Hijrah Cinta Casanova

Hijrah Cinta Casanova
Tidak Sama Seperti Yang Dilihat.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


...HAPPY READING......


.


.


"Terima kasih, Tuan Zayn," ucap direktur perusahaan ternama juga.


"Sama-sama, Tuan Ali. Saya harap kerjasama ini akan terus terjalin baik seperti ini," ucap Zayn menerima uluran tangan dari Pak Ali yang kira-kira umurnya sudah empat puluh tahun lebih.


Ini bukanlah kerjasama untuk pertama kali bagi mereka. Melainkan untuk kesekian kalinya yang selalu berjalan degan sangat baik dan saling menguntungkan.


"Insya Allah. Semoga saja akan selalu lancar dan tidak ada halangan suatu apapun," jawab beliau mendo'akan.


"Amin ya robbal alamin! Semoga saja," Zayn ikut mengaminkan. Semenjak sudah berhijrah. Apabila ada ucapan baik maka Zayn selalu mengaminkan tidak seperti dulu hanya menjawab. Semoga saja.


"Kalau begitu kami pamit duluan. Eum... Anda sepertinya masih ada pertemuan lain lagi," tebak Pak Ali melihat Zayn mengecek ponselnya untuk kesekian kalinya.


"Agh! Iya, baiklah. Saya memang lagi menunggu seseorang. Agar bisa sekalian bertemu di sini,"


"Haa... ha... oke-oke! Kalau begitu Saya duluan. Sampai berjumpa lagi


Assalamualaikum," tawa Pak Ali seraya menjabat tangan Zayn. Diikuti pula oleh Sekertaris Pak Ali. Sedangkan Erin sekertaris Zayn tidak jadi ikut, karena ada pekerjaan di perusahaan yang harus selesai hari ini. Sehingga Zayn berangkat sendiri.


"Iya Tuan, hati-hati di jalan. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Zayn sudah kembali lagi duduk seperti semula sambil mengecek ponselnya.


Ting!


💌 Raisa : "Aku baru sampai di Mall. Kamu ada dimana?" belum lagi Zayn mengirim pesan kepada mantan kekasihnya. Ternyata wanita itu sudah mengirimnya pesan lebih dulu.


💌 Zayn : "Aku ada di restoran lantai lima," jawab Zayn singkat. Setelah itu dia memilih untuk mendengarkan ceramah dari ponselnya.

__ADS_1


Ya, sekarang bila tidak ada pekerjaan. Zayn lebih suka menghabiskan waktunya untuk mendengarkan ceramah tentang sebagaimana menjadi seorang suami yang baik.


"Agh! Kenapa dia sangat kaku," keluh Raisa berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai lima.


"Zayn, aku tahu jika kamu masih mencintaiku. Makanya sampai sekarang tidak memiliki kekasih juga. Sekarang aku datang untuk hidup bersama mu lagi. Aku benar-benar menyesal sudah berselingkuh dengan brengsek itu," gumam kecil Raisa saat berada didalam ini.


Setelah pintu lift terbuka wanita itu langsung mencari letak restoran tempat Zayn menunggu dirinya.


Ttttttddd!


Ttttttddd!


📱 Raisa : "Zy, kamu ada dimana? Aku sudah ada di restoran. Agh! Aku melihatmu. Aku kesana sekarang," sebelum Zayn berkata sesuatu. Raisa menutup teleponnya karena sudah melihat jika Zayn duduk di dekat jendela kaca.


"Astagfirullah, astaghfirullah, astagfirullah hal Azim. Ya Allah... aku berserah diri padamu. Tolong bantu aku agar bisa tenang." gumam Zayn degan jantung berdebar-debar begitu mendengar suara Raisa dari telepon.


Padahal mereka belum bertemu dan bertatap muka. Namun, rasa tidak menentu sudah melanda hatinya. Sehingga membuat Zayn terus beristighfar menyebut nama Allah.


Deg!


Pandangan mata mereka langsung bertemu. Jantung Zayn langsung berdegup kencang begitu melihat wajah mantan kekasihnya.


Namun, deguban tersebut bukan karena jatuh cinta. Atau karena masih mencintai Raisa. Melainkan rasa sakit yang dulu dia rasakan. Hari ini luka itu kembali terbuka lagi.


"Duduklah! Aku tidak memiliki banyak waktu," titah Zayn tidak menerima uluran tangan Raisa sehingga membuat wanita itu tersenyum canggung. Dia berpikir jika Zayn seperti itu karena masih kecewa padanya.


"Iya, terima kasih," Raisa duduk dihadapan Zayn dan terus menatap mukanya yang terlihat semakin tampan daripada dulu


"Katakan, apa yang ingin kau katakan?" Zayn langsung saja tanpa berbasa-basi.


"Zy, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal sudah mengkhianati mu. Namun, semua itu aku lakukan karena---"


"Jika kau mau mengatakan maaf. Aku sudah memaafkan mu. Jadi jangan membuang-buang waktu ku degan hal tidak penting," sela Zayn menyimpan ponselnya kedalam saku jasnya.

__ADS_1


Akan tetapi dia tidak mau menatap pada Raisa yang matanya sudah mengenang oleh air mata.


"Zy, ketahuilah aku melakukan semuanya karena terpaksa. Papaku memiliki hutang padanya dan bila kami tidak bisa membayar hutang tersebut. Maka kedua orang tuaku akan dimasukan kedalam penjara," Raisa akhirnya menangis saat mulai memberikan penjelasan.


"Hutang apa maksudmu?" seru Zayn akhirnya menatap pada Raisa. Walaupun setelahnya membuang arah pandangan matanya lagi.


"Papaku memiliki hutang pada keluarga Hadwan. Bila tidak bisa membayarnya maka rumah kami dan orang tuaku akan dipenjara karena seperti itulah perjanjiannya. Namun, apabila aku mau pada... putra mereka, jadi hutang itu akan lunas. Tapi aku tidak mau,"


"Ck, jika kau tidak mau kenapa bisa tidur deganya? Apa kau pikir aku bodoh," decak Zayn mulai jengah.


"Zy, tolong dengarkan aku bercerita dulu. Aku memang melakukannya. Namun, itu karena dipaksa, bukan atas kemauan ku sendiri. Kamu tahu sendiri seperti apa aku mencintaimu. Mana---"


"Rai, sudahlah. Diantara kita sudah berakhir. Aku menemuimu bukan untuk mendengarkan penjelasan mu. Tapi hanya ingin bilang, berhentilah menghubungiku ataupun mengirimkan makanan ke perusahaan. Jika kau terus melakukannya, maka jangan salahkan aku bila akan melapor pada polisi, karena kau sudah menganggu ketentraman ku," Zayn kembali menyela.


"Zy, aku mohon tolong dengarkan aku dulu. Aku sangat menyesali semuanya," Raisa langsung berdiri dan tiba-tiba memeluk tubuh Zayn yang masih duduk.


"Zy, aku mohon tolong maafkan aku. Aku tahu kamu hanya kecewa padaku. Aku sangat mencintaimu, jadi tolong---"


"Mas Zayn," ucap Fira yang kebetulan mau duduk di meja yang ada disebelah tempat Zayn dan Raisa. Ya, Fira dan Yuni yang sudah selesai membeli buku langsung mencari Restoran karena mereka berdua sudah melewatkan jam makan siang.


Akan tetapi siapa sangka jika akan bertemu dengan Zayn yang lagi dipeluk oleh seorang wanita seksi. Walaupun belum bisa melihat mukanya. Namun, Fira bisa menebak bahwa wanita tersebut pasti sangat cantik. Terlihat dari postur tubuhnya.


"Fi--fira!" seru Zayn dengan mata membola dan mendorong kasar tubuh Raisa agar menjauh darinya. Begitu terlepas Zayn langsung berdiri dan mendekati Fira dan berkata.


"Fira, tolong jangan salah paham. Ini tidak sama seperti yang kamu pikirkan. Mas tidak melakukan apapun. Ini hanya---"


"Zy, siapa dia?" tanya Raisa yang matanya masih basah oleh air mata. "Zayn, siapa gadis ini? Apakah---"


"Diamlah! Kenapa kau lancang sekali memeluk dan menyentuh tanganku," sentak Zayn menghempaskan kasar tangan Raisa yang kembali memegangi tangannya.


"Mas, ada disini juga?" lain yang diucapkan oleh Zayn. Maka lain pula yang dibicarakan oleh Fira. Namun, mata indahnya terus menatap pada Raisa yang ikut melihatnya seperti mana musuh.


... BERSAMBUNG... ...

__ADS_1


__ADS_2