Hijrah Cinta Casanova

Hijrah Cinta Casanova
Tidak Boleh Kuliah.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


...HAPPY READING......


.


.


"Vin, kamu sudah mau pulang?" tanya Zayn yang berpapasan dengan Dokter Vina. Dia baru saja turun dari mobilnya.


"Iya, Zy, soalnya aku ada pasien lain. Obat untuk istrimu sudah aku berikan. Apabila keadaan Fira sudah kuat, tolong bawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pada Dokter kandungan." jawab Dokter Vina sekalian berpamitan pada Zayn.


"Ya, terima kasih!" setelah dokter tersebut pergi, Zayn pun meneruskan melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum naik ke lantai atas dia pergi ke dapur untuk menyimpan sebagian es krim yang dibelinya.


"Bibi, tolong simpan ini didalam lemari pendingin!" ucapnya pada pembantu rumah tangga mereka.


"Baik Tuan Muda," si bibi yang kebetulan sedang memasak buat makan siang langsung mengambil alih keresek yang diberikan oleh Zayn.


Setelah itupun pemuda tersebut naik ke lantai atas dengan hati berbunga-bunga karena bahagia.


"Ma," ucapnya pada Nyonya Tita.


"Mama mau memberi tahu kabar bahagia ini pada papa mu dan mengajaknya nanti sore ke panti asuhan Jabal Rahmah. Mama ingin anak-anak panti ikut merasakan kebahagiaan keluarga kita,"


"Oh, ya sudah. Zayn akan menemani Fira dan tolong Mama bilang pada Bibi Asih, jika nanti ada Aksa suruh mereka memanggil ku. Tadi Zayn lupa untuk berpesan pada bibi,"


"Apakah Aksa mau ke sini?"


"Ya, tadi kami kami tidak sengaja bertemu di minimarket depan." jawab Zayn yang diiyakan oleh mamanya. Lalu karena takut es krim tersebut mencair, Zayn pun masuk ke kamar.


"Mas, sudah datang? Kenapa lama sekali?" sambut Fira tersenyum menerima es krim yang dia inginkan.


"Maaf, tadi saat membeli es krim nya mas tidak sengaja bertemu Aksa, jadi mengobrol dulu sebentar."


"Oh, pantas saja," Fira pun tidak bertanya lagi karena fokus pada es krim yang dia makan.


"Di bawah ada berbagai macam varian rasa es krim, jika masih mau Mas akan mengambilkannya lagi untukmu."


"Nanti saja, aku ingin Mas duduk di sini menemaniku." Fira yang biasanya tidak manja, tiba-tiba bergelayut pada lengan suaminya.


Cup!


"Apakah calon anak kita seorang bidadari kecil yang cantik?" Zayn mengecup pipi Shafira dan mengelus perut datar wanita itu.


"Kenapa Mas berkata seperti itu?" Fira tersenyum karena Zayn memang sering berkata ingin mempunyai anak pertama mereka adalah perempuan.


"Karena biasanya Khumaira ku tidak manja seperti ini," Zayn merengkuh tubuh Fira agar bersandar padanya. Namun, saat keduanya lagi bermanja-manja. Ponsel Zayn bergetar karena ada yang meneleponnya.

__ADS_1


Ttttddd!


"Mas, ponsel mu,"


"Iya, sayang. Pasti dari Reza." Zayn mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


πŸ“± Reza : "Assalamualaikum, Tuan. Ternyata benar Felix dan Raisa bekerja sama untuk menjebak kalian."


πŸ“± Zayn : "Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, ya, aku juga sudah tahu. Jadi apakah kamu sudah bertemu dengan Felix pagi ini?"


πŸ“± Reza : "Sudah! Dan Saya mengatakan bahwa Anda pulang karena ada urusan mendadak. Dia keluar dari kamar hanya saat pagi karena sekarang pun Felix dan Raisa masih berada di dalam kamar hotel," ungkap Reza yang bertugas untuk menyelidiki kasus penjebakan pada bos nya.


πŸ“± Zayn : "Kerja bagus dan biarkan mereka menikmati waktu bersama sebelum aku memberi kehancuran pada keduanya." Zayn merasakan tangannya digenggam lembut oleh Shafira.


πŸ“± Reza : "Baik Tuan, jika begitu Saya mau pergi menemui para pemegang saham yang ingin bekerja sama dengan Evander group. Anda tenang saja karena Saya tidak akan membiarkan Felix mendapatkan keuntungan sedikitpun."


πŸ“± Zayn : "Ya, aku pasrahkan kamu menyelesaikan masalahnya. Namun, jika untuk kehancuran perusahaan Felix, itu tugasku." jawa Zayn pun menutup teleponnya setelah mengucapkan salam.


"Mas..." panggil Shafira karena tahu jika suaminya lagi menahan emosi.


"Huem!" pria itu berdehem dan kembali menarik Fira kedalam pelukannya. "Mas tidak apa-apa, sayang."


"Aku takut Mas tidak bisa menahan emosi. Apa yang membuat Felix bekerja sama dengan Raisa? Bukankah sepertinya dia adalah orang yang sangat baik. Bahkan waktu kita menikah dia memberikan kado istimewa padaku sebagai hadiah pernikahan kita."


"Mas belum tahu apa alasan Felix melakukannya. Namun, yang jelas dia dan Raisa memiliki hubungan. Bisa jadi dia menolong wanita itu karena mereka berselingkuh. Jika tidak karena hal itu, memang ada tujuan yang sama-sama menguntungkan mereka berdua." jawab Zayn mulai memikirkan tentang Felix yang biasanya terlihat baik.


"Insya Allah hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Mas tidak akan melakukan perjalanan bisnis lagi bila tidak bersama mu,"


"Hah? Kenapa? Mas kan bisa membawa asisten perusahaan atau---"


"Alasan pertama karena Mas tidak mau jauh darimu dan calon anak kita. Alasan kedua karena Mas takut hal seperti tadi malam kembali terjadi." sela Zayn cepat.


"Mas tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila seandainya terpedaya pada Raisa. Mas akan mengkhianati mu dan menyakiti wanita yang ku cintai." tutur Zayn karena dia memang sangat takut kehilangan kepercayaan dari sang istri.


"Jika Raisa berhasil tadi malam, keuntungan apa yang dia dapat, Mas? Apakah mereka merencanakan sesuatu untuk menghancurkan rumah tangga kita?" tebak Fira karena selain itu tentu tidak ada alasan lainya.


"Ya, itu sudah pasti. Padahal jika mereka berhasil dengan rencana jahatnya, Felix tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa." imbuh Zayn karena mereka berdua baru mengira apa sebenernya yang terjadi.


"Tuan, maaf mengaggu. Tapi di bawah ada Tuan Aksa." kedatangan Bibi Asih berdiri didepan pintu kamar yang tidak tertutup mengalihkan percakapan pasangan suami-istri tersebut.


"Oh, iya, Bi. Bibi buatkan saja minuman untuknya karena sebentar lagi kami akan turun." Zayn yang menjawab.


"Sayang, kamu ikut Mas ya, agar tidak sendirian di sini."


"Iya, aku mau turun saja karena Bibi Asih pasti lagi memasak buat makan siang, aku---"


Cup!

__ADS_1


"Tidak boleh membantu mereka memasak. Mas tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa," Zayn sudah membungkam mulut istrinya dengan kecupan singkat. Membuat kedua pipi Fira bersemu kemerahan karena tersipu malu.


"Khumaira ku, dengarkan apa yang Mas katakan ya, ini demi kebaikan kalian berdua," tidak berhenti begitu saja. Zayn justru mengelus pipi istrinya disertai senyuman tipis.


"Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta pada wanita cantik dan Sholehah seperti mu."


"Mas, jangan memujiku berlebihan. Aku---"


"Kenapa harus malu. Kamu memang Khumaira ku yang paling aku cintai." lagi-lagi Zayn menyela perkataan istrinya. "Ayo ibu hamil ku, kita turun untuk menemui Aksa. Jarang sekali dia bisa mampir seperti saat ini." ajaknya mengulurkan tangan untuk membantu Fira berdiri.


"Mas, kapan kita pulang ke rumah?" sambil berjalan menuruni anak tangga mereka masih mengobrol.


"Apakah Khumaira ku tidak betah tinggal di sini?"


"Eh, tidak-tidak! Justru aku sangat betah karena tidak sendirian saat Mas tidak ada."


Zayn berhenti dipertengahan anak tangga dan menatap pada istrinya. "Jika kamu betah di rumah mama, maka untuk sementara kita akan tinggal di sini. Mas tenang meninggalkan mu bila lagi bekerja. Lagian di rumah kita Mas takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


"Hal-hal yang tidak diinginkan bagaimana, Mas?" keduanya kembali berjalan menuruni tangga.


"Khumaira, Mas memiliki pirasat bahwa yang mengirimkan bangkai dan darah segar sebagai ancaman ada kaitannya dengan Felix dan Raisa. Mas tidak takut jika mereka menyakiti ku. Namun, Mas khawatir pada keselamatan mu." jawab Zayn karena dia memang tidak tau siapa saja musuhnya.


"Ya, baiklah!" imbuh Fira setuju dengan keinginan suaminya. Wanita tersebut sangat patuh, jadi mana mungkin akan membantah.


"Sa, Maaf ya sudah membuatmu menunggu," ucap Zayn ikut duduk bersama dengan istrinya.


"Tidak apa-apa, aku juga baru dari toilet." Aksa menata kearah wanita yang dulunya pernah dia sukai. "Fira, selamat ya, atas kehamilan anak pertama kalian."


"Terima kasih, Kak," Fira membalas dengan senyuman kecil.


"Ternyata benar Felix dan Raisa bekerja sama untuk menjebakku, Sa." ucap Zayn langsung bercerita.


"Wah, jadi benar kata Edo bahwa dia melihat mereka berdua makan bersama. Benar-benar wanita licik. Aku rasa yang sudah memberikan ancaman ke rumah kalian adalah mereka juga, Zy." seru Aksa ikut mengumpat perbuatan Raisa maupun Felix.


"Ya, itulah yang kami bicarakan sambil turun ke sini. Aku juga berpikir seperti mu."


"Alangkah baiknya kalian tinggal di sini dulu dan Fira berhenti masuk kuliah, Zy. Lagian dia hanya menunggu wisuda saja, kan? Takutnya kedua orang-orang licik itu berbuat nekad."


"Ide yang bagus." Zayn langsung mengangkat tangannya sebagai bentuk pujian pada usul dari Aksa.


"Khumaira, kamu tidak usah berangkat ke kampus lagi. Mas akan menghubungi rektor universitas Gunadarma." ucapnya lagi langsung mengambil keputusan pada saat itu juga.


... BERSAMBUNG... ...


.


.

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya dan mampir di karya baru Mak Author yang berjudul. Labuhan Hati Yang Ku pilih. Terima kasih β˜ΊοΈπŸ™πŸ™


__ADS_2