Hijrah Cinta Arunika

Hijrah Cinta Arunika
Bab 29. Keluarga cemara


__ADS_3

Akhirnya, setelah bergelut dalam kemacetan di daerah puncak gunung, satu keluarga itu tiba di sebuah villa yang Papa Javas sewa. Mereka berangkat pukul tiga sore dan baru sampai pukul sembilan malam. Perjalanan yang sangat melelahkan tetapi akan terbayar dengan ketenangan dan dinginnya di area ketinggian tersebut.


"Alhamdulillah, Akhirnya sampai juga," gumam Aru yang kini sudah merebahkan diri di sofa bed yang terletak di depan televisi. Abi juga melakukan hal yang sama dengan merebah di sofa bed satunya lagi.


Mama Kalea yang melihat itu, hanya geleng-geleng kepala dan segera memasukkan barang bawaan. Sedangkan Papa Javas, dia yang bertugas menurun barang bawaan dari mobil.


"Bantu Mama dulu deh," ucap Aru yang menyadari sang Mama sedang kesusahan menyeret koper menuju kamarnya.


"Abi! Bawa koper kamu sendiri. Kasihan Mama," pinta Aru dan Abi pun bangkit walau tampak ogah-ogahan saat melakukannya.


"Sayang sekali jauh-jauh kesini cuma mau tidur. Lebih baik kita barbeque-an, Pa," ucap Aru memberi saran.


Villa yang mereka sewa ada dua lantai dan empat kamar tidur berserta kamar mandinya. Terbilang mewah dan layaknya rumah pada umumnya. Hanya saja, bangunan itu terletak di perbukitan yang membuat suasana terasa berbeda.


Aru mendapat kamar di lantai atas begitu juga Abi. Sedangkan Papa dan mamanya memilih untuk tidur di kamar yang terletak di lantai bawah.


"Ya sudah. Kita belakang yuk! Katanya ada pemanggang menurut petugas villa," ajak Papa Javas yang memilih bangkit lebih dulu dari sofa.


Aru begitu antusias dan mengikuti papanya. Sedangkan Abi dan Mama Kalea, masih bertahan di posisi semula dengan mata uang menatap layar televisi.


"Abi?" panggil Mama Kalea lembut.


"Kenapa, Ma?"


"Kakakmu sedang ada masalah dengan Kak Dirga. Bisa Mama minta tolong padamu?" tanya Mama Kalea lembut.


Abi tampak terkejut. Dia sampai bangkit agar bisa mendengar dengan baik penjelasan sang Mama. "Tapi kenapa, Ma? Apa masalahnya sangat serius?" tanya Abi penasaran.

__ADS_1


Mama Kalea menggeleng. "Mama tidak tahu. Sebaiknya kita jangan lupa terlalu ikut campur kecuali kak Aru yang meminta bantuan. Kamu tahu bagaimana Papa kamu kan?" tanya Mama Kalea lagi dan Abi mengangguk membenarkan.


"Papa pasti akan benci dan marah dengan Kak Dirga jika sampai tahu anaknya disakiti," lanjut Abi yang sangat paham akan tabiat sang Ayah.


"Makanya itu, mama lebih baik tidak tahu masalahnya. Karena Mama juga ikut sakit hati seandainya benar Dirga menyakiti kak Aru. Mama tidak tahu siapa yang salah dan benar. Tetapi, Mama harap kita bisa menjaga perasaan Kak Aru agar selalu bahagia bersama kita. Caranya, kita harus penuhi hidup kak Aru dengan kebahagiaan," jelas Mama Kalea yang langsing dipahami oleh Abi.


"Abi sih ikut senang kalau disuruh hibur kak Aru. Kan Abi juga ikut diberi uang jajan," jawab Abi dengan senyum jumawanya.


Mama Kalea mencebikkan bibirnya. "Tidak kamu, tidak Aru, sama saja kalian ini. Suka sekali memeras uang Papa," gerutu beliau dan meninggalkan Abi yang masih terbahak-bahak.


Keesokan harinya, Aru diajak oleh keluarganya untuk mengunjungi taman safari. Dengan menggunakan mobilnya, Aru diajak berkeliling melihat satwa liar yang tinggal disana.


"Kenapa Papa mengajak Aru kesini sih? Aru dan Abi bukan anak kecil lagi," protes Aru sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Tidak apa-apa lah, Kak. Hitung-hitung mengenang masa kanak-kanak," jawab Abi santai.


"Kamu merasa tidak sih, jika saat ini kitalah yang ditonton oleh mereka? Kitalah yang sedang melihat mereka? Karena kita yang dikurung sedangkan mereka yang yang hidup bebas." Pertanyaan Aru membuat semua yang ada di mobil tertawa.


"Benar juga, Kakak. Itulah kenapa ada pepatah roda itu berputar. Mungkin, inilah yang para satwa liar rasakan ketika harus berada di dalam kandang," jawab Abi yang mendadak kritis.


Mama Kalea yang mendengar percakapan dua anaknya, hanya menggelengkan kepalanya pelan. Abi memang luar biasa karena bisa menghibur kakaknya dengan baik.


"Lihat tuh, Bi. Mirip kamu kan?" celetuk Papa Javas tiba-tiba.


Semua sontak menoleh ke arah dimana sang Papa menunjuk. Ternyata, ada dua Simpanse, hewan primata yang hampir menyerupai manusia, sedang duduk di ranting pohon sambil mencari kutu di kepala Simpanse di depannya.


"Oh iya, Pa. Yang depan itu Kak Aru, yang sedang dicari kutunya," jawab Abi mengikuti alur candaan sang Papa.

__ADS_1


Tawa pun menggelar di mobil yang Papa Javas kendarai. Tak terkecuali Aru yang ikut tertawa lalu mengimbuhi. "Nah, kalau itu Mama dan Papa yang sedang mojok berduaan."


Semua mata tertuju pada Simpanse yang Aru tunjuk. Iya. Ada dua Simpanse yang bersembunyi dibalik batu dan sedang bersama. Tawa kembali meledak.


"Oh iya. Kak Aru benar juga. Kalau kita anak kera, Papa dan Mama kita juga dari golongan kera," ucap Abi menyetujui ucapan sang Kakak.


Mama Kalea ikut tertawa sedangkan Papa Javas justru mencebikkan bibirnya kesal. "Berani kamu ya, mengatai Papa mirip Simpanse," ucap Papa Javas pura-pura marah.


"Loh! Kak Aru benar, Pa. Kita adalah satu keluarga dari jenis yang sama," celetuk Abi lagi-lagi membuat tawa Aru dan Mamanya meledak.


Tidak terasa, Aru hampir melupakan Dirga seharian ini karena hiburan yang diberikan keluarga untuknya. Aru juga kembali tertawa bahagia ketika berada di dekat keluarganya.


Namun, tawa itu terasa kurang karena keberadaan Dirga sudah membuat Aru terbiasa. Kini, tanpa hadirnya laki-laki itu, hati Aru terasa kosong dan hampa.


"Jangan melamun dong, Kak. Aku sedang berusaha jadi Cak Lontong demi Kak Aru ini," ucap Abi yang menyadari jika kakaknya kembali melamun.


Aru menoleh terkejut. Adiknya itu sangat peka dengan orang-orang sekitar. Aru berpikir, tidak akan ada yang menyadari jika dirinya sedang melamun. "Kata siapa? Aku tidak melamun," elak Aru mencoba kuat.


Helaan napas kasar terdengar dari kursi di depannya. "Lupakan rasa sedihmu dulu, Sayang. Kamu harus bahagia," ucap Mama Kalea lembut.


"Apa laki-laki itu menyakiti kamu? Jika iya, katakan pada Papa. Papa yang akan hadapi dia," ucap Papa Javas siap pasang badan.


Mata Aru berkaca-kaca mendengar semua keluarga ada di pihaknya. Namun, Aru tidak akan membuat nama Dirga sampai buruk di depan semua orang. Hanya Aru yang boleh tahu sikap buruk suaminya. Karena bagaimanapun, Aru mengamalkan ajaran tentang tidak boleh membicarakan kejelekan suami pada siapapun, atau Aru yang akan berdosa.


Sebagaimana yang telah Aru pelajari di pondok pesantren, jika suami menjatuhkan talak satu, masih ada dua kali kesempatan agar hubungan itu resmi terputus atau bercerai. Aru berharap, Dirga tidak akan mengucapkan kata itu hingga tiga kali.


Hingga saat ini, Dirga masih menjadi suaminya. Jadi, Aru tidak boleh menyebutkan kejelekannya. Bagaimanapun, Dirga juga manusia biasa, tempatnya salah dan dosa.

__ADS_1


"Tidak ada, Pa. Kami hanya harus diberi waktu untuk berpikir lebih jernih. Papa dan Mama tidak perlu tahu selagi Aru masih sanggup memikulnya sendiri. Kalau Aru sudah tidak sanggup, Aru pasti cerita ke mama dan Papa."


__ADS_2