
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
"Sayang..." panggil Zayn pelan duduk disisi ranjang tempat tidur yang ada dalam Ruangan kerjanya.
"Fira, sayang, ayo bangun!" ajaknya lagi degan suara lembutnya.
"Ya Khumaira ku... ayo bagunlah! Ini sudah jam setengah tiga," kembali membangunkan dengan panggilan barunya.
"Eum... jam berapa, Mas?" tanya gadis itu menguap. Lalu degan bantuan Zayn, dia duduk pelan.
"Sudah jam setengah tiga. Maaf karena Mas sudah menganggu tidur mu," Zayn yang melihat jika istri masih mengantuk langsung meminta maaf. Akan tetapi degan pergerakan tangan menyelipkan anak rambut Fira pada telinga gadis itu.
__ADS_1
Soalnya Fira tidur tidak memakai hijab dan melepaskan ikat rambut panjang nya. Sebab dia tidur dalam kamar tertutup. Tidak akan ada yang melihat kecuali suaminya sendiri.
"Kita kan mau belanja dulu. Jadi pulang sekarang saja. Nanti saat sholat ashar kita bisa mencari mushola terdekat," ucap Zayn lagi menatap lekat pada telinga Fira yang tidak memakai anting.
"Astaghfirullah hal Azim... kenapa aku tidak memperhatikan bahwa istriku tidak memakai anting? Kalau begitu aku harus menghubungi Edo, agar dia membuatkan seperangkat alat perhiasan lengkap."
Gumam Zayn yang memang tidak begitu memperhatikan jika istrinya tak punya anting pada telinganya.
"Mas... ada apa?" tanya Fira heran karena suaminya malah hanya diam saja.
"Agh! Iya, sayang. Kamu bersiap-siap saja. Kita mau ke Mall dulu," jawab Zayn tersadar dari lamunannya.
Tidak lama, hanya kurang lebih sepuluh menit. Fira sudah siap degan penampilan tetap terlihat cantik walaupun tidak memakai make up seperti gadis pada umumnya.
"Sayang, kamu sudah selesai," seru Zayn tersenyum berjalan mendekati Fira.
"Iya, aku sudah siap. Ayo kita berangkat sekarang,"
__ADS_1
"Baiklah, Nona Muda. Ayo kita berangkat berbelanja bersama," goda Zayn sudah mengandeng mesra tangan istrinya keluar dari ruangan kerjanya.
"Eris, Kami mau pulang sekarang tolong bereskan di dalam ya," titahnya sambil berjalan melewati meja sekretaris perusahaan.
"Baik, Pak," Eris menjawab cepat karena sudah biasa membereskan ruangan sang bos. Apabila Zayn pulang lebih awal.
"Mas, apakah kak Eris pulangnya jam empat juga seperti karyawan yang lainnya?" tanya Fira dengan suara setengah berbisik ketika mereka baru memasuki lift menuju lantai dasar.
"Iya, malahan terkadang apabila Mas sibuk. Eris juga harus pulang sampai jam lima. Namun, dia sudah Mas hitung dengan gaji lembur. Soalnya Eris memiliki anak yang diasuh oleh tetangganya. Ya... jadi anggap saja sebagai bonus karena sudah membantu Mas bekerja sampai selesai,"
"Syukurlah! Aku lihat menjadi sekretaris sepertinya tidaklah mudah. Hampir setiap pekerjaan Mas di handle sendiri," ujar Fira yang sejak pagi memperhatikan sekretaris suaminya itu selalu sibuk bekerja.
"Kamu tenang saja Khumaira ku, karena Mas sebelum hijrah pun sudah memberi dia bonus setiap membantu pekerjaan di luar jam kerjanya," lagi lagi Zayn memanggil Fira dengan sebutan Khumaira ku.
"Haa... ha... ternyata semenjak tadi aku memang tidak salah dengar. Kenapa Mas memanggil aku dengan sebutan Khumaira? Huem!" tawa Fira karena sejak tadi dia memikirkan apakah salah dengar.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja Mas ingin memanggilmu khumaira ku," jawab Zayn ikut tersenyum lebar karena melihat tawa bahagia istrinya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......