Hijrah Cinta Casanova

Hijrah Cinta Casanova
Tidak Menentu.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


...HAPPY READING......


.


.


"Jika begitu perjuangkan lah istrimu, aku sangat setuju jika kamu memiliki niat untuk hijrah," ucap Aksa setelah mendengar ucapan Zayn yang ingin berhijrah.


"Huem, insya... Allah, aku akan mencoba untuk menjadi yang lebih baik lagi," jawab Zayn yang sudah bulat dengan tekadnya untuk berhijrah.


"Fira, aku akan memulai semuanya mulai hari ini. Aku ingin menjadi imam untukmu. Namun, apabila aku tidak berhasil. Maka aku tidak akan mengaggu dirimu." gumam Zayn didalam hatinya.


Setelah mendengar keputusan Zayn untuk berhijrah. Edo dan Aksa langsung memberikan dukungan mereka. Lalu mereka menghabiskan sisa waktu makan siang dengan mengobrol sambil menikmati makan siang yang sudah dipesankan oleh sekertaris Zayn.


Sampai jam setengah satu siang. Aksa dan Edo berpamitan untuk pulang. Sebab mereka juga memiliki pekerjaan di perusahaannya masing-masing.

__ADS_1


Sehingga yang tingal hanya Zayn sendiri. Pemuda tersebut cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal. Zayn ingin segera bertemu Fira. Entah mengapa berada didekat istrinya perasaan Zayn terasa begitu tenang.


Itulah salah satu alasannya ingin berhijrah dan setelah membaca buku diary Shafira. Keyakinannya untuk menjadi manusia lebih baik semakin kuat.


Meskipun belum tahu Fira mau memberinya kesempatan atau tidak. Namun, yang jelas dia ingin menjadi lebih baik dulu.


Sampai jam setengah tiga sore. Pekerjaan Zayn akhirnya selesai. Lalu setelah membereskan dokumen yang sudah dia tanda tangani. Pemuda itupun langsung mengambil jas kerjanya yang ia sampaikan pada kursi kebesaran perusahaan tersebut.


Kleeek!


"Pak, apakah Anda sudah mau pulang?" tanya sekertaris nya begitu melihat Zayn sudah keluar dari dalam ruang kerjanya.


"Semoga Fira mau memberiku kesempatan, Ya Allah..Aku benar-benar ingin menjadi manusia lebih baik lagi." Zayn kembali bergumam sambil menyadarkan tubuhnya pada dinding lift.


Ada rasa was-was dan perasan malu pada dirinya sendiri maupun pada Fira. Malu karena terlalu banyak melakukan perbuatan dosa. Namun, juga malu pada Fira yang selalu dia hina.


"Sore, Pak," sapa karyawan saat berpapasan dengan Zayn. Saat ini pemuda itu sudah keluar dari lift.

__ADS_1


"Iya, sore juga," jawab Zayn sedikit tersenyum yang nyaris tidak terlihat oleh siapapun.


"Apakah bapak mau pulang?" tanya karyawan satunya lagi yang bertemu juga degan Zayn.


"Iya, Saya duluan," pamit Zayn yang dianguki oleh para karyawannya.


Untungnya saat Zayn tiba di depan loby perusahaan. Mobilnya sudah disiapkan oleh penjagaan keamanan yang bekerja di perusahaan.


"Silahkan, Pak," ucap si penjaga sopan seperti biasanya.


"Iya, terima kasih," jawab Zayn sebelum masuk dan menjalankan kendaraan mewahnya.


"Apakah aku harus membeli sesuatu untuk Fira?" pemuda itu bertanya pada dirinya. "Agh, tidak usah! Lebih baik aku langsung pulang saja. Aku takutnya Fira merasa takut karena melihat perubahan sikap ku yang mendadak baik padanya." putus pemuda itu yang tiba-tiba merasa gugup.


Padahal hanya akan bertemu dengan istrinya. Namun, perasaan Zayn sudah seperti mau bertemu klien penting dari luar negeri saja.


"Ayolah Zayn, jangan seperti ini. Tenangkan dirimu. Kau hanya akan bertemu istrimu sendiri," pemuda itu kembali bergumam saat mobil mewahnya semakin dekat dengan kediaman mereka.

__ADS_1


...BERSAMBUNG......


__ADS_2