
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
"Raisa mengajak aku bertemu di kafe tempat kami biasa bertemu. Katanya ada yang ingin dia bicarakan," ucap Zayn mengulangi perkataannya.
"Apa! Mau apalagi dia?" seru Aksa maupun Edo. Mereka berdua sama-sama kaget mendengar bahwa wanita yang telah mengkhianati Zayn. Sekarang masih berani mengajak sahabat mereka bertemu.
"Entahlah! Katanya hanya ingin mengatakan sesuatu," terdengar nafas Zayn seperti lagi menahan beban yang sangat berat.
"Lalu, apakah kamu mau menemuinya?" sekarang Aksa yang bertanya.
"Ck, jika aku tidak binggung. Mana mungkin aku menyuruh kalian datang ke sini," decak Zayn memutar bola matanya malas dengan pertanyaan tersebut.
"Kamu jawab apa saat dia mengajakmu bertemu?" sambung Edo degan duduk serius.
"Aku tidak membalas pesannya," Zayn menjawab singkat.
"Zayn, kamu tidak perlu menemui wanita sampah itu lagi. Sudah cukup Raisa membuatmu... hancur karena kemunafikan dia," ucap Aksa yang tetap saja merasa kesal saat membicarakan wanita itu.
"Aku memang tidak mau menemuinya," Zayn berdiri untuk mengambil minuman dari lemari pendingin yang ada di dalam ruang tersebut.
"Lalu apa yang membuatmu binggung, jika sudah tidak mau menemuinya?" tanya Edo sambil menerima minuman dari Zayn.
"Kalian kan tahu sendiri, jika mendengar namanya saja aku sudah ga---"
"Zayn, dia hanyalah masa lalu mu. Sedangkan Fira adalah masa depanmu.. Apakah kamu bodoh tidak tahu mana yang berlian asli dan batu kerikil?" sela Aksa yang sudah tahu siapa gadis yang Zayn gendong saat di pesta ulang tahun Pinkan, anak Pak Handoko.
"Dari mana kamu tahu bahwa---"
__ADS_1
"Aku yang memberitahunya. Bagaimana keadaan kaki istrimu?" sekarang Edo yang menyela.
"Kakinya di jahit dan belum bisa berjalan kalau tidak mengunakan tongkat," jawab Zayn yang sudah kembali duduk dihadapan Edo dan Aksa.
"Apakah kamu benar-benar tidak menyukai istrimu? Agh! Maksudku seperti ini, jika kamu memang tidak menyukai Fira. Tadi kata Aksa dia mau menikahi jandamu," gara-gara ucapan Edo yang asal. Membuat mata Zayn dan Aksa sama-sama membola seakan mau keluar dari tempatnya.
Namun, berbeda artinya. Jika Aksa karena marah Edo berkata tanpa ada hambatan. Sedangkan Zayn langsung menatap Aksa degan tajam.
Bagiamana mungkin Aksa sudah mau mendaptarkan diri untuk menikahi mantan istrinya. Begitulah kira-kira yang sedang dia pikiran. Makannya menatap Aksa tajam.
"Apakah kau juga mau seperti Adi? Atau kalian semua sama saja?" tuduh Zayn juga membawa Edo dalam tuduhannya. Cara bicaranya pun sudah mengunakan kata kau bukan kamu lagi.
"Kenapa aku dibawa-bawa. Lagian ini berbeda kasus. Raisa adalah wanita yang kamu cintai. Jika Fira kan tidak kamu anggap sebagai istrimu. Jadi bila kalian sudah berpisah, Fira berhak mencari kebahagiaannya sendiri," ucap Edo karena dia dan Aksa tahu jika Zayn tidak pernah menerima Fira dan bahkan tentang perceraiannya saja Zayn juga sudah bercerita pada kedua sahabatnya.
Setelah mendengar ucapan Edo. Zayn terdiam karena tidak tahu mau menjawab apa.
"Haa... ha... sudahlah! Biarkan Aksa menikahi jandamu. Dia kan juga duda ditinggal mati oleh istrinya. Duda sama janda, sepertinya adalah pasangan yang sangat co---"
"Kata siapa kami akan berpisah. Mau sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Fira," seru Zayn cepat.
"Karena dia adalah gadis yang dipilihkan oleh kedua orang tuaku. Lagian mau dimana lagi aku menemukan wanita baik dan sabar sepertinya," ungkap Zayn yang membuat Aksa dan Edo saling pandang.
Bahkan Edo sampai menempelkan punggung tangannya untuk merasakan suhu tubuh Zayn yang dianggap sedang sakit atau memang sedang dipengaruhi oleh minuman atau bisa jadi gara-gara obat-obatan terlarang.
"Hey... apa yang kau lakukan," seru Zayn menepis tangan Edo dengan kasar.
"Zayn, kamu tidak mabuk kan? Kenapa kamu tiba-tiba bisa bicara seperti ini? Apakah karena kamu tidak mau jika Aksa akan menikahi jandamu?" Edo bertanya serius meskipun Zayn sudah marah.
"Fira tidak akan pernah menjadi janda. Jadi jangan pernah bermimpi untuk menikahinya. Dan... aku baik-baik saja. Tidak mabuk ataupun bermimpi," jawab Zayn dengan sangat yakin.
"Zayn, ayolah! Kamu jangan pernah bermain-main dengan pernikahan. Jika kamu tidak menyukai Fira, maka lepaskanlah dia. Jangan kamu siksa degan ucapan ataupun tindakan mu untuk menyakitinya." ujar Aksa karena tahu bila Zayn sering membawa para wanita satu malamnya ke rumah yang ditempati oleh Fira.
"Aksa, aku serius tidak ingin main-main lagi degan pernikahanku. Setelah aku pikir-pikir, aku ingin mencoba menerimanya. Aku tidak akan menyakitinya lagi," ungkap Zayn menundukkan arah pandangan matanya.
__ADS_1
"Jadi kamu sudah berubah pikiran, sejak kapan kamu ingin mencoba menerimanya? Bukankah kemarin malam kamu masih menari dengan sangat indah bersama putri Pak Handoko," imbuh Edo masih belum bisa percaya pada ucapan sahabatnya.
"Lagian setelah apa yang kamu perbuat pada Fira. Apakah kamu yakin jika dia mau menerima dirimu? Ingatlah Zayn selama kalian menikah sudah berapa banyak para penghangat ranjang mu yang datang ke rumah kalian," lanjut Edo lagi karena jika Aksa takut Zayn salah paham padanya.
Walaupun benar Aksa menyukai Fira dan telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia tidak akan pernah mengkhianati persahabatan mereka.
"Semenjak hari ini aku memutuskan untuk mempertahankannya," dari sekian banyak pertanyaan Edo. Hanya satu yang Zayn jawab.
"Lalu apakah kamu yakin bahwa Fira mau padamu dan meneruskan pernikahan kalian? Bukannya katamu dia mengajak kalian berpisah setelah satu tahun pernikahan kalian?" Edo bertanya karena Zayn belum menjawab pertanyaannya.
"Soal itu... aku juga belum tahu," Zayn tidak tahu apakah Fira mau menerimanya atau tidak. Jadi pemuda itu hanya bisa menjawab seperlunya.
"Baiklah! Aku setuju dengan niat baikmu. Jika kamu benar-benar ingin menjadikan dia istrimu. Maka aku cukup mengaguminya saja. Namun, jika memang benar kamu tidak menyukai. Tolong biarkan aku menjadi imamnya," ungkap Aksa berbicara jujur karena itu jauh lebih baik daripada dia berpura-pura baik. Tapi menikam sahabatnya sendiri dari belakang.
"Oke, aku juga setuju dengan mu, Ak," simpul Edo yang kembali membuat Zayn menatapnya tajam.
"Mau sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya. Mulai sekarang aku akan merebut hatinya. Agar dia mau menerimaku, karena aku yakin Fira akan memaafkan kesalahanku padanya," ucap Zayn yakin walaupun sebetulnya dia sendiri ragu.
Mengingat seperti apa perlakuannya pada Fira selama ini. Suka bicara kasar, memperlakukan gadis itu seperti pembantu dan membawa para wanita yang ia bayar ke rumah. Agar bisa menyakiti Shafira.
Namun, semua usahanya tidak mempan, karena Fira adalah orang yang sangat sabar meskipun sudah disakiti dan dihina. Hanya saja Fira mengajak mereka berpisah setelah satu tahun umur pernikahan mereka.
Setelah membaca buku diary Fira. Pemuda itu baru tahu bahwa istrinya memang gadis baik-baik dan Zayn yakin apa yang Fira tulis jujur. Tidak mungkin berbohong, karena saat membacanya tadi Zayn sambil mencerna setiap bait bacaannya.
Sialnya semuanya adalah benar. Sebelum menjadi Casanova. Pemuda itu juga pernah menjalankan sholat dan belajar ilmu agama. Walaupun tidak sampai mondok di pesantren. Tapi Zayn pernah mengaji dan tahu sedikit-sedikit tentang agama.
Jadi saat membaca apa yang dituangkan oleh Fira. seperti mana dia mendengarkan sebuah ceramah secara privat.
"Mungkin saja kan, jika do'aku dulu yang ingin mendapatkan istri Solehah dan gadis itu adalah Fira. Bukan Raisa. Namun, Allah mengujiku dengan hubunganku dan Raisa."
Gumam Zayn di dalam hatinya. Entah mengapa dari tadi malam. Tepatnya setelah membaca buku diary istrinya. Hati Zayn sudah tidak menentu. Makanya dia membawa buku tersebut ke perusahaan. Agar bisa membacanya lagi.
"Zayn, jadi degan cara seperti apa kamu menyakinkan Fira agar mau padamu?" tanya Edo karena apapun keputusan Zayn tentu sebagai seorang sahabat akan tetap mendukungnya.
__ADS_1
"Aku akan hijrah untuk menjadi lebih baik lagi. Sampai aku layak untuk bersanding dengannya. Namun, bila aku gagal, tentu aku tidak akan menodai kehidupannya," putus Zayn tanpa ragu untuk berhijrah. Asalkan bisa memanfaatkan Shafira. Gadis yang sudah dia abaikan selama ini.
...BERSAMBUNG......