Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 23. Luka dalam


__ADS_3

Keesokan harinya, kondisi tubuh Aru justru terasa semakin nyeri. Mungkin karena terjatuh secara tiba-tiba dan menyebabkan reaksi kejut yang tidak biasa.


Akhirnya, Dirga memutuskan untuk tidak datang ke kantor. Dia ingin menemani istrinya. Papa Javas dan Mama Kalea juga mengatakan akan datang ke apartemen. Mereka mengatakan telah menyewa tukang pijat agar sakit yang Aru alami bisa terobati.


"Jangan terlalu banyak bergerak, Sayang. Berbaringlah. Biar aku yang mengambil semua kebutuhan yang kamu inginkan," cegah Dirga ketika melihat Aru berusaha bangkit dari ranjang. Kaki istrinya itu hampir menyentuh lantai.


Aru meringis, menahan sakit di sekujur tubuhnya. Dia merasa heran mengapa reaksi tubuhnya terlalu berlebihan? "Aku bosan di kamar terus, Mas. Aku ingin duduk di balkon sebentar," ucap Aru merengek.


Dirga yang sedang sibuk dengan tablet di depannya, segera menaruhnya di atas meja. Dia tinggalkan pekerjaan demi mengurus sang Istri tercinta. "Biar aku gendong," ucap Dirga lalu tanpa menunggu Aru siap, dia sudah membawa Aru menuju balkon kamar.


Aru yang merasakan tubuhnya seperti melayang, memekik tertahan lalu segera mengalungkan lengan di leher Dirga. Dia didudukkan di kursi dengan pelan. Setelah itu, Dirga mengambil posisi duduk di sebelah istrinya.


Udara pagi yang sejuk membuat perasaan Aru membaik. Dia tersenyum dan menoleh ke samping dimana ternyata, Dirga sedang menatapnya. "Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aru heran.


Dirga menghela napas kasar dan membuang pandangan ke arah jalanan di bawah sana. Banyak kendaraan berlalu-lalang melewati jalanan kota. "Bagaimana jika kamu mengaji di rumah saja?" tawar Dirga sangat hati-hati.


Aru mengerjap dan mengerucutkan bibirnya. Dengan mengaji di rumah, dia tidak lagi bisa bersosialisasi dengan orang lain. "Kenapa memangnya? Aku sudah nyaman belajar di pesantren, Mas. Jika mengaji di rumah, itu berarti aku harus belajar sendirian. Hal tersebut akan terasa berbeda dengan saat berada di pondok," jelas Aru mengungkapkan ketidaksetujuan secara langsung.


"Tapi—"


"Mas! Aku bisa menjaga diri. Kalau aku terus-terusan dikurung dalam rumah, aku tidak akan melihat perubahan kota." Aru beralibi.


Dirga terkekeh pelan mendengar alasan yang Aru berikan. "Mengaji di rumah bukan berarti kamu tidak bisa keluar apartemen sepenuhnya, Sayang. Kamu masih bisa keluar bersamaku. Seperti berbelanja bulanan dan pergi jalan-jalan," tawar Dirga mengiming-imingi hal manis.

__ADS_1


Aru menggeleng kencang. "Tidak, Mas. Aku ingin menyelesaikan kitab yang sudah aku pelajari bersama Umi Hafizdah. Aku sudah bertekad untuk menyelesaikan dalam waktu satu bulan. Agar ketika kamu wisuda, aku bisa sepenuhnya memberikan waktu untukmu."


Mendengar itu, Dirga pun tak bisa menolak. Istrinya sudah mengatur waktu dengan sebaik-baiknya rencana. Dia tidak ingin mengacaukan dan membuat rencana itu berantakan. "Baiklah. Semua terserah padamu. Aku hanya memberi saran. Yang penting, kamu harus tetap menjaga diri dengan baik ketika aku tidak ada di samping kamu."


Aru mengangguk paham. Bersamaan dengan itu, bel apartemen berbunyi menandakan ada seseorang di depan sana. "Mungkin itu Mama dan Papa, Mas," ucap Aru dan Dirga bergegas membukakan pintu.


Benar saja, Papa Javas dan Mama Kalea muncul setelah beberapa detik suaminya berlalu. Dua orang tua itu langsung menuju kamar untuk menemui putri tercintanya.


"Aru! Kamu tidak apa-apa kan? Huh! Mama khawatir sekali akan kesehatan kamu. Mama ingin datang kemarin tetapi Papamu mencegahnya. Alhasil, Mama tidak bisa tidur semalaman," ucap Mama Kalea panjang lebar.


Tampak jelas dari raut wajah, Mamanya itu begitu khawatir akan kondisi sang Putri. Aru tersenyum dan membalas pelukan mamanya. "Aku tidak apa-apa, Ma. Tinggal pegal-pegal saja kok. Mama tidak perlu khawatir karena Mas Dirga mengurus Aru dengan baik." Aru mencoba menenangkan sang Mama.


Papa Javas dan Dirga muncul tidak berapa lama. Mama Kalea menatap Dirga dengan senyum terbaiknya. "Terimakasih, Dirga. Kamu sudah menjaga Aru dengan baik," ucap beliau lembut.


Mama Kalea menganggukkan kepala lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Aru. Beliau menelisik penampilan anaknya dari ujung kaki hingga kepala. Hingga Aru merasa risih dan memilih berkata. "Aku tidak apa-apa, Ma. Tidak kurang sedikitpun akibat tersandung kemarin. Aku masih utuh," ucap Aru terkekeh sendiri melihat kecemasan sang Mama.


Tak.


Aru seketika mendapat jitakan di kening, hadiah dari sang Mama. "Kamu bilang tidak apa-apa? Lalu, mengapa tubuh kamu nyeri semua? Apakah itu definisi tidak apa-apa?" omel Mama Kalea dengan mata melotot tajam.


Aru meringis merasakan kebas di keningnya. "Mama kasar sekali sih! Sakit, Ma!" protes Aru sambil mengusap keningnya sendiri.


"Dih, Lebay! Bersiaplah. Tukang pijatnya sebentar lagi tiba. Sekalian Mama mau pijat lelah juga. Mama sudah sewa dua orang untuk datang," jelas Mama Kalea yang seketika mendapat perhatian dari dua laki-laki yang berada dalam kamar.

__ADS_1


Posisi Aru dan Mama Kalea masih berada di balkon. Namun, suara Mama Kalea terdengar jelas karena pintu geser yang terbuat dari kaca itu kini sedang terbuka sempurna.


"Tukang pijatnya laki-laki atau perempuan, Ma?" tanya Papa Javas penuh selidik.


Mama Kalea tertawa begitu juga Aru. Dia percaya jika sang Mama tidak akan memesan tukang pijat pria. Namun, papanya memang tipe suami tukang cemburu.


"Ya perempuan lah, Pa. Tidak mungkin Mama meminta tukang pijat laki-laki. Itu tidak dibenarkan dalam agama," jawab Aru menenangkan sang Papa. Namun sebenarnya, Aru telah menenangkan dua pria sekaligus.


Papa Javas dan Dirga menghela napas lega hampir bersamaan. Keduanya berjalan mendekat dan bisa melihat dengan jelas jika dua perempuan berbeda generasi itu sedang mengerjai mereka.


"Bagus. Kalian harus menjaga martabat sebagai seorang perempuan," ucap Papa Javas sambil mengacungkan jari jempolnya.


"Ya sudah. Aru biar aku angkat ke kasur dulu ya, Ma, Pa? Aku kasihan karena sejak tadi Aru kesusahan berjalan," izin Dirga yang segera diangguki oleh keduanya.


Tidak berapa lama setelah Aru dibaringkan, tukang pijat datang. Papa Javas dan Dirga terpaksa keluar untuk membiarkan dua wanita itu menghabiskan waktu bersama.


"Aw!" pekik Aru ketika tukang pijat itu mulai menjalankan aksinya.


"Aw! Aw! Pelan-pelan, Bu! Ini sakit sekali!" pekik Aru tidak sanggup menahan rasa nyeri akibat sentuhan pijat itu.


Mama Kalea yang sedang pijat refleksi, hanya tersenyum manis sambil memejamkan mata. "Nikmatilah, Aru. Sakitnya hanya sebentar. Nanti, tubuh kamu akan terasa bugar," ucap beliau lembut.


Aru berdecak sebal. Jika dipijat urut akan sesakit ini, dia tidak akan dengan mudah menerima tawaran sang Mama. Bayangan pijat refleksi nyatanya tidak benar-benar ada. Yang ada, Aru harus berusaha menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Sedangkan dua pria yang berada di luar kamar, hanya mampu meringis mendengar suara Aru yang berteriak kesakitan. "Sepertinya, Aru memiliki luka dalam," tebak Papa Javas dan Dirga mengangguk membenarkan.


__ADS_2