
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
"Ma, kami pergi dulu. Assalamualaikum!" ucap Zayn dan Fira berpamitan untuk pergi ke rumah sakit. Keduanya ingin memeriksa keadaan si buah hati yang belum tahu sudah berumur berapa Minggu. Karena mereka baru melakukan hubungan suami-istri kurang lebih satu bulan lalu.
"Iya, hati-hati. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!" Nyonya Elis menatap anak dan menantunya dari ruang tengah. "Alhamdulillah ya Allah, terima kasih sudah menyatukan pernikahan anak dan menantu hamba."
Gumam wanita tersebut mengucapkan rasa syukurnya. Tidak ada yang membahagiakan selain melihat Zayn dan Fira bisa menjalani pernikahan dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Bibi, tolong beli buah-buahan segar yang lebih banyak ya, takutnya nona muda mau makan buah."
"Baik Nyonya, Saya juga mau membeli keperluan yang lainnya." jawab Bibi Asih yang mengantarkan jus buah untuk Nyonya Elis.
"Berarti sore ini Nyonya belum jadi pergi ke panti asuhannya?"
"Iya, belum jadi karena Tuan Rendi masih ada rapat yang tidak bisa diwakilkan oleh sekertaris nya." Nyonya Elis memang belum jadi pergi ke panti asuhan. Maka dari itu beliau hanya diam di rumah.
Sementara itu.
Di dalam perjalanan Zayn dan Fira sudah hampir sampai ke rumah sakit tempat mereka melakukan pemeriksaan. Dokter Vina juga sudah mendaftar kan pada dokter kandungan. Setelah Zayn menelepon bahwa sore ini mau memeriksa kandungan istrinya. Jadi mereka tinggal datang saja.
"Mas, kenapa tidak diangkat?" tanya Fira karena sejak tadi ponsel suaminya bergetar.
"Biarkan saja, sayang. Yang menelpon adalah Felix. Besok pagi baru Mas urus. Mungkin melihat saham perusahaanya merosot dia akan datang ke perusahaan kita,"
"Huem, iya. Aku kira orang lain. Takutnya ada keperluan penting." imbuh Fira menatap pada penjual di pinggir jalan. Hari mulai sore, jadi begitu banyak penjual yang berjejer menjual berbagai macam makanan khas daerah.
"Apakah kamu mau sesuatu, Khumaira?" sekarang Zayn yang bertanya.
"Tidak, Mas. Pulangnya saja ya, aku mau makan sate." jawab Fira membuat Zayn tersenyum mendengarnya.
"Sejak kapan kamu suka sate?" tanyanya binggung karena selama ini sang istri tidak suka makanan seperti itu.
"Sepertinya semenjak hari ini," Fira tergelak sendiri. "Aku juga merasa heran. Mungkin karena bawaan anak kita,"
"Ya, tidak apa-apa. Asalkan aman untuk kalian. Mas hanya tidak boleh bila kamu membeli makanan yang nanti malah menjadi sakit perut atau yang lainya." sambil mengobrol. Tidak terasa mobil Mercedes Benz milik Zayn sudah tiba di depan rumah sakit swasta yang terbesar di ibukota tersebut.
"Aku juga akan berhati-hati, Mas. Karena yang paling aku takutkan adalah baby kita kenapa-kenapa. Rasanya ini semua seperti mimpi bagiku." tangan Fira mengelus perutnya yang masih datar.
"Mas juga seakan-akan sedang bermimpi indah. Tidak disangka ternyata percintaan panas kita langsung menjadi benih penerus Evander." pipi Fira langsung merah merona pada saat itu juga.
Cup!
"Kenapa kamu selalu malu, huem? Kita adalah pasangan suami-istri, sayang. Jadi tidak usah malu saat Mas membahas tentang kita---"
__ADS_1
"Ayo kita turun sekarang! Nanti dokternya menunggu terlalu lama," ajak Fira langsung membuka pintu mobil dan turun lebih dulu.
"Kenapa dia sangat mengemaskan. Membuatku ingin mengurung nya di dalam pelukan ku."
Gumam Zayn sampai menggigit bibir bawahnya. Andai mereka masih di rumah, maka dia akan membawa Fira masuk ke dalam dan tidak jadi pergi.
"Ayo!" pemuda itu mengandeng tangan Fira yang tidak mau bertatap muka dengannya. "Kamu jika lagi tersipu malu, makan akan semakin cantik dan mengemaskan." ucapnya lagi sedikit berbisik.
"Mas, please! Jangan membuatku malu," jawab Fira mengulum senyumnya.
"Mas Zayn kenapa suka sekali menggoda ku. Aku benar-benar tidak kuat untuk tidak tersenyum."
Batin Fira yang sudah merangkul lengan suaminya. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian. Sudah sama seperti seorang artis papan atas. Siapa yang tidak kenal pengusaha sukses Zayn Atalla. Semua orang juga sudah tahu bahwa Shafira yang memiliki wajah cantik rupawan dan akhlak baik adalah istrinya.
"Selamat datang, Pak Zayn, Nyonya Shafira." sambut Dokter kandungan yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Ya, Dok. Terima kasih!" jawab Zayn karena Fira hanya bersalaman dengan dokter wanita itu.
"Mari silahkan berbaring di atas ranjang, biar kita lakukan pemeriksaan lebih dulu," ajak si dokter mengarahkan Fira untuk dilakukan pemeriksaan USG. Perawat yang menjadi asisten dokter tersebut juga turut membantu mengoleskan gel pada perut Fira. Zayn berdiri disamping kanan istrinya karena mau melihat sendiri calon buah hati mereka.
"Bagaimana, Dok?" Zayn bertanya tidak sabaran.
"Mas, biarkan dokter menyelesaikan pemeriksaannya." tegur Fira karena sejak tadi Zayn tidak sabaran.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Sudah biasa, seorang ayah memang paling antusias apabila istrinya sedang melakukan pemeriksaan kandungan." dokter muda itu tersenyum.
"Kenapa kecil sekali, Dok? Apakah Dokter tidak salah memeriksanya? Masa iya, calon bayi kami hanya sebuah titik kecil." protes Zayn.
"Mas!" Fira menggelengkan kepalanya pelan.
"Sayang, bayi itu besar. Bagaimana mungkin anakku hanya seperti telur cacing."
"Astaghfirullah hal Azim, Mas!" wanita itu lagi-lagi mengelengkan kepalanya.
"Sudah tidak apa-apa, Nyonya." si dokter akhirnya tersenyum lebar tidak kuat mendengar Zayn yang protes.
"Kan umur bayi nya baru dua Minggu, Pak. Nanti juga seiring berjalannya waktu akan tumbuh besar menjadi janin pada umumnya."
"Oh, seperti itu. Maaf, Saya tidak tahu." jawab Zayn mengangguk paham.
"Bayinya sangat sehat begitu pula ibunya. Nanti Saya akan memberikan obat mual, obat penambah darah dan juga vitamin khusus untuk trimester pertama. Tapi jangan lupa membeli susu ibu hamil emesis juga. Supaya semua vitamin yang dibutuhkan si ibu dan bayinya tercukupi." kata dokter yang bernama tag Salma. Dia juga seorang wanita yang memakai hijab seperti Fira.
"Baik, Dok. Sepulang dari sini kami akan langsung membelinya," jawab Fira sudah menurunkan kembali gamis yang dipakainya.
Lalu karena pemeriksaan sudah selesai, mereka duduk di kursi yang sudah tersedia di depan meja dokternya.
Zayn dengan penuh keingintahuan mendampingi sang istri. Seakan-akan Fira sudah seperti anak kecil. Saat turun dari atas ranjang pemeriksaan, juga dia tuntun pelan.
"Sus, tolong siapkan obat untuk Nyonya Fira ya," ucap Dokter Salma pada asistennya. Tidak lama, hanya kurang dari satu menit, obat pun sudah diberikan pada dokternya.
__ADS_1
"Ini obatnya, jadi tidak perlu mengambil di apotek. Jika tidak ada keluhan lain, pada tanggal delapan belas bulan depan, kalian harus datang ke sini lagi untuk melakukan pemeriksaan kembali."
"Iya, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu dan terima kasih. Assalamualaikum!" pamit kedua pasangan suami istri tersebut karena saat mengobrol sains sudah menyerahkan kartu kreditnya pada asisten Dokter Salma.
"Mas, kamu kenapa bertingkah seperti anak kecil sih? Kan aku malu pada Dokter Salma." kata Fira saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit.
"Mas kan memang tidak tahu jika bayinya hanya sebesar telur cacing. Lagian Dokter Salma nya mengerti bahwa sebagai calon ayah, pasti sangat penasaran pada buah hatinya."
"Ya-ya! Mas benar juga. Tapi awas, tidak boleh mengatakan bahwa bayiku seperti telur cacing." sungut Fira malah membuat Zayn tergelak.
"Khumaira, maafkan suami mu ini yang sudah salah menyebut si utun mirip dengan telur cacing."
"Utun?" ibu hamil itu mengulangi perkataan suaminya.
"Iya, utun! Mas akan memanggilnya si utun, karena dia belum lahir jadi kita tidak bisa memberi nama yang indah seperti jenis kelaminnya nanti." jawab Zayn tersenyum bahagia.
"Astaghfirullah hal Azim, Mas Zayn. Kamu apa-apaan sih, kenapa calon anak kita kamu panggil si utun?" seru Fira sampai mengucapkan istighfar.
"Tidak apa-apa, habisnya Mas bingung harus menyebut dia siapa. Karena jujur Mas sejak dulu paling tidak suka apabila mendengar orang mengatakan calon anak mereka adalah si cabang bayi."
"Lah kenapa tidak suka? Kan memang dia masih bayi. Tidak mungkin kan dipanggil bapak-bapak atau ibu-ibu," imbuh Fira benar-benar diuji kesabarannya atas sikap Zayn yang sudah di luar nurul.
"Tapi nanti bila sudah besar bayi itu akan menjadi seorang pewaris dari orang tuanya. Jadi tetap saja tidak boleh memanggilnya si cabang bayi." Zayn membukakan pintu mobil buat istrinya. Setelah itu dia jalan memutar untuk duduk di bangku kemudi.
"Mas tetap akan memanggil calon anak kita si utun. Jadi sudah, jangan marah lagi ya," ucapnya membujuk sang istri.
"Ya, terserah Mas saja mau manggil si utun atau si cabang bayi. Namun, yang jelas tidak boleh memanggil bayiku dengan sebutan mirip seperti telur cacing." Fira memanyunkan bibirnya.
Cup!
"Oke, baiklah Umi nya utun," Zayn mengecup sekilas bibir Fira. Kebetulan dia sedang memasang sabuk pengaman pada tubuh istrinya.
"Haa... ha... Mas, kamu kenapa menyebalkan sekali," tawa Fira karena geli pada panggilan dari suaminya.
"Alhamdulillah, akhirnya Umi nya utun sudah tidak cemberut lagi." Zayn tersenyum bahagia.
"Khumaira ku, Umi nya utun mau makanan apa saja? Ayo sebutkan biar Abi nya utun turuti. Nanti kita mampir sekalian ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil."
"Aku hanya ingin makan sate, tapi kita mampir saja untuk membeli makanan kesukaan mama dan juga para pekerja di rumah." jawab Fira seraya memperbaiki cara duduknya.
"Baiklah! Sesuai permintaan istri tercinta ku," sahut Zayn mulai menjalankan kendaraan mewahnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika Mas Zayn bisa berubah seperti ini. Dulu dia selalu menatap tajam padaku. Semua yang aku lakukan selalu salah dimatanya."
Gumam Fira yang sesekali mencuri pandang pada suaminya. Zayn walaupun hanya memakai pakaian kasual, tetap saja semakin terlihat tampan. Maka tidak heran begitu banyak gadis yang tergila-gila padanya.
Sudahlah kaya, tampan. Memiliki karier cemerlang dan tidak ada seorang pengusaha pun yang bisa menyainginya. Benar-benar kesempurnaan yang hakiki.
... BERSAMBUNG... ...
__ADS_1