
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
Jam sepuluh lewat delapan. Zayn yang sejak tadi pagi tidak ada istirahat. Akhirnya sudah selesai memeriksa semua pekerjaannya. Saking seriusnya dia sampai lupa untuk sarapan.
Mungkin faktor utamanya bukan hanya pekerjaan saja. Akan tetapi karena pikirannya terkadang tidak menentu. Siapapun yang berada diposisi dirinya sudah pasti akan merasakan hal yang serupa.
Hampir tiga tahun menjalin kasih. Tahu-tahunya sang kekasih malah menduakan bersama sahabatnya sendiri. Lebih parahnya mereka sudah melakukan perbuat yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pasangan yang bukan muhrim.
Hari dimana dia mau melamar. Harus dihadapi dengan kenyataan pahit seperti yang ia rasakan.
"Huh!" kembali menghembuskan nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar. "Tidak! Aku tidak mau menemuinya," ucap Zayn sendiri.
Lalu karena ingin menghilangkan rasa jenuhnya. Zayn mengeluarkan buku diary sang istri dari saku jasnya yang ada dibagian dalamnya.
"Mana tahu bisa mendingan setelah membaca cerita konyol Fira," ucapnya sedikit menyugikkan senyumannya. Namun, entah senyuman mengejek, atau sebuah senyuman senang.
...DEAR, Shafira Sakina Mecca......
"Subhanallah aku menyukainya." tulis Fira pada bagian atas lembaran kertas tersebut.
"Siapa yang dia suka?" tanya Zayn mengepakkan tangannya sendiri. "Berani sekali dia curhat dibuku seperti ini," menggerutu sebelum membaca lagi tulisan dibagian bawahnya.
..."Jangan hitung berapa kali orang lain menyakitimu. Tapi hitunglah berapa kali kau menyakiti dirimu sendiri dan meninggalkan Allah. Padahal Allah tidak pernah meninggalkan dirimu. Meskipun kamu selalu berbuat salah."...
Zayn mulai membaca tulisan istrinya. Entah mengapa baru membaca bagian awal dia merasakan desiran aneh dihatinya.
..."Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta, masih ada kekayaan jiwa dan dalam kesulitan hidup mu pada ujian yang Allah berikan. Ada terselip kebaikan disana. Karena jika tidak dengan diberikan ujian. Maka kamu tidak tahu apa yang akan terjadi untuk kedepannya."...
Pemuda tersebut melonggarkan dasi pada lehernya dan sedikit menurunkan bagian belakang kursi yang ia duduki. Zayn ingin membaca dengan serius.
..."Teman yang paling akrab adalah amalan, karena ia yang akan menemanimu sampai akhirat. Jadi mau sesibuk apapun pekerjaan mu. Selalu sempatkanlah diri untuk beribadah."...
"Kenapa setiap kata-kata ini membuatku merasa jika semuanya ditulis untukku?" ucap Zayn sebelum melanjutkan membaca lagi.
..."Bahasa yang paling manis adalah senyuman. Ibadah yang paling indah adalah khusyu saat mengerjakannya." Fira menulis singkat dan tidak ada lagi tulisan di lembaran tersebut....
__ADS_1
Sehingga Zayn langsung membuka lembaran berikutnya.
"Aku tidak tahu jika dia suka menulis seperti ini." ucap Zayn dengan konyolnya. Bagiamana mungkin dia akan tahu. Sedangkan mereka tidak tinggal satu kamar.
"Bismillahirrahmanirrahim. Teruntuk diri sendiri." Tulis Fira di lembaran berikutnya.
..."Apabila nafsu mengajarkanmu untuk membicarakan aib orang lain. Maka ingatlah! Bahwa mungkin saja aib mu lebih besar dari orang yang kamu bicarakan. Hanya saja Allah menyembunyikan kejelekan mu." saat membaca tentang aib, Zayn terdiam dan membacanya berulang-ulang....
Entah mengapa tiba-tiba pemuda itu baru menyadari jika dirinya memiliki aib yang lebih besar daripada siapapun.
..."Jika kamu tidak tahan untuk belajar supaya bisa menjadi orang yang lebih baik. Maka bersiaplah untuk merasakan pahitnya sebuah penyesalan. Semua orang tidak tahu, semua orang bodoh akan segalanya. Namun, bila niat lebih besar daripada nafsu untuk melakukan keburukan. Pasti tidak akan sulit untuk dirubah."...
Setelah menyerap setiap bait tulisan sang istri. Zayn kembali membaca tulisan berikutnya.
..."Orang lain tidak perlu tahu seberapa banyak kamu beribadah. Jadi lakukanlah semuanya karena niatmu yang ingin menjadi lebih baik lagi. Bukan karena ingin dipuji." ...
"Jadi sebenarnya Fira memang gadis baik-baik. Bukan karena ingin dipuji oleh orang lain. Hanya aku saja yang berprasangka buruk padanya." ucap Zayn menutupi mukanya dengan buku tersebut.
Pikirannya sekarang menjadi bercabang-cabang tidak karuan dan juga membayangkan wajah Fira yang pernah menagis karena dia menghina gadis itu.
"Tapi apa yang aku lakukan adalah hal wajar, karena wanita yang sudah hidup bersamaku beberapa tahun saja. Telah membohongiku." ucap Zayn meminum air mineral di hadapannya dan kembali lagi membaca buku tersebut.
Zayn membaca lagi tulisan berikutnya dengan pikiran kembali tidak menentu.
..."Dunia sangat sederhana untuk dijadikan kebahagiaan. Lama-kelamaan orang yang baik akan kelihatan indah dan bukan karena wajahnya yang berubah. Akan tetapi kebaikannya yang telah mengubah hati orang yang memandangnya. Ketahuilah payung memang tidak akan pernah bisa menghentikan hujan. Tapi dengan payung tersebut kita mampu berdiri di dalam hujan tanpa kebasahan. Jadi percayalah apapun takdir yang telah diberikan Allah kepadamu. Maka itulah yang terbaik untuk dirimu sendiri." ...
"Apakah degan ketahuannya keburukan Raisa. Sebetulnya karena Allah ingin menunjukan jika dia bukanlah yang terbaik untukku?" Zayn bergumam kecil dengan memikirkan ulang setiap kata-kata yang Shafira tulis.
..."Begitu pula dengan kesabaran. Ia mungkin tidak bisa memberikan kemenangan untukmu. Tapi dia bisa memberikan kita kekuatan untuk menghadapi berbagai cobaan. Ketahuilah, ketika Allah menurunkan ujian padamu dan cobaan. Maka bersamaan dibukanya pintu surga untukmu. Namun, dengan catatan bahwa apabila kamu berhasil melewati ujian tersebut degan sabar." ...
"Saat aku mengetahui Raisa mengkhianati hubungan kami. Aku ingin membalas semua perbuatannya dan aku berhasil melakukan semua itu. Apakah pada saat itu aku sedang diuji dan telah gagal pada saat ujian pertama diberikan padaku? tanya pemuda itu pada dirinya sendiri.
..."Apabila kita berhasil melewati semua ujian yang Allah berikan kepada kita. Maka semakin besar peluang kita untuk mendapatkan surganya. Kenapa ujian itu sangat berat? Karena hadiahnya adalah surga yang indah dan tentunya abadi." ...
Fira menulis lagi di lembaran buku berikutnya. Sudah lebih dari satu jam Zayn masih betah membaca buku diary istrinya.
"Astaghfirullah hal Azim! Ya Allah!" setelah beberapa tahun terakhir Zayn tidak pernah mengucapkan kata-kata tersebut. Hari ini dia kembali mengucapkannya dengan rasa menyesali semuanya degan perlahan.
..."Jika hari ini kita menganggap dunia itu nyata dan akhirat hanyalah sebuah cerita. Maka suatu saat kita akan mengakui bahwa akhirat itu nyata dan dunia hanyalah sebuah cerita. Jika kamu mengeluh dengan banyaknya ujian dan cobaan dalam hidupmu. Maka bersabarlah! Karena ujian dan cobaan tidak pernah abadi. Sedangkan surga nya Allah abadi, yang sudah dipenuhi dengan kenikmatan yang tidak pernah dirasakan olehmu saat di dunia." ...
"'Apa yang sudah aku lakukan?" ucap Zayn setelah membaca lagi.
__ADS_1
..."Ketahuilah hidup ini bukan tentang siapa yang terbaik. Tapi tentang siapa yang bisa terus berbuat baik. Karena jujur itu berat dan susah. Hanya orang-orang hebat saja yang bisa menjalankannya. Sebab terkada kita selalu berdo'a agar selalu diberikan kebahagiaan. Namun, yang datang malah sebaliknya." ...
"Benar juga, dulu saat aku masih berpacaran dengan Raisa, aku selalu berdo'a agar bisa membangun sebuah keluarga bersama gadis yang aku cintai. Akan tetapi semua do'a ku tidak ada yang Allah kabulkan. Maka dari itu aku sangat malas untuk melakukan perintahnya. Karena tanpa aku berdo'a saja semua kebahagiaan sudah aku rasakan."
Pemuda itu semakin menghubungkan setiap kata-kata Fira degan kehidupan yang sudah dia rasakan.
..."Saat kita mengharapkan cinta. Namun, terkadang yang datang adalah kesendirian. Saat kita butuh kekuatan, terkadang Allah beri kita ujian dan cobaan yang sangat berat, itulah dunia." Setelah termenung memikirkan dirinya. Zayn terus melanjutkan membaca buku tersebut....
..."Jika hati seperti awan, biarkan dia bergerak dengan keikhlasan. Bila hati seperti lautan, maka biarkan ia mengalir dengan kejujuran. Bila hati seperti pelangi, maka warnailah dia dengan kebahagiaan. Yaitu menerima setiap ujian yang Allah berikan kepada mu." ...
Zayn merasa saat membaca buku tersebut. Seperti mana sedang mendengarkan istrinya berbicara. Seakan-akan nya jika Shafira lagi menasehatinya secara langsung.
..."Apabila hatimu seperti rembulan. Maka hiasilah ia dengan kedamaian. Tapi bila hatimu terlukai, maka sembuhkanlah dia dengan saling memaafkan. Namun, apabila telah mati rasa. Maka hidupkanlah dengan mengingat nama Allah." ...
Tidak terasa karena terlalu larut membaca buku tersebut yang dia hubungkan dengan kehidupannya. Zayn telah melewati waktu hampir dua jam.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal Azim. Ya Allah... Ampuni aku," gumam pemuda itu yang tidak terasa meneteskan air disudut matanya.
"Jadi saat hantaman itu datang Allah sedang menguji diriku?" Zayn kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Sampai dia mendengarkan pintu ruangan kerjanya terbuka lebar oleh Aksa dan juga Edo. Ke-dua sahabatanya.
Melihat hal itu Zayn cepat-cepat menyimpan buku diary milik Fira ke dalam laci meja kerjanya.
"Huem, kenapa kalian sudah datang? Bukannya katamu tadi mau datang nanti saat jam makan siang, Aksa?" tanya Zayn yang berdehem terlebih dahulu.
Agar ke-dua sahabatnya tidak tahu jika dia baru saja meneteskan air mata yang entah sebagai bentuk penyesalan atas dosa yang telah dia lakukan. Atau menyesali perbuatannya yang telah menyakiti Shafira.
Sudah hampir jalan ke tiga bulan pernikahan mereka. Maka selama itu pula Zayn selalu menuduh istrinya degan berbagai macam hinaan.
Gadis itu tidak pernah ada benarnya. Zayn berasumsi sendiri bahwa Fira adalah gadis yang munafik. Seperti mana Raisa yang rajin sholat. Walaupun tidak memakai hijab. Namun, nyatanya wanita itu bukanlah gadis baik-baik seperti yang ia pikirkan.
Itulah alasannya kenapa membenci Shafira tanpa sebab, karena Zayn menganggap bahwa istri pilihan orang tuanya bukanlah gadis baik-baik juga.
"Ck, kamu kenapa? Apakah sedang mabuk di siang hari?" decak Aksa dan Edo yang langsung duduk pada sofa yang ada didalam ruangan tersebut dan Zayn pun ikut menyusul duduk bersama kedua sahabatnya.
"Ada apa? Aku lihat wajahmu seperti orang tertekan saja?" tanya Edo lebih dulu sebelum Zayn menjelaskan ada apa menyuruh sahabatnya datang ke sana.
"Raisa, dia mengirimkan aku pesan dan mengajak aku bertemu di tempat dulu yang sering kami datangi," jawab Zayn jujur.
... BERSAMBUNG... ...
__ADS_1