Hijrah Cinta Casanova

Hijrah Cinta Casanova
Umi Dan Abi.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻🌻🌻


...HAPPY READING......


.


.


Siang harinya. Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas siang. Barulah Zayn selesai dari ruang rapat. Yaitu rapat antar perusahaan lain yang diadakan di perusahaannya.


Sedangkan Shafira masih menunggu dalam kantor suaminya. Sambil belajar lewat laptop milik Zayn.


"Zy, apakah kamu datang bersama Shafira istri mu?" tanya Edo begitu rekan kerja mereka yang lain keluar dari ruang rapat.


Namun, di dalam ruangan tersebut belum keluar semuanya, karena ada Aksa, Hanif dan dua orang lainya lagi.


"Huem, iya, kenapa?" Zayn balik bertanya.


"Tidak ada apa-apa. Aku kira tadi telinga ku yang salah dengar. Hampir semua karyawan yang aku lewati lagi membahas kamu membawa istri mu," jawab Edo karena dia datang paling belakang. Jadi tidak tahu bahwa Zayn datang bersama Fira.


"Tunggu-tunggu! Ini Fira yang mana?" sela Hanif cepat. Soalnya sejak tadi dia lagi fokus pada ponselnya.


"Fira... yang saudara mu, atau---"


"Iya, Fira saudara ku, sekarang sudah menjadi istriku. Jadi jangan coba-coba mendekatinya lagi," sela Zayn sambil berdiri dari tempat duduknya. Sehingga Aksa, Edo dan Hanif ikut berdiri dan mengikuti pemuda itu.


"Hey... kalian mau kemana? Mengapa malah mengijutiku seperti anak kecil," ucap Zayn berhenti di depan pintu ruang rapat.

__ADS_1


"Ck, kami tentu saja mau menjadi tamu di kantor mu. Bukankah biasanya juga seperti ini," decak Edo malah berjalan duluan daripada Zayn.


"Astaghfirullah hal Azim! Kenapa aku bisa memiliki teman seperti kalian? Semua ini pasti gara-gara kalian mau menganggu aku dan Fira, kan?" pemuda itu sampai beristighfar karena saat ini bukan hanya Edo yang berjalan lebih dulu. Tapi juga Aksa dan Hanif.


"Alhamdulillah! Akhirnya kamu beristighfar juga. Tidak bilang astaga lagi. Semua ini pasti berkat Fira," imbuh Aksa berucap syukur.


"Ya, semua ini berkat bidadari ku. Fira bagaikan matahari dalam hidupku yang sudah gelap gulita." gumam Zayn tersenyum dan tidak menyangkal apa yang sahabatnya katakan.


Ceklek!


"Assalamualaikum," ucap keempat pemuda itu secara bersamaan. Walaupun Zayn berjalan paling belakangan.


Aneh memang, yang menjadi suami Fira adalah dirinya. Namun, Aksa, Hanif dan Edo malah berjalan lebih dulu.


"Waalaikum salam warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab Fira menoleh kearah pintu yang terbuka lebar.


Namun, walaupun suaminya ada dibelakang. Senyum gadis cantik itu hanya untuk suaminya. Shafira berdiri dari sofa dan berjalan beberapa langkah ke depan untuk menyalami tangan suaminya.


"Mas sudah selesai," ucap Fira degan suara lembutnya.


"Iya, maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama," jawab Zayn tersenyum dan mengandeng tangan sang istri untuk kembali duduk di sofa.


Sedangkan ketiga pemuda jomblo yang melihat pemandangan tersebut hanya bisa menelan Saliva nya sendiri.


"Kenapa kalian hanya berdiri seperti patung mekanik? Bukannya tadi kalian bilang sudah biasa menjadi tamu ku. Jadi anggap saja tempat sendiri. Ayo duduklah! Bila mau minuman dingin. Maka tinggal ambil di lemari pendingin," Zayn tergelak. Dia sangat bahagia karena walaupun ada sahabatanya. Shafira hanya melemparkan senyum manis untuk dirinya sendiri.


"Ck, setelah melihat tonton Umi dan Abi, apa mungkin kami bisa duduk dengan santai," decak Edo yang sudah mulai terpikirkan dalam benaknya mau ikut hijrah seperti sang sahabat.

__ADS_1


"Fira, ternyata kamu dan Zayn---"


"Kak Hanif, maaf. Malam itu aku---"


"Aku yang tidak boleh Fira mengatakan padamu bahwa aku adalah suaminya. Agar kamu tidak memberitahu siapapun," sela Zayn cepat karena tidak mau istrinya merasa bersalah karena telah berbohong pada Hanif.


"Jadi waktu kalian belanja malam itu sebetulnya sudah---"


"iya, kami sudah menikah sekitar tiga bulan kurang lebih. Aku belum mau orang lain tahu, karena kami belum melakukan resepsi pernikahan," Zayn kembali menyela agar Hanif tidak banyak tanya.


"Zy, untuk proposal yang kamu katakan tadi mana? Aku sedikit kurang paham dengan apa yang Pak Handoko jelaskan," ucap Aksa agar mengalihkan pertanyaan Hanif pada sahabatnya.


Sebab dia tahu jika Zayn dan Fira pasti tidak ingin menjelaskan lagi yang bisa-bisa malah menciptakan kebohongan. Berbeda jika dia dan Edo. Mereka berdua memang sudah tahu sejak awal jika Zayn tidak mau mengakui Fira sebagai istrinya.


"Ada di laci meja kerja ku," jawab Zayn yang mengerti maksud Aksa bertanya. Lalu ia menoleh pada Fira dan mengelus tangan gadis itu yang masih ia genggam dan berkata.


"Sayang... tolong ambilkan Map berwarna biru yang ada di dalam laci kerja Mas," pintanya dengan suara lemah lembut.


"Iya, biar aku ambilkan," jawab Fira sudah berdiri karena dia memang mau sekalian mengambilkan minuman untuk sahabat suaminya.


"Mas, apa tidak apa-apa aku---"


Tentu saja tidak. Buka saja karena walaupun ada yang berkas penting sekalipun. Kamu adalah istriku dan kamu adalah harta paling berharga yang aku miliki," ucap pemuda itu karena tahu apa yang hendak istrinya katakan.


Sehingga membuat Fira mengangguk kecil degan tersenyum kecil pula. Lain halnya dengan ketiga pemuda jomblo itu. Mata mereka menoleh ke arah Zayn serempak. Seakan-akan apa yang diucapkan oleh pemuda itu merupakan fenomena langka.


"Ini kan buku diary ku. Kenapa bisa berada di sini?" gumam Fira di dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah Map yang dipinta oleh suaminya diangkat. Malah matanya tidak sengaja melihat buku diary yang selama ini dicari-cari oleh Fira. Tadinya gadis itu berpikir bahwa bukunya sudah terbuang dengan sampah-sampah yang ada di dalam kamar lamanya.


... BERSAMBUNG... ...


__ADS_2