
Kabar tentang Aru tersandung pun terdengar sampai ke telinga Papa Javas dan Dirga. Keduanya langsung menuju pesantren untuk mengecek kondisi Aru secara langsung.
Karena kondisi Aru yang tidak memungkinkan untuk ikut pelajaran, Umi Hafidzah memberi keringanan agar Aru beristirahat saja hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Mbak Zahra baru saja keluar dari ruang yang seperti UKS karena ada beberapa hal yang harus diurus.
Umi dan Abah selaku pemilik pondok meminta maaf kepada Aru atas ketidak-nyamanan yang terjadi. Aru tidak masalah dan tidak mempermasalahkan.
Menurut cerita Mbak Zahra, laki-laki yang menginterupsi siang tadi adalah Gus Zain, anak dari Umi Hafizdah dan Abah Muntaha. Beliau baru saja pulang dari kota Tarim demi menyelesaikan pendidikan.
Aru yang sedang berbaring karena tubuhnya terasa sakit semua, menoleh terkejut kala pintu ruangan terbuka cukup tergesa-gesa. Aru semakin terkejut ketika yang datang adalah Dirga dan Papa Javas lengkap dengan napas yang terengah-engah.
Aru mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna keadaan yang sedang dia alami. "Kalian ada di sini? Ngapain?" tanya Aru polos ketika dua pria beda generasi itu duduk di sisi brankar.
Papa Javas menjitak kening putrinya. "Melihat keadaan kamu lah. Pak Kyai yang memberitahukan jika kamu baru saja mengalami kecelakaan kecil. Mana yang sakit?" cecar Papa Javas tampak khawatir.
Aru tersenyum. "Cuma biru-biru dan pegal sedikit, Pa. Papa tidak perlu khawatir," jawab Aru mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang melihat kamu terbaring kesakitan seperti ini? Aku tidak bisa berpikir waras," kesal Dirga sambil mengusap wajahnya kasar.
Papa Javas mengangguk membenarkan. "Siapa pelakunya?" tanya beliau.
Aru menggelengkan kepala. "Tidak ada, Pa. Ini hanya kecelakaan kecil yang tidak sengaja. Jangan memperbesar masalah seperti ini. Rasanya tidak baik," jawab Aru tidak ingin berterus terang tentang kejadian yang sebenarnya.
"Benar? Ini hanya kecelakaan tanpa ada unsur kesengajaan?" Dirga masih belum percaya dengan ucapan istrinya.
Aru memberi kode agar Dirga tidak bertanya lebih ketika ada sang Papa. Beruntung, Dirga mengerti dan menghela napas pelan. "Baiklah. Kita pulang saja ya? Aku akan meminta izin pada pengurus agar kamu dibolehkan pulang lebih cepat?" tawar Dirga yang disetujui oleh Papa Javas.
"Papa setuju. Papa tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi. Kita pulang saja ya? Besok kalau kondisinya sudah membaik, kamu boleh datang lagi." Kini giliran Papa Dirga yang membujuk.
Karena merasakan sakit di sekujur tubuh, Aru pun mengangguk patuh. Dia ingin beristirahat di rumah dengan tenang.
"Kamu bawa Aru pulang, Ga. Papa yang akan mengurus izinnya," ucap Papa Javas berkompromi.
__ADS_1
Dirga mengangguk dan mengucapkan terima kasih karena ayah mertuanya itu sangatlah pengertian. "Terima kasih, Pa. Maaf jadi merepotkan Papa," ucap Dirga merasa tidak enak hati.
"Tidak perlu berterima kasih. Bawa Aru pulang dan suruh istirahat. Jika tidak mau, paksa dia sampai terlelap," titah beliau yang seketika membuat bibir Aru mengerucut kesal.
"Kami pulang dulu, Pa," pamit Dirga lalu menggendong Aru ala bridal style, keluar dari area pondok.
Aru yang merasakan tubuhnya seperti melayang, memekik tertahan tetapi langsung mengalungkan lengan di leher suaminya. Sesampainya di mobil, Dirga langsung membawa Aru pulang.
..................
Rutinitas melelahkan hari itu berhasil Aru dan Dirga lalui. Setelah selesai sholat isya', Aru dan Dirga memilih duduk di sofa dimana di depannya terdapat televisi dengan layar empat puluh dua inci.
Aru masih diam dan enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Dia takut suaminya tidak akan percaya karena hal ini menyangkut tentang Sisil.
"Masih belum mau mengatakan yang sebenarnya?" tanya Dirga sambil mengoleskan salep ke siku Aru yang memar.
"Memangnya, kalau aku bicara yang sesungguhnya, Mas akan percaya?" tanya Aru meragu.
Dirga menghela napas kasar. Hal apa yang membuat Aru sampai tidak percaya diri ketika harus mengungkapkan yang sebenarnya. "Aku percaya kamu. Kamu yang paling aku percaya." Dirga meyakinkan sang Istri.
Alis Dirga tampak bertaut. Tidak ingin mempercayai ucapan sang Istri. Namun, mengingat jika Aru tidak mungkin mengarang cerita, dia mencoba percaya.
"Kenapa wajahnya seperti itu sih, Mas? Tuh kan, kamu tidak percaya. Makanya aku malas cerita," kesal Aru lalu membuang pandangan pada acara televisi yang menayangkan film drama Korea. Bibirnya sudah mengerucut lucu. Menggambarkan betapa kesalnya Aru saat itu.
"Itu tidak benar. Aku hanya sedang mencernanya. Dengan tujuan apa Sisil melakukan ini padamu? Dia suka padaku? Mungkin itu benar. Aku bisa merasakannya," jawab Dirga yang membuat telinga Aru rasanya sakit.
Dia melotot tajam pada suaminya yang tidak pandai menjaga perasaan. "Bangga ya bisa disukai oleh wanita berpendidikan tinggi dan memiliki ilmu agama yang baik," sindir Aru lalu berniat pergi dari sana.
Namun, keinginannya terhenti kala merasakan sentuhan di lengannya. Ketika menoleh, Dirga menatap Aru penuh permohonan. "Jangan pergi dulu. Kita belum selesai berbicara," pintanya lembut.
Terpaksa, Aru kembali duduk dan berucap. "Apa sih, Mas? Kamu pikir, aku tidak sakit hati ketika kamu menyebutkan nama wanita lain di hadapanku? Mudah sekali kamu melakukannya," kesal Aru yang matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Dirga tentu terkejut dengan perubahan mood Aru yang berantakan. "Loh. Maafkan aku, Sayang. Bukan seperti itu maksudku. Iya, aku sadar jika dia mungkin menaruh rasa padaku. Tetapi, mau seperti apapun dia, aku tidak tertarik. Karena aku sudah memiliki seseorang yang jauh lebih baik. Yaitu, kamu."
Aru membuang muka. Tidak ingin mudah luluh dengan rayuan suaminya. "Aru Sayang?" panggil Dirga lembut sambil memeluk tubuh sang Istri dari samping.
"Katakan semuanya. Mulai besok, aku akan berhati-hati agar kejadian seperti tadi tidak lagi terulang. Aku tidak mau jika kamu sampai kenapa-napa. Keselamatan kamu adalah nomor satu bagiku," ucap Dirga mulai berbicara serius.
Aru menghela napas dan menatap suaminya. Dia mulai menceritakan kejadian tadi siang yang telah menimpanya. Tidak ada yang dilebih-lebihkan. Aru menceritakan dengan apa adanya tanpa ada yang dikurangi.
Setelah mendengar penuturan sang Istri, Dirga pun merenunginya. Ini tidaklah mudah karena masih dalam lingkungan pondok. Dirga juga tidak bisa meminta Pak Kyai atau Bu Nyai untuk memberhentikan Sisil hanya karena telah bersikap buruk pada Aru. Itu bukan wewenangnya.
"Apa yang kamu harapkan untuk aku lakukan?" tanya Dirga meminta pendapat Aru.
Aru menggeleng. "Tidak ada yang perlu dilakukan, Mas. Aku tidak masalah selagi hal itu masih taraf wajar. Jika sudah keterlaluan, aku juga tidak akan tinggal diam," jawab Aru tenang.
Dirga tersenyum bangga. Sikap istrinya memang luar biasa. "Tuh kan, jadi semakin cinta akunya," goda Dirga lalu melabuhkan kecupan di pipi istrinya.
Bukannya meleleh, Aru justru mencebikkan bibir lalu berucap. "Kamu tuh mulai pintar merayu ya, Mas. Belajar dari mana?" cecar Aru dengan tatapan penuh selidik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...sssst.......
...mau umumin visual nih. ...
...1. Arunika 👇...
...2. Dirgantara Mahesa pas MASIH BERMULUT PEDAS...
__ADS_1
...PAS UDAH JINAK🤣👇...