri dan berucap. "Aku ke toilet sebentar."Yoda mengangguk tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Setelah berada dalam bilik toilet, Aru mulai membuka ponsel Yoda yang sayang seribu sayang menggunakan kata sandi. Aru menggusah napas kasar. Namun, Aru mencoba mengingat jari Yoda yang lincah menekan empat digit angka saat tadi akan memainkan ponselnya.
"Eh, bukannya itu tanggal lahir ku ya?" gumam Aru heran sendiri.
Aru akan mereset ponsel milik Yoda agar semua file hilang termasuk di memori eksternalnya. Aru menekan tombol 'Ya' dan ponsel itu berputar menunggu waktu untuk mengembalikan ke setelan pabrik.
"Aru!" Pekikan itu membuat Aru terlonjak kaget, membuat ponsel yang ada digenggaman terjatuh ke lantai. Itu merupakan suara Yoda yang mungkin sudah sadar jika ponselnya tidak ada.
Dengan tangan gemetar, Aru mengambil kembali ponsel milik Yoda dan bisa bernapas lega saat ponsel itu telah kembali ke setelan pabrik.
"Iya! Aku disini!" jawab Aru memekik girang.
Ingin sekali Aru tertawa kencang. Namun, dia mengingat jika sedang berada di tempat umum. Dia keluar dan mendapati Yoda yang berdiri di ambang pintu toilet wanita.
"Kamu membawa ponselku?" tanya Yoda tajam dan penuh penekanan.
Kini giliran Aru yang menyeringai. Dia melempar ponsel itu dengan kasar ke lantai hingga terdengar bunyi gebrakan yang cukup kencang.
__ADS_1
Gubrak.
"Aru!!" Yoda berteriak kencang. Begitu menyayangkan ponselnya.
Aru tertawa kencang. "Yah, rusak," ucap Aru pura-pura bersedih.
"ARUNIKA!!" Yoda berjalan mendekat dengan kedua tangan terkepal di samping tubuh. Aru ketakutan. Dia mundur beberapa langkah untuk menghindar hingga dia kehabisan ruang untuk mundur karena tubuhnya sudah menabrak tembok.
Saat tangan Yoda terangkat untuk menamparnya, Aru berteriak kencang memohon pertolongan.
"Tolong! Ada yang ingin menganiaya aku!" pekik Aru sambil memejamkan mata erat-erat.
Tidak ada pukulan atau tamparan yang mendarat di salah satu bagian tubuhnya. Setelah itu, terdengar berisik dari arah pintu dan banyak orang muncul dari sana.
Aru mulai menunjukkan skill aktingnya yang tidak kalah lihai dari artis terkenal. "Tolong saya! Tolong! Saya sangat takut!" Aru berteriak ketakutan. Matanya dipaksa untuk meneteskan air mata agar drama ini semakin meyakinkan.
"Apa yang kamu lakukan! Beraninya hanya lada seorang wanita."
Berbagai umpatan pun dilayangkan untuk Yoda. Aru membuka mata dan melihat Yoda sudah tidak berkutik karena kedua lengannya dipegang oleh banyak orang.
"Lepas! Apa-apaan kalian! Lepaskan aku!" pekik Yoda mencoba melepaskan diri.
"Tolong bawa dia ke pihak berwajib, Pak. Jangan biarkan dia sampai melakukan ini pada siapapun lagi. Aku mohon. Dia harus segera dihukum," racau Aru dengan air mata berderai. Dia berjongkok sambil menyilangkan lengan di depan dada.
"Kalian salah paham. Apa yang dituduhkan dia tidak benar!" Yoda mencoba mencari pembelaan.
"Aku tidak tahu alasan mengapa seorang pria masuk ke toilet wanita. Apalagi jika bukan untuk mengintip? Tolong, segera bawa dia pergi. Aku takut melihat wajahnya." Tangis Aru semakin menjadi-jadi.
Semua orang percaya dan menyeret Yoda keluar dari sana. Banyak pasang mata yang menatap Aru iba.
"Benar! Dia harus mendapat balasan!" pekik semua menyetujui.
__ADS_1