Hijrah Cinta Casanova

Hijrah Cinta Casanova
Tidak Peduli Bekas Pelukan Siapa.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


...HAPPY READING......


.


.


Malam sudah berganti pagi. Zayn sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Sedangkan Fira lagi menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Pagi ini setelah sama-sama mengerjakan sholat subuh. Pasangan suami-isteri itu mengerjakan pekerjaannya masing-masing.


Zayn pergi berolahraga dan Fira memilih ke dapur membuat nasi goreng untuk sarapan mereka pagi ini. Begitu selesai mereka berdua mandi secara bergiliran karena Fira ada kelas pagi dan Zayn juga ada rapat.


Tadi malam setelah makan malam berdua yang penuh dengan canda tawa. Shafira menemani suaminya menyelesaikan pekerjaan perusahaan.


Pada saat Fira mengantuk. Zayn malah menyuruh istrinya untuk tidur diatas pahanya. Tidak ada bantahan, Fira yang tahu bahwa baring dipangkuan suami bisa mengugurkan dosa. Tentu dengan senang hati melakukannya.


Seakan mengerti, Zayn bekerja dengan satu tangan dan satu tangannya lagi dia gunakan untuk mengelus kepala istrinya yang tidak memakai hijab.


Ya, apabila lagi berada didalam kamar. Fira sudah tidak pernah memakai hijab lagi. Dia hanya memakai baju tidur setelah panjang degan rambut panjangnya yang diurai. Sehingga Zayn selalu terpana melihat kecantikan alami istrinya.


Kleeek!


"Sayang, mana baju ku?" tanya Zayn yang sudah keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk melilit pada pinggangnya. Namun, Fira sangat jarang melihat roti sobek milik suaminya. Apabila tidak secara kebetulan saja.


Seperti saat ini Fira kembali menghindari dengan cara memeriksa buku kuliahnya. Zayn yang tahu istrinya malu tidak banyak bicara ataupun menjahili istrinya.


"Ada di atas meja, Mas. Tadi aku lupa memindahnya ke tempat biasa," jawab Fira tanpa menoleh.


"Iya, sudah ada," Zayn langsung memakai pakainya. Lalu berlanjut menyisir rambut dan memakai jam tangan mewahnya. Akan tetapi jika giliran dasi dia akan meminta bantuan Fira.


"Mas sudah siap," Fira yang tahu jika Zayn telah memakai baju, berdiri dari sofa dan berjalan mendekati suaminya. Tidak ada berkata apa-apa. Fira langsung mengambil alih dasi dari tangan Zayn dan memasang pada leher pria itu.


"Cantik sekali... betapa beruntungnya aku bisa memilikinya. Fira menutup auratnya untukku. Agar aku maupun ayahnya tidak mendapatkan dosa jariah. Dan aku benar-benar bersyukur karena hanya aku seorang yang bisa melihat keindahan tubuhnya."


Zayn bergumam di dalam hatinya sambil menatap Fira yang memasang dasi padanya. Jarak diantara mereka hanya beberapa senti saja. Namun, Zayn hanya bisa menelan Saliva nya karena untuk menikmati bibir ranum istrinya, dia belum berani.


"Sudah selesai," seru Fira tersenyum. Akan tetapi Zayn seperti mana patung mekanik yang berdiri dengan tatapan pada wajah istrinya.


"Mas," gadis itu mengibaskan tangannya di depan muka Zayn. Sehingga membuat si mantan Cassanova langsung tersadar.

__ADS_1


"Agh, iya, ada apa sayang?"


"Mas yang kenapa? Apakah Mas sedang tidak enak badan?"


"Tidak! Mas baik-baik saja," jawab Zayn cepat. "Fira..." panggilannya pelan dan masih degan posisi yang sama.


"Iya, Mas. Ada apa?" tubuh Fira yang lebih pendek mendongak keatas menatap pada suaminya.


"Apakah Mas boleh... mencium kening mu? Eum... tapi bila kamu be---"


"Lakukanlah, aku tidak masalah," sela Fira cepat. Padahal jantungnya sudah berdebar-debar seperti habis berlari meraton.


Zayn yang juga merasakan tidak karuan langsung saja mencium kening Fira sekilas. Ya, hanya sekilas karena entah mengapa untuk mencium istrinya sendiri dia begitu gugup.


Padahal sebelumnya dia sudah biasa mau memeluk, mencium bibir bahkan meniduri wanita bayarannya.


"Terima kasih," ucap pemuda itu setelah mengecup kening Fira. Sebetulnya sudah dari tadi malam saat memindahkan Fira keatas tempat tidur mau melakukannya. Namun, Zayn urungkan karena tidak mau mengambil kesempatan saat istrinya tidur.


"Huem, iya," jawab Fira malu degan rona merah di wajahnya. "Ayo kita turun, sarapan dan setelahnya kita berangkat," ajak Fira menjauhkan tubuh mereka.


Lalu dia mengambil tas kuliahnya. Begitu pula dengan Zayn. Pemuda itu juga mengambil tas kerja beserta jasnya. Setibanya di bawah mereka sarapan dan tidak banyak bicara. Setelah selesai Zayn menunggu di depan dan Fira mencuci piring bekas mereka sarapan.


"Mas, ayo," Fira yang sudah selesai mengajak suaminya berangkat.


Sekarang Fira juga dilarang membuka pintu mobil sendirian karena Zayn yang akan melayani istrinya penuh cinta. Baik saat naik mobil maupun ketika turun.


Hanya sekitar dua puluh menit kurang. Mobil mewah Zayn sudah memasuki pekarangan kampus. Namun, begitu sampai Zayn memegang tangan Fira dan dia meletakan kartu ATM atas nama Shafira Sakina Mecca.


"Mas, ini kartu buat---"


"Ini untukmu, belilah apapun yang kamu inginkan. Maaf karena Mas pernah menyakitimu dengan memberi uang hanya satu juta untuk satu Minggu," sela Zayn tau akan kesalahannya.


"Mas, aku tidak pernah menuntut agar diberikan uang lebih banyak, karena aku---"


"Fira, Mas tahu itu. Tapi kamu terima, ya. Sandinya tanggal pernikahan kita. Mas tahu kamu tidak membutuhkannya, tapi Mas adalah suamimu. Selama kita menikah Mas belum pernah memberimu apa-apa kecuali penderitaan," Zayn kembali menyela takut Fira sudah bicara lagi.


"Jika aku menolaknya, Mas Zayn pasti merasa kecewa. Tapi aku memang tidak membutuhkan uang yang banyak karena aku hanya ingin Mas Zayn seperti sekarang. Selalu mencintaiku karena Allah, bukan karena nafsu." gumam Shafira di dalam hatinya.


"Baiklah, terima kasih. Nanti aku akan belanja untuk keperluan kita," gadis itu menerima kartu tersebut karena tidak mau melukai perasaan suaminya.


"Belilah semua keperluan mu juga. Nanti Mas yang akan menelepon Pak Rudi untuk menjemputmu karena Mas pulang sore, jadi kita tidak bisa pulang bersama,"

__ADS_1


"Iya, Mas hati-hati jangan lupa makan siang tepat waktu," setelah berpamitan. Fira pun keluar dari mobil dan melarang Zayn untuk membuka pintu mobil buatnya.


Namun, setelah kepergian suaminya dan Fira mau berjalan masuk ke kampus. Ada seseorang mencekal pergelangan tangannya.


"Shafira, aku ingin bicara dengan mu. Ayo ikut aku ke kafe depan. ada yang ingin aku sampaikan ini tentang suamimu," ucap Raisa yang sejak pagi menunggu kedatangan Fira.


"Kamu---"


"Iya, aku adalah orang yang bertemu degan Zayn kemarin siang. Ayo ikutlah bersama ku. Aku tidak akan menyakitimu, jadi jangan takut," sebelum Fira menjawab Raisa sudah menarik tangan gadis itu menuju kafe yang ada diseberang kampus. Untungnya masih sepi. Jadi tidak banyak yang melihat mereka berdua.


"Ada apa? Kenapa kamu memaksa sekali ingin membawa ku ke sini?" tanya Fira begitu mereka berdua sudah duduk di dalam kafe.


"Apakah kau benar-benar istri Zayn?"


"Iya, benar. Memangnya ada apa?" jawab Fira balik bertanya.


"Apakah kau tahu bahwa aku adalah mantan kekasihnya yang dulu sangat dia cintai. Dan apa kau tahu seperti apa kelakuan Zayn sebelum menikah denganmu?" tanya Raisa langsung tutup poin.


"Tidak, aku tidak tahu. Memangnya ada apa?"


"Haa... ha... aku sudah menduganya, karena apabila kau tahu seperti apa dia. Sudah pasti kau tidak akan mau menjadi istri seorang pendosa sepertinya," tawa Raisa merasa bahagia karena rencana untuk menghancurkan hubungan Zayn dan Fira pasti akan berhasil.


Sebelum Fira bertanya Raisa pun langsung menceritakan. Yaitu tentang seperti apa dia menjalin hubungan dengan Zayn dulu dan juga Zayn yang merupakan Casanova.


Namun, ceritanya dan cerita Zayn tadi malam sangat berbeda. Raisa tidak mengatakan apa penyebab mereka bisa putus.


"Jika kau tidak percaya bahwa dia seorang casanova, maka datanglah ke tempat hiburan malam di jalan ini. Kau tanyakan pada pemilik Bar nya. Semua orang sangat mengenal Zayn, karena dia tidak segan-segan mengeluarkan uang puluhan juta hanya untuk dipuaskan selama satu malam," ucap Raisa menyerahkan kertas yang sudah dia tulis.


Mendengarnya Shafira tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan mantan kekasih suaminya.


"Sebelumnya, aku mau mengucapkan terima kasih padamu, karena kamu sudah bersusah payah datang ke kampusku hanya untuk membeberkan aib suamiku," jawab Fira berhenti sejenak sebelum kembali berbicara.


"Tidak peduli bekas pelukan siapa. Tidak peduli seburuk apa dengan masa lalunya. Tidak peduli seberapa lama dirimu bersama dirinya. Tidak peduli kenangan apa yang telah kalian miliki, dan aku tidak peduli kisah apa yang sudah kalian rangkai di saat masih bersama. Namun, yang terpenting sekarang dia adalah milikku dan sudah mau hijrah bersamaku, menuju jalan ke surganya Allah,"


Begitu mendengar jawaban Shafira membuat Raisa langsung berdiri dari tempat duduknya, dengan penuh emosi. Begitu pula dengan Fira jiga ikut berdiri karena dia tidak memiliki banyak waktu. Raisa marah karena ternyata tanggapan Fira dengan rencananya sungguh bertolak belakang.


"Apa maksudmu? Jadi kau masih mau hidup bersamanya? Kenapa kau tidak Tinggalkan saja laki-laki pendosa sepertinya?" seru Raisa degan amar meluap-luap.


"Apakah Nona ingin aku meninggalkan suamiku. Lalu dirimu yang akan hidup bersamanya?" Fira tersenyum mengejek karena dia sudah tahu apa yang Raisa rencanakan.


"Brengsek!" Raisa yang kesal langsung mengangkat tangannya hendak menampar Fira. Akan tetapi sudah ada seorang pria yang menangkap tangannya.

__ADS_1


"Jika kau berani menyentuh Fira, maka aku bersumpah akan mematahkan tanganmu," hardik laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.


... BERSAMBUNG... ...


__ADS_2