
Aru bersyukur karena Tuhan masih melindungi dirinya. Setelah menghentikan sebuah taksi, Aru bergegas mengatakan alamat rumahnya. Dia bisa bernapas lega ketika sudah berada di tempat yang aman. Dia berharap, semoga Yoda bisa mendapatkan pelajaran.
Aru mencari keberadaan ponsel dan mendapatkannya di tas yang dia bawa. Setelah membuka layar kunci, nama suaminya yang terpampang di sana. Ada puluhan kali panggilan dari Dirga.
"Maafkan aku, Mas. Kamu pasti sangat khawatir. Aku akan jelaskan semuanya setelah kita bertemu," gumam Aru sambil berusaha menghubungi Dirga balik.
Namun, panggilan itu hanya berakhir tidak terjawab. Ketika melihat jam di ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Aru menghela napas kasar. Dia gelisah menanti taksi yang ditumpanginya tak kunjung sampai.
"Bisa lebih cepat, Pak? Saya buru-buru soalnya," pinta Aru sopan.
"Baik, Nona. Akan saya naikkan kecepatannya."
Beruntung, jalanan sudah tampak lengang. Jadi, hanya membutuhkan waktu dua puluh menit, Aru sampai di lobi apartemen. Setelah membayar tagihan, dia berjalan terburu-buru menuju unit apartemennya.
Besar harapan jika suaminya itu berada di rumah. Jika tidak, Aru akan mencari bantuan pada papanya. Aru menekan kode enam digit di papan tombol pintu apartemen. Lalu, pintu pun terbuka dan menampakkan kondisi ruangan yang begitu berantakan.
Aru menelan saliva dan berjalan pelan menelisik sekitar. "Mas? Kamu di rumah kan?" ucap Aru mencoba mencari keberadaan suaminya.
Tidak menemui Dirga di ruang tamu, dia berjalan menuju kamar. Saat pintu terbuka, Aru bisa melihat kondisi kamar tak jauh berbeda dari ruang tamu. Lalu di sudut ruangan, Aru melihat Dirga yang duduk di lantai sambil menghisap batang nikotin.
"Mas! Kamu kenapa?" tanya Aru panik lalu merebut rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah Dirga.
Suaminya itu menatap Aru tajam. Setelah itu, berganti dengan tatapan dingin dan penuh intimidasi. Aru mengerjapkan mata gugup. Dirga seperti kembali menjadi dia di masa lalu.
"Mas?" panggil Aru lembut karena sejak tadi Dirga hanya diam. Aru berjongkok dan berniat menyentuh jemari sang Suami, tetapi Dirga langsung menepisnya.
Tentu saja Aru terkejut. "Kamu kenapa sih, Mas? Kamu marah? Aku bisa jelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kamu duga," ucap Aru mencoba meyakinkan suaminya.
Mengabaikan ucapan sang Istri, Dirga justru mengulurkan ponsel miliknya yang sudah menampilkan sebuah video dirinya dengan seorang laki-laki. Video itu memperlihatkan tangan Aru yang digenggam oleh pria yang tidak lain adalah Yoda.
__ADS_1
Aru menutup mulut tidak percaya. Walau sudah menghapus video masa kelamnya, Yoda masih memiliki cara untuk mengoyak rumah tangganya. Entah Aru harus bersyukur atau mengeluh. Ini sama saja musibah.
"Aku bisa jelaskan, Mas. Aku dipaksa saat itu." Aru mencoba menjelaskan dengan pelan.
Dirga tersenyum miring. "Apa yang akan kamu jelaskan? Seorang istri bepergian bersama laki-laki lain yang bukan mahram. Apalagi sampai berpegangan tangan. Kalau kamu belum selesai dengan masa lalu, katakan sejujurnya padaku. Kalau kamu ingin kembali padanya, katakan. Jangan buat aku menunggu yang berujung sia-sia," ucap Dirga bagai sebuah belati yang menikam dada Aru.
Deg.
"Aku bisa jelaskan, Mas. Aku dipaksa oleh Yoda. Aku terpaksa melakukannya atau—"
"Atau apa? Atau kamu akan kehilangan dia untuk selamanya?" sela Dirga terkekeh getir.
"Aku tidak menyangka jika kamu tega melakukan ini padaku. Pergi bersama laki-laki lain di saat aku sedang bersusah payah untuk menjemputmu. Kamu tidak tahu perjuanganku agar bisa sampai di pesantren sore tadi. Setibanya di sana, justru aku mengetahui sebuah fakta yang menyakitkan," gumam Dirga lagi.
"Dengarkan aku dulu, Mas. Jangan menyimpulkan sebelum tahu kebenarannya," ucap Aru begitu sesak dalam dada. Dia ingin menjelaskan semuanya. Namun, semua kata yang telah disusun, hanya berakhir dalam pikiran dan tidak pernah bisa keluar menjadi perwujudan yang sempurna.
Lidah Aru terasa kelu dengan tenggorokan yang tercekat. Sesak sekali tidak dipercaya oleh suaminya. Padahal, Aru juga berjuang agar bisa kembali menemui Dirga.
Bahu Aru merosot mendengar pengakuan suaminya. Sisil? Yoda? Apakah dua manusia itu sedang bekerja sama? Aru berdiri dan menjauhi Dirga. "Lagi-lagi kamu lebih percaya pada orang lain. Aku kecewa padamu, Mas," ucap Aru dengan air mata yang berlinang.
Dirga ikut berdiri dan menatap Aru. "Aku lebih kecewa! Dimana janji kamu dulu yang mengatakan ingin menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik? Dimana?! Nyatanya, kamu belum benar-benar selesai dengan masa lalu. Aku telah salah mencintai mu sebesar ini. Harusnya tidak aku berikan semua rasa ini untukmu," sesal Dirga.
Aru ingin sekali memeluk tubuh kekar yang kini sedang menatap dirinya penuh luka. Apakah dia telah melukai perasaan suaminya? Aru menggelengkan kepala. "Aku dipaksa, Mas. Aku dipaksa untuk ikut bersama Yoda. Aku tidak tahu jika Mbak Sisil mengambil kesempatan itu untuk ditunjukkan padamu," jelas Aru memohon pengertian sedikit saja.
Ruangan pun dipenuhi oleh suara isakan dari Aru dan Dirga. Kesalahpahaman dan over thinking yang membuat situasi semakin rumit.
Cukup lama keduanya terdiam hingga Aru memilih mendekat lebih dulu. Dia berniat menyentuh jemari Dirga tetapi langsung ditepis oleh suaminya. Sakit sekali mendapat penolakan oleh suaminya sendiri.
"Jangan sentuh tangan ku dengan tangan kotor mu itu. Aku sudah tidak mau." Ucapan Dirga membuat Aru tersenyum dengan linangan air mata.
__ADS_1
Definisi menangis sambil tersenyum ternyata begitu menyayat hati. Keadaan tidak benar-benar membaik dengan adanya senyuman tersebut.
Aru mendongak, menatap Dirga yang justru membuang muka. "Kita bicarakan ini baik-baik, Mas. Jangan seperti ini," ucap Aru mencoba menyadarkan. Mengabaikan kalimat kasar yang keluar dari bibir suaminya.
"Lalu, kamu ingin aku menerima pengkhianatan ini, begitu? Dan menerima kamu lagi, lalu memaafkan mu? Kamu tidak tahu rasa sakit seperti apa yang kini menyerang batinku," jawab Dirga. Pipinya sudah basah akibat diguyur hujan dari bendungan kelopak mata.
Hati Aru ikut merasakan sakitnya. Tangisnya semakin sesenggukan meratapi takdir yang sedang mempermainkan bahtera rumah tangganya.
"Dengar ini baik-baik," ucap Dirga menatap Aru.
Aru menunggu hal apa yang akan Dirga katakan. Dia hanya berharap semoga Dirga tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
"Hari ini, aku Dirgantara Mahesa, memberikan kamu talak."
Bagai ada sebuah petir yang menyambar, perkataan terakhir Dirga membuat nyawa Aru bagai melayang. Aru menutup telinganya erat. Berharap jika kata itu hanyalah halusinasi atau sekedar candaan dari Dirga.
"Aku tidak mendengar apapun. Dan aku tidak ingin mendengarnya. Harusnya, kamu tahu efek dari ucapanmu itu," racau Aru yang tubuhnya limbung.
Ingin marah? Namun pada siapa? Kecewa? Tentu saja. Dirga memutuskan semua secara sepihak. Suaminya itu tidak mau mendengar penjelasan darinya lebih dulu.
"Aku sudah sadar sepenuhnya. Jadi, segera kemasi barang-barang kamu. Akan aku kembalikan kamu pada orang tuamu malam ini," ucap Dirga lagi yang membuat keseimbangan tubuh Aru terganggu. Telinganya terasa berdenging. Menolak kenyataan yang ada.
Aru terduduk di lantai dengan hati yang bergemuruh. "Semudah itu kamu mengucap kalimat pisah? Dimana janji kamu yang akan membahagiakan aku. Bahkan, kamu berjanji di hadapan Papa dan banyak orang, termasuk Allah. Kamulah Pengkhianat sesungguhnya," ucap Aru penuh luka.
"Jika itu maumu, aku akan pergi, Mas. Semoga dengan kepergianku, hidupmu bisa lebih bahagia. Aku hanyalah beban dan istri yang merepotkan." Setelah berucap demikian, Aru benar-benar mengemasi pakaiannya.
Bodohnya Aru yang masih berharap Dirga akan mencegah. Kenyataannya, Dirga memilih turun lebih dulu menuju basemant. Seakan tidak tahan ingin membuang Aru dari hidupnya.
"Aku harap kamu berubah pikiran sebelum kita sampai di rumah Papa," ucap Aru menatap kosong jalanan di depannya. Mobil telah melaju beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Dirga hanya setia dengan diamnya. Aru memejamkan mata dan menyandarkan kepala pada kaca di sampingnya.
'Ya Allah. Mengapa semua jadi seperti ini? Kenapa Ya Allah,' gumam Aru merasakan sakit yang begitu dalam.