
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
"Mas ada disini juga?" karena tidak ada jawaban dari Zayn. Akhirnya Fira mengulangi pertanyaan yang sama.
"Iya, tadi Mas ada pekerjaan dan sekarang sudah beres. Hanya saja ada yang harus Mas selesaikan dengannya. Sebelum menjemputmu," jawab Zayn berjalan mendekati Fira. Lalu menyatukan jari-jari tangan mereka. Setelahnya dia menarik pelan tangan istrinya mendekati Raisa dan berkata.
"Rai, ini adalah istriku, namanya Shafira. Jadi aku harap kau jangan pernah menghubungiku lagi. Walaupun hanya sekedar mengirim pesan," mendengar perkataan Zayn. Membuat Fira menatap pada suaminya lekat.
"Fira, dia adalah mantan kekasihku. Bukan siapa-siapa. Jadi tolong jangan salah paham," ucap Zayn karena benar-benar takut bila Fira salah paham padanya yang dipeluk oleh Raisa.
"Iya, aku bukan salah paham padamu. Tadi aku hanya---"
"Zy, ja--jadi kamu sudah menikah? Tidak-tidak! Kamu tidak mungkin sudah menikah. Kamu pasti berbohong karena ingin membuatku sakit hati, kan. Kamu ingin balas dendam padaku karena---"
"Rai, diantara kita sudah berakhir. Aku menemuimu karena ingin bilang jangan pernah mengaggu ku lagi," sela Zayn menatap tajam pada Raisa. Tatapan penuh kecewa dan benci.
Berbeda jauh saat dia menatap pada Fira. Sangat teduh dan terlihat jika dimatanya menatap Fira penuh cinta.
__ADS_1
"Ini, buktinya. Kami sudah menikah sejak tiga bulan lalu," Zayn mengangkat tangannya dan Fira yang sama-sama memakai cincin perkawinan mereka.
"Kenapa tidak mungkin? Kau sudah memilih pilihanmu sendiri dan aku sangat bersyukur karena hal itu, aku bisa bertemu dengan Fira. Gadis yang benar-benar aku cintai," belum lagi Fira lepas dari rasa tidak percaya bahwa Zayn mengakuinya sebagai istri pada Raisa. Wanita yang mengirim pesan pada suaminya sekitar satu Minggu lalu.
Kini Zayn kembali membuat gadis itu terdiam dan tidak bicara apa-apa. Kecuali mendengarkan saja. Padahal Fira tahu bahwa Raisa ini memiliki hubungan cukup dekat dengan suaminya.
Ya, Fira sudah hafal nama Raisa karena selalu bertanya pada dirinya sendiri. Siapakah wanita bernama Raisa yang mengatakan sangat mencintai suaminya.
"Fira... eum, kita jadi makan siang atau tidak?" tanya Yuni karena dia sama seperti Fira merasa canggung mendengar perdebatan Zayn dan Raisa.
"Astaghfirullah hal Azim. Maafkan aku, Yun..Aku hampir lupa," Fira langsung beristighfar. "Mas, jika Mas masih mau menyelesaikan masalah dengannya, maka selesaikan saja. Aku datang ke sini ingin makan siang, bukan untuk mengaggu kalian," ucap gadis itu tidak mau membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Tidak! Mas tidak ada lagi yang mau dibicarakan dengannya. Kami sudah selesai," tolak Zayn cepat karena dia bertemu Raisa memang hanya untuk memperingati mantannya agar tidak mengaggu nya lagi.
Akan tetapi oleh pemuda itu tidak pernah diterima sama sekali. Makanya dia memutuskan untuk bertemu Raisa. Mau menunjukan pada wanita itu bahwa dia sudah bahagia dan baik-baik saja setelah dikhianati.
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian. Kita akan makan siang bersama. Tapi bukan di restoran ini. Kita cari tempat lain saja," Zayn kembali memotong ucapan istrinya.
"Yuni, kita mencari makan siang diluar saja, ya. Saya tahu tempat makanan enak disekitar gedung ini," ucapnya pada Yuni dan gadis itu hanya mengangguk saja.
"Raisa, aku harap kau tidak melupakan ucapanku tadi. Jika kau selalu mengirimkan aku makanan, ataupun pesan dari ponsel. Maka aku akan melaporkan mu pada pihak berwajib karena sudah mengusik ketentraman ku," Zayn kembali memperingati mantan kekasihnya. Yaitu sebelum menarik tangan istrinya meninggalkan Raisa yang semakin menagis karena perlakuan kasar Zayn padanya.
__ADS_1
"Zayn, Zy. Aku..." Raisa tidak melanjutkan lagi ucapnya karena bukan hanya Zayn yang sudah pergi. Tapi dia menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disekitar meja tersebut.
"Tidak-tidak! Aku tidak terima Zayn menikah dengan wanita itu. Ini semua pasti karena Zayn ingin balas dendam padaku. Aku akan melakukan apapun agar bisa bersama Zayn lagi," gumam Raisa kembali duduk untuk menenangkan hatinya.
Sementara itu di dalam mobilnya. Zayn langsung mengenggam erat sebelah tangan Fira. Saat ini mereka sudah duduk di dalam mobil. Sedangkan Yuni mengunakan mobilnya sendiri menuju restoran yang dibilang oleh Zayn. Tempat mereka makan siang.
"Fira... tolong jangan salah paham. Semua yang kamu lihat tidak sama dengan kenyataan nya. Tadi dia sendiri yang tiba-tiba memelukku. Mas tidak mungkin---"
"Iya, aku percaya padamu, Mas. Jangan dijadikan pikiran karena aku tahu jika semua itu tidak sama seperti yang sudah terjadi sebenarnya," sela Fira tersenyum karena dia tahu seperti apa kesungguhan suaminya untuk berhijrah.
"Sayang... jadi kamu percaya padaku? Dan tidak marah karena melihat aku berpelukan bersama wanita tadi?" seru pemuda itu memanggil Fira dengan sebutan sayang.
"Iya, aku percaya padamu, Mas. Sudah ayo jalan. Nanti Yuni menunggu kita," jawab Fira tersenyum dan menyuruh Zayn menjalankan kendaraan nya.
"Baiklah! Tapi nanti saat dirumah, Mas akan menceritakan semuanya padamu. Tadi bukan Mas tidak mau memberitahumu jika ingin bertemu Raisa. Namun, Mas tidak ingin kamu salah paham. Sehingga menyakiti hatimu," ungkap Zayn kembali memberikan penjelasan.
Padahal Fira sudah bilang kalau dia percaya pada suaminya. Akan tetapi tetap saja Zayn tidak tenang.
"Iya, Mas. Nanti kita bicarakan setelah tiba dirumah dan mengerjakan sholat Zuhur," Fira kembali menyematkan senyuman setiap kali menjawab perkataan suaminya.
"Ya Allah... terbuat dari apa hati istriku? Kenapa dia sangat sabar setelah melihat Raisa memelukku dan tetap tidak marah. Betapa beruntungnya aku memilki dirinya." Zayn bergumam di dalam hatinya karena begitu salut pada kesabaran Shafira.
Tadinya pemuda itu sudah takut jika Fira akan salah paham dan marah padanya. Akan tetapi semua itu berbanding terbalik dengan perkiraannya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG......